
Sebelum memasuki ruang aula, para
siswa harus melepas sepatu juga kaos kaki hitam putihnya, meletakkannya
sembarang di samping pintu masuk, tanpa tertata rapi, terlihat sedikit
berserakan. Siapa juga yang peduli, lagi pula memang tidak ada rak atau tempat
yang bisa untuk menempatkan sepatu-sepatu itu dengan rapi. Aula ini berbentuk
memanjang ke belakang, memiliki tiga pintu untuk akses masuk dan keluar, di
depan aula-dinding antara setiap pintu terdapat tempat duduk yang terbuat dari
keramik memanjang, itu sama halnya dengan beberapa bagian kelas lantai atas. Tapi
kita tidak akan membahas tentang kelas lantai atas itu. Masuk ke dalam aula
dengan dominan warna putih- lantai putih mengkilat yang memang sebelumnya sudah
disapu juga dipel dengan bersih, hanya cat putih pada dindingnya ada beberapa
bagian yang mengelupas, memudar, atau terkena coretan tinta hitam. Di depan
aula memanjang ini, panggung depan dengan sebuah papan tulis putih besar, dua
meja besar dengan dua kursi, satu meja itu digunakan untuk menaruh LCD
proyektor, sedangkan satu mejanya lagi untuk menempatkan laptop juga
dokumen-dokumen yang diperlukan.
Penataan kelas tidak sesuai urutan
pertama, yang dipikir nantinya kelas adeniumlah yang urutan pertama akan
mendapatkan tempat paling strategis untuk mudah dilihat. Tapi tidak. Kelas
ditata baris berbanjar ke belakang dari urutan pintu masuk depan, lalu
menyamping ke kiri. Kelas adenium tidak mendapat urutan pertama, melainkan
urutan kedua. Yah, percuma sih, sama aja sudah, diacak tapi tetap saja mendapat
tempat strategis mudah diawasi. Tidak ada kursi, semua murid masa orientasi
tanpa terkecuali duduk di lantai keramik putih, sedikit dingin tapi mungkin
lebih seru begini. Yang biasanya kalau dalam barisan anak ceweklah yang di
depan, kali ini giliran anak cowo yang di tempatkan dalam barisan depan, mungkin
untuk meminimalisir keributan, kerusuhan.
Beruntung anak cewe berada di
belakang barisan kelasnya, ini menguntungkan juga bagi Bianca yang malas
menampakkan mukanya. Bianca dan Sofia memilih barisan paling belakang dari
kelasnya, berati berada kira-kira di posisi hampir tengah-tengah aula,
berbatasan langsung dengan kelas bougenvill tepat di belakang mereka.
“Heh, Bianca,” seseorang menepuk
pundak Bianca yang sedang duduk diam di samping Sofia.
Acara belum dimulai, mungkin sedang
menunggu pembawa acara atau seorang artis, eh maksudnya seorang narasumber yang
akan menyampaikan materi pagi hari ini.
Bianca menoleh ke belakang, memutar
badannya, “Eh, Febi?” mata bulat Bianca membuka lebih lebar.
“Oalah, kelas lo di adenium?” tanya
gadis bernama Febi itu.
__ADS_1
“Iya, kok lo tau gue, sih? Gue aja
engga ngeh ada lo tadi,” jawab dan tanya Bianca balik.
Gadis bernama Febi itu adalah
kenalan Bianca pertama kali waktu daftar ulang di SMA Pelita Murni. Ketika
daftar ulang, Bianca salah masuk ruangan, yang seharusnya berada di ruang
daftar jurusan IPS, ia malah memasuki ruang daftar ulang jurusan IPA. Memang
tidak ada pemberitahuan nama ruang di pintu masuk, Bianca baru sadar ketika
guru yang bertugas membacakan jurusan, dengan segera Bianca keluar ruangan
sebelum diketahui bahwa dia telah menyusup salah masuk. Lalu ketika memasuki
ruang yang benar di jurusan IPS, Bianca hanya mendapati tinggal lima orang
siswa di dalamnya, dua di bangku tunggu, tiganya lagi duduk di hadapan guru
yang bertugas mengurus persyaratan. Bianca masuk, segera mengambil duduk di
bangku tunggu dengan dua orang lainnya.
“Eh, masuk jurusan IPS, ya?” itu
kalimat tanya paling bodoh yang Bianca ucapkan kepada teman kenalannya. Sudah
jelas ini ruang daftar ulang jurusan IPS, masih saja Bianca tanya.
“Iya,” yang ditanya menjawab dengan
tatapan heran.
“Hehe, kenalin Bianca Lala,” Bianca
yang malu segera merubah arah kalimatnya, mengulurkan tangan.
“Febiusna,” Febi membalas uluran
tangan Bianca, “Kalo ini, Nina Malya” sambung Febi memperkenalkan teman di
Bianca membalas senyum juga jabat
tangan Nina.
Setelah basa-basi lima menit tentang
hal umum seperti sekolah dimana sebelumnya, Febi dan Nina beranjak ke depan,
namanya sudah disebutkan petugas untuk mengajukan persyaratan. Kini tinggal
Bianca yang duduk sendiri di bangku tunggu, sambil memikirkan pertanyaan
bodohnya tadi. Bianca sebenarnya bukan anak yang pemalu, juga bukan tipikal
yang banyak omong, standar saja. Itu pertemuan pertama dengan Febi, setelah
keluar dari ruang daftar ulang, lalu menuju ruang secretariat untuk mengambil
seragam, Bianca tidak bertemu Febi lagi.
“Iya tadi waktu lo jalan buat duduk
di sini, gue engga asing sama gerak gerik lo,” Febi menjawab pertanyaan Bianca
dengan tawa di pertemuan kedua mereka.
Sofia menoleh ke belakang, ber-sstt
pelan, memberi kode isyarat pada Bianca juga Febi, karena seorang guru masuk
dengan seorang polisi yang berjalan di belakangnya. Bianca melihatnya paham,
memberi gerak tangan pada Febi yang jika diartikan mungkin ‘nanti kita lanjut
lagi, oke’, Febi yang paham membalasnya dengan anggukan kepala pelan.
“Ada apa, sih? Kita duduk gini
__ADS_1
tindak criminal apa?” pikir Bianca ngawur.
Hasrat ingin mengajukan pertanyaan
pada Sofia tertahan, seorang guru di depan terlebih dulu mengeluarkan suara
dengan mikrofon yang tersambung dengan sound hitam persegi di sampingnya yang
menghadap para murid.
“Pagi anak-anak,”
“Pagi, pak” suara serempak terdengar
bergema memenuhi ruangan aula.
Polisi dengan seragam abu kehitaman
itu berdiri di samping guru yang menyapa anak-anak.
“Nah, seperti yang Pak Hari jelaskan
di lapangan tadi. Materi pertama pagi ini akan dibawakan oleh bapak polisi yang
terhormat,” ucap guru pembawa acara menoleh, tersenyum hormat memberi anggukan
kepala pada polisi itu.
“Tolong didengarkan baik-baik, ya,”
amanatnya, sedetik kemudian mikrofon sudah berpindah tangan. Bapak pembawa
acara itu keluar, seperti sedang berbincang dengan seseorang di depan pintu
aula.
“Selamat pagi anak-anak,” sapa bapak
polisi, suaranya serak terdengar tegas berwibawa, di dada kanannya terdapat
name tag bertuliskan ‘Handoko’.
“Pagi, pak”
“Bukan begitu jawabnya. Kalau bapak
bilang selamat pagi, kalian jawab pagi-pagi luar biasa,” seru Pak Handoko,
mengacungkan kepalan tangannya ke atas penuh semangat.
“Mengerti?”
“Mengerti, pak”
Seisi aula sudah seperti anggota
pasukan yang sedang dilatih untuk tempur, semangat pagi itu digebrak dengan
adanya Pak Handoko, suara dalam aula menjadi riuh memekakan telinga, sound
bergetar mengeluarkan suara. Terlebih Sofia, ia paling keras teriak, semangat
mengepalkan tangan. Tapi tidak pada Bianca, gadis itu buyar pikiran, sesuatu
mengambil alih otaknya yang mungkin memang sebenarnya otak itu sudah tidak ada.
Bianca memang masih mengikuti intruksi, telinganya mendengar, tapi untuk fokus
mata ia tidak lagi fokus pada Pak Handoko dengan seragam polisinya. Ia malah
menatap sesuatu yang lebih menarik di depan panggung sana. Bukan sesuatu, lebih
tepatnya seseorang, badan anak cowo di depan sedikit memberinya jarak pandang,
bahkan sampai membuat Bianca bergeser untuk dapat melihat seseorang itu,
barisan di belakang tidak beruntung untuk tubuhnya yang kecil.
---
__ADS_1
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBInya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam bumi literasi dari Aksara Raya:)