Bingkai Lara

Bingkai Lara
Rumah sakit


__ADS_3

Kali ini author hadir dengan membawa unsur Anak SMP. Selamat menikmati dan jangan lupa tinggalkan jeja**k. Banyak pelajaran berharga yang bisa dipetik loh.... **


---oOo---


Hiduplah seperti kacamata yang selalu menoleh ke depan, bukan seperti kaca spion yang terus menoleh ke belakang. Karna hidup harus memikirkan masa depan, tidak hanya berlarut dalam masa lalu.


Aku membuka mata perlahan-lahan, ekor mataku menerawang ke setiap sisi yang ada dalam ruangan ini, ruangan yang tidak asing lagi. Pelan-pelan aku melihat ke arah tangan kananku. Jarum tercucuk begitu saja pada punggung tangan, dan aku melihat ada botol gantung di sisi kanan. Lalu, seperti ada yang ganjal dengan hidungku. Kualihkan tangan kiriku pelan-pelan mendekat ke hidung, meraba benda apa yang melekat. Ada selang yang menusuk di kedua lubang hidungku.


Mengapa aku bisa berada di rumah sakit?


"Syukurlah, kamu sudah bangun." Tiba-tiba ada dua orang asing yang parasnya seperti orang barat menghampiriku. Aku sama sekali tidak mengenal mereka.


Nyut!


Kepalaku sangat pening. Berat rasanya menggerakkan kepala ini, seperti baru saja menghantam beton yang sangat-sangat berat. Perlahan kutahan sedikit rasa sakit itu. Aku ingin bertanya pada mereka, apa yang telah terjadi padaku sampai aku berada di sini?


"Kenapa aku di sini?" tanyaku pada dua orang paruh baya yang sudah berada di sisi ranjangku.


Wanita itu berparas cantik bak bidadari. Kulitnya putih, rambutnya lurus kecokelatan. Dan Pria itu berparas tampan bak pangeran. Kulitnya putih, rambutnya cepak kekuningan.


"Kamu kecelakaan, Sayang," ucap wanita paruh baya itu lembut, selembut kain sutra. Entah mengapa, sepertinya aku baru pertama kali merasakan perasaan menyenangkan seperti ini. Perasaan yang hangat saat di panggil dengan sebutan 'sayang.' Seperti pertama kali nya ku dapatkan seseorang memanggilku seperti itu.


Aku mencoba untuk duduk dan wanita itu membantuku. Tapi, saat kepalaku baru sedikit terangkat, rasanya nyut-nyutan di kepalaku makin lebih sakit.


"Aaw...!" aku meringis kesakitan.


Dua orang asing itu memasang raut yang super panik sembari berteriak-teriak memanggil 'dokter, suster' dan juga menekan bel yang ada di belakang tempat tidurku. Tapi dokter maupun perawat belum datang. Pria paruh baya yang wajahnya masih kental dengan ke-barat-baratan itu segera berlari keluar ruangan untuk mencari dokter ataupun perawat.


"Jangan dipaksain. Kamu tidur saja dulu." Wanita itu menurunkan kembali kepalaku secara pelan-pelan dan dengan penuh kasih sayang.


"Kepalaku benar-benar sakit!" aku menjambak-jambak rambutku hingga membuat perban yang melekat pada kepalaku tergeser dan melonggar. Rasanya benar-benar sakit, dan aku malah menambah rasa sakit itu.


Tapi saat aku melakukannya, wanita itu meraung-raung histeris. Beliau memintaku untuk tidak menyakiti diri sendiri. Aku merasa iba padanya dan menghentikan tanganku yang menjambak-jambak rambutku.


"Jangan lakukan itu lagi." Air matanya berderai begitu saja.


Kalau dilihat dari apa yang diperbuatnya ke aku, mungkin dia itu ibuku. Tapi, mengapa aku tak mengingatnya? Ada apa dengan isi kepalaku ini? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?


Dokter dan perawat baru saja masuk ke dalam ruanganku beserta pria tadi. Tampaknya, wajah pria itu sedikit pucat. Apa ini karena aku? Dokter wanita itu meminta pada dua orang asing itu untuk meninggalkan ruangan. Dia ingin memeriksa keadaanku.


---oOo---

__ADS_1


Author's POV.


Sebelum kejadian.


Hari ini akan menjadi hari yang benar-benar indah untuk Kevin dan Kesya. Hari di mana mereka akan merayakan ulang tahun pernikahannya yang ke enam belas tahun. Namun, di usia pernikahan yang sudah bisa dibilang lama ini, mereka masih belum dikaruniai seorang anak. Lima belas tahun yang lalu, Kesya mengalami keguguran yang cukup parah, hingga membuat dinding rahimnya rusak dan harus diangkat. Walaupun Kesya tidak bisa melahirkan seorang anak, kasih sayang dan cinta Kevin padanya tak akan luntur. Menurut Kevin, seorang anak bukanlah hal yang harus dipaksakan dalam kehidupan berumah tangga seperti ini. Jarang sekali ada pria yang seperti Kevin.


"Sayang, kita mau ke mana nanti?" tanya Kevin pada istri tercintanya, Kesya.


Kevin masih belum berhenti memanggil Kesya dengan panggilan sayang. Kevin takut, jika memanggil Kesya dengan panggilan 'mama', akan menyinggung perasaan Kesya nantinya.


"Gimana kalau kita makan siang di restoran milik kamu saja?" saran Kesya pada sang suami..


Kevin menerima permintaan istri tercintanya, dan mereka segera bergegas membereskan diri, lalu mereka pergi.


Belum jauh dari arah rumah mereka, Kesya melihat sosok gadis yang sedang menghantamkan kepalanya ke dinding. Entah apa tujuannya melakukan itu, namun yang pasti itu untuk menyiksa dirinya sendiri.


"Sayang, stop!" perintah Kesya.


Kevin pun menghentikan laju mobilnya dan menepi. "Ada apa, Sayang?" Kevin menyernyit.


"Liat." Kesya menujuk ke arah gadis itu. "Gadis itu kenapa? Kita tolongi, yuk, Sayang." Kesya membuka pintu mobilnya, diikuti Kevin, dan berlari mendekati gadis yang sudah berlumuran darah di sekitar kepalanya.


"Aku mau mati," ucapnya lirih.


Namun, setelah mengucapkan tiga kata itu, gadis kecil itu lunglai dan hampir terjatuh. Kesya menahannya agar dia tidak terjatuh ke tanah. Kevin membantu sang istri dan menggendong gadis itu masuk ke dalam mobil. Mereka membawanya ke rumah sakit.


---oOo---


Author's Pov


"Fan, bagaimana keadaannya?" tanya Kesya panik saat melihat Dokter Fanny yang baru saja selesai memeriksa keadaan gadis itu sedang menutup pintu. Dokter Fanny baru saja keluar dari ruangan perawatan gadis itu.


"Sepertinya, dugaanku benar. Gadis itu mengalami amnesia," ucapnya dengan suara yang menandakan penyesalan.


Pernyataan Dokter Fanny membuat Kesya tergulai lemas. Entah mengapa dia merasakan hal yang menyakitkan itu datang untuk yang kedua kalinya. Kesya tak tahu siapa gadis itu, tapi mengapa dia begitu khawatir akan keadaan gadis itu? Entahlah, mungkin panggilan jiwa keibuannya yang membuatnya seperti ini, atau rasa kasian kepada gadis kecil itu.


Kevin menopang tubuh kecil Kesya. Dia tahu, apa yang dirasakan Kesya setelah mendengar kabar menyakitkan dari Dokter Fanny. "Apa itu parah?" tanyanya.


"Tidak! Amnesia itu kemungkinan bisa disembuhkan," ucap Dokter Fanny yang mampu membuat Kesya merasakan kekuatannya pulih kembali. "Tapi, kenapa kalian begitu khawatir pada gadis itu? Kalian 'kan bukan siapa-siapanya!"


Ya, Dokter Fanny mengetahuinya, karena Dokter Fanny adalah mantan pacar Kevin sewaktu SMA. Namun walau begitu, tidak ada dendam atau permusuhan sama sekali antara Dokter Fanny, Kevin dan Kesya. Mereka sangat menjaga hubungan ini. Menurut mereka, hidup ini tak akan baik bila hanya menoleh ke belakang. Yang lalu biarlah berlalu, bukalah lembaran baru. Lagipula, Dokter Fanny sudah menikah dengan seorang pengusaha terkenal yang merupakan rekan kerja Kevin juga.

__ADS_1


Kesya dan Kevin menyernyit heran. Mereka tidak tahu, mengapa begitu khawatirnya mereka pada gadis itu? Apa karena mereka merindukan seorang anak?


"Mungkin, itu anak yang dititipkan Tuhan untuk kalian," lanjut Dokter Fanny yang membuat keduanya semakin menyernyit heran.


Dokter Fanny juga tahu, bahwa mereka berdua sampai sekarang belum dikaruniai seorang anak. "Kalian bisa saja menjaganya dan mengadopsinya sebagai anak kalian."


Perkataan Dokter Fanny mungkin ada benarnya juga. Apa salahnya mereka mencoba mengadopsi gadis kecil itu. Lagipula, sepertinya gadis itu mempunyai masalah yang sangat besar, hingga berani melukai dirinya sendiri.


"Ada kabar buruknya juga." Sontak Pasangan suami istri itu terkejut. Apa yang akan menjadi kabar buruknya? "Dia mengalami depresi berat. Kebiasaannya menyiksa diri mungkin tidak akan hilang. Mungkin hidupnya selama ini selalu tertekan," jelas Dokter Fanny. Kevin dan Kesya yang mendengarnya langsung kaget. "Kalau kalian ingin mengadopsinya, kalian harus membuatnya bahagia. Jangan biarkan dia melakukan hal-hal yang dapat membahayakan dirinya sendiri," lanjut Dokter Fanny menyarankan pada mereka.


Kehidupan macam apa yang dirasakan gadis itu hingga membuatnya terluka seperti ini? Kesya dan Kevin berjanji akan mengadopsi gadis yang berumur lima belas tahun itu dan menjaganya dengan penuh kasih sayang. Dia tak akan membiarkan gadis itu menderita lagi. Bahkan, bila suatu saat gadis itu mengingat masa lalunya.


"Kira-kira, hal apa yang membuatnya seperti itu?" tanya Kesya yang penuh penasaran.


"Dari beberapa pasien saya yang seumuran dia, kebanyakan mereka menderita depresi karena faktor orangtua. Mungkin, orangtuanya selalu menyakitinya," jelas Dokter Fanny.


Glek!


Kesya meneguk air ludanya. Berusaha mencerna kembali perkataan Dokter Fanny. Mengapa orangtuanya begitu kejam? Mengapa mereka tidak pernah bersyukur, telah dikaruniai seorang anak? batinnya mengumpat pada orangtua yang sialan seperti itu. Orangtua yang tidak pernah besyukur.


"Ya sudah, kalian boleh masuk melihat keadaannya. Aku pamit pergi dulu. Masih banyak pekerjaan yang menanti," pamit Dokter Fanny, lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Kevin dan Kesya pun masuk kembali ke dalam ruangan gadis itu.


"Kamu udah mendingan, Sayang?" tanya Kesya saat melihat gadis itu sudah duduk di atas ranjangnya.


"Udah, Ma."


Dwaaar!!


Kesya seperti baru saja ditembak oleh pistol. Dia tak menyangka, gadis itu akan memanggilnya dengan sebutan 'Ma'.


Apa dia mengira bahwa aku Mamanya? batin Kesya tak percaya. Sama. Kevin juga merasakan perasaan yang sama dengan istrinya.


"Tadi apa saja yang dibilang dokter sama kamu?" tanya Kesya.


"Dokter bilang, kondisi aku sudah mulai membaik, Ma." Lagi-lagi kata'Ma' berhasil membuat Kesya seperti melayang-layang diangkasa. "Omong-omong, kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun?" Dokter Fanny tidak mengatakan apa pun selain kata yang tadi pada gadis itu.


Untuk sekian detik, suasananya hening. Hanya suara jam dinding berdetak yang terdengar di ruangan ini. Kesya masih ragu untuk bilang pada gadis itu tentang kondisinya. Kevin yang menyadarinya, langsung angkat bicara. "Kamu mengalami amnesia, Sayang," ucapnya lirih. Kevin takut akan terjadi apa-apa lagi dengan gadis itu.


"Oh!" jawabnya santai. Ternyata dugaan mereka salah. Gadis itu mampu menerima penyakit amnesianya itu. Mungkin dia menerima jika takdirnya harus begini. "Terus nama aku siapa, Pa?" Pertanyaan yang terlontar sempat membuat suasananya kembali hening. Mereka bingung harus jawab apa kepada gadis ini. "Kenapa diam, Ma, Pa?" Gadis itu menyadari suasana yang hening dan canggung. Dia masih belum mengerti dengan kejadian yang sesungguhnya.

__ADS_1


__ADS_2