
Sofia juga mengetahui apa yang tengah menjadi fokus pandang Bianca saat itu. Tentu
saja seorang Given, bapak pembawa acara tadilah yang menyuruh Given masuk,
mengambil beberapa gambar sebagai bahan dokumentasi. Given dengan postur tubuh
tinggi, badan terisi dengan rambut sedikit ikal itu langsung menjadi
pemandangan paling indah yang sangat sayang bila dilewatkan begitu
saja. Ditambah dengan kamera digital hitam yang menjadi ciri khasnya, membuat
beberapa anak lainnya menatapnya dengan tatapan kagum. Sesekali Given membidik
ke arah barisan siswa, ketika para siswa semangat mengudarakan kepalan
tangannya, itu pasti menjadi sebuah momen yang indah.
“Sudah-sudah.
Sepertinya semangat kalian memang patut diacungi jempol,” ucap Pak Handoko
mengarahkan jempolnya ke depan sebagai apresiasi untuk siswa.
“Ada
pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Kalian kan belum kenal sama
bapak, bapak juga sama belum kenal sama kalian. Nama bapak Handoko, jabatan
kepala kepolisian sektor, anak dua, dan syukurlah istri masih satu,” ucap Pak
Handoko terkekeh.
Given
beranjak dari depan, melangkah masuk ke barisan siswa di belakang, melewati
sisi kanan Bianca, Bianca sadar tapi tidak berani menatap Given dari jarak
dekat, diam pura-pura tidak melihat adalah apa yang dilakukan Bianca.
“Wah,
jadi ada niat untuk tambah istri, ya, pak?” sahut bapak pembawa acara
tiba-tiba, ia berdiri di ambang pintu memegang mikrofon, membuat siswa yang
berada di dekat sound tersentak kaget.
Pak
Handoko tertawa, “Tidak, pak. Saya takut istri,”
Gelak
tawa terdengar.
Bianca menggerutu dalam hati, pasalnya ia tidak bisa
lagi untuk memandangi Given yang berada di belakang, tidak mungkin ia harus
memutar badan, terlalu sulit dan pasti rasanya pegal untuk pinggangnya.
“Hayo,”
Sofia memukul pundak Bianca pelan, membuat gadis itu benar-benar menggerutu
sebal.
“Apaan,
sih, kaget tau,” ucap Bianca ketus.
Sofia
hanya terkekeh geli melihat suasana hati Bianca yang berubah-ubah karena
seorang Given saja, sudah seperti anak sekolah dasar pacaran saja, eh tapi kan
Bianca dan Given tidak ada hubungan apa-apa.
“Cemberut
mulu dari pagi tadi, karena Kak Given lagi,” Sofia menahan tawa, beringsut
untuk berjaga-jaga kalau Bianca memberinya serangan.
Bianca
__ADS_1
hanya menatap teman sebangkunya itu dengan sorot mata tajam, sebenarnya ia
sudah bersiap akan balas memukul perut Sofia, tapi urung, Bianca tidak ingin
membuat keributan di depan polisi yang mungkin akan segera menangkapnya.
“Eh,
yang di belakang itu. Ayo maju kesini, kenalan!” ujar Pak Handoko menatap arah
belakang.
Bianca
langsung diam mematung, menghadap depan. Sofia yang juga takut segera bergeser
karena sempat beringsut menghindari Bianca membuat barisannya tidak lurus.
“Ayo,
kesini. Dari tadi bapak perhatiin di belakang berisik sekali,”
Sofia
dan Bianca mulai berkeringat dingin, was-was bahwa yang sedang ditunjuk oleh
Pak Handoko adalah mereka berdua.
“Ayo,
berdiri! Bisa rame tapi engga berani maju ke depan,” sahut suara dari arah
belakang, tepat di ketiga aula.
Sofia
juga Bianca saling tatap bingung, keduanya bersamaan menoleh ke belakang pada
sumber suara. Di belakang, dekat pintu ketiga aula dua anak laki-laki sedang
menjadi tontonan, dua kakak panitia berdiri tepat di depan dua anak biang rusuh
itu. Dua anak laki-laki itu saling senggol. Mengetahui itu, Bianca dan Sofia
menghela napas pelan, keduanya tadi sudah mau hampir mati, karena pemikiran
merekalah biang rusuh yang akan disuruh maju.
sudah. Jangan dilihatin lama-lama!” peringat Sofia memalingkan wajah Bianca, ia
melihat Bianca sudah mulai memasuki dunia halunya.
Di
belakang sana memang ada Given yang sedang asyik mengabadikan momen rusuh
tersebut, ekpresi anak-anak yang ketawa, raut muka dua makluk biang kerok
perusuh tadi. Barisan paling belakang sendiri memang sudah tentu akan dipenuhi
oleh kerusuhan-kerusuhan, kejadian yang tidak terduga, membuat Given memilih
spot barisan belakang untuk dokumen video atau foto kenangan.
Persis
tepat kedua biang rusuh itu berdiri, bel istirahat berbunyi, membuat dengung
menggema di dalam aula. Dengan sigap bapak pembawa acara mengambil alih
pimpinan, menyuruh kami tenang sebentar, lalu bisa keluar aula.
Bianca
menarik lengan Sofi, “Nanti saja, Sof. Rame banget, pasti dorong-dorongan.” sergah
Bianca, melirik ratusan siswa yang berhamburan keluar, berebut mengambil
sepatu, memenuhi lorong dengan tepian tempat duduk.
Sofia
mengangguk mengerti, lima menit berlalu, barisan paling akhir yang berjalan
sudah lewat, sekarang giliran Bianca juga Sofia yang akan keluar menggunakan
akses pintu depan aula. Baru saja selesai mengambil sepatu, dari arah kanan
yaitu lorong di pintu ketiga aula, muncul Given yang sedang berjalan ke arah
__ADS_1
Bianca. Bianca yang berada di sisi kanan Sofia, mengetahui jelas keberadaan
Given dari ekor matanya, ia segera meraih pergelangan tangan Sofia, menyeretnya
agar lebih cepat sedikit. Sofia yang kebingungan, menoleh ke belakang, ia
mendapati Given berjalan tergesa-gesa. Dalam hati Sofia, kenapa dua anak
manusia yang baru dua hari kenal itu bertingkah layaknya pasangan yang sedang
bertengkar, lagi pula Bianca kan tidak jadi mengirim pesan ke Given kenapa ia
jadi salah tingkah begini, lalu untuk apa Given harus berjalan cepat seperti
itu.
“Aduh, kenapa, sih?” Sofia melepas
cengkraman tangan Bianca di dekat tangga, membuat keduanya berhenti.
Sofia mengelus pergelangannya yang
terasa sakit, “Itu ada Kak Given,” jawab Bianca takut-takut melirik Given yang
berjarak dua meter darinya.
“Memangnya lo yakin Kak Given lagi
ngejar lo?” tanya Sofia melirik Given juga Bianca bergantian.
Bianca mengangkat bahu dengan raut
wajah berlimpat.
“Ya sudah, kita lihat saja. Dia
bakal berhenti atau malah ngelewatin lo gitu aja.” tantang Sofia, duduk pada
bangku dekat tangga, masih memijat pergelangannya.
Bianca mendengus sebal, mengikuti
Sofia duduk dengan terpaksa, sebenarnya ia bisa saja naik sendiri, tapi tidak
untuk menjadi seorang penakut atas tantangan Sofia. Keduanya berlagak seperti
sedang membicarakan sesuatu, tanpa menatap Given yang semakin mendekat. Jarak
mereka tinggal sepuluh langkah, membuat jantung Bianca berdekat kencang, Sofia
yang melihat ekpresi Bianca terus saja memberi kode agar mengontrolnya, maka Bianca
berusaha untuk tetap terlihat tenang.
Hingga detik dimana Given melangkah
di depan Bianca, keduanya saling tatap sekilas. Namun, Given tidak berhenti
selangkah pun, cowo itu malah melewati Bianca juga Sofia, berjalan menaiki anak
tangga masih dengan langkah burunya.
“Kan, apa gue bilang, Bi. Lo sih, ke
ge-er-an,” ujar Sofia menatap anak tangga.
Bianca hanya diam, tidak ingin
menjawab, ia merasa malu pada Sofia, dirinya sendiri, juga Given apabila cowo
itu melihat jelas betapa salah tingkahnya Bianca. Belum lagi otak Bianca
diserbu banyak pertanyaan.
“Sudah, ah. Jangan dipikirin, ayok
ke kelas!” ajak Sofia, mengandeng tangan Bianca, mengajaknya segera menaiki
anak tangga.
Kenapa sih gue tadi separno itu
waktu lihat Kak Given jalan, padahal kan belum tentu ke arah gue, batin Bianca
meratapi kebodohannya.
---
__ADS_1
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)