Bianglala Itu, Kamu

Bianglala Itu, Kamu
Sofia berubah


__ADS_3

Bela mengelap air matanya yang jatuh selama ia berjalan menuju mobil. Wanita yang


selalu menggenakan kemeja untuk pergi kerja di kantor itu duduk termenung di


kemudi mobil. Sama seperti Bianca, Bela juga tidak ingin mengingat kejadian


waktu itu. Kejadian yang mungkin benar baginya, dan salah untuk Bianca. Atau


memang gadis itu belum bisa memahaminya.


            Pasangan ibu dan anak itu sama-sama


takut tentang masa lalu, sekali melamun mudah sekali untuk mengingat kembali


kejadian masa lalu. Namun keduanya juga sama-sama diam, tidak banyak bicara. Entah


karena gengsi, atau semenjak kejadian waktu itu Bianca sudah dulu mendiamkan


Bela, merasa amat marah, ditambah Bela yang tidak menginzinkannya menemui papa


kandungnya.


            Maka dari itu, Bela menyibukkan diri


di kantor, mengembangkan bisnis lebih luas, hingga sesukses sekarang. Untuk


Bianca, untuk dirinya.


            Drttt… drttt… sebuah telepon masuk


di gawai Bela, membuat ia terkesiap.


            “Klien sudah datang, bu,”


            “Baiklah. Saya segera kesana, terima


kasih,” ucap Bela, menormalkan suaranya agar terdengar tidak sedang menangis. Lalu


memutuskan sambungan terlebih dulu, menyalakan mesin mobil, melaju menuju


kantornya di pusat kota.


            ***


             Kamar berantakan, tas masih berada di


tempatnya- di atas kasur ketika ditinggalkan Bianca untuk makan siang, seragam


kotor juga tergeletak di lantai kamar, sudahlah, Bianca tidak peduli untuk itu


sekarang. Matanya sudah berair, pipinya basah, mengumpat dalam hati, kenapa


selalu saja mengingat kejadian masa lalu itu? Dimana? Dimana papa? Kenapa mama


tidak ingin mengataknnya padaku? Bianca mulai menangis tersedu, dadanya sesak,


berharap akan ada keajaiban yang bisa membuat suasana hatinya kembali membaik. Gadis


itu membenci untuk tidak bisa mengontrol suasana hatinya yang mudah berubah.


            Tanpa sengaja, Bianca menduduki tas


miliknya, merasa ada yang mengganjal. Dalam tangis gadis itu berpikir, sedetik


kemudian terburu-buru menggeledah tas. Arum manis berwarna merah muda di dalam


keresek putih transparan pemberian Given itu remuk, hanya pada bagian yang


tidak sengaja Bianca duduki, tidak banyak. Otaknya langsung mengarah pada


kejadian beberapa jam lalu, diingatnya setiap kalimat Given. Perlahan, sudut


bibir Bianca tertarik, menciptakan lengkung senyum dengan mata sembabnya. Perlahan


juga emosinya terkendalikan, sungai yang membahasi pipinya sudah mulai mengering.


            -


            “Non Bianca tadi pulang sama siapa?”


tanya Bi Nur yang sibuk membereskan makanan di meja tamu. Dua menit lalu teman sekolah


menengah pertama Bianca baru saja datang berkunjung, sekedar main saja.


            “Pulang dari mana, Bi?” Bianca


bertanya, sambil mulutnya mengunyah kacang yang berada di genggamannya.


            “Pulang sekolah tadi,”


            “Oh, itu. Kakak kelas, Bi. Yang lusa


lalu nganterin Bianca pulang juga,” jawab Bianca sedikit tersipu mengingat


Given.


            “Bibi belum lihat anaknya,”


            “Setiap ke sini Bi Nur sedang sibuk

__ADS_1


di belakang,” jawab Bianca, beranjak berdiri, “Bianca ke atas, ya, Bi. Mau


istirahat,”


            Bi Nur menoleh, “Iya, non,” sedetik


kemudian kembali memindahkan gelas-gelas bekas ke nampan.


            Sesampainya di kamar. Bianca


menyambar arum manis yang remuk di bagian samping, baru sempat ia makan


sekarang. Ia menuju balkon kamar, tidak lupa membawa novel juga ponsel di nakas


mejanya, ia ingin menghabiskan waktu malam untuk menatap dari atas, menikmati


arum manis juga membaca lanjutan kisah Geez


and Ann. Bianca mulai melahap arum manisnya, sangat terasa manis di lidah


sampai menjalar ke hati Bianca. Gadis itu tersenyum, melupakan niatnya membaca


novel, asyik melahap arum manis, menatap ke arah jalan yang diterangi lampu.


            Tiba-tiba Bianca teringat satu hal,


baru kemarin ia mengatakan, meminta pada Tuhan untuk mendatangkan keajaiban


sebagai pengusir rasa resahnya. Hatinya menghangat, Given telah memasuki ruang


hampa itu. Entah sudah berapa kali Given mampu mengembalikan mood Bianca dari


bad menjadi good. Malam semakin beranjak, arum manis ditangan Bianca juga


tinggal sedikit, waktunya pergi tidur.


            ***


            Pagi kembali datang.


            “Mama masih tidur, Bi?” tanya Bianca


sesampainya di dapur, rapi dengan pakaian training sesuai intruksi kemarin di


aula.


            “Sebentar, non,” Bi Nur menuangkan


nasi goreng dari wajan, lalu beranjak keluar dapur. Bianca mengangkat bahu,


mengambil duduk di meja makan.


            Tiga menit berlalu, Bi Nur kembali,


            Bianca mengangguk, meraih susu kotak


di atas meja makan.


            “Bi Nur, punya saya di taruh kotak


makan saja,” ujar Bela dari arah pintu.


            Bianca menoleh, “Mama engga


sarapan?”


            “Mama makan di kantor saja,” Bela


menggeser kursi, ikut duduk.


            Bianca hanya mengangguk, segera


menghabiskan menu sarapan pagi ini.


           ***


            “Kamu kenapa senyum terus dari


tadi?” tanya Bianca, melirik sekilas Bianca yang duduk di samping kemudi mobil.


            “Engga apa-apa,” jawab Bianca tanpa


menoleh.


            “Karena laki-laki yang nganterin


kemarin?” tuding Bela tidak meleset.


            “Bukan siapa-siapa, Ma. Lagian juga


sudah dua kali nganter, bukan sekali,”


            “Eh, jadi sebelum kemarin sudah


dianterin?” Bela menoleh, jalanan tidak terlalu ramai.


            “Iyaa,” balas Bianca lirih.


            “Jadi siapa-siapa kamu, dong,”

__ADS_1


            “Mama apa sih. Bianca mau ke


sekolah,”


            Persis mobil Bela sampai pada


tujuan, Bianca segera menyalami tangan Bela- yang menatapnya penuh goda,


buru-buru turun sebelum pipinya terlihat merah.


          ***


            “Sofiaa,”


            Sofia yang sibuk mengusap layar


gadget hanya membalas panggilan Bianca dengan deheman.


            “Sofiiaaa Putri,”


            Bianca menggeser kursi, mendekati


Sofia yang masih acuh terhadapnya. Sudah seperti mamanya yang orang penting


saja, terlalu fokus pada gadget.


            “Sofiaa, dengerin gue dulu dong.”


Teriak Bianca tepat di telinga Sofia.


            Sofia mengusap-usap telinga, menoleh


pada Bianca.


            “Ada apaan, sih?” tanya Sofia


sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas.


            “Nanti kan ada pendaftaran paskibra.


Ikut, yuk, Sof!” seru Bianca semangat.


            Yang diajak bahkan tidak menunjukkan


antusias apapun, yang ada malah raut muka datar.


            “Engga mau. Gue engga pernah niat


ikut gituan, males dan juga panas pastinya.”


            “Ayo lah, Sof. Hanya untuk setahun


sekali.” Bianca membujuk, menampakkan raut cemberut.


            “Tidak akan, Bianca Lala.”


            “Lo kenapa, sih? Tumbenan jutek kek


gini,” Bianca menyipitkan mata.


            “Hah apaan? Engga. Lo sendiri sama


Kak Given gimana? Kemarin jadi ketemu engga?” Sofia segera merubah raut wajah,


sejurus kemudian memutar topik.


            “Lo apaan dah. Kelihatan banget ada


apa-apanya.”


            “Engga ada, Bi.” Jawab Sofia penuh


penekanan, alih-alih untuk menyakinkan Bianca yang ada nada suara Sofia malah


membuat Bianca makin penasaran.


            “Kalau lo bohong. Gue jabanin lo


engga akan ketemu sama pangeran impian lo, ******.”


            “Eh, jangan dong. Curang banget,”


Bianca yang merasa berhasil mengancam tertawa kecil.


            “Nanti lo juga akan tahu sendiri,


Bi.” tambah Sofia sok dramatis. Kalau dramatis dan cerewetnya masih saja, sih.


            Persis sedetik setelah jawaban


Sofia, bel sekolah berbunyi, mengisyaratkan anak-anak untuk segera berkumpul di


lapangan pagi ini. Ah, Bianca sedikit cemberut karena penolakan Sofia, juga


karena tidak berhasil mengancam. Tapi tak apa, Bianca bisa membujuknya lagi


nanti sembari memikirkan hal yang bisa menjadi iming-iming.


 

__ADS_1


***


Apabila ada kesalahan dalam penulisan KBBI atau PUEBIN-nya, mohon kritik dan saran, ya, Kak. Terimakasih. Salam literasi dari Aksara Raya:)


__ADS_2