Bingkai Lara

Bingkai Lara
Mencari Buku


__ADS_3

Hari ini, aku sengaja datang ke sekolah pagi-pagi sekali. Aku berniat mau ke perpustakaan sekolah, meminjam buku pelajaran. Biasanya setiap istirahat, perpustakaan selalu dipadati dengan siswa-siswi. Paling malas aku jika harus berdesak-desakan di dalam perpustakaan. Ya, walaupun perpustakaannya ber-ac dan lumayan besar, tetap saja sumpek rasanya jika harus berada di antara kalangan murid-murid super cerdas. Karena kebanyakan siswa-siswi kelas akselerasi-lah -kelas yang berisi manusia super cerdas- yang mengisi perpustakaan di waktu istirahat.


Kelas akselerasi itu berbeda. Di kelas akselerasi, murid yang seharusnya masih duduk di VII sudah bisa duduk di kelas VIII, karena dia sudah memahami semua materi di kelas VII. Masa SMA yang seharusnya ditempuh 3 tahun bisa menjadi 2 tahun, atau bahkan 1 tahun.


Awal masuk sini juga kupikir, kelas IX-1 adalah kelas dengan manusia ter-jenius. Eh, ternyata pemikiran ku meleset. Masih ada kelas akselerasi di sekolah Sinar Bangsa Akademik.


"Huh...." Aku menghela sedikit napas saat sudah di depan perpustakaan yang ternyata sudah terbuka. "Untung belum rame. Kalau begini 'kan aku bebas bisa meminjam buku apa saja tanpa mengantri."


Jika waktu istirahat, murid-murid kelas akselerasi banyak meminjam buku di perpustakaan. Hal itu harus membuat antrian yang cukup lama. Apalagi, anak akselerasi kalau meminjam buku di perpustakaan tidaklah satu atau dua buku. Maklum saja, perpustakaan sekolah tidak membatasi muridnya meminjam buku.


"Selamat pagi, Pak Saleh," sapaku saat menemukan Pak Saleh yang tengah sibuk membereskan buku-buku yang sedikit berantakan. Pak Saleh adalah penjaga perpustakaan sekolah Sinar Bangsa Akademik.


"Eh, pagi, Kayla. Kok tumben pagi-pagi sekali mampir ke sini?" Pak Saleh menghentikan sejenak kegiatannya. Dia menatapku.


Ya, Pak Saleh memang sudah mengenalku. Di hari pertama sekolah waktu istirahat kedua aku langsung mampir ke perpustakaan, mengambil buku-buku yang sudah dibeli mama saat administrasi ke sekolah ini. Di situlah aku bertemu dengan Pak Saleh dan baru bertemu sebentar saja dengan beliau, aku dan Pak Saleh sudah sangat dekat. Wajar saja jika Pak Saleh masuk dalam kategori 'Guru terramah seantero sekolah'.


"Iya, Pak. Kayla mau meminjam beberapa buku pelajaran."


"Oh, silahkan dicari, Kay."


Aku berjalan mengitari rak-rak buku seraya melihat judul buku yang kucari dan membacanya lirih judulnya satu per satu.


'Budidaya Tanaman Anggrek'.


'Budidaya Ikan Emas'.


'Cara Memelihara Bebek'.


'Berpenghasilan Jutaan Melalui Ayam'.


'Trik Jitu Berternak'.


"Ah ... sepertinya ini rak peternakan," ucapku saat membaca judul-judul buku di rak yang di sampingku.


Aku berjalan mencari rak buku pelajaran.


'Biologi kelas VII'.

__ADS_1


Nah, sepertinya di sini rak buku pelajaran.


'Detik-detik ujian nasional IPA untuk SMP'.


Buku itu yang dari tadi aku cari. Buku-buku yang berhubungan dengan pelajaran sekaligus buku berbekal Ujian Nasional.


Aku langsung menarik buku yang judulnya tadi ku baca. Namun, aku kesulitan untuk menarik buku yang agak tebal itu. Ku paksakan dengan sekuat tenagaku. Namun, hasilnya nihil. Tetap saja, buku itu tidak mau keluar.


"***** ... ini buku kenapa, ya? Kena lem apa pantatnya?" ucapku mengumpat.


Kutarik lagi buku itu dengan kuat. Aku tidak berani meminta bantuan Pak Saleh yang sedang sibuk dengan kegiatan beres-beres bukunya. Takut mengganggu beliau.


PLUK...


Buku itu jatuh disertai dengan tubuhku yang ikut terpental ke lantai. Bokongku terhantam kuat dengan lantai perpustakaan yang masih dingin. "Aaaaaaah...." Aku mengelus bokongku yang sakitnya mulai berasa.


"Sini, gue tolongin." Suara berat yang tak asing di telingaku sedang berdiri di hadapanku. Ya, itu suara Defadan alias Defa. Dia mengulurkan tangannya, bertujuan membantuku berdiri.


Entah mengapa, tangan kananku menyentuh tangan kanannya dan dia langsung menarikku. Serius! Bukan keinginanku untuk menyentuh tangannya, tapi ini ulah setan yang menggerakkan tanganku. Tapi kalau aku boleh jujur, tangannya hangat dan lembut. Benar-benar tangan idaman wanita-wanita.


"Makasih, ya, Def." Aku menyulam senyum bak bulan sabit.


Aku menggaruk tengkukku yang sebenarnya tidak gatal, merasa bingung. "Kamu kenapa ketawa begitu?"


Oh My God... apa jangan-jangan Defa melihatku tadi.


"Gue..., lucu aja liat kelakuan lo tadi."


Nah, 'kan, aku benar. Defa rupanya dari tadi sudah berada dekatku dan memperhatikanku. Lagi-lagi aku dibuat makin tersipu malu.


"Udah, ah. Jangan diledekin." Aku memukul pelan lengannya seraya merajut wajah yang menyeringai tipis.


Dia makin tertawa. Ah memang manusia, jika dilarang semakin menjadi.


"Omong-omong lo ngapai di sini?" tanyanya saat sudah menghentikan tawanya.


"Nyari makan," jawabku ketus, "Ya, nyari buku lah. Kamu gak lihat apa?" aku memalingkan wajah dari wajahnya yang super ganteng. Takut nanti malah klepek-klepek dengan pesonanya.

__ADS_1


Lagi-lagi Defa tertawa. Aku bingung, kenapa dia bisa tertawa sampai sebegitu nya, ya? Padahal 'kan, aku bukan pelawak, dan aku tak berminat menjadi pelawak.


"Ini buku lo." Defa memberikan buku yang tadi membawaku sampai sebegitu malunya. Dja memberikan padaku yang masih membuang muka serta badanku darinya.


Aku membalikkan badanku dengan sangat kasar, hingga membuat buku yang dipegang Defa terjatuh kembali.


"Ah... ilah...," ucapnya pelan bagai hembusan angin di siang hari. Namun masih dapat terdengar ucapannya oleh telingaku.


Kami sama-sama menunduk dan menyentuh buku itu. Tiba-tiba tanganku mendarat di atas tangannya. Aku mendongak, memandang wajahnya dengan tatapan kosong. Dan entah mengapa, aku tidak melepaskan tanganku yang masih memegang tangannya. Berasa kayak ada perangko yang menempel di tangan kami.


"Hmm...." Suara dehaman sengaja Defa menyadarkanku. Aku langsung menarik tanganku dengan ekspresi yang sedikit terkejut. "Modus."


"Aku gak ada niat sedikitpun modus sama kamu, ya!" cibirku mencela.


Aku langsung menarik buku itu dan berpaling meninggalkan Defa, dan mencari sisa-sisa buku lainnya, yang masih belum kutemukan.


'Buku sakti kelas XII'.


'Trik menghadapi Ujian Nasional SMA'.


'Matematika super untuk kelas XII'.


Aku masih sibuk mencari buku detik-detik Ujian Nasional kelas IX lainnya. Buku yang dari tadi kutemukan kebanyakan buku-buku kelas XII SMA.


Apa jangan-jangan ini rak buku-buku kelas XII SMA?


"Nyari buku apaan emang?" Suara baritone Defa lagi-lagi mengganggu aktivitas pencarian buku.


"Bukan urusan kamu!" Aku menjawabnya ketus.


"Buku SMP kelas IX bukan di rak situ," ucap Defa lagi-lagi yang semakin membuatku semakin jengkel. "Tapi di rak tadi," lanjutnya seraya menunjuk ke arah rak tempatku dipermalukan tadi.


"Oh!" aku melengos pergi melewatinya dan menyenggol pelan lengannya dengan bahuku. "Makasih!"


Aku perlahan melirik ke arah Defa. Sedikit penasaran, mengapa dia masih berdiri di rak buku kelas XII SMA. Dia juga seperti orang yang sedang mencari-cari buku kelas XII. Namun, saat mata kami bertemu, Defa menyulam senyumnya, membuatku nyaris terjungkal.


Lagi-lagi rak ini membuatku tersipu malu.

__ADS_1


Aku menghentikan aksiku yang melirik Defa secara diam-diam. Lebih baik memilih berhenti, daripada nanti ujung-ujungnya malah terjadi lagi hal-hal yang membuatku malu dihadapannya.


'Detik-detik Bahasa Inggris kelas IX'.


__ADS_2