Bingkai Lara

Bingkai Lara
Makhluk Durjana


__ADS_3

Selamat membaca semuanya.


Salam manis, casia


---oOo---


Kriing ... kriing ... kring ...


Pagi-pagi seperti ini, aku sudah harus mendengar benda sialan yang membangunkanku saat sedang bermimpi indah seperti ini. Entah siapa yang memasang benda hina itu di sampingku. Tidak tahu apa, merusak mimpiku dan mengganggu tidurku saja.


"Selamat pagi, Sayang." Tiba-tiba saja suara mama terdengar dari arah samping ranjangku. Aku masih menutup mata, pura-pura belum bangun. "Masih belum bangun, ya? Padahal mama sudah pasangi alarm."


Oh, jadi mama pelakunya? Untung mama belum sempat kusumpah serapahi. Kalau hal itu terjadi, aku benar-benar anak yang durhaka.


"Sayang...." Mama mengguncangkan tubuhku ke kiri dan ke kanan. Aku yang merasa sedikit terganggu, perlahan membuka mata. "Hari ini, hari pertama kamu sekolah, loh." Mama berbicara dengan tiba-tiba di depan mukaku, sontak aku kaget dan mama hanya tertawa terbahak-bahak.


Oh iya, tadi barusan mama bilang apa? Hari pertama sekolah? Whaaaaaat ... mengapa bisa aku melupakannya?


"Ma, Ma, sudah jam berapa?" Aku langsung bangkit duduk ke sisi ranjangku. Karena memikirkan hari pertama sekolah, aku sampai tidak melihat bahwa di dekatku ada jam wecker yang daritadi kusebut benda sialan.


Mama mendelik ke arah jam wecker itu, membuatku tersipu malu karena tak menyadari keberadaannya. "Masih jam 5.00, 'kok."


"Kayla masuk jam berapa, Ma?" tanyaku kembali.


"Jam tujuh."


"Jarak rumah ke sekolah jauh, ngga?"


"Cuma satu kilometer."


Hah?


Aku mengangga, membuka lebar mulutku. Ini masih jam lima, dan jarak rumah ke sekolahku tidak begitu jauh.

__ADS_1


Syut!


Aku kembali merosot ke tempat tidurku. Kembali terlelap dalam mimpi yang sempat tertunda karena benda sialan yang dipasang mama. Aku sempat bingung, ini yang sekolah aku, tapi kenapa mama semangat sekali. Sampai banguni aku di jam segitu. Benar-benar tidak berguna tahu, ma.


"Sayang, bangun. Sekolah." Mama menguncang-guncang lagi badanku.


Aku tidak mempedulikannya, lagian siapa suruh banguni jam lima.


Bersikeras mama membangunkanku lagi. Mama makin lebih parah menguncang-guncang tubuhku, hingga membuatku tidak bisa tidur kembali.


"Ma, please lima menit lagi, ya," ucapku lirih. Kali ini aku benar-benar memohon agar mama mengizinkannya.


"Baiklah." Mama berhenti menguncang-guncang tubuhku. "Lima menit saja." Mama mengambil benda hina itu dan memutar-mutar poros jarumnya.


"Ma, untuk apa sih pasang alarm?" tanyaku masih setengah sadarkan diri, karena nyawaku belum seluruhnya terkumpulkan.


"Biar kamu tepat waktu," ucap Mama tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Huh.


"Ga jadi tidur, Sayang?" tanya mama yang melihatku sudah berdiri dan berjalan memasuki kamar mandi. Mama menyeringai, pertanda bahwa mama sudah menang melawanku.


"Engga, Ma. Niat tidur Kayla tiba-tiba lenyap ditelan bumi." Aku menutup pintu kamar mandi, kasar.


Aku mencoba mengumpulkan nyawa yang masih tertinggal di alam mimpi. Setelah terkumpul sedikit, kuputar keran mengisi bath tub dengan air dingin lalu dicampur air panas. Berjalan lunglai kesana kemari hanya untuk mengumpulkan peralatan mandi berupa, sabun, sampo, odol, dan sikat gigi. Meletakkan semua itu di samping bath tub.


Aku mematikan keran saat air sudah mencukupi, dan masuk ke dalam bath tub dengan posisi yang tertidur. Posisi yang cukup nyaman untuk melanjutkan mimpi yang tertunda tadi.


Uaaam....


Aku menguap dan tanpa sadar aku tertidur pulas. Padahal aku masih mengenakan pakaianku, utuh.


Tok ... tok ...

__ADS_1


Suara gedoran pintu kembali membuat mimpiku tertunda. Makhluk durjana apa lagi yang sudah menganggu tidurku?


Aku membuka pintu kamar mandi dengan terpaksa. Kutarik semua perkataanku tadi, tentang makhluk durjana, karena yang ada di depanku sekarang bukanlah makhluk durjana, melainkan malaikat baik.


Tapi mengapa wajah mama pucat pasi seperti itu? Mama seperti baru saja menangis? Apa jangan-jangan mama baru bertemu pocong? Eh, tidak mungkin. Ini masih pagi. Pocongnya masih bobok katanya.


"Ada apa, Ma?" tanyaku serius saat sudah mendengar isak tangis mama yang semakin menjadi.


Mama memelukku erat. "Mama kira, kamu kenapa-napa di sana. Soalnya, udah setengah jam Mama nunggu di luar, dan sepuluh menit menggedor-gedorkan pintu ini."


Astaga! Tenyata itu salahku, bukan salah pocong.


"Maaf, Ma. Kayla ketiduran," ucapku seraya melepaskan pelukkan. Aku malah ngengir kuda, merasa tak berdosa sedikitpun.


Mama menoleh ke arah kamar mandi, tepatnya melihat bath tub. Dilihatnya air yang masih berisi. "Kamu tidur di bath tub?"


Aku mengangguk, masih setengah tak sadarkan diri bahwa aku tadi tidur di dalam genangan air.


"Ya ampun...." Mama kembali panik. "Kalau kamu masuk angin gimana, Sayang? Tidur kok di situ? Kamu benaran ngantuk?" oceh mama panjang kali lebar kali tinggi sama dengan rumus keliling persegi.


"Ga pa-pa, Ma. Palingan minum obat juga nanti sembuh, kok," ucapku berusaha menenangkan mama yang sudah sangat-sangat panik.


Mama mencium badanku, yang masih belum wangi. Mama tahu kalau aku belum mandi. "Kamu mandi buruan, Mama mau sediai obat kamu." Mama mendorongku masuk ke dalam bath tub, menutup pintu kamar mandi, lalu melengos pergi.


Aku keluar kamar mandi, saat sudah selesai mandi. Memakai baju handuk dan menggosok-gosok rambutku dengan handuk yang lain. Sudah terlihat mama yang menungguku di atas ranjangku. Dengan telatennya, mama sudah menyediakan segala keperluanku ke sekolah.


Mama memakaikanku pakaian sekolah. Aku sudah berusaha menolak agar aku yang mengenakannya sendiri. Namun, mama tetap memaksa, mama bilang, "Sehari ini saja, biarkan Mama yang pakaikan kamu baju, ya."


Lagi-lagi aku masih berusaha menolak permintaan mama, lalu memelas dengan kata-kata jenakaku. "Aku 'kan sudah besar, Ma. Malu tahu jika dilihat orang. Ntar jadi breaking news di media-media, 'Gadis SMP masih dipakaikan baju sekolah oleh Mamanya'. 'Kan harga diri aku merosot turun ke jurang. "


Tetapi mama menunjukkan ekspresinya yang begitu memohon. Aku tak tega dan lagi aku 'kan anak baik, jadi aku turuti saja kemauan mama yang ingin memakaikanku pakaian sekolah. Kalau ditolak, entar pintu surga tak terbuka lebar untukku. Karena surga berada di bawah telapak kaki ibu, begitu sih kata pepatah.


"Dah siap." Mama mengusap-ngusap lengan atasku. "Sekarang tinggal rambutnya," lanjutnya seraya menarikku ke depan meja dandan. Dan aku duduk di kursi yang ada di depan meja itu.

__ADS_1


Secara perlahan mama menyisir rambut lurusku yang sedikit kusam dan masih basah dengan jari-jari munggilnya, penuh dengan kesabaran. Tak ada sehelai pun rambut yang lepas dari kulit kepalaku. Mama mengambil hair dryer dan menyisir rambutku yang kembali berantakan.


__ADS_2