
Bela mengelap air matanya yang jatuh selama ia berjalan menuju mobil. Wanita yang
selalu menggenakan kemeja untuk pergi kerja di kantor itu duduk termenung di
kemudi mobil. Sama seperti Bianca, Bela juga tidak ingin mengingat kejadian
waktu itu. Kejadian yang mungkin benar baginya, dan salah untuk Bianca. Atau
memang gadis itu belum bisa memahaminya.
Pasangan ibu dan anak itu sama-sama
takut tentang masa lalu, sekali melamun mudah sekali untuk mengingat kembali
kejadian masa lalu. Namun keduanya juga sama-sama diam, tidak banyak bicara. Entah
karena gengsi, atau semenjak kejadian waktu itu Bianca sudah dulu mendiamkan
Bela, merasa amat marah, ditambah Bela yang tidak menginzinkannya menemui papa
kandungnya.
Maka dari itu, Bela menyibukkan diri
di kantor, mengembangkan bisnis lebih luas, hingga sesukses sekarang. Untuk
Bianca, untuk dirinya.
Drttt… drttt… sebuah telepon masuk
di gawai Bela, membuat ia terkesiap.
“Klien sudah datang, bu,”
“Baiklah. Saya segera kesana, terima
kasih,” ucap Bela, menormalkan suaranya agar terdengar tidak sedang menangis. Lalu
memutuskan sambungan terlebih dulu, menyalakan mesin mobil, melaju menuju
kantornya di pusat kota.
***
Kamar berantakan, tas masih berada di
tempatnya- di atas kasur ketika ditinggalkan Bianca untuk makan siang, seragam
kotor juga tergeletak di lantai kamar, sudahlah, Bianca tidak peduli untuk itu
sekarang. Matanya sudah berair, pipinya basah, mengumpat dalam hati, kenapa
selalu saja mengingat kejadian masa lalu itu? Dimana? Dimana papa? Kenapa mama
tidak ingin mengataknnya padaku? Bianca mulai menangis tersedu, dadanya sesak,
berharap akan ada keajaiban yang bisa membuat suasana hatinya kembali membaik. Gadis
itu membenci untuk tidak bisa mengontrol suasana hatinya yang mudah berubah.
Tanpa sengaja, Bianca menduduki tas
miliknya, merasa ada yang mengganjal. Dalam tangis gadis itu berpikir, sedetik
kemudian terburu-buru menggeledah tas. Arum manis berwarna merah muda di dalam
keresek putih transparan pemberian Given itu remuk, hanya pada bagian yang
tidak sengaja Bianca duduki, tidak banyak. Otaknya langsung mengarah pada
kejadian beberapa jam lalu, diingatnya setiap kalimat Given. Perlahan, sudut
bibir Bianca tertarik, menciptakan lengkung senyum dengan mata sembabnya. Perlahan
juga emosinya terkendalikan, sungai yang membahasi pipinya sudah mulai mengering.
-
“Non Bianca tadi pulang sama siapa?”
tanya Bi Nur yang sibuk membereskan makanan di meja tamu. Dua menit lalu teman sekolah
menengah pertama Bianca baru saja datang berkunjung, sekedar main saja.
“Pulang dari mana, Bi?” Bianca
bertanya, sambil mulutnya mengunyah kacang yang berada di genggamannya.
“Pulang sekolah tadi,”
“Oh, itu. Kakak kelas, Bi. Yang lusa
lalu nganterin Bianca pulang juga,” jawab Bianca sedikit tersipu mengingat
Given.
“Bibi belum lihat anaknya,”
“Setiap ke sini Bi Nur sedang sibuk
__ADS_1
di belakang,” jawab Bianca, beranjak berdiri, “Bianca ke atas, ya, Bi. Mau
istirahat,”
Bi Nur menoleh, “Iya, non,” sedetik
kemudian kembali memindahkan gelas-gelas bekas ke nampan.
Sesampainya di kamar. Bianca
menyambar arum manis yang remuk di bagian samping, baru sempat ia makan
sekarang. Ia menuju balkon kamar, tidak lupa membawa novel juga ponsel di nakas
mejanya, ia ingin menghabiskan waktu malam untuk menatap dari atas, menikmati
arum manis juga membaca lanjutan kisah Geez
and Ann. Bianca mulai melahap arum manisnya, sangat terasa manis di lidah
sampai menjalar ke hati Bianca. Gadis itu tersenyum, melupakan niatnya membaca
novel, asyik melahap arum manis, menatap ke arah jalan yang diterangi lampu.
Tiba-tiba Bianca teringat satu hal,
baru kemarin ia mengatakan, meminta pada Tuhan untuk mendatangkan keajaiban
sebagai pengusir rasa resahnya. Hatinya menghangat, Given telah memasuki ruang
hampa itu. Entah sudah berapa kali Given mampu mengembalikan mood Bianca dari
bad menjadi good. Malam semakin beranjak, arum manis ditangan Bianca juga
tinggal sedikit, waktunya pergi tidur.
***
Pagi kembali datang.
“Mama masih tidur, Bi?” tanya Bianca
sesampainya di dapur, rapi dengan pakaian training sesuai intruksi kemarin di
aula.
“Sebentar, non,” Bi Nur menuangkan
nasi goreng dari wajan, lalu beranjak keluar dapur. Bianca mengangkat bahu,
mengambil duduk di meja makan.
Tiga menit berlalu, Bi Nur kembali,
Bianca mengangguk, meraih susu kotak
di atas meja makan.
“Bi Nur, punya saya di taruh kotak
makan saja,” ujar Bela dari arah pintu.
Bianca menoleh, “Mama engga
sarapan?”
“Mama makan di kantor saja,” Bela
menggeser kursi, ikut duduk.
Bianca hanya mengangguk, segera
menghabiskan menu sarapan pagi ini.
***
“Kamu kenapa senyum terus dari
tadi?” tanya Bianca, melirik sekilas Bianca yang duduk di samping kemudi mobil.
“Engga apa-apa,” jawab Bianca tanpa
menoleh.
“Karena laki-laki yang nganterin
kemarin?” tuding Bela tidak meleset.
“Bukan siapa-siapa, Ma. Lagian juga
sudah dua kali nganter, bukan sekali,”
“Eh, jadi sebelum kemarin sudah
dianterin?” Bela menoleh, jalanan tidak terlalu ramai.
“Iyaa,” balas Bianca lirih.
“Jadi siapa-siapa kamu, dong,”
__ADS_1
“Mama apa sih. Bianca mau ke
sekolah,”
Persis mobil Bela sampai pada
tujuan, Bianca segera menyalami tangan Bela- yang menatapnya penuh goda,
buru-buru turun sebelum pipinya terlihat merah.
***
“Sofiaa,”
Sofia yang sibuk mengusap layar
gadget hanya membalas panggilan Bianca dengan deheman.
“Sofiiaaa Putri,”
Bianca menggeser kursi, mendekati
Sofia yang masih acuh terhadapnya. Sudah seperti mamanya yang orang penting
saja, terlalu fokus pada gadget.
“Sofiaa, dengerin gue dulu dong.”
Teriak Bianca tepat di telinga Sofia.
Sofia mengusap-usap telinga, menoleh
pada Bianca.
“Ada apaan, sih?” tanya Sofia
sembari memasukkan ponselnya ke dalam tas.
“Nanti kan ada pendaftaran paskibra.
Ikut, yuk, Sof!” seru Bianca semangat.
Yang diajak bahkan tidak menunjukkan
antusias apapun, yang ada malah raut muka datar.
“Engga mau. Gue engga pernah niat
ikut gituan, males dan juga panas pastinya.”
“Ayo lah, Sof. Hanya untuk setahun
sekali.” Bianca membujuk, menampakkan raut cemberut.
“Tidak akan, Bianca Lala.”
“Lo kenapa, sih? Tumbenan jutek kek
gini,” Bianca menyipitkan mata.
“Hah apaan? Engga. Lo sendiri sama
Kak Given gimana? Kemarin jadi ketemu engga?” Sofia segera merubah raut wajah,
sejurus kemudian memutar topik.
“Lo apaan dah. Kelihatan banget ada
apa-apanya.”
“Engga ada, Bi.” Jawab Sofia penuh
penekanan, alih-alih untuk menyakinkan Bianca yang ada nada suara Sofia malah
membuat Bianca makin penasaran.
“Kalau lo bohong. Gue jabanin lo
engga akan ketemu sama pangeran impian lo, ******.”
“Eh, jangan dong. Curang banget,”
Bianca yang merasa berhasil mengancam tertawa kecil.
“Nanti lo juga akan tahu sendiri,
Bi.” tambah Sofia sok dramatis. Kalau dramatis dan cerewetnya masih saja, sih.
Persis sedetik setelah jawaban
Sofia, bel sekolah berbunyi, mengisyaratkan anak-anak untuk segera berkumpul di
lapangan pagi ini. Ah, Bianca sedikit cemberut karena penolakan Sofia, juga
karena tidak berhasil mengancam. Tapi tak apa, Bianca bisa membujuknya lagi
nanti sembari memikirkan hal yang bisa menjadi iming-iming.
__ADS_1
***
Apabila ada kesalahan dalam penulisan KBBI atau PUEBIN-nya, mohon kritik dan saran, ya, Kak. Terimakasih. Salam literasi dari Aksara Raya:)