Bingkai Lara

Bingkai Lara
Masalah dengan Sarah and The Genk


__ADS_3

Sepertinya, pagi ini benar-benar aneh. Tatapan teman-teman sekelas padaku terlihat berubah. Tatapan yang kurasakan seperti tatapan yang tidak suka. Aku tak tahu apa sebabnya. Apa aku berbuat kesalahan? Atau hanya perasaanku saja?


"Pagi, Nacha?" sapaku pada Nacha yang baru saja tiba di bangkunya. Nacha tidak seperti biasanya. Biasanya, dia selalu datang cepat ke sekolah. Namun kali ini, aku datang lebih dulu darinya.


"Pagi." Tanpa senyuman dijawabnya sapaanku tadi.


Apa Nacha juga ikut berubah? Kuharap tidak.


"Nacha, nyontek pr dong." Memang sudah menjadi kebiasaanku terkadang menyontek tugas sekolah pada Nacha.


Nacha membuka kancing tasnya, mengambil buku pr yang kuminta tadi, lalu memberikannya padaku. Biasanya, Nacha mengomeliku terlebih dahulu jika aku meminjam tugasnya, namun kali ini dia tidak terlihat seperti itu.


"Cha, ada yang salah?" aku mulai bingung dengan setiap perubahan orang-orang di sekitarku.


Nacha hanya tersenyum tipis lalu pergi meninggalkanku yang masih melototinya dengan tatapan yang heran. Aku tak tahu dia mau ke mana, yang pasti, dari sikapnya tadi, dia pasti sedang marah padaku.


"Nacha... tunggu," panggilku saat Nacha sedang berjalan di koridor sekolah. Aku mengejarnya. Tak peduli dengan tugasku yang belum siap. Aku hanya ingin memastikan, bahwa Nacha sedang tidak marah padaku.


Nacha menghentikan derap kakinya. Dia menoleh ke arah sumber suara; aku. "Ada apa?" tanyanya dari jarak yang sedikit jauh dariku.


Aku berlari kecil, menghampiri Nacha. "Ada yang salah?" tanyaku dengan tarikan napas yang sedikit lebih cepat.


"Maksudnya?"


"Apa aku berbuat salah padamu?" kataku langsung to the point.


Wajah Nacha tampak bingung. Mungkin dia masih belum mengerti maksudku. "Kamu buat salah bagaimana?"


"Kenapa sifat kamu berubah, Nacha?" Manik mataku menatapnya lurus.


"Ga ada yang berubah kok," jawabnya menunduk. Nacha tak berani menatap mataku. Dan yang kulihat, hidungnya kembang-kempis. "Aku pergi dulu, ya?" Nacha meninggalkanku dan mempercepat derap kakinya. Dengan sikap Nacha yang barusan, aku semakin yakin lagi jika aku berbuat salah padanya.

__ADS_1


Aku yakin, tak ada yang tak berubah. Semua yang ada di bumi ini akan mengalami perubahan. Orang yang dulu dekat denganku sekarang seolah-olah seperti tak mengenal diriku.


Kulangkahkan kakiku berjalan melewati koridor sekolah menuju ruang kelasku dengan pikiran yang terombang-ambing. Namun, langkah kakiku terhenti saat melihat mading yang masih baru ditempel, mungkin.


'Breaking News, Kayla dan Defadan ternyata sudah resmi berpacaran. Mengapa mereka merahasiakan semua ini? Kayla si penghianat telah menghianati kita'.


"Penghianat? Apa maksudnya ini?" gumamku pelan.


Mengapa isi mading ini bisa begini?


"Breaking News, Kayla dan Defadan ternyata sudah resmi berpacaran. Mengapa mereka merahasiakan semua ini? Kayla si penghianat telah menghianati kita," baca adik kelas yang berada di sebelahku. "Ah sialan. Bang Defa yang ganteng udah direbut sama orang," umpatnya saat sudah selesai membaca isi mading.


"Dek, kamu tau siapa yang nempel ini?" Kutunjuk kertas itu dengan daguku.


"Mana gue tau. Gue aja baru datang," jawabnya seraya memperhatikanku secara detail, dari ujung kepalaku sampai ujung kakiku. Sampai membuatku bergidik ngeri dengan tatapan menyelediknya. "Kayaknya gue pernah liat lo deh, Kak," lanjutnya seraya mengetuk-ngetuk dagunya. Berusaha mengingat sesuatu. "Lo orang yang sering bareng sama abang ganteng, 'kan?" Dia memicingkan matanya, menatapku dengan tatapan yang menyeringai.


Aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan yang ragu-ragu.


"Eeeh... bukan-bukan," bantahku.


"Alaah... dasar penghianat!" Si adik kelas membuang mukanya dengan kasar dan membalikkan badannya, berjalan pergi meninggalkanku.


"Penghianat bagaimana coba?" gumamku. Aku masih bertanya-tanya, mengapa bisa mereka semua bilang aku penghianat?


Kulangkahkan lagi kakiku menuju ruang kelas. Aku tidak mau peduli dan tidak mau mengingat kejadian ini lagi. Mungkin mereka semua salah paham dengan semua ini.


Braag...


Sebuah cairan bewarna kuning membasahi kepalaku dan tubuhku. Cairan itu sangat kenyal dan bau amis. Tidak salah lagi, itu telor busuk. Siapa yang melemparkan telor ini padaku?


"Eeh, penghianat!" Seorang anak perempuan mendorong kuat bahu kananku. "Yang nyuruh lo pacaran sama Defa siapa?"

__ADS_1


Dia Sarah Laurensia, teman sekelas Defa dan teman satu genk-nya Reina. Genk mereka bernama, 'R Girl' yang terdiri dari enam orang wanita cantik seantero sekolah yang berkumpul menjadi satu. Sarah adalah pemimpin di dalam genk itu. Kabarnya, kalau sudah berurusan dengan Sarah, bisa-bisa dibenci seantero sekolah. Murid-murid Sinar Bangsa pada takut dengan Sarah, karena dia adalah anak dari ketua yayasan sekolah ini.


"Kita engga pacaran, 'kok," ucapku menahan isak tangis agar tidak pecah.


"Alah... ga ngaku lagi!" ucap seorang dari genk mereka. Hanya Reina yang tidak ada di situ saat ini.


"Enaknya kita apain, Rah?" kata perempuan berparas cantik dengan bingkaian rambut kuning yang diikat tinggi menjuntai di atas, dengan poni depan yang semakin membuatnya terlihat cantik, serta wajahnya yang mirip dengan bule Eropa.


"Udah, Rah... habisi aja," timpal perempuan yang berdiri di samping kananku dan samping kiri Sarah. Ya, aku dan sarah sedang berhadap-hadapan.


"Kasih hadiah terindah untuknya, Kak Rah." Adik kelas yang tadi bersamaku mulai ikut-ikutan memanaskan suasana.


"Ada kejutan apalagi, gengs?" ucap Sarah melihat teman-temannya yang kebanyakan berdiri di belakannya. "Ra, Laura bawa bumbu spesial, engga?" tanya Sarah pada gadis bule tadi.


Bumbu spesial? Perasaanku benar-benar tidak enak. Aku yakin, masalah ini akan semakin lebih panjang lagi. Dan yang paling menakutkan; aku bakal dibenci semua siswa-siswi yang ada di sekolah ini.


"Bawa, Rah." Dia merogoh saku roknya, mengambil sebotol cairan berwaran hijau, dan membuka tutup botolnya. "Uweek...." Bisa dirasakan, aroma bau yang menusuk keluar dari botol itu. Botol itu benar-benar bau.


"Itu apa?" aku memberanikan angkat bicara. Rasanya ingin sekali aku lari dari mereka. Namun, saat ingin kulakukan, mereka semua mengelilingiku. Tidak memberikan celah sedikitpun untuk aku kabur. Murid-murid yang melihat juga tidak ada yang berani menolong. Mereka hanya menonton kejadianku yang akan di-bully oleh 'R Girl.'


"Siram gengs," perintah Sarah membuat keributan. Murid-murid berteriak. Ada yang berteriak tragis dan iba, ada juga yang berteriak gembira. Gembira karena melihatku disiksa seperti ini.


Alhasil, cairan hijau yang bau tadi mendarat di sekujur tubuhku. Aku jadi bau. Padahal, jam pelajaran baru saja akan dimulai nanti. Tapi, aku sudah jorok, dekil, dan bau seperti ini. Mereka semua menjauhiku, bahkan genk R Girl. Tak ada yang mau mendekat denganku. Baunya memang luar biasa menyengat ke hidung.


Aku terisak mendapat perlakuan seperti ini. Perlakuan yang mungkin baru pertama kali kudapatkan. Eh... tidak.... Aku baru saja mengingat sesuatu. Kejadian seperti ini sepertinya pernah kurasakan sebelumnya. Aku yakin, itu bukan de-javu atau sejenisnya. Aku yakin, itu benar-benar nyata. Aku mencoba mengingat sekilas memori yang sedikit demi sedikit mulai terbuka.


Karena terlalu banyak berpikir, alhasil kepalaku kembali pening. Semua yang ada di sekelilingku berputar. Seolah-olah aku bisa merasakan bumi yang berputar.


BRUUM


Semuanya gelap. Aku terjatuh dan tak sadarkan diri.

__ADS_1


__ADS_2