
“Lepas. Tangan lo bau siomai,” ledek Bianca, menepis tangan Sofia dari mulutnya.
Sofia mendengus sebal, mengendus
telapak tangannya sendiri, “Mulut lo juga lebih parah. Bau siomai,” balas Sofia
tidak mau kalah.
Keduanya tertawa.
“Eh, Bi. Gue engga bisa lama-lama,
ada janji nih sama teman SMP,” ucap Sofia tiba-tiba.
“Oh, ya sudah, gapapa, sana deh sana
lo,” usir Bianca cekikikan, mendorong tubuh Sofia menjauh dari bangku.
“Tega lo, Bi,” rengek Sofia, membuat
raut muka cemberut.
Bianca tertawa, “Jangan ngambek,”
rayu Bianca.
“Lo gapapa ya gue tinggal?”
“Iya gue gapapa. Sudah engga ke
hipnotis ini,”
“Gue tinggal, hati-hati,”
Bianca mengangguk tersenyum, Sofia
berjalan menuju area parkir, mengambil motornya, “Bye, Bi,” teriak Sofia ketika
lewat di depan Bianca.
“Bye,” balas Sofia melambaikan
tangan.
Sekarang tinggal Bianca sendiri,
duduk diam memegangi kantong keresek putih transparan yang katanya dari Given. Apa
gue chat Kak Given saja, ya, pikir Bianca.Baru saja ponsel keluar dari saku
seragam, berniat mengirim pesan pada Given, suara seseorang menghentikan gerak
tangan Bianca.
“Eh, belum pulang, ya?” tanya
seseorang dari arah gerbang.
Bianca menoleh, mendapati Kak Lala
berdiri di ambang pintu gerbang.
“Eh, belum, kak. Lagi nunggu
jemputan,” jawab Bianca berbohong. Jelas-jelas Bela tidak bilang ingin
menjemput tadi pagi, kalau pun mendadak setidaknya Bela mengirimi pesan.
Lala tersenyum, mengangguk-angguk,
“Venn, Giveen. Orangnya belum pulang, kesini lo buru,”
Sial. Bianca terkejut bukan main.
Gadis itu gelagapan. Kenapa Lala malah memanggil seseorang yang akan membuat
Bianca gugup? Apa ternyata selama ini Lala sudah tahu kedekatan Bianca dengan
Given? Ia merutuki diri dalam hati. Menyesal sudah berbohong. Biasanya ia
berbohong agar terhindar dari malapetaka, sekarang malapetaka itu yang datang
karena Bianca berbohong. Benar-benar senjata makan tuan.
“Thanks, ya,” ucap Given ke Lala.
“Sip, selow,” Lala mengacungkan
jempol, menatap pada Given, lalu berganti melirik Bianca yang duduk membeku.
Sepeninggalan Lala, Given berjalan
mendekati Bianca, kali ini ia tidak membawa kamera kesayangannya yang selalu
terkait di lengannya. Tanpa meminta izin, Given mengambil duduk di samping
Bianca. Lagi pula kenapa harus meminta izin, ini kan tempat umum.
“Engga di jemput lagi, ya?” tanya
__ADS_1
Given menatap Bianca.
“Eh, engga, kak,” jawab Bianca,
memandang arah lain.
Given terkekeh, “Engga usah takut
gitu,”
“Mau pulang bareng lagi?”
Aduh, apa sih, Bi. Belum berhasil
menenangkan kupu-kupu di dalam perut, sekarang dengan mendadak malah dibawa
terbang.
“Engga usah. Nanti ngerepotin Kak
Given lagi,”
“Gue engga ngerasa direpotin, kok,”,
“Eh, oh, iya. Gue boleh nanya?” tambahnya, Bianca menoleh, jantungnya berdetak
cukup cepat.
“Jangan gugup gitu. Gue engga perlu
lo gugupin, gue engga galak kayak Tama,” canda Given, tawanya pecah begitu
saja.
Bianca merasa salah tingkah sekali,
semoga pipinya juga tidak ikutan memanas, bersemu merah.
Bianca menelan ludah, mengambil
kendali dirinya, “Engga, kok. Kak Given mau nanya apa?”
“Lo tadi marah sama gue, ya? Karena
gue engga balas pesan lo kemarin?” tanya Given, raut mukanya seperti
memperlihatkan penyesalan.
Bianca terkejut sekaligus bingung,
“Eh, siapa yang marah?”
biasanya, engga nengok sama sekali ke gue”
Bianca membeku, rasanya bumi telah
berhenti berotasi. Pikirannya langsung memunculkan banyak pertanyaan, salah
satunya, apa Given sepeka itu terhadap Bianca? Kenapa? Untuk apa?
“Engga, kok. Tadi pagi cuma mood gue
lagi engga bagus saja, kak,” jawab Bianca, tidak tega jika harus berlama-lama
melihat raut muka penyesalan Given yang bahkan engga tahu apa-apa, engga salah
apapun.
“Sekarang gimana? Sudah baikan
bukan?”
“Sudah. Kenapa Kak Given ngira aku
marah ke kakak?” tanya balik Bianca.
“Oh, itu. Tadi waktu di kantin gue
ketemu sama temen lu, si Sofia,”
Given menceritakan ketika istirahat
tadi bertemu dengan Sofia. Bertanya ke Sofia, kemana Bianca? Kenapa tidak
bersamanya? Juga tadi pagi, kenapa wajahnya berbeda? Dengan hal yang Sofia
tahu, Sofia menjawab kalau Bianca sedang mengambek karena Kak Given. Bianca
mendengar dengan seksama, yang dalam hatinya sedang tertawa geli, pantes saja
ketika kembali dari kantin, Sofia seperti habis bertemu hantu.
“Ini dari Kak Given, kan?” jawab dan
tanya balik Bianca setelah cerita selesai, gadis itu mengganti topik,
mengangkat kantong keresek putih transparan berisi arum manis itu.
“Oh, iya. Tadi gue titipin ke Nina,
__ADS_1
karena gue masih ada tugas penting,” jelasnya.
Bianca ber-oh pelan. Ternyata
namanya Kak Nina yang dengan susah payah mengejar Bianca di keramaian tadi.
“Tapi, kemarin kan gue cuma
bercanda, kak,” ucap Bianca, ia merasa tidak enak dibelikan sesuatu oleh Given
yang notabene bukan siapa-siapa, ia juga tidak mau dicap lancang karena
dibelikan sesuatu oleh kakak kelas.
“Itu kan lo. Tapi gue engga. Sekali
gue bilang kalimat itu, bakal gue lakuin, gue buktiin.”
Sepertinya tata surya benar-benar
berhenti berputar, ya. Waktu juga tidak terdengar bunyinya pada jam dinding. Eh,
apa, sih, Bi. Kendalikan dirimu, bisa saja Given memang seperti ini pada semua
orang, kamu jangan kepedean merasa dispecialkan gitu.
“Tapi, kan…”
“Sudah. Lo mau pulang bareng engga?”
“Eh, engga usah, kak,” dengan cepat
Bianca menjawab. Merasa sangat tidak enak, sudah dibelikan arum manis, pakai
diantar segala, apa-apaan. Ia tidak mau dicap murahan juga, matre.
“Kenapa?”
“Ngerepotin. Kak Given sudah beliin
arum manis, sekarang mau nganterin lagi,” jawab Bianca jujur.
Given malah menatapnya, “Gue engga
merasa direpotin. Lagian rumah lo engga jauh-jauh banget, gue juga
seneng-seneng saja nganterin lo,”
Bianca terdiam. Dia kalah
berargumen.
“Sudah. Engga usah ngerasa engga
enak. Tunggu sini, gue ambil motor,” Given berlalu.
Bianca menghela napas panjang,
merasa frustasi. Hari apa sih ini, hari Given memberinya banyak kejutan tidak
terduga? Tidak ada lima menit, Given kembali dengan motor sport berwarna
hitamnya.
“Ayo, naik,”
Tidak ada pilihan lain, menolak dan
menyetujui sama saja ujungnya.
“Maaf, ya, kak,” ucap Bianca, karena
jok motor sport Given terlalu tinggi baginya, Bianca harus memegangi pundak
Given sebagai pegangan untuk bisa naik.
“Sudah?” Given melihat Bianca dari
kaca spion, memastikan gadis itu sudah duduk rapi pada jok motornya.
“Sudah, kak,”
Motor dinyalakan, untuk kedua
kalinya mereka pulang bersama. Kali ini tidak perlu menunjukkan arah jalan,
Given sudah langsung hafal dimana rumah Bianca ketika pertama kali menghantar
gadis itu pulang. Selagi Bianca sibuk mengamati lingkungan sekitar, Given bisa
leluasa memandangi gadis itu dari kaca spion. Menggemaskan, batin Given. Tanpa
sadar senyum terlukis di bibir Given, ia menyukai gadis yang tidak sengaja ia
temui di pasar malam, yang ternyata adik kelasnya sendiri, bahkan gadis itu
yang meminta nomornya.
---
__ADS_1
Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Oh, iya, novel 'Bianglala itu, kamu' mungkin akan diupdate empat hari sekali. Terimakasih sudah senantiasa menunggu dan berkenan membaca. Have a nice day. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)