
Reina dan seorang cowo yang
bersamanya akan beranjak pergi, pesanan mereka sudah siap. Mata Bianca menatap
kepergian Reina hingga hilang di belokan jalan, Bianca bernapas lega saat Reina
sudah tidak kelihatan punggungnya, berbelok entah kemana, syukurlah sepertinya
Reina tidak terlalu ngeh dengan adanya Bianca, maklum mungkin karena Bianca
anak baru, lagipula Reina yang seorang OSIS tidak hanya bertemu Bianca seorang
di acara masa orientasi.
“Bu, saya duluan, ya.” pamit Bianca,
menghargai ibu pemilik arum manis itu sambil tersenyum ramah.
Ibu itu hanya membalas tersenyum
lebar seraya membersihkan meja gerobaknya dengan serbet mozaik warna-warni yang
sedikit kotor, mungkin saja memang belum dicuci. Bianca mulai berjalan lagi
meski tanpa tujuan pasti, di lihatnya jam kecil yang menempel di pergelangan
tangannya – jarum jam masih menunjuk angka tujuh malam kurang. Semakin malam,
pengunjung datang bermacam- macam, kalau di lihat dari penampilannya semakin
malam yang datang merupakan warga setempat. Beberapa anak kecil berkisar umur
lima sampai tujuh tahun terlihat senang menaiki komedi putar- menunggangi kuda
dengan warna bermacam- macam berputar pelan. Anak- anak usia di atasnya lagi
menyukai permainan yang lebih ekstrim, seperti perahu yang menganyun kencang
layaknya sedang terkena ombak besar, mengasah ketajaman mata dengan bermain
menanah pada target sasaran merah. Segerombalan anak pemberani membeli tiket
karcis masuk rumah hantu, mengukur berapa kadar keberanian mereka melihat
kemunculan tiba-tiba hantu tipu-tipuan, hingga suara jeritan bersahut-sahutan
di dalam rumah hantu. Bagi pecinta motor racing tidak ingin ketinggalan dengan
atraksi pembalap, orang biasanya menyebut ‘tong setan’, memang pembalap dengan
motornya itu akan unjuk kebolehan di dalam tong besar, di temani lagu yang
sedang ngetrend saat itu, penonton melihat dari tempat atas yang melingkar,
padahal motor racing yang di gunakan itu menimbulkan suara sangat nyaring,
namun tidak memundurkan keantusiasan penontonnya, bahkan ada juga yang melihat
dengan berusaha menjulurkan kepalanya agar keliatan jelas.
Ah, Bianca sebenarnya tidak tertarik
sama sekali dengan semua permainan itu, Bianca hanya melewati saja, memandangi
keramaian massa yang lewat berseliweran di depan mata Bianca. Banyaknya
permainan juga tidak kalah banyak dengan pedagang baju, alat masak, buah-
buahan, penjual mainan, terlihat juga stand penjual alat tulis menulis. Selama
__ADS_1
ini Bianca tidak menemukan lagi anak dari SMA Pelita Murni- lebih tepatnya
Bianca tidak mengenali mereka yang bisa saja berada dekat dengan Bianca. Waktu
yang di berikan Bela masih sangat banyak, Bianca berniat akan membelikan baju
untuk bi Nur, ya meskipun hanya baju biasa beli dari pasar malam bukan mall besar,
yang terpenting niat tulus dari hati Bianca. Bianca memilah- milah deretan baju
dewasa yang mana yang akan cocok untuk di pakai bi Nur. Setelah ketemu daster
bermotif bunga- bunga dengan latar berwarna orange, Bianca menemui ibu pemilik
kios, bertanya harga lalu segera membayar- tidak pakai acara tawar menawar
karena Bianca punya dua alasan; pertama, karena Bianca tidak pandai menawar
barang, kedua, tidak tega saja menawar harga rendah kepada orang yang kita
tidak tahu seberapa ekonominya. Dari kios baju Bianca memutuskan untuk mencari
bangku duduk di dekat bianglala,- sebuah permainan yang menjadi prioritas
Bianca datang ke acara festival pasar malam ini.
Bianca sekali lagi melirik jam
tangan hitamnya, masih jam delapan malam lebih sepuluh menit, ‘nanti sajalah
naik bianglalanya, dua puluh menit lagi biar pas setengah sembilan’ pikir
Bianca. Bianca hanya duduk diam, tangannya memegang kantong keresek hitam
berisi baju daster milik bi Nur, lagi- lagi gadis berkucir satu itu memandangi
besar. Bicara bianglala, Bianca salah satu- lebih tepatnya satu- satunya
pecinta terbesar permainan ini, meski dalam usia remajanya, gadis itu tetap
ingin menaiki bianglala. Bagi Bianca seru sekali saat bianglala itu berputar
turun dari atas, membuat desiran degub jantung mencuat, atau saat naik- naiknya
kincir angin besar itu, Bianca langsung di buat jatuh cinta. Namun, perencanaan
Bianca saat itu harus segera diubahnya, dari kejauhan mata Bianca melihat sosok
Reina, Lala, dan beberapa orang lain yang diyakini Bianca anak SMA Pelita
Murni. Sial, gerombolan Reina berjalan menuju ke arah dimana Bianca duduk.
Dengan berpikir cepat, Bianca keluar dari rencananya tadi, bodo amat sajalah.
Gadis itu segera membeli karcis bianglala, mengantri.
“Gue yang pesen, nih?” suara itu
terdengar dari belakang antrian Bianca, telinganya pun tidak asing dengan suara
tadi. Lala sedang ikutan mengantri di belakang Bianca.
Barisan perlahan- lahan merangsek ke
depan, Bianca tidak banyak gerak, Lala masih saja di belakangnya. ‘duh jangan-
jangan gue nanti naik sama kak Lala lagi’ batin Bianca. Sampai tiba giliran
Bianca, Bianca pasrah, menyerahkan karcis yang akan di sobek kepada penjaga.
__ADS_1
Bianca melangkah pelan, merasakan apakah Lala masih di belakangnya, hingga saat
Bianca sudah masuk, duduk di dalam kurungan bianglala, lala berteriak.
“Woi, Given, di sini.” deg. Bianca
mendegar jelas nama yang di sebutkan Lala, kapalanya mendongak, memastikan
dengan mata kepala sendiri.
Given tiba di dekat Lala. “Lama
banget sih lo, kalau lo ga dateng- dateng, gue aja yang naik nih.” Lala
menggerutu marah, berpura- pura mencoba masuk dalam kurungan.
“Sorry sorry, thanks banget deh, ya,
udah di pesenin.”
“Gantiin duit gue ntar.”
Given mengacungkan jempol, lalu
masuk ke dalam kurungan, sedangkan Lala sudah keluar dari area bianglala, bergabung
bersama gerombolan tadi, ternyata Lala hanya mewakilkan Given untuk membeli
karcis. Semua kurungan bianglala penuh, seorang bapak di bawah yang menjalankan
bianglala segera menyalankan mesinnya, menarik tuas yang menyebabkan bianglala
berputar. Sial, Bianca tidak bisa berpikir waras, ini pertama kalinya ia berada
sangat dekat dengan Given- seorang kaka kelas yang dikagumi Bianca saat pertama
kali melihatnya berjalan dari lorong utama. Tangan Bianca meremas- remas
kantong keresek milik bi Nur untuk mengurangi rasa gugupnya, di hadapannya
Given dengan kamera yang menggantung di lehernya asyik menatap sekitar selagi
bianglala berputar pelan. Oke, Bianca mungkin harus merubah posisi, memiringkan
badan untuk tidak menatap Given di depannya, lebih baik Bianca menikmati
pemandangan dari atas. Lampu- lampu bertebaran terlihat dari atas bianglala,
ini momen yang paling Bianca cinta ketika menaiki bianglala. Namun, pada
putaran terakhir, bertepatan Bianca berada di ujung atas sendiri, bianglala
besar itu berhenti berputar. Bianca memang suka melihat dari atas, tetapi jika
mendadak begini juga terasa menakutkan baginya.
“Engga usah takut, ini cuma sementara
kok.”
Bianca membeku, degub jantungnya
terasa berhenti berdetak. Suara menenangkan tadi berasal dari hadapannya.
Setelah ini tolong sadarkan Bianca.
-Apabila ada salah dalam penulisan, PUBEI atau KBBI-nya, mohon kritik dan sarannya, Kak. Terimakasih.
-Salam Literasi dari Aksara Raya
__ADS_1