
Wajahku semakin terlihat karena poni panjang yang selama ini menutupi wajahku digabungkan dengan rambutku dan diikat tinggi. Wajahku dipoles dengan bedak brand Prancis yang mungkin harganya sangat mahal. Mama memberi warna tipis pada bibirku. Ah benar-benar sempurna.
"Nah, anak mama cantik banget sekarang." Mama menatapku lembut.
"Jadi selama ini, Kayla engga cantik ya, Ma?" aku mengerucutkan bibirku, berpura-pura merajuk.
"Bukan." Mama menolak perkataanku. "Maksud mama, kamu makin cantik."
Pluk...
Aku memeluk mama. "Kayla cantik, 'kan karena mama cantik," ucapku di sela-sela pelukan.
Mama melepaskan pelukanku dan menatapku. "Kita sarapan dulu, yuk. Takutnya, nanti kamu telat." Mama dan aku berjalan menuju ruang makan.
Aku menyapu pandangan ke sekeliling ruang makan untuk mencari sosok papa yang masih belum ketemui di kursi makan. "Ma, papa mana?" tanyaku seraya mengerutkan keningku.
"Tadi papa buru-buru ada meeting ke Jakarta soalnya, jadi ga sempat sarapan bareng kita," jelas mama, "Papa titip maaf sama mama ke kamu."
Tidak masalah! Yang penting, bisa sarapan sama mama udah buat aku bahagia, kok. Kapan-kapan juga masih bisa sarapan bareng papa lagi. Toh, papa kerja keras buat kebahagiaanku dan mama.
---o0o---
Sekolah Sinar Bangsa, mampu membuatku terpaku takjub. Bagaimana tidak? Faktanya, Sinar Bangsa adalah sekolah elit yang memiliki akreditasi dari International Baccalaureate (IB) ini benar-benar sekolah yang luar biasa besar. Parkir sekolahnya saja sudah hampir sebesar lapangan sepak bola. Bagaimana lagi dengan sekolah dan tiap ruang kelasnya?
"Silahkan turun, Nyonya dan Nona." Pak Supri, selaku supir pribadi mama membukakan pintu untukku dan mama.
Hari ini, mama mengantarku ke sekolah. Mama takut, jika aku nanti kesasar di sekolah yang hampir dua kali lebih besar dari Bandara Polonia, Medan dulu.
"Saya pamit pulang dulu, ya, Nona," ucap Pak Supri seraya menundukkan sedikit badannya ke arah mama.
"Hati-hati di jalan, ya, Sup." Usia mama jauh lebih tua dari usia Pak Supri. "Yuk, Sayang, kita masuk," lanjut mama padaku seraya menggenggam tangan kananku.
"Ma, ini benar sekolah Kayla?" tanyaku yang masih terkagum-kagum dengan bangunan-bangunan yang ada di sekolah ini. "Besar banget, Ma," lanjutku seperti orang kampung yang baru saja memasuki kota.
Mama hanya tergelak melihat sikapku yang seperti orang kampungan dan menjawab pertanyaanku dengan anggukan kecilnya. "Mudah-mudahan kamu suka sekolah di sini."
Bukan suka lagi. Aku mungkin bahkan jatuh cinta dengan sekolah ini. Siapa coba yang tak mau bersekolah di sini?
Aku memperkirakan, pasti uang sekolah yang habis dikeluarkan mama dan papa tiap bulannya untukku tidaklah sedikit. Bisa jadi, uang SPP di Sinar Bangsa ini serupa dengan harga emas batangan seberat tiga garam. -kalau satu kilogram kebanyakan.
__ADS_1
Jalan dari parkiran ke ruang kepala sekolah saja membutuhkan waktu 5 menit. Mungkin, ini juga alasan mama membangunkanku tadi pagi-pagi sekali.
Kalau jalan ke kantinnya berapa jauh ya? Bakalan tidak bisa ke kantin aku kalau jaraknya jauh sekali. Soalnya, saat kenyang di kantin, balik ke kelas bakalan lapar lagi. Karena tenaganya udah habis dipakai untuk berjalan.
"Selamat pagi, Nyonya Ferrour," sapa bapak-bapak berkepala botak dan lecet, jika terkena sinar matahari akan berkilau seperti lampu. Memiliki tubuh yang pendek dan gendut. -sumpah jelek banget guys "Ini anak nyonya?"
"Pagi, pak. Iya ini anak saya," jawab mama, "Sayang, ini kepala sekolah kamu," ucap mama padaku.
What?
Pria gendut yang sudah aku bilang jelek itu ternyata kepala sekolah di sini. Aku benar-benar tergelak dalam hati.
"Biar jelek begini, saya sudah menjadi kepala sekolah di sini," ucapnya yang merasa sok tahu kalau aku baru saja mengatainya jelek. Omong-omong emang benar sih, aku baru saja mengatainya jelek. Tapi, dari mana dia bisa tahu? Dia bisa baca pikiran orang ya?
Aku menyeringai ke arah pak botak yang mengaku sebagai kepala sekolah, dan napasku tertahan di tenggorokan. "Maksud bapak?"
Dia tergelak, "Tidak apa-apa. Biasanya murid-murid baru selalu berpikir saya ini jelek. Mungkin tidak termasuk kamu."
Syukurlah kalau ternyata pak kepala sekolah mengira aku tidak berpikir dia jelek.
"Oh iya, Kayla. Perkenalkan, nama bapak Bolet. Tapi, kamu jangan manggil Bapak Botak Lecet, ya. Biasanya anak-anak manggil bapak itu. Nama bapak jadi di singkat yang enggak-enggak sama generasi yang sedikit kurang ajar itu. Semoga kamu tidak termasuk ke dalamnya, ya." Pak Bolet, menceritakan secara detail tentang namanya. Ada lucunya juga ya, kenapa bisa kebetulan nama Bapak Bolet bisa di buat kepanjangan seperti itu.
"Bu Arnita...," panggil Pak Bolet pada wanita cantik yang berdiri tak jauh dari tempat kami, "Tolong antarkan murid baru ini masuk ke kelas ibu, ya."
"Baik, Pak."
"Kayla, itu wali kelas kamu," ujar Pak Bolet selaku kepala sekolah. "Nyonya sudah bisa pulang. Kayla aman di sini," ujarnya pada Mama.
"Titip Kayla, ya, Pak." Mama berbicara pada Pak Bolet, setelah itu beliau menatapku, "Kamu jangan macam-macam di sekolah. Belajar yang benar biar jadi penerus bangsa yang bisa membanggakan dan mengharumkan negara," omel Mama panjang yang hanya ku balas dengan senyuman dan anggukan. Mama akhirnya pergi meninggalkan lingkungan sekolah.
"Ayuk, Kayla. Ikut saya," titah Bu Arnita. Dia pun berjalan menyusuri koridor sekolah dan aku mengikutinya dari belakang.
Di sepanjang perjalanan, aku mendengarkan banyak keributan di kelas karena sebagian guru belum masuk ke kelas.
---oOo---
Setibanya di kelas, aku sudah dibuat takjub
Gila! Ini ruang kelas apa kamarku? Besar banget.
__ADS_1
"Pagi anak-anak. Kali ini kita kedatangan murid baru," ucap Bu Arnita selaku wali kelasku. Aku masuk di kelas IX-1. Aku tak tahu, mengapa mama dan papa memasukkanku di kelas yang mayoritas muridnya jenius. Mereka tak tahu apa? Kalau aku baru saja kehilangan ingatan. "Kayla, perkenalkan nama kamu di depan teman-temanmu."
"Hmm...." Aku berdeham, mengumpulkan suaraku yang mulai serak. "Perkenalkan, nama saya Kayla Amanda Ferrour," ucapku lirih karena aku merasa sangat gugup. Suaraku entah terdengar, entah tidak sama murid-murid yang lainnya.
Seisi kelas jadi riuh, saat mendengarkan namaku. Ada yang mengangga lebar-lebar -awas masuk lalat- ada yang melotot. -awas lari bola matanya- Mengapa mereka semua seperti ini?
"Ferrour?" ulang murid laki-laki yang duduk di bangku pojok kelas.
Mungkin saja dia salah mendengar, atau pendengarannya kurang jelas karena duduk di pojok, makanya pria itu bertanya ulang.
"Iya." Aku mengangguk sumringah.
"Ferrour?"
"Benar dia keluarga Ferrour?"
"Anaknya keluarga yang terkenal kaya?"
Ada apa ini? Mengapa semuanya merasa seperti sedang bertemu dengan tokoh dunia?
"Kamu benaran keturunan Ferrour?" tanya gadis berambut pendek -pas di atas bahu- yang tepat duduk di depanku berdiri.
"Iya. Emang kenapa?" Aku menyernyitkan alisku, menampakkan wajah yang tak mengerti apa-apa.
"Kamu tidak tau?"
Aku menggelengkan kepalaku dan mengangkat kedua bahuku. Aku benar-benar tak mengerti dengan mereka semua.
"Anak-anak, Kayla menderita amnesia." Bu Arnita akhirnya angkat bicara saat situasi kelas makin riuh.
"Ooo...," ucap seisi kelas dengan kompaknya, bagaikan grup koor yang memastikan nada. "Pantasan saja."
"Ibu mohon bantuan kalian untuk mengajari Kayla, ya," ucap Bu Arnita yang mendapat anggukan setuju dari murid-murid. "Kayla, kamu duduk di samping Nacha, ya," lanjutnya seraya menunjukkan bangku kosong yang ada di depan dan di samping gadis yang bertanya; aku keturunan Ferrour tadi.
"Jadi kamu yang dimaksud mamaku," ucap gadis yang di sampingku. Aku mengerutkan dahi, tak mengerti apa maksudnya. "Perkenalkan, namaku Nanda Chaya." Gadis yang mengaku bernama Nanda -tapi Bu Arnita bilang namanya Nacha- mengulurkan tanggannya kearahku. "Aku anaknya Dokter Fanny."
Oh! Pasti Dokter Fanny sudah memberitahukan tentangku pada putrinya.
"Salam kenal, ya. Semoga kita bisa menjadi teman akrab." Aku membalas uluran tanggannya.
__ADS_1
"Iya."