
Kalau kalian dihadapkan dengan pertanyaan, memlilih sahabat atau pacar yang harus di ikhlaskan? Apa yang akan kalian jawab?
---o0o---
Aku benar-benar kecewa kepada perlakuan Bella tadi. Entah kenapa dia bisa seperti itu? Lalu yang aku masih heran 'kan, sejak kapan Bella dan Reina berteman? Bukankah selama ini Bella selalu datang kekelasku hanya untuk bertemu aku dan Nacha? Hal apa yang bisa membuat semuanya seperti ini? Entahlah... aku benar-benar bingung.
"Cha, Bella sama Reina udah lama ya berteman?"
"Ngga, Kay. Aku juga baru tadi lihat mereka cakapan dan bisa sedekat itu," jawab Nacha
"Oh gitu ya. Aku masih kepikiran sama Bella, Cha," balasku dengan nada lirih penuh
perasaan yang sedih.
"Udahlah, ngga usah dipikiri, Kay. Kalau itu yang buat dia bahagia, kita ngga bisa
apa-apa. Intinya kita udah tau, seperti apa Bella," katanya dengan tegas.
Aku ragu, apakah Nacha tidak terganggu? Atau dia hanya pura-pura tegar, tapi nyatanya senyumnya
mulai memudar.
"Mending sekarang kita makan aja di kantin. Ngga usah pikiri Bella dulu, perut juga
perlu dipikiri," ajaknya, namun aku masih belum menjawab ajakan Nacha, aku
masih terdiam kaku. "Lagian pasti Defa sudah menunggu kamu di kantin,
Kay." Mendengar Nacha menyebutkan nama pria tertampan sedunia, seketika
membuat semua pikiran-pikiran yang melayang dibenakku menghilang begitu saja. Memang
Defa obat bahagia terbaik hidupku. Aku pun langsung mengangguk bersemangat
menyetujui ajakan Nacha.
Baru beberapa langkah yang kami tempuh, lagi-lagi kami bertemu dengan Bella dan Reina di
lorong yang menjorok ke taman belakang sekolah. Sedang apa mereka? Karena rasa
penasaran, aku dan Nacha bermaksud menguping, siapa tau kami menemukan sesuatu
yang penting. Namun, rencana kami gagal karena Bella dan Reina sudah pergi ke
arah yang berbeda. Sebelum pergi, aku hanya melihat mereka saling bertepuk
tangan seperti sedang merencanakan sesuatu, tapi aku tak tahu apa itu. Aku
tertegun, kemudian Nacha menyadarkan hingga aku terbangun dari pikiran yang
antah berantah.
Setelah itu, kami memutuskan untuk tidak lagi mengingat kejadian ini dan mencoba belajar
melupakan dengan makan di kantin.
---o0o---
Bukan kantin Sinar Bangsa namanya jika tak penuh di jam istirahat. Walau kantin di sini bisa
menampung banyak orang, tetap saja ini sudah melebihi kapasitasnya. Mungkin
karena masakannya yang enak dan menu yang bervariasi yang membuat kantin ini
tak pernah sepi. Aku akui memang kantin Sinar Bangsa tak ada tandingannya. Jika
ada yang bilang kantin sekolahnya yang terbaik, mungkin itu maksudnya terbalik.
Aku masih sibuk mencari sosok yang menjadi obat bahagiaku, namun hasilnya nihil. GPS cinta tak
menunjukkan tanda-tanda keberadaan dia di sini. Mungkin, dia belum datang.
__ADS_1
"Udah kita duduk aja dulu, Kay. Defa mungkin belum datang, nanti dia pasti datang
kok," kata Nacha yang menyadari aktivitas pencarianku yang sudah seperti
****** pelacak.
Aku langsung mengikuti kata Nacha. Tidak mungkin juga Defa tidak tahu kalau aku sudah berada
di kantin.
"Aku makan bakso saja, Cha," pesanku pada Nacha yang sepertinya hendak memesan
makanan.
"Kay, kamu aja yang mesan ya. Aku mager." Nacha malah duduk dan menarik kursinya
lebih mendekat ke meja, kemudian ia merentangkan lengan kirinya lurus di atas
meja dan kepalanya berpangku pada lengan kirinya, seperti orang pemalas.
"Ya sudah, kamu makan apa?"
"Aku bakso juga, tapi ngga usah pedas."
Aku mengingat pesanan Nacha dan beranjak dari kursiku, pergi meninggalkan Nacha.
"Mas, baksonya 2 ya," kataku setelah aku sampai ditempat pemesanan makanan.
"Oke, Dek, ditunggu ya."
Setelah itu pesanaku pun telah selesai dibuat. Aku langsung mengangkat nampan yang berisi 2
mangkok bakso yang masih panas karena baru saja dibuat. Baru berjalan beberapa
langkah, seseorang menyenggol tubuhku. Sontak, nampan yang kubawa terbalik ke
arahku. Ya, kedua lenganku tertumpah bakso yang kuahnya sangat panas.
Aku mengumpat dalam hati, setelah itu menyadari ada sosok yang berdiri di depanku dengan
gelak tawa yang tak asing lagi. Dia Sarah, ketua R Girl yang sudah menyelesaikan masa skorsnya. Mau apa lagi dia? Apa
dia yang berbuat ini padaku? Emang benar-benar dia itu makhluk durjana.
"Enak kena kuah bakso yang tumpah?"
Sarah berpangku tangan, kedua lengannya dilipat di depan dada. Dia menatapku tajam dan
mendalam.
"Kenapa kamu lakukan ini?" kataku lirih, aku berusaha menahan air mata agar tidak
tumpah. Ditambah kuah tumpah yang begitu pedih dan perih.
"Lo nanya kenapa?" Matanya membesar. "Itu semua karna lo berani ngambil
Defa." Dia mendorong keningku dengan jari tangannya, membuatku hampir
tersungkur.
Apa yang Sarah katakan? Jadi semuanya karena aku dan Defa berpacaran? Kenapa aku ngga
menyadarinya dari awal. Pantas saja, kasus pembullyan itu terjadi setelah ada
pengumuman di mading waktu itu. Tidak, ini bukan karena Defa. Ini hanya karena
kesalahpahaman.
"Tunggu, aku bisa jelasi semuanya." Entah mengapa kalimat itu yang keluar dari mulutku.
Aku tidak memikirkan dampak buruk dari ucapanku setelah ini. Sudahlah, habislah
__ADS_1
aku kali ini di tangan R Girl.
"Hahaha...." Sarah dan kawan-kawannya tertawa. "Jelasi apa? Semuanya sudah jelas. Gue
benci sama lo." Sarah mendorong tubuhku, membuat bokongku berciuman dengan
lantai. Sementara anak-anak lain yang berada di kantin, seperti tidak melihat
kejadian yang sebenarnya mengundang banyak perhatian, tapi mereka semua sibuk
dengan aktivitasnya masing-masing. Tidak tahu apa karena mereka takut untuk
berhadapan dengan R Girl atau karena
mereka tidak peduli. Entahlah....
"Lo emang pantasnya ciuman sama tuh lantai." Sarah menendang kakiku, sebelum
akhirnya dia pergi.
Ya, Allah, kenapa Sarah begitu kejam?
Aku mati-matian membendung kantung mata, agar air mataku tidak tumpah. Lalu, aku memesan bakso
kembali, seolah-olah saat aku datang menemui Nacha nanti seperti tidak ada yang
terjadi. Aku tak ingin membuat Nacha terlibat dengan masalahku. Setelah bakso kupesan,
aku segera beranjak, berharap tak ada lagi sosok durjana yang menumpahkan bakso
ini lagi ke lenganku. Bisa-bisa jadi daging rebus lenganku nanti.
"Kenapa lama banget, Kay?" tanya Nacha saat aku sudah tiba. Sudah ada Defa juga di
depan Nacha.
"Hehehe. Iyaa, Cha. Maaf ya. Soalnya banyak banget orangnya tadi," kataku
berbohong. Aku meletakkan nampan bakso itu di atas meja, kemudian mengambil
posisi duduk di sebelah kanannya Defa.
"Kamu kenapa, Ay?" tanya Defa yang mungkin menyadari kebohonganku.
Jujur, aku memang tidak bisa berbohong.
"Iya, Kay. Kamu kenapa?" tanya Nacha lagi. Mungkin, dia juga sadar telah dibohongi.
"Ngga, aku ngga papa, kok." Hidung kembang kempis yang menjadi tanda kebohonganku.
Dasar, hidung tak bisa diajak kompromi.
"Coba letakkan tangannya di atas meja!" perintah Defa.
Aku menolak dengan menggelengkan kepala, namun dia memaksa. Defa menarik lenganku dan
menyelidik warna merah di kedua lenganku serta mencium wangi kuah bakso yang
masih melekat.
"Jujur, ada yang ngelakui ini ke kamu, 'kan?" selidiknya kemudian.
Aku menggeleng, tapi tetap saja membisu. Aku tak berani buat berkata-kata.
"Jujur!" Nada suara Defa naik satu oktaf, membuatku terkejut.
"Tadi pas dijalan, aku nyenggol tembok, jadinya tumpah," kataku yang lagi-lagi
berbohong. Namun percuma aku seperti ini, karena mereka pastinya tahu kalau aku
sudah membohongi mereka.
__ADS_1
Maafkan aku yang tak berdaya ini.