
Mataku terbuka secara perlahan. Aku menoleh ke setiap sisi ruangan kecil dan adem, serta warna putih di mana-mana. Ruangan yang menjadi sasaran empuk untuk murid-murid yang malas belajar dan berpura-pura sakit agar bisa tidur-tiduran.
Aku menoleh ke arah seseorang yang sedang tertidur di samping ranjangku. Orang yang selalu membuatku bahagia. Ya, dia Defa.
"Udah bangun?" Defa terkesiap dan menegakkan tubuhnya saat merasakan jariku mengelus lembut rambutnya.
Aku beranjak duduk dan kuperhatikan detail wajah Defa yang baru bangun dari tidurnya itu. Lucu dan menggemaskan. Rasanya aku ingin menciumnya, tapi mana mungkin itu terjadi.
"Maaf, ya, tadi gue ga sempat nolongi lo." Mata Defa memancarkan penyesalan. "Mereka semua benar-benar brengsek banget," umpatnya kemudian.
Aku tersenyum kecil, "Ga apa-apa." Mataku melirik jam dinding yang terpampang di dinding UKS. Sudah jam 11. Dan artinya, aku berbaring di sini selama 4 jam. Bajuku juga sudah diganti. "Yang bawa aku ke UKS siapa?"
"Sarah, dan kawan-kawan. Mereka kepergok sama guru bk karena udah bully lo. Mereka dihukum, bawain lo ke UKS sekaligus gantiin baju lo. Mereka juga di skors selama seminggu," jelas Defa menggebu-gebu.
"Skors seminggu?" ku ulangi sebagian penjelasan Defa dan kuubah menjadi pertanyaan.
Tok ... Tok ... Tok ...
Belum sempat Defa menjawab ucapanku, sudah terdengar suara ketukan orang dari pintu luar UKS. "Ya, masuk." Orang itu pun masuk saat mendengar ucapan dari penjaga UKS. Dan ternyata, dia adalah Pak Bolet, kepala sekolah.
"Sudah sadar, Nak?"
Aku tersenyum, "Sudah, Pak."
"Bapak perlu bicara empat mata dengan kamu, Kayla." Tanpa basa-basi, Defa langsung meninggalkanku dengan Pak Bolet berdua di dalam UKS.
"Ada apa, Pak?" aku angkat bicara terlebih dahulu. Mata Pak Bolet yang semula menatap punggung Defa kembali menatap mataku, saat punggung Defa sudah hilang ditelan pintu UKS.
"Bapak mau minta tolong. Tolong hal seperti ini jangan sampai diceritakan ke orang tua kamu, ya? Nanti urusannya bisa panjang, kalau kamu ceritakan. Kamu ga usah takut dengan Sarah dan kawan-kawannya itu lagi. Mereka sudah bapak kasih pelajaran dan sudah di skors selama seminggu," ucap Pak Bolet mengebu-gebu.
__ADS_1
"Bapak ga takut udah menghukum Sarah?"
"Buat apa bapak takut? Papa Sarah juga sangat setuju bila hal ini bapak lakukan. Orang tua mana yang membela anaknya, jika dia jelas-jelas berbuat salah? Ga ada orang tua yang ingin anaknya hancur karena terlalu banyak dimanja dan dibela." Pak Bolet berbicara seolah-olah dia sedang berceramah.
"Bapak mohon, Kayla, jangan memberitahu orang tua kamu tentang kejadian ini, ya. Takutnya, mereka salah paham. Bisa bahaya dengan nama baik sekolah kita nanti." Pak kepala sekolah menatapku nanar, "Kamu bisa, 'kan?"
"Baiklah, Pak. Kayla janji."
Ya, mungkin lebih baik hal seperti ini tidak kuceritakan pada kedua orang tuaku. Nama baik Sinar Bangsa sangat baik di mata masyarakat, bakal tercoreng nama baiknya jika kasus tentangku ini beredar. Lagian, pastinya mama dan papa bakal khawatir banget sama aku. Dan takutnya nanti aku malah dipindahkan ke sekolah lain karena menganggap sekolah ini tak cocok denganku. Beradaptasi dengan lingkungan baru 'kan susah. Apalagi aku sudah mulai bisa beradaptasi di sini. Yah, walaupun dapat kejadian mengerikan seperti ini, tapi aku tetap tak ingin pindah dari sekolah Sinar Bangsa.
"Baiklah." Pria itu mengulas senyumnya. "Kalau begitu, bapak tinggal dulu, ya. Kamu istirahat saja kalau begitu." Pak Bolet beranjak dari tempatnya, meninggalkan ruangan kecil yang menurut murid bandel seperti surga dunia.
Posisiku kembali berbaring. Iris mataku menerawang lurus ke arah langit-langit ruangan UKS. Pandanganku kosong. Aku sedang memikirkan sesuatu yang menurutku sangat aneh tentang kejadian hari ini. Tiba-tiba sosok Nacha muncul dalam delusiku. Sampai sekarang, Nacha juga tak menemuiku di UKS. Aku semakin yakin, jika dia benar-benar marah padaku. Tapi, aku tak tahu apa kesalahanku padanya, karena dia tak pernah bilang apa-apa padaku. Tiba-tiba saja dia berubah, membuatku semakin merasa bersalah.
---o0o---
Walau pelajaran berlangsung satu jam lagi, namun aku masih diperbolehkan masuk ke dalam kelas. Saat aku duduk, kulihat Nacha yang sepertinya tidak peduli denganku. Jangankan bertanya. Melihat pun dia jarang.
"Nacha...," panggilku saat Nacha sedang asyik melihat penjelasan Pak Beni -guru IPA- di papan tulis.
Nacha menoleh ke arahku, "Ada apa?"
"Semua baik-baik aja, 'kan?"
Nacha mengerutkan dahinya. Pertanda iya, tapi antara ragu-ragu atau bingung. Kemudian, dia kembali melihat penjelasan Pak Beni.
"Ssst ...." Reina memukul pelan bahuku. Aku memutar kepalaku, menoleh Reina yang duduk di belakangku. "Tadi lo di bully sama anak-anak genk gue ya?" bisiknya lirih. Takut terdengar guru killer, Pak Beni.
Aku mengangguk.
__ADS_1
"Ooo...." Posisi badan Reina mundur ke belakang. Balik ke posisi duduk yang tegak.
Satu jam sudah berlalu, dan bel pulang pun bertalu-talu. Siswa-siswi lainnya keluar kelas seperti semut-semut yang sarangnya habis di sentuh.
Nacha langsung bergegas membereskan barang-barangnya dan keluar kelas, tanpa berbicara sedikit pun padaku.
"Nacha, tunggu." Buru-buru kubersihkan barang-barangku dan menyusul Nacha. Tapi nihil. Dia sudah jauh dan tak terkejar lagi. Jalannya begitu cepat. Dia jalan hampir menyerupai berlari kecil-kecilan. Seperti orang yang sangat terburu-buru.
"Pulang bareng?" Pria jangkung itu mengagetkanku. Ya, seperti biasa, Defa sudah berada depan kelasku. Menungguku dari tadi.
"Aku di jemput, Def."
"Ya sudah, jalan bareng ke parkiran." Defa menarik lenganku dan membawaku berjalan menuju parkiran. Begitu banyak tatapan tidak suka yang mengarah padaku. "Tadi kepsek ngomong apa aja, Kay?" Mata Defa mengarah ke belakang, menatapku sambil berjalan.
"Bilang rahasiakan soal kejadian ini sama mama dan papaku."
Tiba-tiba saja, langkah Defa terhenti. Dan hampir saja aku menubruk badannya yang jangkung itu. "Kenapa?"
"Alasan apa lagi jika bukan demi nama baik sekolah? Lagian aku ga mau buat mama dan papa khawatir, apalagi kalau sampai mama dan papaku pindahi aku ke sekolah lain," balasku sengit.
"Terus... lo ga mau balas dendam sama orang itu?" Defa mengkerutkan dahinya, menaikkan satu alis matanya.
"Balas dendam engga baik, Def." Aku mengulas senyum. "Lagian Tuhan engga tidur kok. Biar Tuhan saja yang bertindak dengan apa yang terbaik untuk mereka."
Defa menggeleng, dan tampaknya matanya menunjukkan tatapan yang nanar. Apa kata-kataku salah? "Tapi, ada kalanya kita harus membalas perbuatan orang yang telah menjahati kita."
"Kalau kita membalas perbuatan orang yang udah jahatin kita, fungsi karma apa dong? Bukannya manusia percaya karma?"
Defa membeku. Bibirnya terkatup rapat-rapat. Kemudian, dia menarik lenganku dan berjalan kembali.
__ADS_1