
Mereka semua terkejut mendengar ucapan yang memang
kusengaja, “Karena sekarang kita adalah sahabat.”
“Aaaa…h….”
Mereka semua memelukku, membuat seluruh oksigen yang
kubutuhkan terhalang, tapi aku senang.
“Makasih, Kayla,” ucap mereka semua kompak. Lalu satu
persatu, pelukan itu terlepas.
“Iya, sama-sama. Aku telepon mama dulu, ya, untuk
membantu mengurus berkas cabutan gugatan. Mudah-mudahan kalian bisa keluar hari
ini juga.” Aku memanggil nomor mama dan bergerak mencari tempat yang tepat
untuk mengobrol dengan mama di balik sambungan telepon.
“Kenapa, Sayang?” tanya mama saat
panggilan sudah tersambung
“Ma, Kayla mau cabut tuntutan mereka semua. Mama bisa
bantu Kayla?”
“Loh, kenapa, Sayang?”
Aku menjelaskan kepada mama cukup panjang, hingga
memakan waktu yang tak sedikit. Awalnya mama menolak membantuku, tapi aku
berusaha keras membujuknya. Alhasil berhasil, mama bersedia membantuku.
Semua proses itu dapat terselesaikan hingga malam
hari. Walau ada beberapa kendala, seperti pengumpulan berkas dan saksi yang
belum tepat menurut pihak kepolisian, tapi semua itu dapat terselesaikan berkat
pengacara yang mama utus.
Mereka semua sangat senang karena dapat pulang dan
berkumpul kembali bersama keluarganya.
“Aku pamit pulang dulu, ya, Kay. Terima kasih banyak.”
Hanya Bella, aku dan mama yang masih tersisa di lapas, karena tadinya masih
menunggu jemputan dari keluarganya. “Saya pamit dulu ya, Tante. Terima kasih
banyak, Tan.” Dia menyalam tangan mama sopan.
“Hati-hati di jalan, Bel,” ucapku dan mama kompak.
Bella pun menaiki mobil yang dibawa oleh supir pribadi
papanya. Hingga mobil itu tak terlihat lagi karena jaraknya sudah jauh.
“Kayla mama antar kemana?”
“Ke rumah ibu saja, Ma. Ibu sudah cemas dengan keadaan
Kayla, soalnya dari tadi ibu nanya mulu kenapa Kayla lama banget pulangnya.”
“Baiklah.”
---o0o---
Mama langsung pamit pulang begitu sudah sampai di rumah
ibu. Kata mama, “Kayla harus banyak istirahat. Pasti hari ini udah lelah
banget.” Ya memang, sih. Untuk hari yang singkat ini sangat melelahkan, tapi
banyak pelajaran yang bisa kupetik dari setiap kejadian.
Buru-buru aku masuk ke kamar, rasanya tubuhku sangat
butuh berbaring di atas kasur yang memiliki atmosfer terkuat. Karena
terburu-burunya, aku sampai ceroboh dan menyenggol meja yang ada di kamarku.
“Aw…,” kataku kesakitan.
Beberapa barang yang ada di atas meja itu pun
terjatuh. Kuambil barang-barang itu dan kususun kembali. Tapi saat barang
terakhir yang kupegang ini, entah kenapa menarik perhatianku. Buku kecil dengan
judul depan ‘Bingkai Lara’, sepertinya itu bukan buku pelajaran ataupun buku
__ADS_1
catatan.
Aku dibuat penasaran dengan buku itu. Kucoba membuka
buku yang kupegang dan membacanya, siapa tahu aku menemukan sesuatu tentang
masa laluku.
~Buku seorang gadis depresi yang senang menyiksa diri sendiri~
Kalimat yang tertera di halaman pertama membuatku kaget, tapi masih banyak pertanyaan yang menyerang benakku.
Apa mungkin ini buku diaryku dulu?
Aku membuka lembaran pertama buku itu. 'Aku hanya sedang menahan rasa sakit yang membuatku tak bisa berhenti menjerit'
Rasa sakit? Rasa sakit seperti apa yang kurasakan? Aku yakin kalau buku ini pasti milikku, tapi aku belum tahu rasa sakit apa yang kurasakan dulu.
Karena rasa penasaran yang muncul terlalu besar, aku membuka lembar selanjutnya dan membaca
rangkaian kata yang ada.
BINGKAI LARA
Bolehkah aku bercerita?
Tentang hati yang tak kunjung bahagia
Takdir seakan suka sekali menyiksa
Membuatku begitu menderita
Mengapa kehidupanku seperti ini?
Wajahku tak pernah berseri
Semua yang ada padaku selalu pergi
Aku selalu hidup sendiri
Tak ada yang mau menemani
Bahkan…
Kehidupan keluargaku sangat berantakan
Mengapa kehidupanku sangat kelam?
Aku selalu diolok anak haram
Tak bolehkah mereka berteman?
Walau aku anak haram, kita sama-sama diciptakan Tuhan
Tak ada yang berbeda, bukan?
Rasanya…
Aku ingin pergi dari dunia yang begitu menyiksa
Aku tak sanggup menghadapi ini semua
Lebih baik aku pergi dari dunia
Siapa tahu kutemukan kebahagian di surga
Bahkan jika aku mati nanti
Tak akan ada yang peduli
“Aaaaaaaaaaaaaaaaahh….”
Aku berteriak dengan air mata yang tak lagi terisak.
Kenapa? Kenapa hidupku dulu seperti itu?
Kepalaku sakit sekali, rasanya seperti ingin meledak.
Semakin keras teriakan yang kukeluarkan membuat ayah dan ibu berlari
menghampiriku. Mereka panik, tapi akhirnya mengerti karena mereka melihat
sebuah buku yang kupegang.
“Samatha….” Ibu memangku kepalaku di atas pahanya,
kemudian memukul-mukul pipiku, bermaksud menyadarkanku.
Tubuhku sadar, tapi pikiranku yang nyasar.
“Buu…, Yah…,” panggilku lirih. Saat ini aku
benar-benar lemas. Pikiranku kacau. Beberapa keeping-keping memori masa lalu
__ADS_1
terekam dalam ingatanku. Aku mencoba menenangkan diri, agar rasa sakit tak
bertambah.
“Kenapa, Nak?” tanya kedua orangtuaku kompak. Mata ibu
berkaca-kaca, sepertinya sebentar lagi air matanya akan tumpah.
“Samatha sudah ingat semuanya. Sam ingat, kalau dulu
ibu dan ayah selalu bertengkar dan Sam lah yang jadi sasaran kalian. Kalian
selalu melampiaskan rasa kesal kalian pada Sam. Kenapa, Bu, Yah? Sam salah
apa?” kataku mencoba tenang, namun air mataku tak dapat lagi kubendung. Aku
menutup mata, sangat berusaha agar kondisiku tetap stabil.
Air mata ibu tumpah dengan deras, dapat kurasakan
karena air matanya menyentuh wajahku.
“Maafin ibu, Sam. Ibu salah. Ibu udah sadar dan ibu
sangat menyesal.” Semakin deras air matanya tumpah.
“Ayah juga minta maaf, Sam.” Kali ini aku mendengar
suara tangis ayah yang sama besarnya dengan suara tangis ibu. “Kami memang
orangtua yang buruk. Yang berbuat kesalahan kami, tapi kamu yang selalu jadi
korban dari perbuatan kami.”
Aku membuka mata yang dari tadi kututup. Kali ini
emosiku sudah tak bisa kukontrol lagi. “Ibu dan ayah ngga pernah mikir gimana
perasaan Sam? Di sekolah Sam ngga pernah dapatkan teman seorangpun. Sam selalu
diejek, dihina, bahkan dibully.” Aku
mengatur napasku, sukar. “Waktu itu juga kalian melarang Sam untuk sekolah.
Sebenarnya apa yang kalian pikirkan, Yah, Bu? Kenapa kalian sangat membenci
Sam? Apa karena Sam hidup kalian hancur? Kalau seperti itu, kenapa ayah dan ibu
yang memanggil Sam untuk lahir ke dunia ini?” Aku sudah benar-benar lepas
kendali. Tak kupikirkan lagi bagaimana perasaan ayah dan ibu saat mendengar
ucapanku.
“Kami tak tahu dengan apa kami bisa menebus dosa-dosa
kami. Maafin ayah dan ibu, Nak.” Ibu membungkukkan badanku, memeluk kepalaku.
“Kamu boleh bawa kami ke penjara, Sam. Walau itu tak
akan bisa menebus semua dosa-dosa kami. Kami memang pantas berada di dalam
sana. Kami ini penjahat!” kata ayah tegas.
Bagaimana bisa aku menyeret mereka masuk dalam
penjara? Sedangkan teman-temanku yang sudah berbuat kejahatan pun masih aku
maafkan. Kenapa aku tak bisa memaafkan orangtuaku sendiri?
Aku menarik napas dalam, “Yah, Bu, Sam ngga akan tega
membawa kalian ke penjara. Sam sudah maafin kalian, ‘kok.” Aku mengubah
posisiku yang dari tadi berada di atas pangkuan ibu, sekarang sudah duduk.
Ayah dan ibu langsung memelukku hangat, “Makasih, Sam.
Kami janji akan buat kamu bahagia.”
---o0o---
Kehidupanku sekarang sudah berubah seratus delapan puluh derajat dibandingkan dengan kehidupan dulu. Sekarang aku sudah mempunyai banyak teman. Banyak juga yang sudah tahu tentang kehidupanku yang sebenarnya, tapi mereka semua masih tetap mau berteman denganku. Mereka tak pernah menghinaku sebagai anak haram.
Masa SMP pun sebentar lagi akan berakhir. Ujian Nasional telah selesai dilaksanakan, dan sekarang tibalah waktunya perpisahan sekolah. Perpisahan yang digelar di gedung besar dengan berbagai acara menarik.
Aku, Defa, Nacha, Bella, Sarah dan seluruh anggota R Girl sekarang sudah menjadi sahabat. Oh iya, sejak Sarah keluar dari penjara dan menganggapku sebagai sahabatnya, maka secara resmi R Girl dibubarkan olehnya. Dia tak ingin lagi membentuk genk hanya karena ingin menjadi sebagai seorang pemimpin. Dia sadar, kalau dalam pertemanan tak akan ada namanya seorang pemimpin, melainkan semuanya yang akan memimpin sahabatnya ke arah yang benar.
“Janji, ya, kalau nanti masuk SMA harus sama. Kalaupun nanti kita pisah sekolah, jangan sampe persahabatan kita juga pisah,” ucap Bella. Dia menaruh jari manisnya di atas meja bundar.
Aku juga menaruh jari manisku tepat di sebelah jari manisnya Bella, kemudian mereka semua mengikutinya. Jari-jari ini akan menjadi tanda dari janji yang kami buat.
“Janji,” kata kami semua kompak.Aku berharap kelak akan terus bahagia seperti ini. Aku percaya Tuhan tak akan membuat kita terus menderita. Akan ada tawa di setiap luka. Jangan pernah menyerah untuk menjalani hidup, dan jangan pernah mencoba untuk menyiksa diri. Sayangi dirimu sendiri, maka engkau akan mampu melewati setiap kesulitan yang ada. Tetap tersenyum dan jangan pernah berputus asa.
Hidup akan indah bila kita mensyukurinya.
SELESAI
__ADS_1