Bingkai Lara

Bingkai Lara
Pertemanan


__ADS_3

Mereka semua terkejut mendengar ucapan yang memang


kusengaja, “Karena sekarang kita adalah sahabat.”


“Aaaa…h….”


Mereka semua memelukku, membuat seluruh oksigen yang


kubutuhkan terhalang, tapi aku senang.


“Makasih, Kayla,” ucap mereka semua kompak. Lalu satu


persatu, pelukan itu terlepas.


“Iya, sama-sama. Aku telepon mama dulu, ya, untuk


membantu mengurus berkas cabutan gugatan. Mudah-mudahan kalian bisa keluar hari


ini juga.” Aku memanggil nomor mama dan bergerak mencari tempat yang tepat


untuk mengobrol dengan mama di balik sambungan telepon.


“Kenapa, Sayang?” tanya mama saat


panggilan sudah tersambung


“Ma, Kayla mau cabut tuntutan mereka semua. Mama bisa


bantu Kayla?”


“Loh, kenapa, Sayang?”


Aku menjelaskan kepada mama cukup panjang, hingga


memakan waktu yang tak sedikit. Awalnya mama menolak membantuku, tapi aku


berusaha keras membujuknya. Alhasil berhasil, mama bersedia membantuku.


Semua proses itu dapat terselesaikan hingga malam


hari. Walau ada beberapa kendala, seperti pengumpulan berkas dan saksi yang


belum tepat menurut pihak kepolisian, tapi semua itu dapat terselesaikan berkat


pengacara yang mama utus.


Mereka semua sangat senang karena dapat pulang dan


berkumpul kembali bersama keluarganya.


“Aku pamit pulang dulu, ya, Kay. Terima kasih banyak.”


Hanya Bella, aku dan mama yang masih tersisa di lapas, karena tadinya masih


menunggu jemputan dari keluarganya. “Saya pamit dulu ya, Tante. Terima kasih


banyak, Tan.” Dia menyalam tangan mama sopan.


“Hati-hati di jalan, Bel,” ucapku dan mama kompak.


Bella pun menaiki mobil yang dibawa oleh supir pribadi


papanya. Hingga mobil itu tak terlihat lagi karena jaraknya sudah jauh.


“Kayla mama antar kemana?”


“Ke rumah ibu saja, Ma. Ibu sudah cemas dengan keadaan


Kayla, soalnya dari tadi ibu nanya mulu kenapa Kayla lama banget pulangnya.”


“Baiklah.”


---o0o---


Mama langsung pamit pulang begitu sudah sampai di rumah


ibu. Kata mama, “Kayla harus banyak istirahat. Pasti hari ini udah lelah


banget.” Ya memang, sih. Untuk hari yang singkat ini sangat melelahkan, tapi


banyak pelajaran yang bisa kupetik dari setiap kejadian.


Buru-buru aku masuk ke kamar, rasanya tubuhku sangat


butuh berbaring di atas kasur yang memiliki atmosfer terkuat. Karena


terburu-burunya, aku sampai ceroboh dan menyenggol meja yang ada di kamarku.


“Aw…,” kataku kesakitan.


Beberapa barang yang ada di atas meja itu pun


terjatuh. Kuambil barang-barang itu dan kususun kembali. Tapi saat barang


terakhir yang kupegang ini, entah kenapa menarik perhatianku. Buku kecil dengan


judul depan ‘Bingkai Lara’, sepertinya itu bukan buku pelajaran ataupun buku

__ADS_1


catatan.


Aku dibuat penasaran dengan buku itu. Kucoba membuka


buku yang kupegang dan membacanya, siapa tahu aku menemukan sesuatu tentang


masa laluku.


~Buku seorang gadis depresi yang senang menyiksa diri sendiri~


Kalimat yang tertera di halaman pertama membuatku kaget, tapi masih banyak pertanyaan yang menyerang benakku.


Apa mungkin ini buku diaryku dulu?


Aku membuka lembaran pertama buku itu.  'Aku hanya sedang menahan rasa sakit yang membuatku tak bisa berhenti menjerit'


Rasa sakit? Rasa sakit seperti apa yang kurasakan? Aku yakin kalau buku ini pasti milikku, tapi aku belum tahu rasa sakit apa yang kurasakan dulu.


Karena rasa penasaran yang muncul terlalu besar, aku membuka lembar selanjutnya dan membaca


rangkaian kata yang ada.


BINGKAI LARA


Bolehkah aku bercerita?


Tentang hati yang tak kunjung bahagia


Takdir seakan suka sekali menyiksa


Membuatku begitu menderita


 


Mengapa kehidupanku seperti ini?


Wajahku tak pernah berseri


Semua yang ada padaku selalu pergi


Aku selalu hidup sendiri


Tak ada yang mau menemani


 


Bahkan…


Kehidupan keluargaku sangat berantakan


Mengapa kehidupanku sangat kelam?


Aku selalu diolok anak haram


Tak bolehkah mereka berteman?


Walau aku anak haram, kita sama-sama diciptakan Tuhan


Tak ada yang berbeda, bukan?


Rasanya…


Aku ingin pergi dari dunia yang begitu menyiksa


Aku tak sanggup menghadapi ini semua


Lebih baik aku pergi dari dunia


Siapa tahu kutemukan kebahagian di surga


Bahkan jika aku mati nanti


Tak akan ada yang peduli


“Aaaaaaaaaaaaaaaaahh….”


Aku berteriak dengan air mata yang tak lagi terisak.


Kenapa? Kenapa hidupku dulu seperti itu?


Kepalaku sakit sekali, rasanya seperti ingin meledak.


Semakin keras teriakan yang kukeluarkan membuat ayah dan ibu berlari


menghampiriku. Mereka panik, tapi akhirnya mengerti karena mereka melihat


sebuah buku  yang kupegang.


“Samatha….” Ibu memangku kepalaku di atas pahanya,


kemudian memukul-mukul pipiku, bermaksud menyadarkanku.


Tubuhku sadar, tapi pikiranku yang nyasar.


“Buu…, Yah…,” panggilku lirih. Saat ini aku


benar-benar lemas. Pikiranku kacau. Beberapa keeping-keping memori masa lalu

__ADS_1


terekam dalam ingatanku. Aku mencoba menenangkan diri, agar rasa sakit tak


bertambah.


“Kenapa, Nak?” tanya kedua orangtuaku kompak. Mata ibu


berkaca-kaca, sepertinya sebentar lagi air matanya akan tumpah.


“Samatha sudah ingat semuanya. Sam ingat, kalau dulu


ibu dan ayah selalu bertengkar dan Sam lah yang jadi sasaran kalian. Kalian


selalu melampiaskan rasa kesal kalian pada Sam. Kenapa, Bu, Yah? Sam salah


apa?” kataku mencoba tenang, namun air mataku tak dapat lagi kubendung. Aku


menutup mata, sangat berusaha agar kondisiku tetap stabil.


Air mata ibu tumpah dengan deras, dapat kurasakan


karena air matanya menyentuh wajahku.


“Maafin ibu, Sam. Ibu salah. Ibu udah sadar dan ibu


sangat menyesal.” Semakin deras air matanya tumpah.


“Ayah juga minta maaf, Sam.” Kali ini aku mendengar


suara tangis ayah yang sama besarnya dengan suara tangis ibu. “Kami memang


orangtua yang buruk. Yang berbuat kesalahan kami, tapi kamu yang selalu jadi


korban dari perbuatan kami.”


Aku membuka mata yang dari tadi kututup. Kali ini


emosiku sudah tak bisa kukontrol lagi. “Ibu dan ayah ngga pernah mikir gimana


perasaan Sam? Di sekolah Sam ngga pernah dapatkan teman seorangpun. Sam selalu


diejek, dihina, bahkan dibully.” Aku


mengatur napasku, sukar. “Waktu itu juga kalian melarang Sam untuk sekolah.


Sebenarnya apa yang kalian pikirkan, Yah, Bu? Kenapa kalian sangat membenci


Sam? Apa karena Sam hidup kalian hancur? Kalau seperti itu, kenapa ayah dan ibu


yang memanggil Sam untuk lahir ke dunia ini?” Aku sudah benar-benar lepas


kendali. Tak kupikirkan lagi bagaimana perasaan ayah dan ibu saat mendengar


ucapanku.


“Kami tak tahu dengan apa kami bisa menebus dosa-dosa


kami. Maafin ayah dan ibu, Nak.” Ibu membungkukkan badanku, memeluk kepalaku.


“Kamu boleh bawa kami ke penjara, Sam. Walau itu tak


akan bisa menebus semua dosa-dosa kami. Kami memang pantas berada di dalam


sana. Kami ini penjahat!” kata ayah tegas.


Bagaimana bisa aku menyeret mereka masuk dalam


penjara? Sedangkan teman-temanku yang sudah berbuat kejahatan pun masih aku


maafkan. Kenapa aku tak bisa memaafkan orangtuaku sendiri?


Aku menarik napas dalam, “Yah, Bu, Sam ngga akan tega


membawa kalian ke penjara. Sam sudah maafin kalian, ‘kok.” Aku mengubah


posisiku yang dari tadi berada di atas pangkuan ibu, sekarang sudah duduk.


Ayah dan ibu langsung memelukku hangat, “Makasih, Sam.


Kami janji akan buat kamu bahagia.”


---o0o---


Kehidupanku sekarang sudah berubah seratus delapan puluh derajat dibandingkan dengan kehidupan dulu. Sekarang aku sudah mempunyai banyak teman. Banyak juga yang sudah tahu tentang kehidupanku yang sebenarnya, tapi mereka semua masih tetap mau berteman denganku. Mereka tak pernah menghinaku sebagai anak haram.


Masa SMP pun sebentar lagi akan berakhir. Ujian Nasional telah selesai dilaksanakan, dan sekarang tibalah waktunya perpisahan sekolah. Perpisahan yang digelar di gedung besar dengan berbagai acara menarik.


Aku, Defa, Nacha, Bella, Sarah dan seluruh anggota R Girl sekarang sudah menjadi sahabat. Oh iya, sejak Sarah keluar dari penjara dan menganggapku sebagai sahabatnya, maka secara resmi R Girl dibubarkan olehnya. Dia tak ingin lagi membentuk genk hanya karena ingin menjadi sebagai seorang pemimpin. Dia sadar, kalau dalam pertemanan tak akan ada namanya seorang pemimpin, melainkan semuanya yang akan memimpin sahabatnya ke arah yang benar.


“Janji, ya, kalau nanti masuk SMA harus sama. Kalaupun nanti kita pisah sekolah, jangan sampe persahabatan kita juga pisah,” ucap Bella. Dia menaruh jari manisnya di atas meja bundar.


Aku juga menaruh jari manisku tepat di sebelah jari manisnya Bella, kemudian mereka semua mengikutinya. Jari-jari ini akan menjadi tanda dari janji yang kami buat.


“Janji,” kata kami semua kompak.Aku berharap kelak akan terus bahagia seperti ini. Aku percaya Tuhan tak akan membuat kita terus menderita. Akan ada tawa di setiap luka. Jangan pernah menyerah untuk menjalani hidup, dan jangan pernah mencoba untuk menyiksa diri. Sayangi dirimu sendiri, maka engkau akan mampu melewati setiap kesulitan yang ada. Tetap tersenyum dan jangan pernah berputus asa.


Hidup akan indah bila kita mensyukurinya.


SELESAI

__ADS_1


__ADS_2