Bingkai Lara

Bingkai Lara
Masalah Kecil di Kantin


__ADS_3

Jangan lupa Vote dan tinggali jejak komentarnya ya say....


Bel istirahat pertama telah berdering. Banyak siswa yang masih mengerumuniku, menanyakan apakah benar aku ini keturunan Ferrour? Emangnya kenapa sih?


Sumpek.


Mereka mencuri semua oksigenku, membuat paru-paruku kehilangan beberapa oksigen yang dibutuhkan. Lama-lama aku bisa mati kalau begini.


"STOOP...!" bentak Nacha mendorong siswa yang mengerumuni bangku kami. Tak hanya siswa di kelas ini, siswa kelas lain pun datang ikut-ikut aksi mengerumuniku seperti hendak mendemoku. "Minggir!" Nacha menarik lenganku dan membawaku keluar dari kerumunan orang-orang yang tak punya kerjan. Nacha menarikku ke taman yang jauh dari ruang kelas.


"Mereka kenapa sih?" tanyaku sambil mengerlingkan mata, memastikan bahwa tak ada orang yang kusebut 'fans' mendekat ke arahku.


"Ferrour itu keluarga yang sangat kaya. Keluarga keturunan Francis. Mereka seperti itu, karena ada maunya. Baik-baik di depan, ujung-ujungnya minta apa-apa sama kamu," jelas Nacha yang merasa tak suka pada mereka semua.


"Kaya seperti apa?"


"Kalian punya perusahaan besar di Jakarta, mall terbesar di sini, Medan, restoran, hotel bintang lima," jelas Nacha, "itu aja sih setauku," lanjutnya lagi.


Aku menutup mulutku yang sudah mengangga lebar.


Sebegitu kayanya kah aku? Bukan aku, tapi keluarga Ferrour!


"Kamu hati-hati cari teman di sini. Walaupun rata-rata mereka orang yang berkecukupan, tapi mereka juga matre."


Benar! Tampaknya Nacha tidak suka pada teman-temannya. Lantas, apakah dia tidak punya teman?


"Nacha...," panggil gadis yang berperawakan cantik, berkulit putih dan rambut bergelombang bawah yang sebahu dengan poni depan yang pas di atas alis. Siapa dia? "Dari mana aja. Gue cari tadi di kelas lo." Dia melirik kearahku, "Ini siapa?"


"Eh, maaf, Belacan." Nacha menggaruk-garuk tekuknya yang sebetulnya tidak gatal. "Ini Kayla."


"Kayla Amanda Ferrour." Aku mengulurkan tanganku, bermaksud mengajaknya berkenalan.


Dia melongo, menyeringai tipis, matanya seperti menatapku tajam. "Jadi lo yang dari tadi dibahas anak-anak." Membalas uluranku dan melepaskannya begitu cepat, tanpa menyebutkan namanya.


What? Apa maksudnya coba?


"Dari tadi, di kelas gue heboh bicarai anak baru dari keluarga Ferrour." Si cewek yang dipanggil Nacha dengan sebutan 'Belacan' berbicara seakan mengetahui pikiranku.


Aku tersenyum tipis, "Beritanya cepat menyebar juga, ya."


Dia dan Nacha sedikit tergelak.


"Oh iya, gue lupa. Kenali," ucapnya seraya mengulurkan tangannya kembali dan aku membalasnya, "nama gue Bella Alviani." Bella memiringkan kepalanya, menyunggingkan senyum yang membuatnya semakin mempesona.


Bella? Namanya bagus. Lantas, kenapa Nacha memanggilnya dengan belacan yang terkenal bau ikan dan udang. Kalau dicium-cium, tubuh Bella tidak bau terasi.


Mungkin, Nacha yang menambahkan kata 'can' di belakang nama Bella.


"Gue temannya Nacha," lanjutnya.


Teman? Ternyata Nacha memiliki teman juga, walau dari kelas yang berbeda. Dari yang aku perhatikan, Nacha sepertinya adalah tipe wanita yang memilih-milih teman. Dia takut jika salah pilih teman. Mungkin, ada kejadian buruk antara dia dan pertemanannya. Sepertinya juga, Bella adalah orang yang baik, makanya Nacha mau berteman dengannya.


"Kantin, yuk," ajak Bella


"Aku udah ga mood lagi ke kantin, gara-gara para fans matrenya Kayla," rutuknya


Aku tertawa mendengar rutukan sekaligus sindirannya yang tidak kumasukkan ke dalam hati. "Nacha, maafin fans matre aku, ya."


"Nacha sok ga mood. Palingan kalau gue beliin cokelat ntar mauk," ledek Bella.

__ADS_1


"Yok." Nacha berjalan lebih awal -pergi meninggalkan kami yang masih berdiri- saat mendengar perkataan Bella.


"Tuh kan, benar apa seperti yang gue bilang." Bella sedikit tergelak lalu ikut pergi, menyejajarkan barisannya dengan Nacha dan aku mengekor di belakang mereka.


---oOo---


Ternyata kantin yang tadi kubayangkan itu berbeda dengan faktanya. Jarak ruang kelas dan kantin tidak jauh, hanya menyebrangi lapangan kecil. Gedung ruang kelas dan kantin berhadap-hadapan. Dan yang menjadi hal menakjubkan lagi, kantin ini sangat-sangat-sangatlah besar. Sehingga tidak perlu khawatir, jika tidak kebagian tempat duduk.


Aku, Nacha dan Bella mengambil tempat yang sedikit jauh dengan orang-orang. Takutnya, fans matreku mengubris lagi.


Hahahaha....


"Kayla, kamu mau makan apa?" tanya Nacha yang masih berdiri untuk memesan makanan dan minuman.


"Terserah aja, Cha. Aku masih belum paham dengan menu di sini."


"Udah pernah nyoba tahu sichuan, Kay?" timpal Bella.


Aku memiringkan wajah, memasang raut heran karena tak mengerti dengan menu asing yang baru melintas di telingaku saat ini. "Apa itu?"


"Itu makanan khas Thailand yang terkenal dengan rasanya yang maha pedas. Ada murid yang suka, ada yang tidak dengan tahu sichuan. Tapi kebanyakan yang tidak suka. Mereka tak mau mencicipi rasa tahu sichuan lebih dahulu. Padahal kalau dicoba sesuap saja, bisa membuat ketagihan, walaupun awalnya menahan pedas. Oh iya, tahu sichuan itu makanan kesukaan gue," jelas Bella yang membuatku sama sekali tak mengerti. "Lo coba aja dulu, ya," pintanya.


Aku mengangguk mantap. Mungkin saja rasa enak yang dirasakan Bella akan menular padaku nanti,


"Belacan, makan itu lagi?" tanya Nacha.


Sepertinya, sudah menjadi kebiasaan Bella memakan tahu sichuan tiap kali ke kantin. Dia tak merasa mulas makan pedas tiap hari?


"Iya. Tahu sichuannya dua ya, Cha."


Nacha pergi meninggalkan kami dan berjalan menuju pemesanan makanan.


Si pria menoleh mencari sumber suara pemanggil namanya, lalu menghampiri kami saat sudah tahu bahwa Bella yang memanggilnya. "Di sini ternyata." Dia duduk di depan Bella dan di sebelah kananku. "Gue nyarii lo, Belatung."


Belatung?


Banyak sekali orang yang menambah-nambahkan nama Bella. Kasihan dong, kambing yang udah disembelih untuk meresmikan namanya, tapi malah diganti-ganti begini namanya.


"Ngapai lo nyari gue?"


"Biasa...! Mau minta tolong ngerjai pr gue." Kalau didengar dari ucapannya sih, sepertinya dia sudah terbiasa meminta tolong pada Bella untuk mengerjakan pekerjaan rumahnya. "Eh, omong-omong ini siapa?" tanyanya saat sudah menyadari keberadaanku.


"Itu teman gue. Kenalan gih."


"Nama lo siapa?" tanyanya menatap wajahku dan menaikkan sebelah alisnya.


"Kayla," ucapku datar tanpa ekspresi.


Kalau dilihat dari dekat begini, muka gantengnya terlihat jelas guys. Mata hitam di tengah dengan pinggiran kelabu yang berbinar seperti pantulan cahaya bulan, keningnya yang dibingkai dengan poni lurusnya seperti rambut Lee Min Ho, kulitnya yang seputih mutiara. Tak hanya paras, guys. Dia juga wangi. Wangi parfum cowok yang mungkin harganya mahal.


"Gue Defadan. Panggil aja Defa," ujarnya seraya memperlihatkan deretan giginya yang tersusun rapi. "Anak baru ya? Dari kelas mana?"


"Iya. IX-1."


Aku tak berani menatap wajahnya, jika kutatap bisa-bisa lagu fall in love tiba-tiba terputar menjadi backsound hatiku.


"Kalau gue kelas IX-10. Ya walaupun kelas terakhir, tapi gue masuk deretan orang terpopuler di sekolah ini," ucapnya dengan nada yang membanggakan diri. "Terpopuler karena ketampanan gue." Jempol dan jari telunjuknya membentuk huruf V dan ditempelkan di dagu, serta memperlihatkan deretan gigi-giginya.


"Oh gitu?" ucapku datar. Aku sama sekali tak peduli.

__ADS_1


Nacha datang dengan membawa nampan yang berisi dua tahu sichuan, sepiring nasi goreng dan tiga gelas jus jeruk. "Lo kenapa di sini, Def?" tanya Nacha seraya mengangkat makanan itu keluar dari nampan.


"Ga boleh rupanya?" tanya Defa ketus.


Nacha hanya mendengus kuat dan tidak menjawab ucapan Defa. "Selamat makan," ucap Nacha saat sudah duduk di samping Bella.


"Gue boleh gabung sama kalian?" tanya Defa yang membuat suapan nasi goreng Nacha terhenti dan mengambang di udara.


Nacha menyeringai tipis ke arah Defa, "Kenapa tib-"


"Oh, boleh kok, boleh." Belum sempat Nacha berbicara, ucapannya sudah dipotong Bella begitu saja.


Nacha hanya menghela napas kasar. Sepertinya Nacha tak begitu menyukai Defa.


"Boleh kan, Cha?" Bella menyenggol lengan Nacha


Nacha memutar kedua bola matanya malas, "Serah." Lalu dia kembali menyantap hidangannya.


Defa hanya tersenyum penuh dengan kemenangan, lalu beranjak untuk memesan makanannya.


"Bella sekelas sama Defa?" tanyaku pada Bella sekaligus berusaha mencairkan suasana yang sedikit canggung karena kejadian Defa dan Nacha.


"Engga kok. Gue kelas IX-3," jawab Bella seraya memasukkan sesendok tahu sichuan kedalam mulutnya. "Enak," lanjutnya lirih seraya menahan sedikit rasa pedas.


Melihat Bella yang berkata 'enak' seperti itu, membuatku mencoba memasukkan tahu sichuan ke dalam mulutku. Lagian juga cacing-cacing di perutku sudah berdemo meminta makanan.


Uwaa...


Gila! Ini makanan atau cabe asli? Pedas banget. Karena rasa pedasnya sudah menusuk-nusuk lidah, bibir, serta tenggorokanku, aku mengambil segelas jus yang berada di samping kiriku dengan tergesa-gesa.


Plak...


Karena kecerobohanku, gelas itu jatuh dan isinya tumpah di atas lantai.


"Kay, minum jus aku aja," ucap Nacha seraya menyodorkan gelas jus jeruk miliknya. Tetapi, aku menolaknya. Aku merasa tak enak bila harus meminum jus milik orang lain. Lagian juga aku hanya butuh air mineral.


"Nah." Tiba-tiba tangan seseorang melayang di depan wajahku yang sedang bersemu merah seperti tomat karena menahan rasa pedas.


Aku melirik ke kiri. Siapa itu? Malaikat apa yang memberikan botol air mineral kepadaku? Ternyata dia Defa.


"Buat lo." Defa meletakkan botol air mineral itu di atas meja, lalu dia kembali duduk di sebelah kananku.


"Makasih, ya!" aku melirik ke arahnya yang sedang memegang sendok dan menyunggingkan senyum manisku, menampakkan gigi gingsul manisku.


"Lain kali jangan ikut saran si Belatung untuk makan tahu sichuan." Ucapan Defa membuat kami semua menatapnya tajam. "Gue juga pernah dikerjai dia, disuruh makan tahu sichuan. Eh, taunya rasa pedasnya buat gue hampir mati."


Bella menyengir, "Lo yang bodoh! Kenapa nurut-nurut aja," ucap Bella dengan nada yang sedikit tertekan.


"Hahaha...." Defa tertawa terpaksa, "Iya, gue bodoh banget, ya, Bel." Defa berdiri, pergi meninggalkan makanannya yang masih bersisa banyak.


Defa ngambek? Atau baperan?


"Defa mah orangnya mudah ngambek, Kay." Bella berhenti sejenak, mengatur napasnya. "Udah biasa gue sama dia begini. Ntar juga dia datang sama gue, minta ngerjai pr-nya."


"Ooh...." aku mengangguk paham.


Kami kembali menyantap makanan, sebelum akhirnya bel masuk berbunyi.


Terima kasih sudah membaca cerita ini

__ADS_1


__ADS_2