Bingkai Lara

Bingkai Lara
Belajar Bareng


__ADS_3

Nacha, Defa dan Bella sekarang sudah berada di rumahku. Ya, ketika pulang sekolah tadi, tiba-tiba Bella meminta untuk ikut -belajar bareng- dengan kami. Mama menyambut hangat kedatanganku bersama dengan teman-temanku. Setidaknya, hal ini berhasil membuat mama mempercayai bahwa aku mampu belajar sendiri tanpa perlu bantuan dari orang asing yang tak kukenal.


"Kita mau belajar apa?" tanya Bella yang membuat kami berkutat.


"Gimana kalau belajar IPA?" Aku yang lagi melihat buku IPA milik Defa di atas meja tepat dihadapan kami langsung memberi usul. "Sekalian bantui Defa ngerjai pr."


Awalnya, mereka semua menatapku kaget. Bahkan, Bella membuka mulut selebar-lebarnya karena mendengar ucapanku tadi. Mungkin, Bella masih sedikit tak mempercayai ucapanku.


Akhirnya, setelah Defa dan aku menjelaskannya, mereka setuju dengan usulku dan mengeluarkan buku IPA. Kebetulan sekali, hari ini kelas kami semua ada pelajaran IPA. Jadi, tidak sibuk lagi meminjam-minjam buku yang lain.


"Ini pr gue, banyak banget, 'kan?" Defa menunjuk buku yang sudah terbuka dan menunjuk soal yang di buku itu.


Mau tahu berapa soal? 100 soal pilihan berganda, guys.


"Itu guru gila, bukan?" keluh Defa.


"Eeh ... ga boleh gitu. Biar bagaimanapun, dia memberi tugas sebanyak ini, 'kan juga untuk kebaikan kita." Aku membantah ucapan Defa tadi. Entah kenapa tiba-tiba aku jadi berbicara seperti ini.


Defa, Nacha dan Bella nyenyir mendengar bantahanku itu. Tak ada perlawanan juga dari Defa.


Defa sibuk kembali melihat soal-soalnya dan membalik-balikkan buku itu, mencari-cari jawaban dari setiap soal. Aku membantu Defa mencari jawaban dengan bukuku sendiri. Kebetulan, buku paket yang digunakan Defa tak berbeda dengan bukuku.


"Woooi...! bantui 'kek." Defa memukul meja, pelan. Membuat Bella dan Nacha tersentak kaget.


Bahkan, dengan latahnya, Bella sedikit melompat dari posisi duduknya dan mengucapkan, "Eeh ... copet ngejar dadaku." Apalah maksudnya?


Ya, karena dari tadi, hanya Defa dan aku yang sibuk memegang buku. Nacha sibuk dengan membaca ******* di gadget-nya. Sedangkan Bella sibuk melamun. Entah memikirkan apa.


"Kalian ngapai aja sih dari tadi?" tanya Defa dengan baritone lembutnya. "Bantui gue, 'kek." Kali ini nada suaranya dinaikkan satu oktaf lebih tinggi.


Bella memutar kedua bola matanya malas, sedangkan Nacha kembali fokus pada kegiatan sebelumnya.


"Waaah... parah kalian." Defa melanjutkan kembali soal-soal yang sudah menunggu deadline. Merasa malas jika harus berdebat dengan dua bocah sialan.


Aku merasa bingung dengan soal Fisika yang ada dibuku itu. Mencari jalan yang sama dari setiap contoh soal, namun tak ketemu. "Ini gimana, ya?" Tanpa sadar, aku mengeluarkan kata-kata itu. Tapi, untungnya pelan.


"Yang mana?" Namun sayangnya, pelan menurutku, tidak pelan untuk Defa. Kuping Defa terlalu tajam karena telah mendengarkan ucapan pelan menurutku tadi. Defa menghentikan pekerjaannya dan menatap kearah bukuku. "Ini mah gampang. Mau gue bantui?" Secara tak sengaja, manik mata kami bertemu.


Deg! Deg!

__ADS_1


Jantungku dua kali lebih cepat dibandingkan sebelumnya. Perasaan apa ini? Apakah ini cinta, seperti yang di sinetron-sinetron yang sering kutonton?


Aku terhanyut dalam perasaanku ini. Tanpa sengaja, aku melamun, menatap kosong manik matanya yang terlalu dalam, hingga menusuk ke rongga di hatiku.


"Woooi...." Defa mengantarkanku kembali pada dunia imajinasiku tadi. "Gue tau, gue terlalu ganteng. Tapi jangan sampe begitu liatin-"


"Woooi...." Suara teriakan Bella memotong pembicaraan Defa. "Kalian mau belajar atau pacaran?"


"Lah..., bukannya dari tadi kalian yang ga ada belajar." Defa membantah ucapan Bella yang menuduhku dan dia berpacaran. "Lo kenapa sih? 'Kok jadi sewot gi-"


"Dah ah, males gue." Bella membereskan semua buku-bukunya yang berserakan di atas meja. Semua buku dia keluarkan dari tasnya, namun tak ada satu buku pun yang terbuka. "Tante, Bella pulang dulu, ya?" Bella berdiri dan menyalam mama yang tengah duduk seraya menonton televisi di ruang keluarga.


"Loh kenapa, Bella?" mama menyerngit tak mengerti. Suara mereka berdua masih bisa terdengar, karena jarak mereka tak jauh dari kami.


"Bella ditelepon, disuruh cepat pulang," ucap Bella berbohong. Lalu Bella keluar rumah dan langsung pulang ke rumahnya dengan menggunakan taxi. Dia menolak ajakan mama yang akan mengantarkannya pulang.


Aku bingung, kenapa Bella sampai sebegitunya, ya? Dia PMS atau apa?


Suasana menjadi sangat hening dan sedikit canggung ketika kepulangan Bella. Tak ada yang memulai pembicaraan terlebih dahulu. Defa yang masih sibuk dengan PRnya, Nacha yang sibuk menggerakkan mulutnya maju-mundur-buka-tutup karena tengah membaca cerita di *******, dan aku yang sibuk menatap kesibukan Nacha dan Defa. Benar-benar situasi yang sangat canggung untukku.


"Nacha engga belajar?" aku berusaha mencairkan situasi ini dan mencoba angkat bicara terlebih dahulu.


Nacha menghentikan kegiatannya dan menatap ke arahku yang tepat di depannya. "Engga ah, Kay. Lagi mager belajar aku. Nanti aja belajarnya di rumah," jawabnya santai, lalu kembali menatap layar benda yang berbentuk persegi panjang itu.


"Oh iya, gue lupa." Tiba-tiba saja, Defa membuat suasana hening dan canggung itu terhempas bersama deru angin di sekitar kami. Aku dan Nacha menegok Defa dengan tatapan yang tak mengerti. "Tadi 'kan, lo minta gue ajari."


Defa menatap ke arahku. Tatapannya terasa sedikit berbeda. Ralat. Menurutku, tatapannya terasa berbeda. Entahlah ..., mungkin itu hanya perasaanku saja.


"Gue 'kok bisa lupa begini, ya?"


Aku hanya tersenyum tipis ke arahnya, sedangkan Nacha memutar malas bola matanya lalu kembali ke kegiatannya sebelumnya. Nacha benar-benar tidak bisa diganggu dalam hal urusan membaca. Dia adalah tipe cewek yang; kalau membaca novel harus habis satu hari.


"Sini... mana yang lo bilang tadi?" Defa menggeser tubuhnya, lebih dekat ke arahku. Sebenarnya sih, aku agak risih bila harus berdekatan dengan lelaki seperti ini. Apalagi laki-lakinya itu Defa, bisa-bisa jantungku berpindah tempat.


Aku menoleh sebentar ke wajahnya, "Yang ini." Mataku berpaling dari menatapnya, sekarang sudah menatap nomor yang kutunjukkan. "Payah," keluhku dengan nada yang sedikit dimanja-manjakan.


"Ya elah... gitu doang dikata payah. Itu gampang kalipun," jawabnya dengan nada santai.


Betapa sombongnya seorang Defa, sehingga sanggup berbicara bahwa soal yang kutunjukkan benar-benar gampang untuknya.

__ADS_1


"Gimana caranya?" aku ingin melihat sampai mana kemampuannya, hingga dia sanggup berkata seperti itu. "Aku engga yakin kalau kamu bisa," lanjutku benar-benar merendahkan kemampuannya. Bukan ...! Bukan merendahkan! Tapi memang, mungkin kenyataannya seperti itu. Karena menurutku, itu soal benar-benar sulit banget.


"Kalau misalnya gue bisa, lo ngasih gue apaan?"


"Ya iyalah lo bisa." Suara Nacha tiba-tiba menimpal pembicaran kami.


Tapi aku engga ngerti, kenapa Nacha ngomong begitu, ya?


Defa menyunggingkan senyumnya, memperlihatkan deretan giginya. Lagi-lagi senyuman itu, mampu melelehkan hatiku. Senyumannya benar-benar memiliki daya tarik yang luar biasa. Senyumannya semakin memperindah wajahnya.


"Jadi ini gimana, dong?" tanyaku kembali. Aku mengabaikan pertanyaan yang muncul di benakku karena ucapan Nacha tadi. Aku ingin melihat sepintar manakah seorang Defadan, yang dipuja-puja seantero sekolah? Tak hanya wanita saja yang menyukainya, ternyata seorang pria juga menyukainya. Suka, ya, suka. Bukan cinta!


Defa mengerjakan soal yang kutunjukkan. Selesai mengerjakannya, dia mengajariku. Sebenarnya sih, aku tidak begitu yakin dengan jawabannya. Bagaimana tidak? Dia 'kan cuma murid kelas terakhir.


"Udah itu benar." Nacha menyadari sikapku. Dia sudah tahu, bagaimana mimikku berbicara jika aku merasakan keraguan. "Dia itu dulu mantan anak akselerasi."


Mataku terbelak lebar-lebar. Bagaimana mungkin jika seorang Defadan dulu pernah masuk kelas akselerasi? Kelas yang berisi orang-orang yang super jenius itu? Tapi kenapa dia bisa masuk kelas terakhir dan keluar dari kelas akselerasi? Begitu banyak pertanyaan yang menyerbu benakku. Aku benar-benar tak mengerti dengan Defa.


"Serius?"


"Iya. Nacha benar. Gue dulu anak akselerasi. Tapi gue dipindahkan karena nilai gue hancur. Lagi pula, memang dari dulu gue ga cocok di kelas akselerasi. Murid bodoh kayak gue mah, cocoknya di kelas terakhir aja."


"Serius?" aku mengulangi pertanyaan pertama. Masih belum mempercayai alasannya.


"Lo engga percaya?" Defa menatapku sangat dekat, hingga deru napasnya menggelitik wajahku. "Kalau engga percaya, itu sih wajib." Aroma napasnya benar-benar wangi seperti permen mint.


"Kenapa?"


Defa mengeser wajahnya, mendekatkan mulutnya pada telingaku. "Karena ucapan gue ga ada benarnya," ucapnya lirih seperti orang yang tengah berbisik. Setelah itu tertawa terbahak-bahak.


Benar-benar orang yang aneh dan ngeselin.


Tapi, aku masih penasaran kenapa Defa bias dipindahkan dari kelas akselerasi. Karna rasa penasaran itu, aku bertanya lagi pada Defa, "Serius, Def. Kenapa kamu bias dipindahkan?"


"Karna nilainya turun dan dia sering buat onar di sekolah. Sebenarnya dari awal itu, Defadan tipe bad boy, Kay. Cuma karna awal masuk guru-guru taunya dia anak yang pintar, tanpa tau kelakuan dia yang sebenarnya," jelas Nacha sembari menyunggingkan senyum penuh kemenangan.


"Serius?"


Defa memasang wajah seperti harimau yang baru saja menemukan mangsanya dan bersiap untuk menyerbunya. Melihat ekspresi Defa yang pasti marah, Nacha langsung berlari menjauh dari Defa.

__ADS_1


"Tante, Nacha pamit pulang dulu." Buru-buru Nacha menyalam tangan mama lalu berlari ke arah pintu luar rumah. Sesampai di depan pintu, Nacha menjulurkan lidahnya ke arah Defa. Melihat tingkah Nacha seperti itu, Defa merasa geram, lalu berdiri dan bersiap untuk menangkap Nacha. Tapi lengan dan niatnya berhasil aku hentikan.


"Udah, biarin aja," ucapku yang masih menahan lengan Defa. "Udah, lanjut belajarnya, yuk." Kemudian aku melepaskan tanganku yang menggenggam pergelangan lengan bawah Defa dan dia kembali duduk ke posisinya yang semula, melanjutkan kembali pekerjaan yang sempat tertunda. 


__ADS_2