Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Dua perusuh


__ADS_3

Sofia juga mengetahui apa yang tengah menjadi fokus pandang Bianca saat itu. Tentu


saja seorang Given, bapak pembawa acara tadilah yang menyuruh Given masuk,


mengambil beberapa gambar sebagai bahan dokumentasi. Given dengan postur tubuh


tinggi, badan terisi dengan rambut sedikit ikal itu langsung menjadi


pemandangan paling indah yang sangat sayang bila dilewatkan begitu


saja. Ditambah dengan kamera digital hitam yang menjadi ciri khasnya, membuat


beberapa anak lainnya menatapnya dengan tatapan kagum. Sesekali Given membidik


ke arah barisan siswa, ketika para siswa semangat mengudarakan kepalan


tangannya, itu pasti menjadi sebuah momen yang indah.


“Sudah-sudah.


Sepertinya semangat kalian memang patut diacungi jempol,” ucap Pak Handoko


mengarahkan jempolnya ke depan sebagai apresiasi untuk siswa.


“Ada


pepatah mengatakan, tak kenal maka tak sayang. Kalian kan belum kenal sama


bapak, bapak juga sama belum kenal sama kalian. Nama bapak Handoko, jabatan


kepala kepolisian sektor, anak dua, dan syukurlah istri masih satu,” ucap Pak


Handoko terkekeh.


Given


beranjak dari depan, melangkah masuk ke barisan siswa di belakang, melewati


sisi kanan Bianca, Bianca sadar tapi tidak berani menatap Given dari jarak


dekat, diam pura-pura tidak melihat adalah apa yang dilakukan Bianca.


“Wah,


jadi ada niat untuk tambah istri, ya, pak?” sahut bapak pembawa acara


tiba-tiba, ia berdiri di ambang pintu memegang mikrofon, membuat siswa yang


berada di dekat sound tersentak kaget.


Pak


Handoko tertawa, “Tidak, pak. Saya takut istri,”


Gelak


tawa terdengar.


Bianca  menggerutu dalam hati, pasalnya ia tidak bisa


lagi untuk memandangi Given yang berada di belakang, tidak mungkin ia harus


memutar badan, terlalu sulit dan pasti rasanya pegal untuk pinggangnya.


“Hayo,”


Sofia memukul pundak Bianca pelan, membuat gadis itu benar-benar menggerutu


sebal.


“Apaan,


sih, kaget tau,” ucap Bianca ketus.


Sofia


hanya terkekeh geli melihat suasana hati Bianca yang berubah-ubah karena


seorang Given saja, sudah seperti anak sekolah dasar pacaran saja, eh tapi kan


Bianca dan Given tidak ada hubungan apa-apa.


“Cemberut


mulu dari pagi tadi, karena Kak Given lagi,” Sofia menahan tawa, beringsut


untuk berjaga-jaga kalau Bianca memberinya serangan.


Bianca

__ADS_1


hanya menatap teman sebangkunya itu dengan sorot mata tajam, sebenarnya ia


sudah bersiap akan balas memukul perut Sofia, tapi urung, Bianca tidak ingin


membuat keributan di depan polisi yang mungkin akan segera menangkapnya.


“Eh,


yang di belakang itu. Ayo maju kesini, kenalan!” ujar Pak Handoko menatap arah


belakang.


Bianca


langsung diam mematung, menghadap depan. Sofia yang juga takut segera bergeser


karena sempat beringsut menghindari Bianca membuat barisannya tidak lurus.


“Ayo,


kesini. Dari tadi bapak perhatiin di belakang berisik sekali,”


Sofia


dan Bianca mulai berkeringat dingin, was-was bahwa yang sedang ditunjuk oleh


Pak Handoko adalah mereka berdua.


“Ayo,


berdiri! Bisa rame tapi engga berani maju ke depan,” sahut suara dari arah


belakang, tepat di ketiga aula.


Sofia


juga Bianca saling tatap bingung, keduanya bersamaan menoleh ke belakang pada


sumber suara. Di belakang, dekat pintu ketiga aula dua anak laki-laki sedang


menjadi tontonan, dua kakak panitia berdiri tepat di depan dua anak biang rusuh


itu. Dua anak laki-laki itu saling senggol. Mengetahui itu, Bianca dan Sofia


menghela napas pelan, keduanya tadi sudah mau hampir mati, karena pemikiran


merekalah biang rusuh yang akan disuruh maju.


sudah. Jangan dilihatin lama-lama!” peringat Sofia memalingkan wajah Bianca, ia


melihat Bianca sudah mulai memasuki dunia halunya.


Di


belakang sana memang ada Given yang sedang asyik mengabadikan momen rusuh


tersebut, ekpresi anak-anak yang ketawa, raut muka dua makluk biang kerok


perusuh tadi. Barisan paling belakang sendiri memang sudah tentu akan dipenuhi


oleh kerusuhan-kerusuhan, kejadian yang tidak terduga, membuat Given memilih


spot barisan belakang untuk dokumen video atau foto kenangan.


Persis


tepat kedua biang rusuh itu berdiri, bel istirahat berbunyi, membuat dengung


menggema di dalam aula. Dengan sigap bapak pembawa acara mengambil alih


pimpinan, menyuruh kami tenang sebentar, lalu bisa keluar aula.


Bianca


menarik lengan Sofi, “Nanti saja, Sof. Rame banget, pasti dorong-dorongan.” sergah


Bianca, melirik ratusan siswa yang berhamburan keluar, berebut mengambil


sepatu, memenuhi lorong dengan tepian tempat duduk.


Sofia


mengangguk mengerti, lima menit berlalu, barisan paling akhir yang berjalan


sudah lewat, sekarang giliran Bianca juga Sofia yang akan keluar menggunakan


akses pintu depan aula. Baru saja selesai mengambil sepatu, dari arah kanan


yaitu lorong di pintu ketiga aula, muncul Given yang sedang berjalan ke arah

__ADS_1


Bianca. Bianca yang berada di sisi kanan Sofia, mengetahui jelas keberadaan


Given dari ekor matanya, ia segera meraih pergelangan tangan Sofia, menyeretnya


agar lebih cepat sedikit. Sofia yang kebingungan, menoleh ke belakang, ia


mendapati Given berjalan tergesa-gesa. Dalam hati Sofia, kenapa dua anak


manusia yang baru dua hari kenal itu bertingkah layaknya pasangan yang sedang


bertengkar, lagi pula Bianca kan tidak jadi mengirim pesan ke Given kenapa ia


jadi salah tingkah begini, lalu untuk apa Given harus berjalan cepat seperti


itu.


“Aduh, kenapa, sih?” Sofia melepas


cengkraman tangan Bianca di dekat tangga, membuat keduanya berhenti.


Sofia mengelus pergelangannya yang


terasa sakit, “Itu ada Kak Given,” jawab Bianca takut-takut melirik Given yang


berjarak dua meter darinya.


“Memangnya lo yakin Kak Given lagi


ngejar lo?” tanya Sofia melirik Given juga Bianca bergantian.


Bianca mengangkat bahu dengan raut


wajah berlimpat.


“Ya sudah, kita lihat saja. Dia


bakal berhenti atau malah ngelewatin lo gitu aja.” tantang Sofia, duduk pada


bangku dekat tangga, masih memijat pergelangannya.


Bianca mendengus sebal, mengikuti


Sofia duduk dengan terpaksa, sebenarnya ia bisa saja naik sendiri, tapi tidak


untuk menjadi seorang penakut atas tantangan Sofia. Keduanya berlagak seperti


sedang membicarakan sesuatu, tanpa menatap Given yang semakin mendekat. Jarak


mereka tinggal sepuluh langkah, membuat jantung Bianca berdekat kencang, Sofia


yang melihat ekpresi Bianca terus saja memberi kode agar mengontrolnya, maka Bianca


berusaha untuk tetap terlihat tenang.


Hingga detik dimana Given melangkah


di depan Bianca, keduanya saling tatap sekilas. Namun, Given tidak berhenti


selangkah pun, cowo itu malah melewati Bianca juga Sofia, berjalan menaiki anak


tangga masih dengan langkah burunya.


“Kan, apa gue bilang, Bi. Lo sih, ke


ge-er-an,” ujar Sofia menatap anak tangga.


Bianca hanya diam, tidak ingin


menjawab, ia merasa malu pada Sofia, dirinya sendiri, juga Given apabila cowo


itu melihat jelas betapa salah tingkahnya Bianca. Belum lagi otak Bianca


diserbu banyak pertanyaan.


“Sudah, ah. Jangan dipikirin, ayok


ke kelas!” ajak Sofia, mengandeng tangan Bianca, mengajaknya segera menaiki


anak tangga.


Kenapa sih gue tadi separno itu


waktu lihat Kak Given jalan, padahal kan belum tentu ke arah gue, batin Bianca


meratapi kebodohannya.


 


---

__ADS_1


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Terima kasih. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2