
“Paling sebentar lagi mama datang,
kak” kilah Bianca karena melihat gelagat Lala yang sepertinya ingin menemani
Bianca menunggu jemputan.
“Yakin, ya?” Lala bertanya,
memastikan.
“Iya, kak” jawab Bianca buru- buru,
sebelum paniknya di ketahui.
“Yasudah kita tinggal, nih”
“Iya, kak hati- hati”
Lala dan Given lanjut melangkah,
menuju parkiran yang terletak tepat di depan sekolah.
“Ven, lo anter aja deh tuh anak.
Liatin kayaknya dia lagi kebingunan” Lala memandangi Bianca yang celingak
celinguk dari arah dalam parkiran.
“Oke, bisa di atur” jawab Given
santai.
“Lah, tumben lo mau gue suruh.
Biasanya juga lo nolak” Lala menatap curiga pada teman sekelasnya itu. Memang,
Lala dan Given satu kelas di XII IPS 2- yang belum di ketahui Bianca.
“Yaelah, itu kan adik kelas kita,
tanggung jawab kita dong” balas Given.
“Yasudah gue duluan, ya. Jangan lupa
tuh” Lala sudah siap dengan motornya, menyalakan mesin berlalu meninggalkan
Given.
Bianca sempat tersenyum ketika
berpapasan dengan Lala, hanya itu, lalu paniknya mulai kambuh, belum saat
matanya menangkap Given keluar dari dalam arah parkiran. Bianca benar- benar
ingin pingsan saja, Given menatap Bianca, perlahan- lahan menghampiri Bianca,
tepat sampai di hadapan Bianca berdiri.
“Mau bareng, engga?”
Demi dewa neptunus yang kekuasannya
meliputi jajaran samudra di seluruh belahan bumi, tenggelamkan saja Bianca
bersama ombak lautmu. Bianca merasa pipinya memanas, semoga saja rona merahnya
tidak di ketahui oleh Given, bisa malu hingga ingin menceburkan dirinya ke laut
saja.
“Kok bengong, sih”
“Eh, iya, kak” lamunan Bianca
tersadarkan.
“Mau bareng engga?” tanya Given
lagi, masih setia menunggu Bianca di atas motor sport warna hitamnya.
“Ehmm, gapapa, nih, kak?”
“Gapapa lah, kemarin malam lo nolak
ajakan gue, sekarang wajib hukumnya”
Bianca berpikir sejenak, menenangkan
degub jantung yang selalu saja berdetak lebih cepat dari pada biasanya ketika
berada di dekat Given, belum lagi sekarang lututnya terasa ikut lemas. Sepuluh
detik menenangkan, Bianca mengangguk, tidak enak juga kalau di tolak lagi, lagian
__ADS_1
untung juga baginya.
Bianca mengkaitkan tali tas punggung
yang sempat ia geledah pada pundaknya, bersiap menaiki jok belakang motor
Given.
“Bisa naik engga?” tanya Given
melihat Bianca yang masih berdiri.
“Bisa, kok, kak”
“Maaf, ya, kak” Bianca memegang
pundak Given untuk pegangan dia naik, sebab motor sport Given yang terlalu
tinggi bagi Bianca membuat gadis itu susah menggapainya.
“Sudah?”
“Sudah, kok”
Given mulai menarik gasnya, membawa
dirinya pulang sekaligus menghantarkan Bianca tepat sampai depan rumahnya.
“Gue masih engga nyangka bocah SMP
yang sendirian di pasar malam kemarin lo ternyata” seru Given sedikit berteriak
di tengah bisingnya jalanan dan angin siang yang berhembus.
“Iya, kak, itu gue” jawab Bianca
seadanya, tidak tahu mau menjawab bagaimana lagi, grogi membuat pikiran gadis
itu buntu.
Setelah sedikit obrolan, juga Bianca
menunjukkan arah jalan menuju rumahnya, sampailah mereka di depan rumah Bianca.
“Engga mampir, kak?” tawar Bianca-
yang sebenarnya basa- basi.
nganter, engga enak”
Apa? Baru pertama nganter? Apa
mungkin nanti masih ada niatan buat nganterin lagi.
“Yaudah, gue duluan, ya” pamit
Given.
“Iya, kak, sekali lagi thanks ya,
hati- hati kak”
“Perhatian banget, sih” Given mulai
menggoda, tersenyum jahil.
Sialan, lagi- lagi Bianca merasa
pipinya terbakar, mungkin sekarang ia kelihatan seperti udang rebus yang siap
di makan habis- habisan oleh Given.
“Hahaha engga usah tegang gitu, gue
duluan, ya” ucap Given, berhasil membuat Bianca merasa malu lagi. Belum sempat
Bianca membalas, Given sudah dulu menarik gasnya, melajukan motornya melintasi
aspal jalan, lalu menghilang di belokan jalan.
Bianca membuka pagar halaman rumah,
lengkung bibirnya secara otomatis mengembang- yang Bianca sendiri tidak sadar
bagaimana atau sejak kapan. Taman di sisi kanan halaman yang tidak di tumbuhi
bunga, hanya di alasi rumput jepang yang tajam, di mata Bianca malah
sebaliknya. Bianca merasa halaman rumahnya di penuhi bunga warna- warni yang tumbuh
mekar, bau wanginya tercium pekat sampai pada indera penciuman Bianca.
“Bianca pulang, bi” teriak Bianca
__ADS_1
terlalu bersemangat dari arah ruang tamu.
Bi Nur yang mendengar lengkingan
suara Bianca langsung berlari kecil dari kamarnya
“Eh, non sudah pulang? Sama nyonya?”
tanya bi Nur heran.
“Engga, bi, mama engga bisa jemput”
jawab Bianca.
“Loh, terus sama siapa? Ponsel non
Bianca kan ketinggalan di kamar pas bi Nur mau beresin” bi Nur makin
kebingungan.
“Di anterin kakak kelas, bi” Bianca
terkekeh pelan.
“Ya ampun, bi Nur sudah was- was
saja”
“Yasudah, Bianca ke atas ya, bi”
Tanpa menunggu balasan bi Nur,
Bianca sudah berlari menaiki anak tangga, berniat segera menyentuh benda pipih
hitamnya yang tidak sengaja ia tinggal. Pintu menutup di belakang Bianca, gadis
yang masih menggenakan seragam itu mengerjap- kerjapkan mata bulatnya. Masih
memikirkan bahwa tadi ia benar- benar di bonceng oleh sesosok Given. Ini
sungguhan, bukan hanya halusinasi Bianca saja. Sepuluh menit berdiri menyender
di pintu kamar, Bianca beranjak ken akas dimana tempat ponselnya berada, seraya
melemparkan tas sekolahnya ke sembarang arah. Dengan tidak sabarnya, Bianca
menarik kabel charger dengan kasar dari ponselnya, mengusap layar kunci,
langsung memencet ikon telepon. Selagi tangan kanannya memegang ponsel, tangan
kiri Bianca menggeledah isi dalam tasnya, mencari buku yang menjadi salinan
nomor Given di kelas tadi. Panik, tas Bianca dalam keadaan kosong, hanya ada
tempat alat tulis, buku satu- satunya yang ia bawa hilang, tidak ada. Aduh,
Bianca sekarang baru inget lagi, buku kosong satu- satunya yang ia bawa juga
tempat menyalin nomor Given di buatnya untuk tugas bu Risma yang di kumpulkan. Bianca
menepuk jidatnya, merasa kesal dengan dirinya sendiri, kenapa bisa dia sehari
ini sudah dua kali lupa tentang hal pentingg. Bianca membanting badannya ke
kasur, merebahkan diri, berusaha mengontrol emosi, ponsel yang di pegangnya
langsung ia matikan. Percuma saja, sudah siap dengan ponsel, nomor ponsel yang
di tuju tidak ada, ibarat sudah siap menjalin hubungan, eh pasangannya yang
belum atau tidak ada. Basi.
Sudahlah, tidak apa- apa, masih ada
hari besok untuk mengirimkan pesan pada Given, lagipula memang Given akan
menunggui Bianca mengiriminya pesan, memikirkan Bianca saja mungkin tidak.
Kenapa harus gelisah memikirkan pesan dari Bianca. Memikirkan Given memang
benar membuat otak Bianca berasap, sama seperti memikirkan materi rumus
sekolah, lebih baik Bianca berganti pakaian, lalu tidur siang. Sedikit susah
memang untuk tidur siang saat pikiran di hantui oleh orang lain, apalagi ini
seorang lawan jenis yang beberapa menit lalu menghantarkan Bianca pulang,
memastikan Bianca sampai tempat yang aman.
---
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, Kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)
__ADS_1