Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Pulang bareng


__ADS_3

“Lepas. Tangan lo bau siomai,” ledek Bianca, menepis tangan Sofia dari mulutnya.


            Sofia mendengus sebal, mengendus


telapak tangannya sendiri, “Mulut lo juga lebih parah. Bau siomai,” balas Sofia


tidak mau kalah.


            Keduanya tertawa.


            “Eh, Bi. Gue engga bisa lama-lama,


ada janji nih sama teman SMP,” ucap Sofia tiba-tiba.


            “Oh, ya sudah, gapapa, sana deh sana


lo,” usir Bianca cekikikan, mendorong tubuh Sofia menjauh dari bangku.


            “Tega lo, Bi,” rengek Sofia, membuat


raut muka cemberut.


            Bianca tertawa, “Jangan ngambek,”


rayu Bianca.


            “Lo gapapa ya gue tinggal?”


            “Iya gue gapapa. Sudah engga ke


hipnotis ini,”


            “Gue tinggal, hati-hati,”


            Bianca mengangguk tersenyum, Sofia


berjalan menuju area parkir, mengambil motornya, “Bye, Bi,” teriak Sofia ketika


lewat di depan Bianca.


            “Bye,” balas Sofia melambaikan


tangan.


            Sekarang tinggal Bianca sendiri,


duduk diam memegangi kantong keresek putih transparan yang katanya dari Given. Apa


gue chat Kak Given saja, ya, pikir Bianca.Baru saja ponsel keluar dari saku


seragam, berniat mengirim pesan pada Given, suara seseorang menghentikan gerak


tangan Bianca.


            “Eh, belum pulang, ya?” tanya


seseorang dari arah gerbang.


            Bianca menoleh, mendapati Kak Lala


berdiri di ambang pintu gerbang.


            “Eh, belum, kak. Lagi nunggu


jemputan,” jawab Bianca berbohong. Jelas-jelas Bela tidak bilang ingin


menjemput tadi pagi, kalau pun mendadak setidaknya Bela mengirimi pesan.


            Lala tersenyum, mengangguk-angguk,


“Venn, Giveen. Orangnya belum pulang, kesini lo buru,”


            Sial. Bianca terkejut bukan main.


Gadis itu gelagapan. Kenapa Lala malah memanggil seseorang yang akan membuat


Bianca gugup? Apa ternyata selama ini Lala sudah tahu kedekatan Bianca dengan


Given? Ia merutuki diri dalam hati. Menyesal sudah berbohong. Biasanya ia


berbohong agar terhindar dari malapetaka, sekarang malapetaka itu yang datang


karena Bianca berbohong. Benar-benar senjata makan tuan.


            “Thanks, ya,” ucap Given ke Lala.


            “Sip, selow,” Lala mengacungkan


jempol, menatap pada Given, lalu berganti melirik Bianca yang duduk membeku.


            Sepeninggalan Lala, Given berjalan


mendekati Bianca, kali ini ia tidak membawa kamera kesayangannya yang selalu


terkait di lengannya. Tanpa meminta izin, Given mengambil duduk di samping


Bianca. Lagi pula kenapa harus meminta izin, ini kan tempat umum.


            “Engga di jemput lagi, ya?” tanya

__ADS_1


Given menatap Bianca.


            “Eh, engga, kak,” jawab Bianca,


memandang arah lain.


            Given terkekeh, “Engga usah takut


gitu,”


            “Mau pulang bareng lagi?”


            Aduh, apa sih, Bi. Belum berhasil


menenangkan kupu-kupu di dalam perut, sekarang dengan mendadak malah dibawa


terbang.


            “Engga usah. Nanti ngerepotin Kak


Given lagi,”


            “Gue engga ngerasa direpotin, kok,”,


“Eh, oh, iya. Gue boleh nanya?” tambahnya, Bianca menoleh, jantungnya berdetak


cukup cepat.


            “Jangan gugup gitu. Gue engga perlu


lo gugupin, gue engga galak kayak Tama,” canda Given, tawanya pecah begitu


saja.


            Bianca merasa salah tingkah sekali,


semoga pipinya juga tidak ikutan memanas, bersemu merah.


            Bianca menelan ludah, mengambil


kendali dirinya, “Engga, kok. Kak Given mau nanya apa?”


            “Lo tadi marah sama gue, ya? Karena


gue engga balas pesan lo kemarin?” tanya Given, raut mukanya seperti


memperlihatkan penyesalan.


            Bianca terkejut sekaligus bingung,


“Eh, siapa yang marah?”


biasanya, engga nengok sama sekali ke gue”


            Bianca membeku, rasanya bumi telah


berhenti berotasi. Pikirannya langsung memunculkan banyak pertanyaan, salah


satunya, apa Given sepeka itu terhadap Bianca? Kenapa? Untuk apa?


            “Engga, kok. Tadi pagi cuma mood gue


lagi engga bagus saja, kak,” jawab Bianca, tidak tega jika harus berlama-lama


melihat raut muka penyesalan Given yang bahkan engga tahu apa-apa, engga salah


apapun.


            “Sekarang gimana? Sudah baikan


bukan?”


            “Sudah. Kenapa Kak Given ngira aku


marah ke kakak?” tanya balik Bianca.


            “Oh, itu. Tadi waktu di kantin gue


ketemu sama temen lu, si Sofia,”


            Given menceritakan ketika istirahat


tadi bertemu dengan Sofia. Bertanya ke Sofia, kemana Bianca? Kenapa tidak


bersamanya? Juga tadi pagi, kenapa wajahnya berbeda? Dengan hal yang Sofia


tahu, Sofia menjawab kalau Bianca sedang mengambek karena Kak Given. Bianca


mendengar dengan seksama, yang dalam hatinya sedang tertawa geli, pantes saja


ketika kembali dari kantin, Sofia seperti habis bertemu hantu.


            “Ini dari Kak Given, kan?” jawab dan


tanya balik Bianca setelah cerita selesai, gadis itu mengganti topik,


mengangkat kantong keresek putih transparan berisi arum manis itu.


            “Oh, iya. Tadi gue titipin ke Nina,

__ADS_1


karena gue masih ada tugas penting,” jelasnya.


            Bianca ber-oh pelan. Ternyata


namanya Kak Nina yang dengan susah payah mengejar Bianca di keramaian tadi.


            “Tapi, kemarin kan gue cuma


bercanda, kak,” ucap Bianca, ia merasa tidak enak dibelikan sesuatu oleh Given


yang notabene bukan siapa-siapa, ia juga tidak mau dicap lancang karena


dibelikan sesuatu oleh kakak kelas.


            “Itu kan lo. Tapi gue engga. Sekali


gue bilang kalimat itu, bakal gue lakuin, gue buktiin.”


            Sepertinya tata surya benar-benar


berhenti berputar, ya. Waktu juga tidak terdengar bunyinya pada jam dinding. Eh,


apa, sih, Bi. Kendalikan dirimu, bisa saja Given memang seperti ini pada semua


orang, kamu jangan kepedean merasa dispecialkan gitu.


            “Tapi, kan…”


            “Sudah. Lo mau pulang bareng engga?”


            “Eh, engga usah, kak,” dengan cepat


Bianca menjawab. Merasa sangat tidak enak, sudah dibelikan arum manis, pakai


diantar segala, apa-apaan. Ia tidak mau dicap murahan juga, matre.


            “Kenapa?”


            “Ngerepotin. Kak Given sudah beliin


arum manis, sekarang mau nganterin lagi,” jawab Bianca jujur.


            Given malah menatapnya, “Gue engga


merasa direpotin. Lagian rumah lo engga jauh-jauh banget, gue juga


seneng-seneng saja nganterin lo,”


            Bianca terdiam. Dia kalah


berargumen.


            “Sudah. Engga usah ngerasa engga


enak. Tunggu sini, gue ambil motor,” Given berlalu.


            Bianca menghela napas panjang,


merasa frustasi. Hari apa sih ini, hari Given memberinya banyak kejutan tidak


terduga? Tidak ada lima menit, Given kembali dengan motor sport berwarna


hitamnya.


            “Ayo, naik,”


            Tidak ada pilihan lain, menolak dan


menyetujui sama saja ujungnya.


            “Maaf, ya, kak,” ucap Bianca, karena


jok motor sport Given terlalu tinggi baginya, Bianca harus memegangi pundak


Given sebagai pegangan untuk bisa naik.


            “Sudah?” Given melihat Bianca dari


kaca spion, memastikan gadis itu sudah duduk rapi pada jok motornya.


            “Sudah, kak,”


            Motor dinyalakan, untuk kedua


kalinya mereka pulang bersama. Kali ini tidak perlu menunjukkan arah jalan,


Given sudah langsung hafal dimana rumah Bianca ketika pertama kali menghantar


gadis itu pulang. Selagi Bianca sibuk mengamati lingkungan sekitar, Given bisa


leluasa memandangi gadis itu dari kaca spion. Menggemaskan, batin Given. Tanpa


sadar senyum terlukis di bibir Given, ia menyukai gadis yang tidak sengaja ia


temui di pasar malam, yang ternyata adik kelasnya sendiri, bahkan gadis itu


yang meminta nomornya.


---

__ADS_1


Apabila ada kesalahan dalam penulisan PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, ya, kak. Oh, iya, novel 'Bianglala itu, kamu' mungkin akan diupdate empat hari sekali. Terimakasih sudah senantiasa menunggu dan berkenan membaca. Have a nice day. Salam dunia literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2