
Jika aku salah, tolong beri tahu letak kesalahanku, karena manusia ada yang tak menyadari bahwa ia berbuat kesalahan. –Kayla.
Beberapa bulan ini, aku dan Defa semakin dekat. Aku juga sudah tahu banyak tentang dia. Tentang hal baiknya, tentang hal buruknya. Bahkan, ada banyak orang yang iri padaku. Secara, Defa adalah orang yang cuek kepada perempuan. Dia primadona di sekolah, tapi tak pernah melirik perempuan sedikitpun, kecuali aku.
Ada yang sampai mendekatiku karena hanya ingin mengorek informasi tentang Defa. Mereka semua baik-baik. Walau iri padaku, mereka tak pernah berbuat yang macam-macam padaku, seperti; mem-bully.
Defa benar-benar baik padaku. Dia selalu membelikkan makananku, mengantarku pulang, mengajariku belajar, dan mau mendengarkan segala keluh kesahku.
Ya, aku semakin dekat dengan Defa. Namun, aku merasa semakin jauh dengan Bella. Aku merasa, Bella selalu menghindariku. Dia tak pernah bilang, kalau dia marah padaku. Dia tak pernah beri tahu kesalahanku, walau mungkin kedekatanku dan Defa adalah pemicu sehingga Bella selalu menghindariku.
---oOo---
Seperti biasa, saat bel pulang berbunyi, Defa sudah menunggu di depan kelasku. Jarak kelasku dan kelasnya lumayan jauh, tapi begitu cepatnya dia sampai ke kelasku. Dia seperti flash women dalam versi laki-lakinya. Super hero bagi kehidupanku.
"Ciieee ... diantar doi pulang lagi," pekik salah satu teman sekelasku, Reina.
Aku dan Defa cengar-cengir mendengar pekikan Reina beserta teman-temanku yang lainnya.
"Nacha mana?"
Pertanyaan Defa membuatku menyadari keberadaan Nacha yang entah kemana. Soalnya waktu aku dengar bel berbunyi, aku langsung kabur keluar kelas. Dan saat Defa menanyakan itu, aku sudah tak melihat Nacha berada di dalam kelas.
"Nacha mana, ya?" aku melontarkan pertanyaan pada Defa. Pertanyaan yang seharusnya kujawab.
"Lah, gue nanya elu. Ngapai lu nanya gue balik?"
"Ada apa sih?" tanya Reina yang mungkin merasa bingung melihat mimik wajah kami yang sedikit menyerngit.
"Rein, liat Nacha engga?" tanyaku.
Barangkali, Reina melihat Nacha sudah pulang.
Reina mendenguskan napasnya kasar, "Udah pulang dia!"
"Lah? Lewat mana?"
Aku emang dari tadi engga ada ngelihat Nacha pulang melewati pintu. Apa jangan-jangan dia bisa terbang seperti superman, tapi versi perempuannya, ya?
"Terbang?"
Kata-kata Reina semakin membuatku meyakinkan opiniku. Mungkin saja Nacha tiba-tiba dapat kekuatan, sehingga bisa terbang. Dan jadilah, super woman, pengantinnya superman nanti. -efek banyak baca novel fantasi-.
"Ya lewat sini lah! Makanya jangan pacaran aja. Teman juga diperhatikan," lanjut Reina ketus.
Aku cengar-cengir -tanpa merasa bersalah- mendengar perkataan Reina yang polos tapi menusuk sampai ke jantung. Ralat, hati. Kalau jantung, aku sudah meninggal dong.
"Oh iya! Gue lupa, kalian belum pacaran!"
Dwaar!
Lagi-lagi satu peluru dari perkataannya Reina menusuk ke hatiku.
"Kapan kalian pacaran?" Wajah seringai tersungging apik di wajah Reina. "Masa PDKT mulu. Engga bosen apa?"
"Kita udah pacaran, kok." Tiba-tiba Defa menarik lenganku dan membawa tubuh kecilku dalam rangkulan tubuhnya yang tinggi.
__ADS_1
Reina terpelongo melihat kejadian yang barusan terjadi. Begitu juga denganku! Aku juga tak menyangka, Defa berkata kalau aku dan dirinya berpacaran. Namun nyatanya, dia saja tak pernah mengungkapkan perasaan cintanya. Sebenarnya aku juga tak terlalu peduli tentang statusku dengan Defa. Yang terpenting, aku bisa bersama-sama terus dengannya, dan dia tetap baik padaku. Itu sudah lebih dari cukup.
"Kampreto de lapetto. Kenapa engga bilang-bilang kalian? Mana kemek-kemeknya," ucap Reina kesal. Kali ini, logat bataknya keluar lebih kental.
"Pan-kapan," ucap Defa pada Reina lalu membawaku melongos -masih dalam rangkulan- meninggalkan Reina yang masih terpelongo seperti orang ****.
Aku meminta Defa untuk melepaskan rangkulan yang masih lengket di bahuku. Apalagi melihat tatapan dari teman-teman sekitar yang menunjukkan tatapan mematikan. Kami berjalan menuju parkiran. Hari ini mama tidak bisa menjemputku karna ada urusan mendadak, jadi aku meminta Defa untuk mengantarkanku pulang.
---oOo---
Aku terbangun saat merasakan mobil Defa -yang kutumpangi- berhenti. Aku melongak-longok, merasakan tempat yang asing.
Seharusnya aku sudah berada di rumah, tapi kenapa bisa di sini?
"Baru mau dibanguni, eh sudah bangun," ucap Defa.
"Ini di mana, Def?" Nyawaku masih setengah sadar dan aku melihat kembali lingkungan yang berada di luar mobil Defa.
Apa mungkin ini rumahku? Karena belum sepenuhnya sadar, sampai tak tahu dengan lingkungan rumahku sendiri.
"Di Hotel."
Apa? HOTEL?
Mataku masih terbelak tak karuan "Ngapai ke sini?"
Pikiran negatif menyerang otakku. Bagaimana tidak? Seorang Defa membawaku ke hotel? Mau ngapai coba?
"Udah ikut aja." Defa menarikku keluar dari mobil.
Oh, Tuhan...! Apa mungkin Defa akan menjualku kepada om-om berondong yang kaya? Atau mungkin, dia akan berbuat macam-macam padaku? Ampuni Dosaku, Tuhan. Aku masih polos dan suci. Aku tak mau mahkota wnaitaku direbut begitu saja oleh orang-orang jahat.
"Kita ngapai ke sini, sih?" aku melepaskan kasar genggaman telapak tangan besar Defa yang menurutku sangatlah sakit. Defa mengenggam tanganku begitu kuat, hingga meninggalkan bercak merah dari tangannya di tanganku.
"Ikut aja dulu," jawabnya santai seraya mengenggam kembali tanganku.
Deg.... Deg....
Jantungku kembali berdenyut kencang. Aku takut jika yang kupikirkan tadi benar terjadi. Mungkin saja kebaikan Defa selama ini bermaksud lain. Aku sering membaca novel, dan dari semua novel yang kubaca, orang baik selalu memiliki niat paling jahat ditengah-tengah cerita.
Aku dan Defa sudah tiba di depan kamar bernomor 23 yang berada di lantai atas nomor dua. Kamar sederhana dan sangat rapi. Defa berjalan menjauhiku menuju meja yang berada di pojok kanan. Dia seperti mengambil sesuatu dari dalam laci meja itu.
Defa menatapku seperti mengisyaratkan; nanti-om-omnya-datang. Aku bergidik ngeri menatap manik matanya.
"Udah, yuk pulang," ucapnya seraya mengenggam lagi tanganku. "Muka lo kok tegang banget?" Defa menghentikan langkahnya dan menatap wajahku yang sudah sangat tegang plus pucat.
Aku memukul-mukul bahunya menggunakan tangan kiriku. "Kamu jahat! Aku kira kamu mau jual aku, tau!" Aku menyeringai.
Defa terkekeh pelan, "Ya engga lah. Gue mau ngambil barang di sini. Gue nginap di sini, Kay," katanya seraya melepaskan genggaman tangannya. "Ini buat lo." Defa menyodorkan kotak -yang tadi dia ambil- ke arahku.
Aku mengambil kotak itu, "Apaan ini?" tanyaku meneliti luar kotak itu.
"Buat lo," ucapnya seraya mengenggam tanganku. "Bukanya di rumah aja."
---oOo---
__ADS_1
Lagi-lagi Defa tak membawaku ke rumah. Ya, kali ini, dia membawaku di depan restoran. Katanya; dia belum makan dari tadi pagi, dan maunya aku yang menemaninya makan. Kalau aku tak mau menemaninya makan, dia nekat tidak makan seharian. Ya, apa boleh buat?
"Def, bentar ya. Aku ke toilet dulu." Aku beranjak berdiri dan meninggalkan dia sendiri berserta lahapannya.
"Toiletnya mana, ya?" gumamku bingung. Aku masih asing dengan restoran bintang lima ini.
"Bu, toiletnya di mana, ya?" Aku mencolek bahu wanita paruh baya yang berdiri di depanku. Ya, dia membelakangiku.
Dia menatapku kaget, seperti baru saja berjumpa dengan makhluk halus.
"Samatha?"
Eh... Samatha? Siapa sebenarnya Samatha? Bukan kali ini saja aku mendengar nama Samatha. Aku ingat, aku pernah mendengar seseorang menyebut nama Samatha padaku. Ya, itu sewaktu aku berada di bandara, menjemput papa. Tapi, orang yang menyebut nama Samatha berbeda. Waktu yang di bandara, bukan wanita paruh baya ini, melainkan seorang pria.
Kepalaku berdenyut seperti terhantam beton. Gambaran wajah wanita paruh baya itu sedikit terekam di kepalaku. Mengapa ini bisa terjadi?
"Maaf ya, Bu. Salah orang," ucapku seraya membalikkan badanku menjauhi wanita paruh baya itu.
Aku tak mau berusaha meningatnya. Jika itu kulakukan, bisa bahaya untuk kesadaranku nanti.
"Tunggu, Sam. Ini ibu. Kenapa kamu begini?"
Ibu? Dasar wanita gila! Jelas-jelas ibuku adalah Mama Kesya.
Aku berlari meninggalkan wanita itu, menuju ke Defa yang masih duduk sambil melahap makanannya.
"Def, ayuk pulang." Aku menarik lengan Defa yang masih sibuk dengan sendok dan garpunya. Membawanya keluar dari restoran dan masuk ke dalam mobilnya dengan terburu-buru.
"Ada apa sih?" tanyanya bingung. "Baru juga mau makan tadi."
Aku menghela napas sejenak. Napas yang begitu berat. Masih dapat kurasakan jantungku yang berdetak dua kali lebih cepat dari biasanya. "Ada orang gila tadi."
"Hah? Orang gila?"
Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. "Udah ah, langsung antar aku pulang saja."
Tanpa banyak bicara ba-bi-bu-be-bo, Defa menyuruh supirnya melaju ke rumahku.
---oOo---
Setiba di rumah, aku langsung memeluk mama dan mencium keningnya. Sudah menjadi kebiasaanku yang seperti itu.
"Ma, tadi ada orang gila yang ngaku sebagai ibu Kayla," aduku pada kejadian sebelumnya.
Mimik wajah mama begitu tegang. Mama begitu kaget mendengarkan perkataanku tadi. "Ibu? Di mana kamu ketemu dia? Terus kamu respon apa ke dia? Dia ngomong apa saja ke kamu? Kamu berusaha mengingatnya tidak, Sayang?" Mama menyerbuku dengan seribu pertanyaan yang membuatku bingung untuk menjawab pertanyaan yang mana untuk dijawab terlebih dahulu.
"Iya, Ma. Aku ketemu dia tadi di restoran. Aku langsung ninggalin dia dan dia engga ada ngomong apa-apa lagi, selain mengaku sebagai ibuku. Kayla ga berusaha mengingatnya, Ma. Tapi, entah kenapa, gambaran wajah wanita itu ada di kepala Kayla. Tapi, Kayla ga mau ngingatnya, karena Kayla takut jika tiba-tiba Kayla pingsan di sana." Kujawab semua pertanyaan yang mama lontarkan padaku. "Aneh 'kan dia, Ma?"
Mama menarik dan menghela napasnya kasar. "Kamu jangan ketemu dia lagi, ya, Sayang. Dan jangan berusaha mengingat wanita itu lagi. Nanti kepala kamu bisa tambah parah, loh...," ucap mama seraya tersenyum manis padaku.
Kalau takdir yang mempertemukan bagaimana? Takdir 'kan tidak bisa dilawan atau dihindari.
"Iya, Ma." Kusulam senyum menawanku yang memperlihatkan gigi gingsulku.
"Anak mama, cantik dan nurut banget. Mama senang deh."
__ADS_1
Sebenarnya aku sedikit bingung dengan sikap mama yang seperti ini. Seperti ada yang ditutup-tutupi dari 'ku. Apa mungkin benar, kalau sebenarnya aku bukan anak kandung dari keluarga Ferrour?
"Ma, apa mungkin aku bukan anak mama?"