
Sudah begitu larut malam, tapi kenapa mama dan papa belum juga pulang? Apa pekerjaan membutakan mereka jika di sini ada aku yang masih membutuhkan orangtua. Saat ini aku ingin cerita banyak ke mama dan papa. Aku ingin menumpahkan segala kesedihan yang tak bisa lagi kutahan. Memang seharusnya aku tak boleh seperti ini, karena sama artinya aku hanya memberi mama dan papa pikiran baru. Pasti pikiran mama dan papa sudah sangat banyak karena pekerjaan mereka yang terlalu berat. Apa aku hanya akan menyusahkan mama dan papa?
"Nona Kayla, ada yang mau bertemu dengan nona," ucap Bi Uci, asisten rumah tangga yang baru bekerja 2 bulan di sini.
"Siapa, Bi?" tanyaku bingung,
Sudah larut malam seperti ini, tapi masih aja ada orang yang mau bertemu denganku. Siapa itu? Dan apa tujuan kedatangannya?
"Maaf, Nona. Saya tidak tahu. Saya lupa nanya tadi," ucap Bi Uci seraya menundukkan kepalanya, bentuk tanda hormatnya.
"Tidak apa-apa, Bi. Kayla akan ke sana. Terima kasih, ya, Bi."
"Perlu saya temani, Nona? Soalnya kan sudah malam, takutnya orang itu bukan orang baik-baik."
"Tidak usah, Bi. Kayla bisa sendiri 'kok. Bibi istirahat saja, sudah malam," ucapku sambil tersenyum manis pada Bi Uci. Lalu aku beranjak dari dudukku dan pergi menghampiri orang yang ingin bertemu denganku.
Semoga saja bukan orang jahat seperti yang dikatakan Bi Uci.
"Kayla...." Saat pintu depan rumah sudah kubuka, aku langsung disambut dengan pelukan yang begitu erat. Masih belum sempat kulihat wajahnya. "Ibu kangen sama kamu, Nak," katanya disela-sela pelukan. Dia tidak mau melepaskan pelukannya, membuat dadaku terasa semakin sesak.
"Bu, kencang banget. Kayla sesak ini."
"Hehehe...." Kemudian pelukan itu dilepaskannya. Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega dan kembali mengambil oksigen tanpa terhambat.
"Ibu mau apa malam-malam ke sini?"
"Ibu mau ketemu kamu aja. Ibu kangen sama kamu," kata ibu sambil memegang tanganku, "Loh? Tangan kamu kenapa?" Ibu menyadari perban-perban yang terpasang di hampir seluruh tanganku.
"Ngga apa-apa, Bu. Kayla cuma kecelakaan kecil, 'kok." Aku menarik lenganku dan menyembunyikannya di belakang tubuhku.
"Kamu bohong!"
Wajah ibu begitu sedih, sampai membuatku merasa bersalah karna sudah berbohong. Ya Tuhan, banyak kali kebohongan yang sudah kuciptakan selama hidupku ini.
"Maaf, Bu."
"Ibu tau kamu habis berbuat apa, Nak. Kenapa kamu sampai berbuat seperti itu lagi?"
Seperti itu? Apa maksudnya ibu? Apa itu artinya selama hidupku dulu, aku selalu menyayat tanganku? Pantas saja, sewaktu aku sadarkan diri setelah kecelakaan itu, begitu banyak bekas luka di tanganku. Tapi kenapa dulu aku sering menyayat tanganku, ya?
"Ibu, Kayla boleh tanya ngga?" Karna rasa penasaran aku bermaksud menanyakannya kepada ibu. Pasti ibu tahu.
"Apa itu, Nak?"
"Berarti dulu Kayla suka nyayat tangan ya, Bu? Tapi kenapa Kayla sering ngelakui itu ya, Bu?"
ibu terdiam, tak menjawab pertanyaanku sama sekali. Sepertinya ibu sedang melamun.
"Bu...."
Panggilanku menyadarkan ibu kembali ke alam nyata. Ibu sedikit terkejut, kemudian berkata," maafkan ibu, Nak."
Maaf untuk apa?
Tiin....
Suara klekson mobil mama menghentikan percakapanku dengan ibu. Mama baru saja pulang.
"Loh? Ada Ibu Santi di sini. Pak Hasan mana, Bu? Ibu sendiri aja?" sambut mama saat sudah keluar mobilnya yang masih terparkir di halaman depan teras.
"Saya sendiri, Bu. Suami saya tidak ikut."
"Oooh," balas mama sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Mama kenapa lama banget pulangnya? Terus papa mana, Ma?" Aku menyalam tangan mama dan menempelkannya dikeningku. Sudah menjadi kebiasaanku seperti itu, sebagai bentuk kasih, cinta, sayang dan hormatku pada mama. Tak hanya mama, papa juga.
"Maaf, Sayang. Tadi banyak yang dibahas sama klien mama. Kalau papa malam ini ngga pulang. Papa pergi lagi ke Prancis. Mendadak."
Emang sudah menjadi kebiasaan papa yang pergi keluar kota atau keluar negeri mendadak seperti ini. Bukan untuk jalan-jalan, tapi karna klien papa banyak yang dari luar kota Medan. Ditambah lagi, meeting yang terlalu sering.
"Loh? Tangan kamu kenapa?" Mama juga menyadari perban-perban yang membalut
tanganku.
"Jadi ibu tidak tahu?" ucap ibuku.
Aku masih belum menjawab pertanyaan mama. Aku tak mau berbohong lagi.
"Saya baru tau ini, Bu."
"Saya mau bawa anak saya pulang, Bu. Ibu terlalu disibukkan sama pekerjaan, sampai kondisi anak saya tak terkontrol lagi."
Apa? Ibu mau membawaku pulang? Tidak! Aku masih ingin tinggal bersama dengan mama dan papa di sini. Ini semua bukan salah mama dan papa yang tidak mengontrolku, tapi ini salahku. Aku yang berbuat seperti ini.
"Kayla ngga mau pulang," sanggahku kemudian.
"Ibu janji akan ngurus kamu, kamu pulang sama ibu, yak."
"Ngga mau," ucapku ketus dan tegas.
"Kalau kamu sampai ngelakuin ini lagi, ibu bawa kamu pulang."
"Pokoknya Kayla ngga mau pulang!" Aku langsung pergi meninggalkan mereka menuju kamarku,lalu membanting pintu kamarku dengan begitu kuat. Mungkin, mereka dapat mendengar jelas suara bantingan pintuku itu.
"Aku belum sanggup untuk pisah dari mama dan papa," ucapku sendiri. Lalu aku menenggelamkan kepalaku dengan bantal, dan tanpa sadar aku sudah tenggelam dalam mimpi. Ya, aku tertidur.
Kriiing…. Kriing….
Bunyi alarm berdering membangunkanku. Sekejap, kulirik ke arah jarum yang berjalan pada jam tersebut. Pukul 06.00 WIB.
Astaga! Kenapa aku bisa ketiduran?
Aku meraih ponselku yang kuletakkan di nakas sebelah tempat tidurku sewaktu aku pulang sekolah kemarin, dan aku belum sama sekali menyentuh ponselku karna sibuk menunggu mama dan papa pulang di ruang keluarga.
26 Pesan belum terbaca dan itu semuanya dari Defadan.
Aku melongo membaca pesannya satu-satu sambil tersenyum.
Ai
Udah sampe rumah
belum?
Ai
Kok belum dibalas?
Kamu bobo?
Nina bobo oo nina bobo
Eh salah, itu lagu
buat boboin
__ADS_1
Kalau lagu buat
banguni orang apa ai?
Oh iya, baru ingat
Saurr.… sauuuuur
Eh salah, ini kan lagi
ngga bulan puasa
Terus apa sih?
‘Aku bingung ini
‘Ai bangun
Kulirik kearah jam yang tertera di situ, pukul 22.00
Kamu belum bangun?
‘Kayanya aku harus ke
rumah kamu ini
‘Kamu tanya kek mau
ngapai
‘Ya udah kalua kamu
ngga nanya, aku yang jawab ini
‘Aku mau ngebom
rumahmu
‘Tapi pake gas
‘Gas apa coba tebak,
Ai?
‘Iihh jawab
‘Ku bom beneran ya,
pake gas kentut
‘Biar kamunya bangun
waktu nyium kentutku wkwk
‘Yaudah deh, aku cape.
Aku bobo dulu ya
‘Selamat malam, pacar
kesayanganku
Masih sepagi ini, tapi dia bisa buat aku bahagia hanya
__ADS_1
karna membaca pesan-pesan darinya kemarin yang belum ku jawab sama sekali.