
Aku dan mama telah berada di Bandara Internasional Kuala Namu, Medan, untuk menjemput papa. Tapi saat kami sudah berada di waiting room, ternyata pesawat yang ditumpangi papa belum sampai. Terpaksa kami harus menunggu selama sepuluh menit lagi.
Namun, tiba-tiba saja aku merasa kebelet kencing. "Ma, Kayla cari toilet dulu, ya. Kayla kebelet pipis."
Mama mengangguk, "Jangan lama-lama, ya, Sayang."
Aku berjalan seraya menahan air yang sudah menitik keluar. "Duh... toiletnya mana." Masih belum kutemukan toilet di gedung bandara yang sangat besar ini. Bisa-bisa kalau terus mencari tanpa menanya orang, air yang dari tadi kutahan, tertumpah di sini dan membuatku malu. Tidak! Jangan sampai.
Aku pun berniat bertanya pada seseorang yang tak jauh dariku. "Permisi..., boleh nanya toiletnya di mana?"
"Terus saja, nanti ada tanda toilet kok." Dia sama sekali belum menatapku. Sebenarnya sih, ini tidak sopan.
"Terima kasih." aku berbalik badan dan langsung berjalan ke arah yang dia tunjuk tadi.
"Samatha...."
"Samatha...." Masih kudengar suara pria tadi yang memanggil nama 'Samatha'. Karena air yang kutahan sudah banyak yang keluar, aku pergi saja tanpa menoleh ke arahnya. Lagipula... pasti dia tidak memanggilku. "Berhenti!" suaranya yang sama masih kudengar menyuruh seseorang -yang pasti bukan diriku- berhenti.
---o0o---
"Papaa...." Aku berlari kecil dan langsung memeluk papa erat. "Kayla kangen banget sama papa...." Sebenarnya sih agak lebay, karena baru ditinggal papa setengah hari saja sudah kangennya seperti tidak pernah ketemu selama bertahun-tahun.
"Papa juga kangen sama Kayla." Papa mengeratkan pelukan kami. "Tau ga? Dari tadi tuh, papa meeting-nya ga tenang. Papa selalu mikiri Kayla."
Aku melepas pelukan dan mendongak menatap papa yang jauh lebih tinggi dibandingkan diriku. "Masa sih, Pa?" tanyaku tak percaya.
"Iya, Sayang. Papa mikiri, gimana Kayla, ya? Lagi ngapai dia, ya? Udah makan belum? Gimana sekolahnya, ya? Banyak deh yang papa pikiri."
"Ck." Mama berdecak, "Mama engga dipikiri, Pa?" tanya mama manyun-manyun.
"Ya dipikirilah, Ma. Pokoknya meeting papa engga terasa asyik tanpa kalian." Papa merangkul mama. "Dah, yuk, pulang."
---o0o---
Begitu membuka pintu rumah, betapa terkejutnya papa melihat supprise yang diam-diam aku dan mama siapkan. Tulisan 'Selamat Datang Papa' terpasang di dinding depan pintu masuk, dan pembantu rumah tangga sudah menyambut kedatangan papa di depan pintu sambil mengucapkan; selamat datang, Tuan. Dan mereka semua membungkuk.
__ADS_1
Sebenarnya, supprise ini bukan aku dan mama yang buat, melainkan pembantu rumah tangga kami -yang jumlahnya sebanyak sepuluh orang- yang menyiapkan semua ini. Itu semua karena aku dan mama tidak sempat menyiapakan semuanya. Kami pulang ke rumah hanya untuk mandi dan menganti pakaian. Setelah itu langsung pergi dengan terburu-buru ke bandara untuk menjemput papa.
"Ini idenya Kayla loh, Pa."
Aku cengar-cengir mendengar ucapan mama yang langsung main buka kartu tentang supprise yang berasal dari ideku. Ya, walaupun bukan aku yang menyiapkannya sih...
"Waaah... anak papa baik banget." Papa memujiku dan langsung memelukku.
Ya Tuhan. Aku lupa bagaimana caranya menangis ketika aku berada di samping kedua orangtuaku.
"Papa makan dulu. Pasti lelah, 'kan? Sudah ada banyak makanan di meja makan." Aku melepas pelukan papa lalu menariknya ke arah meja makan dan menarikkan kursi untuk tempat duduk papa. "Makan yang banyak ya, Pa," ucapku seraya mencium pipi kanan papa.
"Kamu juga makan dong, Sayang."
"Kayla tadi udah makan sama mama, Pa."
"Makan lagi dong...! Temani papa," pinta papa memohon. "Mama juga sini dong, temani papa."
Aku dan mama menuruti keinginan papa. Kami duduk di meja makan dan mengambil makanan, lalu berdoa bersama-sama sebelum makan.
"Gimana sekolahnya, Sayang?" tanya papa saat sudah selesai mengucapkan kata 'amin' "Seru tidak? Cerita dong sama papa," tanyanya yang langsung menyiapkan seribu pertanyaan.
Papa dan mama tersenyum sumringah saat mendengarkan cerritaku.
"Kayla, mama udah pesankan guru private buat kamu. Besok dia datang, Sayang."
Ucapan mama hampir membuatku tersedak. Untung mama langsung menyodorkan segelas air mineral kearahku.
"Kayla ga usah les dulu, ya?" ucapku lirih seraya menyendoki makanan.
Rasanya berat sekali untuk les. Alasannya karena, jika aku les, waktu yang akan kugunakan untuk mama dan papa pasti tidak akan banyak lagi. Banyak waktu yang kugunakan untuk bersama dengan orang asing yang mengajariku nanti.
"Kenapa, Sayang?" Mama menghentikan kegiatan makannya dan menatapku dengan penuh kebingungan. "Kamu 'kan sudah kelas tiga SMP. Ntar lagi kamu UN."
"Nah, mama kamu benar tuh." Papa juga ikut-ikutan menatapku bingung.
__ADS_1
"Kayla belum siap untuk les, Ma." Aku ikut menghentikan kegiatan makanku dan menatap manik kelabunya mama dan papa. "Kayla bisa belajar sendiri kok untuk menghadapi UN."
Mama dan papa makin menatapku tak mengerti. "Belum siap kenapa?" ucap papa yang masih bingung dengan alasanku.
"Pokoknya, Kayla ga mau les!" Aku merajuk dan pergi ke kamar meninggalkan mama dan papa yang masih terpaku tak mengerti.
Aku mengunci pintu kamar dan badanku bersembunyi di balik selimut serta mukaku yang kututupi dengan bantal. Aku tak mengerti mengapa aku bisa sampai berbuat seperti itu? Jika aku beritahu mama dan papa alasanku yang sebenarnya, mereka bisa saja menertawakanku dan tetap membiarkan putri semata wayangnya ini les.
Tok... tok....
Suara pintu kamar yang kukunci telah diketuk seseorang."Kayla... Kayla...." Terdengar suara mama dan papa yang memanggil namaku secara bergantian.
"Mama mohon, buka pintunya."
"Kayla, keluar, Sayang. Jangan merajuk dong. Ntar cantiknya hilang." Itu suara papa yang merayuku agar segera keluar kamar.
Hah. Tidak bisa, Pa.
"Kayla ga mau... Kayla ga mau les," teriakku dari balik bantal.
"Iya, iya. Jika itu mau kamu, ga pa-pa, Sayang," balas papa dengan nada yang lembut nan perhatian.
"Mama juga ga maksa kamu, 'kok tadi," timpal mama dari balik pintu. "Kamu keluar dong, Sayang," bujuk mama.
Aku pun keluar kamar dengan perasaan senang sekaligus masih belum percaya karena mama tak memaksaku untuk mengikuti les private. "Beneran, Ma, Pa, Kayla engga mesti harus ikut les, 'kan?"
"Iya, Sayang," jawab mama dan papa yang tiba-tiba kompak begitu.
Aku mencium pipi mama dan papa, sangat berterima kasih karena mereka mengerti keadaan dan permintaanku. "Makasih, Ma, Pa."
"Tapi ada syaratnya!" Ucapan mama kembali membuatku murung.
Aku mengernyit kecil. "Apa, Ma?"
"Kamu harus rajin belajar. Dan jika nilai kamu turun, mama langsung akan memberikan guru les private untuk kamu."
__ADS_1
Mendengar syarat yang mama berikan, aku langsung menyunggingkan senyumku yang melengkung bak bulan sabit. "Tenang saja, Ma. Nanti Kayla belajar bareng sama teman-teman.
Kalau belajar bareng teman-teman pasti asyik, bukan?