Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Festival pasar malam 02


__ADS_3

            Reina dan seorang cowo yang


bersamanya akan beranjak pergi, pesanan mereka sudah siap. Mata Bianca menatap


kepergian Reina hingga hilang di belokan jalan, Bianca bernapas lega saat Reina


sudah tidak kelihatan punggungnya, berbelok entah kemana, syukurlah sepertinya


Reina tidak terlalu ngeh dengan adanya Bianca, maklum mungkin karena Bianca


anak baru, lagipula Reina yang seorang OSIS tidak hanya bertemu Bianca seorang


di acara masa orientasi.


            “Bu, saya duluan, ya.” pamit Bianca,


menghargai ibu pemilik arum manis itu sambil tersenyum ramah.


            Ibu itu hanya membalas tersenyum


lebar seraya membersihkan meja gerobaknya dengan serbet mozaik warna-warni yang


sedikit kotor, mungkin saja memang belum dicuci. Bianca mulai berjalan lagi


meski tanpa tujuan pasti, di lihatnya jam kecil yang menempel di pergelangan


tangannya – jarum jam masih menunjuk angka tujuh malam kurang. Semakin malam,


pengunjung datang bermacam- macam, kalau di lihat dari penampilannya semakin


malam yang datang merupakan warga setempat. Beberapa anak kecil berkisar umur


lima sampai tujuh tahun terlihat senang menaiki komedi putar- menunggangi kuda


dengan warna bermacam- macam berputar pelan. Anak- anak usia di atasnya lagi


menyukai permainan yang lebih ekstrim, seperti perahu yang menganyun kencang


layaknya sedang terkena ombak besar, mengasah ketajaman mata dengan bermain


menanah pada target sasaran merah. Segerombalan anak pemberani membeli tiket


karcis masuk rumah hantu, mengukur berapa kadar keberanian mereka melihat


kemunculan tiba-tiba hantu tipu-tipuan, hingga suara jeritan bersahut-sahutan


di dalam rumah hantu. Bagi pecinta motor racing tidak ingin ketinggalan dengan


atraksi pembalap, orang biasanya menyebut ‘tong setan’, memang pembalap dengan


motornya itu akan unjuk kebolehan di dalam tong besar, di temani lagu yang


sedang ngetrend saat itu, penonton melihat dari tempat atas yang melingkar,


padahal motor racing yang di gunakan itu menimbulkan suara sangat nyaring,


namun tidak memundurkan keantusiasan penontonnya, bahkan ada juga yang melihat


dengan berusaha menjulurkan kepalanya agar keliatan jelas.


            Ah, Bianca sebenarnya tidak tertarik


sama sekali dengan semua permainan itu, Bianca hanya melewati saja, memandangi


keramaian massa yang lewat berseliweran di depan mata Bianca. Banyaknya


permainan juga tidak kalah banyak dengan pedagang baju, alat masak, buah-


buahan, penjual mainan, terlihat juga stand penjual alat tulis menulis. Selama

__ADS_1


ini Bianca tidak menemukan lagi anak dari SMA Pelita Murni- lebih tepatnya


Bianca tidak mengenali mereka yang bisa saja berada dekat dengan Bianca. Waktu


yang di berikan Bela masih sangat banyak, Bianca berniat akan membelikan baju


untuk bi Nur, ya meskipun hanya baju biasa beli dari pasar malam bukan mall besar,


yang terpenting niat tulus dari hati Bianca. Bianca memilah- milah deretan baju


dewasa yang mana yang akan cocok untuk di pakai bi Nur. Setelah ketemu daster


bermotif bunga- bunga dengan latar berwarna orange, Bianca menemui ibu pemilik


kios, bertanya harga lalu segera membayar- tidak pakai acara tawar menawar


karena Bianca punya dua alasan; pertama, karena Bianca tidak pandai menawar


barang, kedua, tidak tega saja menawar harga rendah kepada orang yang kita


tidak tahu seberapa ekonominya. Dari kios baju Bianca memutuskan untuk mencari


bangku duduk di dekat bianglala,- sebuah permainan yang menjadi prioritas


Bianca datang ke acara festival pasar malam ini.


            Bianca sekali lagi melirik jam


tangan hitamnya, masih jam delapan malam lebih sepuluh menit, ‘nanti sajalah


naik bianglalanya, dua puluh menit lagi biar pas setengah sembilan’ pikir


Bianca. Bianca hanya duduk diam, tangannya memegang kantong keresek hitam


berisi baju daster milik bi Nur, lagi- lagi gadis berkucir satu itu memandangi


besar. Bicara bianglala, Bianca salah satu- lebih tepatnya satu- satunya


pecinta terbesar permainan ini, meski dalam usia remajanya, gadis itu tetap


ingin menaiki bianglala. Bagi Bianca seru sekali saat bianglala itu berputar


turun dari atas, membuat desiran degub jantung mencuat, atau saat naik- naiknya


kincir angin besar itu, Bianca langsung di buat jatuh cinta. Namun, perencanaan


Bianca saat itu harus segera diubahnya, dari kejauhan mata Bianca melihat sosok


Reina, Lala, dan beberapa orang lain yang diyakini Bianca anak SMA Pelita


Murni. Sial, gerombolan Reina berjalan menuju ke arah dimana Bianca duduk.


Dengan berpikir cepat, Bianca keluar dari rencananya tadi, bodo amat sajalah.


Gadis itu segera membeli karcis bianglala, mengantri.


            “Gue yang pesen, nih?” suara itu


terdengar dari belakang antrian Bianca, telinganya pun tidak asing dengan suara


tadi. Lala sedang ikutan mengantri di belakang Bianca.


            Barisan perlahan- lahan merangsek ke


depan, Bianca tidak banyak gerak, Lala masih saja di belakangnya. ‘duh jangan-


jangan gue nanti naik sama kak Lala lagi’ batin Bianca. Sampai tiba giliran


Bianca, Bianca pasrah, menyerahkan karcis yang akan di sobek kepada penjaga.

__ADS_1


Bianca melangkah pelan, merasakan apakah Lala masih di belakangnya, hingga saat


Bianca sudah masuk, duduk di dalam kurungan bianglala, lala berteriak.


            “Woi, Given, di sini.” deg. Bianca


mendegar jelas nama yang di sebutkan Lala, kapalanya mendongak, memastikan


dengan mata kepala sendiri.


            Given tiba di dekat Lala. “Lama


banget sih lo, kalau lo ga dateng- dateng, gue aja yang naik nih.” Lala


menggerutu marah, berpura- pura mencoba masuk dalam kurungan.


            “Sorry sorry, thanks banget deh, ya,


udah di pesenin.”


            “Gantiin duit gue ntar.”


            Given mengacungkan jempol, lalu


masuk ke dalam kurungan, sedangkan Lala sudah keluar dari area bianglala, bergabung


bersama gerombolan tadi, ternyata Lala hanya mewakilkan Given untuk membeli


karcis. Semua kurungan bianglala penuh, seorang bapak di bawah yang menjalankan


bianglala segera menyalankan mesinnya, menarik tuas yang menyebabkan bianglala


berputar. Sial, Bianca tidak bisa berpikir waras, ini pertama kalinya ia berada


sangat dekat dengan Given- seorang kaka kelas yang dikagumi Bianca saat pertama


kali melihatnya berjalan dari lorong utama. Tangan Bianca meremas- remas


kantong keresek milik bi Nur untuk mengurangi rasa gugupnya, di hadapannya


Given dengan kamera yang menggantung di lehernya asyik menatap sekitar selagi


bianglala berputar pelan. Oke, Bianca mungkin harus merubah posisi, memiringkan


badan untuk tidak menatap Given di depannya, lebih baik Bianca menikmati


pemandangan dari atas. Lampu- lampu bertebaran terlihat dari atas bianglala,


ini momen yang paling Bianca cinta ketika menaiki bianglala. Namun, pada


putaran terakhir, bertepatan Bianca berada di ujung atas sendiri, bianglala


besar itu berhenti berputar. Bianca memang suka melihat dari atas, tetapi jika


mendadak begini juga terasa menakutkan baginya.


            “Engga usah takut, ini cuma sementara


kok.”


            Bianca membeku, degub jantungnya


terasa berhenti berdetak. Suara menenangkan tadi berasal dari hadapannya.


Setelah ini tolong sadarkan Bianca.


-Apabila ada salah dalam penulisan, PUBEI atau KBBI-nya, mohon  kritik dan sarannya, Kak. Terimakasih.


-Salam Literasi dari Aksara Raya

__ADS_1


__ADS_2