
Suasana di antara kami mendadak hening dan aku masih setia menunduk dengan perasaan yang campur aduk. Aku membisu. Air mataku mau tumpah rasanya, tapi aku tak boleh menangis di depan Defa dan Nacha.
Sejenak kuangkat lurus kepalaku, melihat Defa dan Nacha yang juga tidak bersuara. Manik mataku bertemu dengan manik mata Defa. Dapat kulihat dengan jelas tatapannya yang menunjukkan kekecewaan kepadaku. Lalu, kualihkan manik mataku menatap Nacha. Sama. Nacha melemparkan tatapan kekecewaannya padaku. Aku harus apa? Haruskah aku jujur pada mereka?
"Kamu masih belum mau cerita juga?" Pertanyaan yang dilontarkan oleh Defa berhasil memecahkan keheningan di antara kami.
Aku kembali menunduk, tidak tahu harus melakukan apa. Haruskah aku berbohong? Tapi percuma saja, mereka pasti tahu kalau aku sedang membohongi mereka.
"Jawab, Kayla!" Nada suara Defa meninggi. Aku takut, jika aku tidak menjawabnya dia akan marah padaku.
"Maaf," kataku terlebih dahulu meminta maaf, lalu aku terdiam sejenak. Aku hanya bisa menunduk sambil menahan air mata yang mungkin tak bisa dibendung lagi. "Tadi Sarah nyenggol badanku, sampe kuah baksonya tumpah." Kemudian air mataku berderai begitu saja. Ya, aku memang wanita cengeng yang hanya bisa menangis, menangis dan menangis. Aku gagal menjadi wanita yang kuat.
Defa dipenuhi amarah bangkit dari duduknya. Kulihat, tanggannya menggepal dan mukanya memerah. Dia benar-benar marah.
"Aku harus temui Sarah."
"Defa, jangan!" Larangku saat Defa sudah memajukan kakinya satu langkah. "Sarah pasti ngga sengaja kok."
"Tidak, Kay," kata Nacha sambil memukul meja yang ada di depan kami. "Ngga mungkin dia ngga sengaja. Sudah jelas dia sengaja. Mau Sarah apa? Waktu itu dia ngebully kamu, sekarang dia nyenggol kamu sampai kuah bakso yang kamu bawa tumpah."
"Def, Cha. Aku ngga apa-apa kok."
Tanpa mendengarkan perkataanku, Defa pergi begitu saja. Aku berlari mengejar Defa agar tidak terjadi apa-apa antara Defa dan Sarah beserta jejeran teman-temannya nanti. Nacha juga berlari mengejarku agar aku tidak menghalangi niat baik Defa yang mau memberi pelajaran pada mereka.
---o0o---
"Defa berhenti!"
Tadi aku sempat kehilangan jejak Defa, dan sekarang dia sudah kutemukan berada di lorong laboratorium yang sudah tak terpakai lagi bersama dengan Sarah. Ya, kali ini Sarah sendiri tanpa teman-temannya. Defa baru saja
melemparkan genggaman tangannya ke wajah beningnya Sarah.
"Kay, udah biar Defa kasih pelajaran ke wanita iblis ini!" Nacha menarik-narik tanganku, menginstruksikan padaku untuk pergi meninggalkan mereka, tapi aku tak bisa. Aku masih punya hati yang tak akan tega melihat Sarah dipukuli Defa. Ya, walaupun Sarah jahat padaku, tapi perbuatan Defa ini bisa dikatakan kekerasan.
"Eh dasar wanita ******! Beraninya lo ngaduh ke pacar lo ini!"
Buuum....
Satu pukulan melayang lagi ke bibirnya Sarah.
"Defa, cukup! Aku kecewa ya sama kamu."
Aku menangis, kemudian berlari meninggalkan mereka. Sempat kudengar Defa memanggil namaku, tapi kuhiraukan.
Saat ini aku sudah duduk di akar pohon yang begitu besar. Aku memilih pergi dari sekolah dan membolos untuk pelajaran selanjutnya. Aku ingin menenangkan diri sejenak. Untuk keluar dari sekolah juga tidak mudah karena di
depan gerbang sudah ada satpam yang berjaga. Untung saja, aku kepikiran untuk menyelip di dalam bagasi mobil orang tua siswa, dan mobil yang aku tumpangi berhenti di taman kota yang tak jauh dari sekolahku. Syukurlah, mobilnya mengerti keadaanku.
"Apa yang harus aku lakukan?" Monologku sendiri pada sang langit.
__ADS_1
"Kenapa bisa jadi seperti ini?"
"Aku bingung"
Air mataku tumpah, tak bisa kuhentikan walau sudah berkali-kali kuseka sampai dasi dan seragam sekolahku basah.
"Aku harus apa?"
Aku menunduk menatap rumput hijau dibawahku. Tanganku meremas rumput-rumput itu hingga akarnya terpisah dengan tanah.
Aww....
Aku meringis saat mendapati jari tanganku berdarah karena tertusuk beling kaca. Tapi entah kenapa perasaanku jadi sedikit tenang saat melihat darahku keluar. Aku kepikiran untuk menyayat lenganku dengan beling kaca itu. Hingga beling kaca tersebut dipenuhi dengan bercak-bercak darahku. Sudah tak tahu, berapa ml darah yang keluar.
---o0o---
Aku kembali lagi ke sekolah saat sudah waktunya pulang sekolah untuk mengambil tas yang tadi kutinggalkan di kelas.
"Kamu dari mana aja, Kay?"
Nacha ternyata menungguku dari tadi dan dapat kulihat dengan jelas raut wajah kekawatirannya.
"Aku cuma butuh waktu buat tenangi diri, Cha."
"Itu tanganmu kenapa, Kay?" Nacha memegang lenganku yang sudah dipenuhi dengan balutan perban.
"Ngga papa kok." Aku menarik tanganku, melepaskannya dari genggaman Nacha. "Aku pamit pulang dulu."
Apa? Defa bermasalah di kantor bk. Sumpah! Semumur hidup aku tak akan mau menyentuh ruangan itu. Menurutku, ruang bk hanya untuk anak-anak yang hobi melanggar peraturan sekolah.
"Defa tadi juga bilang, kalau aku ketemu kamu, dia nyuruh kamu nunggu dia. Dia mau ketemu sama kamu."
"Bilang sama Defa, aku buru-buru, Cha. Maaf aku ngga bisa nunggu dia."
“Kay, kamu kenapa?”
---o0o---
"Duuuh...Mama mana, kenapa lama banget jemput aku, ya?" monologku saat menunggu jemputan di halaman parkir sekolah. Tadi pagi sebelum berangkat sekolah, mama janji akan menjemputku dan membawaku jalan-jalan.
Kuambil benda persegi yang ada di dalam sakuku, menggeser serta menekan-nekan layar smartphoneku. Lalu aku mencari ikon panggilan, menekan nomor mama yang sudah kuhapal pada papan telepon.
Tuuut...
Tak lama telepon tersambung dan panggilanku langsung diangkat.
"Haloo. Mama di mana? Kayla udah pulang ini."
"Sayang, maaf, mama ngga bisa jemput untuk hari ini dan kita ngga bisa jalan-jalan dulu, Maaf ya, Sayang."
__ADS_1
Apa? Mama ngga bisa menjemput? Tapi kenapa begitu mendadak? Aaah, kesal, mama mengingkari janjinya.
"Tapi kenapa, Ma?"
"Mendadak ada klien yang datang. Ngga mungkin mama suruh dia pulang, dia dari Korea. 'kan kasihan sayang. Kamu ngerti, ya."
Huuuh....
Kuhela napasku dalam-dalam, lalu menjawab ucapan mama dibalik benda bersuara yang kupegang di sebelah kanan telingaku, "Iya gpp, Ma. Terus Kayla pulang naik apa?"
"Kamu telepon papa, siapa tahu papa bisa menjemput kamu. Mama tutup dulu teleponnya ya, Sayang, Klien mama sudah datang."
Tut.
Masih belum ada kata yang keluar dari mulutku, mama sudah memutuskan panggilan secara sepihak. Aku menatap layar ponselku, kemudian mencari nomor papa pada log panggilan, lalu kutekan simbol telepon.
"Maaf, nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan."
Astaga!
Nomor papa tidak bisa dihubungi. Lalu gimana nasibku pulang? Apa aku minta Defa mengantarku pulang? Tidak, tidak! Aku masih kecewa sama dia. Aku mau menghindari Defa dulu, biar dia tahu letak kesalahannya dan tidak berbuat seperti itu lagi nantinya.
"Kayanya aku pulang naik ojek online aja deh!"
"Jangan." TIba-tiba suara baritone yang sudah tak asing lagi bagiku merusak monologku. "Aku antar kamu
pulang."
"Ngga usah, aku bisa pulang sendiri."
"Kay, kamu kenapa?"
"Ngga pa-pa."
"Bohong!"
Aku menghela napas kuat. Tak ingin menatapnya, aku justru masih fokus menatap layar
handponeku.
"Tadi kata Nacha, kamu buru-buru sampai tak mau menungguku. Tapi aku masih ragu,kayanya ada sesuatu."
Ucapan Defa mengalihkan tatapanku yang seharusnya tak mau menatap dia. Aku dapat melihat dengan jelas ekspresi kesedihan yang tampak di wajahnya. Perasaanku sedikit tersentuh. Tapi, jika aku terlalu bawa perasaan, bisa-bisa niatku yang mau menyadarkan kesalahan Defa melalui kekecewaanku akan gagal. Aku salah
tidak?
"Udah ya, aku mau pulang."
Lalu aku kembali menatap layar ponselku, membuka aplikasi ojek online dan memesannya. Selang 1 menit kemudian kendaraan ojek online yang kupesan sudah tiba di depanku.
__ADS_1
"Aku deluan, Def," pamitku lalu dijawab dengan anggukan olehnya. Defa tidak menahanku. Mungkin, dia mengerti dengan suasana hatiku saat ini.
"Hati-hati di jalan. Kalau udah sampai rumah kabari."