
Sudah hampir seminggu Nacha tidak berbicara padaku. Sampai sekarang juga aku tak tahu apa alasannya sampai dia seperti ini. Nacha yang dulu kukenal, seolah-olah seperti orang asing bagiku. Dia yang dulu ceria, tiba-tiba berubah menjadi orang yang pendiam. Dia yang dulu sangat konsentrasi dalam belajar, tiba-tiba berubah menjadi orang yang benar-benar teledor.
Kreeeng...!
Ponsel Nacha berdering di sela-sela pelajaran Bu Arnita. Nacha meminta izin untuk menjawab panggilan itu. Dan saat dia kembali, ada nanar yang terpancar di mata Nacha. Matanya berbinar-binar, seperti orang yang sedang menahan tangis.
"Nacha kenapa?" Ternyata bukan aku saja yang menyadari kelakuan Nacha. Bu Arnita juga menyadarinya. "Ada masalah?"
"Bu, saya izin pulang, ya?" ucapnya. Kemudian dia berbisik pada Bu Arnita. Setelah itu dia kembali ke mejanya, mengemasi barang-barangnya. Tampaknya, Bu Arnita mengizinkannya pulang. Tapi kenapa Nacha mendadak ingin meminta pulang selesai menerima panggilan tadi?
"Kamu yang sabar, ya," kata Bu Arnita saat Nacha menyalamnya. Nacha membalas dengan anggukan kecil, kemudian pergi meninggalkan kelas.
Aku semakin dibingungkan dengan kejadian ini. Tak hanya aku, teman-teman sekelas pun mungkin pada kebingungan.
Ada apa dengan Nacha?
Tak lama kemudian, ponselku juga berdering. Aku mendapat pesan dari mama.
Kayla di mana?
Mama jemput ke sekolah ya. Nanti mama yang izini kau di sekolah
Kenapa ma?
Nanti mama ceritakan
Sepuluh menit kemudian, aku dipanggil ke ruang piket dengan membawa tasku. Mama dan papa sudah menunggu di situ dan sudah meminta izin membawaku pulang.
"Ada apa, Ma? Apa yang telah terjadi? Kita mau kemana?" tanyaku mulai panik, hingga menimbulkan seribu pertanyaan. Ekspresi mama dan papa benar-benar membuatku khawatir.
__ADS_1
"Kita mau ke rumah Nacha. Mama dan papanya mau bercerai," jawab mama parau.
Mataku melotot tak percaya. Apa selama ini Nacha berubah karena masalah kedua orangtuanya? Kenapa Nacha tidak pernah cerita masalah sebesar ini padaku?
"Bercerai? Kenapa, Ma, Pa?" tanyaku yang masih belum percaya.
"Udah ga cocok lagi, Sayang," balas papa.
---o0o---
Sudah banyak orang yang berkumpul di sekitar rumah Nacha. Terutama keluarga besarnya. Dan dari tadi aku mencari Nacha, tapi tidak ada tanda-tanda keberadaannya. Hanya satu tempat yang belum kulihat, yaitu: kamar Nacha. Apa mungkin Nacha di kamarnya, mengurung diri? Mungkin saja benar. Dia pasti sangat terpukul dengan semua ini. Dan tugasku hanya dua: menghiburnya dan menguatkannya.
Tok... Tok... Tok...
Aku mengetuk pintu kamar Nacha yang memang sudah terkunci. "Cha ...," panggilku lembut. "Tolong buka pintunya."
"Ngapai kamu ke sini?" teriak Nacha dari balik pintu. Suaranya diikuti dengan isak tangis.
Pintu kamarnya pun telah dibuka dan muncul sosok Nacha di depanku. Sosok wanita yang selama ini terlihat kuat, namun di belakang dia begitu lemah. Wajah Nacha berlinang dengan air mata. Matanya sembab. Hidungnya memerah.
"Mau ngapai, Kay?" tanya Nacha dengan suara parau sehabis menangis. Nacha menggosok matanya, berusaha menghapus air mata yang mau keluar begitu saja. "Maaf selama ini aku ga cerita soal ini ke kamu."
"Gapapa, Cha. Kamu yang sabar ya." Kuulas senyum penghibur. Aku ingin menjadi pelipur lara untuk Nacha. "Setiap kehidupan, pasti ada konflik, Cha. Sama halnya kayak cerita novel. Kalau cerita itu ga ada konfliknya, pasti pembaca bosankan? Dan dari konflik kita bisa memetik amanat. Begitu juga yang Tuhan lakukan, Tuhan memberikan kita masalah, agar kita belajar untuk mengatasi masalah tersebut dengan sabar, dan pasti Tuhan menyelipkan amanat dari tiap masalah kita."
Nacha tersenyum, "Mungkin kamu benar."
"Udah jangan sedih lagi. Kita liat aja takdir Tuhan gimana nantinya."
"Tapi gue masih belum sanggup kalau mama dan papa gue pisah, Kay." Matanya berbinar-binar.
__ADS_1
Aku menatap lurus ke mata Nacha. "Tuhan pasti beri yang terbaik untuk hambanya, Cha. Yang hanya kita lakukan adalah; bersabar." Kemudian, kupukul pelan pundaknya. "Omong-omong, kalau aku boleh tau, Dokter Fanny sama Om Rendra kenapa mau cerai, Cha?" kutanyakan hal ini dengan hati-hati agar tidak membuat Nacha sakit hati.
Setelah meluncurkan pertanyaan itu, keadaan sunyi mencengkram sekitar kami. Nacha tertunduk. Sepertinya, aku salah bicara walau sudah berusaha nanya dengan hati-hati. "Kita bicarai di dalam kamarku aja yuk," ucap Nacha, kemudian dia berbalik badan dan masuk ke dalam kamarnya karena dari tadi kami mengobrol di depan pintu kamarnya. Aku mengikutinya dari belakang, dan mengunci pintu kamarnya terlebih dahulu.
Nacha dan aku sudah duduk di atas kasurnya yang empuk. Nacha membuka pembicaraan, "Papa udah selingkuh, karena mama jarang pulang ke rumah. Papa ketauan bawa wanita lain ke rumah ini." Nacha mengambil napasnya dalam-dalam, kemudian melanjutkan penjelasannya. "Papa bilang, mama terlalu sibuk dengan pekerjaannya sampai tidak mengurusi keadaan papa, sedangkan keadaan orang lain selalu diurusi mama."
Lagi-lagi, Nacha menarik napasnya. Dia seperti orang yang kesulitan berbicara. Masih tersimpan nada sedih di sela-sela ucapannya. "Setiap mama dan papa di rumah, mereka selalu berantam, Kay. Itulah alasan aku cepat-cepat pulang. Kalau aku tiba di rumah lebih dulu, mereka bisa kucegah untuk tidak berantam. Aku bosan, Kay. Sakit rasanya liat mereka begini." Air mata Nacha tumpah akibat kantung matanya yang tak tahan menahan air yang ingin keluar.
"Cha... yang sabar ya. Badai pasti berlalu, 'kok. Percaya deh." Aku menghapus air mata Nacha yang sudah membasahi pipinya. "Senyum dong." Aku tersenyum tipis dan menyuruh Nacha untuk tersenyum. Nacha patuh. Dia tersenyum. "Kan kalau udah senyum, cantiknya muncul lagi. Soalnya tadi cantik kamu ketutup air mata."
"Ih... apaan sih, Kay." Nacha tertawa dan mendorong pelan pundakku. Tawanya kali ini bukan tawa yang terpaksa, tapi benar-benar tulus. Aku ikut tertawa, senang rasanya melihat Nacha bisa bahagia di sela-sela masalahnya seperti ini. "Makasih ya, Kay."
"Ga usah ngucap makasih kali, Cha. Itulah gunanya sahabat, saling membantu." Walau masih belum lama dekat, aku sudah menganggap Nacha sebagai sahabatku sendiri. Karena persahabatan terjadi bukan karena berapa lama bersama, melainkan karena sebesar apa rasa persahabat yang dimiliki.
"You're the best."
"You too, Nacha."
Aku dan Nacha kembali ceria seperti dahulu kala. Tampaknya, Nacha sudah melupakan dan meluapkan segala masalahnya.
"Nacha, can i ask you something?"
"What?"
Tatapanku berubah menjadi tatapan orang yang ingin menanyakan hal yang penting. "Kamu nanti terima engga apa pun keputusan yang akan Tuhan berikan pada orangtua kamu?"
Raut ceria Nacha mendadak hilang. "Biarlah kehendak-Nya yang jadi." Kemudian, dia kembali ceria lagi.
Aku senang melihat Nacha yang seperti ini. "Cha, besok jalan-jalan, yuk. Udah lama kita engga jalan-jalan," ajakku kemudian.
__ADS_1
Nacha mengangguk, yang artinya menyetujui ajakanku tadi.