Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Sepulang sekolah


__ADS_3

            “Paling sebentar lagi mama datang,


kak” kilah Bianca karena melihat gelagat Lala yang sepertinya ingin menemani


Bianca menunggu jemputan.


            “Yakin, ya?” Lala bertanya,


memastikan.


            “Iya, kak” jawab Bianca buru- buru,


sebelum paniknya di ketahui.


            “Yasudah kita tinggal, nih”


            “Iya, kak hati- hati”


            Lala dan Given lanjut melangkah,


menuju parkiran yang terletak tepat di depan sekolah.


            “Ven, lo anter aja deh tuh anak.


Liatin kayaknya dia lagi kebingunan” Lala memandangi Bianca yang celingak


celinguk dari arah dalam parkiran.


            “Oke, bisa di atur” jawab Given


santai.


            “Lah, tumben lo mau gue suruh.


Biasanya juga lo nolak” Lala menatap curiga pada teman sekelasnya itu. Memang,


Lala dan Given satu kelas di XII IPS 2- yang belum di ketahui Bianca.


            “Yaelah, itu kan adik kelas kita,


tanggung jawab kita dong” balas Given.


            “Yasudah gue duluan, ya. Jangan lupa


tuh” Lala sudah siap dengan motornya, menyalakan mesin berlalu meninggalkan


Given.


            Bianca sempat tersenyum ketika


berpapasan dengan Lala, hanya itu, lalu paniknya mulai kambuh, belum saat


matanya menangkap Given keluar dari dalam arah parkiran. Bianca benar- benar


ingin pingsan saja, Given menatap Bianca, perlahan- lahan menghampiri Bianca,


tepat sampai di hadapan Bianca berdiri.


            “Mau bareng, engga?”


            Demi dewa neptunus yang kekuasannya


meliputi jajaran samudra di seluruh belahan bumi, tenggelamkan saja Bianca


bersama ombak lautmu. Bianca merasa pipinya memanas, semoga saja rona merahnya


tidak di ketahui oleh Given, bisa malu hingga ingin menceburkan dirinya ke laut


saja.


            “Kok bengong, sih”


            “Eh, iya, kak” lamunan Bianca


tersadarkan.


            “Mau bareng engga?” tanya Given


lagi, masih setia menunggu Bianca di atas motor sport warna hitamnya.


            “Ehmm, gapapa, nih, kak?”


            “Gapapa lah, kemarin malam lo nolak


ajakan gue, sekarang wajib hukumnya”


            Bianca berpikir sejenak, menenangkan


degub jantung yang selalu saja berdetak lebih cepat dari pada biasanya ketika


berada di dekat Given, belum lagi sekarang lututnya terasa ikut lemas. Sepuluh


detik menenangkan, Bianca mengangguk, tidak enak juga kalau di tolak lagi, lagian

__ADS_1


untung juga baginya.


            Bianca mengkaitkan tali tas punggung


yang sempat ia geledah pada pundaknya, bersiap menaiki jok belakang motor


Given.


            “Bisa naik engga?” tanya Given


melihat Bianca yang masih berdiri.


            “Bisa, kok, kak”


            “Maaf, ya, kak” Bianca memegang


pundak Given untuk pegangan dia naik, sebab motor sport Given yang terlalu


tinggi bagi Bianca membuat gadis itu susah menggapainya.


            “Sudah?”


            “Sudah, kok”


            Given mulai menarik gasnya, membawa


dirinya pulang sekaligus menghantarkan Bianca tepat sampai depan rumahnya.


            “Gue masih engga nyangka bocah SMP


yang sendirian di pasar malam kemarin lo ternyata” seru Given sedikit berteriak


di tengah bisingnya jalanan dan angin siang yang berhembus.


            “Iya, kak, itu gue” jawab Bianca


seadanya, tidak tahu mau menjawab bagaimana lagi, grogi membuat pikiran gadis


itu buntu.


            Setelah sedikit obrolan, juga Bianca


menunjukkan arah jalan menuju rumahnya, sampailah mereka di depan rumah Bianca.


            “Engga mampir, kak?” tawar Bianca-


yang sebenarnya basa- basi.


nganter, engga enak”


            Apa? Baru pertama nganter? Apa


mungkin nanti masih ada niatan buat nganterin lagi.


            “Yaudah, gue duluan, ya” pamit


Given.


            “Iya, kak, sekali lagi thanks ya,


hati- hati kak”


            “Perhatian banget, sih” Given mulai


menggoda, tersenyum jahil.


            Sialan, lagi- lagi Bianca merasa


pipinya terbakar, mungkin sekarang ia kelihatan seperti udang rebus yang siap


di makan habis- habisan oleh Given.


            “Hahaha engga usah tegang gitu, gue


duluan, ya” ucap Given, berhasil membuat Bianca merasa malu lagi. Belum sempat


Bianca membalas, Given sudah dulu menarik gasnya, melajukan motornya melintasi


aspal jalan, lalu menghilang di belokan jalan.


            Bianca membuka pagar halaman rumah,


lengkung bibirnya secara otomatis mengembang- yang Bianca sendiri tidak sadar


bagaimana atau sejak kapan. Taman di sisi kanan halaman yang tidak di tumbuhi


bunga, hanya di alasi rumput jepang yang tajam, di mata Bianca malah


sebaliknya. Bianca merasa halaman rumahnya di penuhi bunga warna- warni yang tumbuh


mekar, bau wanginya tercium pekat sampai pada indera penciuman Bianca.


            “Bianca pulang, bi” teriak Bianca

__ADS_1


terlalu bersemangat dari arah ruang tamu.


            Bi Nur yang mendengar lengkingan


suara Bianca langsung berlari kecil dari kamarnya


            “Eh, non sudah pulang? Sama nyonya?”


tanya bi Nur heran.


            “Engga, bi, mama engga bisa jemput”


jawab Bianca.


            “Loh, terus sama siapa? Ponsel non


Bianca kan ketinggalan di kamar pas bi Nur mau beresin” bi Nur makin


kebingungan.


            “Di anterin kakak kelas, bi” Bianca


terkekeh pelan.


            “Ya ampun, bi Nur sudah was- was


saja”


            “Yasudah, Bianca ke atas ya, bi”


            Tanpa menunggu balasan bi Nur,


Bianca sudah berlari menaiki anak tangga, berniat segera menyentuh benda pipih


hitamnya yang tidak sengaja ia tinggal. Pintu menutup di belakang Bianca, gadis


yang masih menggenakan seragam itu mengerjap- kerjapkan mata bulatnya. Masih


memikirkan bahwa tadi ia benar- benar di bonceng oleh sesosok Given. Ini


sungguhan, bukan hanya halusinasi Bianca saja. Sepuluh menit berdiri menyender


di pintu kamar, Bianca beranjak ken akas dimana tempat ponselnya berada, seraya


melemparkan tas sekolahnya ke sembarang arah. Dengan tidak sabarnya, Bianca


menarik kabel charger dengan kasar dari ponselnya, mengusap layar kunci,


langsung memencet ikon telepon. Selagi tangan kanannya memegang ponsel, tangan


kiri Bianca menggeledah isi dalam tasnya, mencari buku yang menjadi salinan


nomor Given di kelas tadi. Panik, tas Bianca dalam keadaan kosong, hanya ada


tempat alat tulis, buku satu- satunya yang ia bawa hilang, tidak ada. Aduh,


Bianca sekarang baru inget lagi, buku kosong satu- satunya yang ia bawa juga


tempat menyalin nomor Given di buatnya untuk tugas bu Risma yang di kumpulkan. Bianca


menepuk jidatnya, merasa kesal dengan dirinya sendiri, kenapa bisa dia sehari


ini sudah dua kali lupa tentang hal pentingg. Bianca membanting badannya ke


kasur, merebahkan diri, berusaha mengontrol emosi, ponsel yang di pegangnya


langsung ia matikan. Percuma saja, sudah siap dengan ponsel, nomor ponsel yang


di tuju tidak ada, ibarat sudah siap menjalin hubungan, eh pasangannya yang


belum atau tidak ada. Basi.


            Sudahlah, tidak apa- apa, masih ada


hari besok untuk mengirimkan pesan pada Given, lagipula memang Given akan


menunggui Bianca mengiriminya pesan, memikirkan Bianca saja mungkin tidak.


Kenapa harus gelisah memikirkan pesan dari Bianca. Memikirkan Given memang


benar membuat otak Bianca berasap, sama seperti memikirkan materi rumus


sekolah, lebih baik Bianca berganti pakaian, lalu tidur siang. Sedikit susah


memang untuk tidur siang saat pikiran di hantui oleh orang lain, apalagi ini


seorang lawan jenis yang beberapa menit lalu menghantarkan Bianca pulang,


memastikan Bianca sampai tempat yang aman.


---


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, Kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)

__ADS_1


__ADS_2