Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Teman ketika daftar ulang


__ADS_3

            Sebelum memasuki ruang aula, para


siswa harus melepas sepatu juga kaos kaki hitam putihnya, meletakkannya


sembarang di samping pintu masuk, tanpa tertata rapi, terlihat sedikit


berserakan. Siapa juga yang peduli, lagi pula memang tidak ada rak atau tempat


yang bisa untuk menempatkan sepatu-sepatu itu dengan rapi. Aula ini berbentuk


memanjang ke belakang, memiliki tiga pintu untuk akses masuk dan keluar, di


depan aula-dinding antara setiap pintu terdapat tempat duduk yang terbuat dari


keramik memanjang, itu sama halnya dengan beberapa bagian kelas lantai atas. Tapi


kita tidak akan membahas tentang kelas lantai atas itu. Masuk ke dalam aula


dengan dominan warna putih- lantai putih mengkilat yang memang sebelumnya sudah


disapu juga dipel dengan bersih, hanya cat putih pada dindingnya ada beberapa


bagian yang mengelupas, memudar, atau terkena coretan tinta hitam. Di depan


aula memanjang ini, panggung depan dengan sebuah papan tulis putih besar, dua


meja besar dengan dua kursi, satu meja itu digunakan untuk menaruh LCD


proyektor, sedangkan satu mejanya lagi untuk menempatkan laptop juga


dokumen-dokumen yang diperlukan.


            Penataan kelas tidak sesuai urutan


pertama, yang dipikir nantinya kelas adeniumlah yang urutan pertama akan


mendapatkan tempat paling strategis untuk mudah dilihat. Tapi tidak. Kelas


ditata baris berbanjar ke belakang dari urutan pintu masuk depan, lalu


menyamping ke kiri. Kelas adenium tidak mendapat urutan pertama, melainkan


urutan kedua. Yah, percuma sih, sama aja sudah, diacak tapi tetap saja mendapat


tempat strategis mudah diawasi. Tidak ada kursi, semua murid masa orientasi


tanpa terkecuali duduk di lantai keramik putih, sedikit dingin tapi mungkin


lebih seru begini. Yang biasanya kalau dalam barisan anak ceweklah yang di


depan, kali ini giliran anak cowo yang di tempatkan dalam barisan depan, mungkin


untuk meminimalisir keributan, kerusuhan.


            Beruntung anak cewe berada di


belakang barisan kelasnya, ini menguntungkan juga bagi Bianca yang malas


menampakkan mukanya. Bianca dan Sofia memilih barisan paling belakang dari


kelasnya, berati berada kira-kira di posisi hampir tengah-tengah aula,


berbatasan langsung dengan kelas bougenvill tepat di belakang mereka.


            “Heh, Bianca,” seseorang menepuk


pundak Bianca yang sedang duduk diam di samping Sofia.


            Acara belum dimulai, mungkin sedang


menunggu pembawa acara atau seorang artis, eh maksudnya seorang narasumber yang


akan menyampaikan materi pagi hari ini.


            Bianca menoleh ke belakang, memutar


badannya, “Eh, Febi?” mata bulat Bianca membuka lebih lebar.


            “Oalah, kelas lo di adenium?” tanya


gadis bernama Febi itu.

__ADS_1


            “Iya, kok lo tau gue, sih? Gue aja


engga ngeh ada lo tadi,” jawab dan tanya Bianca balik.


            Gadis bernama Febi itu adalah


kenalan Bianca pertama kali waktu daftar ulang di SMA Pelita Murni. Ketika


daftar ulang, Bianca salah masuk ruangan, yang seharusnya berada di ruang


daftar jurusan IPS, ia malah memasuki ruang daftar ulang jurusan IPA. Memang


tidak ada pemberitahuan nama ruang di pintu masuk, Bianca baru sadar ketika


guru yang bertugas membacakan jurusan, dengan segera Bianca keluar ruangan


sebelum diketahui bahwa dia telah menyusup salah masuk. Lalu ketika memasuki


ruang yang benar di jurusan IPS, Bianca hanya mendapati tinggal lima orang


siswa di dalamnya, dua di bangku tunggu, tiganya lagi duduk di hadapan guru


yang bertugas mengurus persyaratan. Bianca masuk, segera mengambil duduk di


bangku tunggu dengan dua orang lainnya.


            “Eh, masuk jurusan IPS, ya?” itu


kalimat tanya paling bodoh yang Bianca ucapkan kepada teman kenalannya. Sudah


jelas ini ruang daftar ulang jurusan IPS, masih saja Bianca tanya.


            “Iya,” yang ditanya menjawab dengan


tatapan heran.


            “Hehe, kenalin Bianca Lala,” Bianca


yang malu segera merubah arah kalimatnya, mengulurkan tangan.


            “Febiusna,” Febi membalas uluran


tangan Bianca, “Kalo ini, Nina Malya” sambung Febi memperkenalkan teman di


            Bianca membalas senyum juga jabat


tangan Nina.


            Setelah basa-basi lima menit tentang


hal umum seperti sekolah dimana sebelumnya, Febi dan Nina beranjak ke depan,


namanya sudah disebutkan petugas untuk mengajukan persyaratan. Kini tinggal


Bianca yang duduk sendiri di bangku tunggu, sambil memikirkan pertanyaan


bodohnya tadi. Bianca sebenarnya bukan anak yang pemalu, juga bukan tipikal


yang banyak omong, standar saja. Itu pertemuan pertama dengan Febi, setelah


keluar dari ruang daftar ulang, lalu menuju ruang secretariat untuk mengambil


seragam, Bianca tidak bertemu Febi lagi.


            “Iya tadi waktu lo jalan buat duduk


di sini, gue engga asing sama gerak gerik lo,” Febi menjawab pertanyaan Bianca


dengan tawa di pertemuan kedua mereka.


            Sofia menoleh ke belakang, ber-sstt


pelan, memberi kode isyarat pada Bianca juga Febi, karena seorang guru masuk


dengan seorang polisi yang berjalan di belakangnya. Bianca melihatnya paham,


memberi gerak tangan pada Febi yang jika diartikan mungkin ‘nanti kita lanjut


lagi, oke’, Febi yang paham membalasnya dengan anggukan kepala pelan.


            “Ada apa, sih? Kita duduk gini

__ADS_1


tindak criminal apa?” pikir Bianca ngawur.


            Hasrat ingin mengajukan pertanyaan


pada Sofia tertahan, seorang guru di depan terlebih dulu mengeluarkan suara


dengan mikrofon yang tersambung dengan sound hitam persegi di sampingnya yang


menghadap para murid.


            “Pagi anak-anak,”


            “Pagi, pak” suara serempak terdengar


bergema memenuhi ruangan aula.


            Polisi dengan seragam abu kehitaman


itu berdiri di samping guru yang menyapa anak-anak.


            “Nah, seperti yang Pak Hari jelaskan


di lapangan tadi. Materi pertama pagi ini akan dibawakan oleh bapak polisi yang


terhormat,” ucap guru pembawa acara menoleh, tersenyum hormat memberi anggukan


kepala pada polisi itu.


            “Tolong didengarkan baik-baik, ya,”


amanatnya, sedetik kemudian mikrofon sudah berpindah tangan. Bapak pembawa


acara itu keluar, seperti sedang berbincang dengan seseorang di depan pintu


aula.


            “Selamat pagi anak-anak,” sapa bapak


polisi, suaranya serak terdengar tegas berwibawa, di dada kanannya terdapat


name tag bertuliskan ‘Handoko’.


            “Pagi, pak”


            “Bukan begitu jawabnya. Kalau bapak


bilang selamat pagi, kalian jawab pagi-pagi luar biasa,” seru Pak Handoko,


mengacungkan kepalan tangannya ke atas penuh semangat.


            “Mengerti?”


            “Mengerti, pak”


            Seisi aula sudah seperti anggota


pasukan yang sedang dilatih untuk tempur, semangat pagi itu digebrak dengan


adanya Pak Handoko, suara dalam aula menjadi riuh memekakan telinga, sound


bergetar mengeluarkan suara. Terlebih Sofia, ia paling keras teriak, semangat


mengepalkan tangan. Tapi tidak pada Bianca, gadis itu buyar pikiran, sesuatu


mengambil alih otaknya yang mungkin memang sebenarnya otak itu sudah tidak ada.


Bianca memang masih mengikuti intruksi, telinganya mendengar, tapi untuk fokus


mata ia tidak lagi fokus pada Pak Handoko dengan seragam polisinya. Ia malah


menatap sesuatu yang lebih menarik di depan panggung sana. Bukan sesuatu, lebih


tepatnya seseorang, badan anak cowo di depan sedikit memberinya jarak pandang,


bahkan sampai membuat Bianca bergeser untuk dapat melihat seseorang itu,


barisan di belakang tidak beruntung untuk tubuhnya yang kecil.


 


---

__ADS_1


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBInya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam bumi literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2