
Cinta datang tanpa tau ke
mana hatinya berlabuh. Cinta tak pernah memandang tuan rumah yang telah
berhasil membuatnya luluh
-Defadan-
“Maksudnya?”
Defa menatapku dalam. Kemudian, ia menggenggam kedua telapak tanganku
dengan kedua telapak tangan dia. “Gue suka sama lo, Kay.”
Deg….Deg....
Jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya.
Ucapan dari Defa membuatku meneguk ludah. Bagaimana bisa seorang Defadan,
primadona sekolah,menyukaiku?
“Gue harap perasaan gue ngga bertepuk sebelah tangan.” Dia menatapku
semakin dalam. Seorang Defadan yang biasanya sering bercanda, kali ini seperti
bukan dia. Ekspresi dan ucapannya menunjukkan keseriusan.
“Kamu bercanda, ‘kan?”
Defa menarik napas dalam sebelum berbicara, “kali ini gue ngga becanda,
Kay. Gue serius suka sama lu. Gue emang sering becanda dan ngga pernah serius,
tapi gue ngga pernah becanda kalau soal perasaan.” Tangannya yang masih
menggenggam tanganku semakin erat.
“Tapi Def, kenapa kamu bisa suka sama wanita yang ngga ada apa-apanya
sepertiku ini?” Aku berusaha melepas tanganku yang masih di genggam oleh tangan besarnya Defa.
Walau agak sulit, akhirnya aku berhasil menarik kembali tanganku.
“Karna cinta itu misterius, Kay. Cinta datang tanpa tau ke mana hatinya
berlabuh. Cinta tak pernah memandang tuan rumah yang telah berhasil membuatnya
luluh. Dan kini, kamu pemilik cintaku, Kay.” Defa menarik tangan kananku, lalu
ia mencium jari-jari tanganku. “Apa lo punya perasaan yang sama kaya gue?”
So sweet. Dia puitis banget, buat aku makin klepek-klepek
“Tapi, Def. Aku….” Aku menggantungkan ucapanku, ragu antara bicara atau
tidak. Setelah berpikir baik-baik, aku melanjutkan ucapanku, “aku bukan putri
kandung keluarga Ferrour. Asal usulku masih belum jelas, Def. Aku amnesia dan
keluarga Ferrour yang mengadopsiku dan mengangkatku menjadi putri mereka.”
Kuberitahu segala tentangku pada Defa. Mungkin ini yang terbaik. Karna
menurutku, kalau pun nanti aku dan Defa berpacaran, aku tidak memberitahukan
identitasku sebenarnya padanya, dia pasti akan kecewa nanti.
“Gue ngga peduli asal-usul lo dari mana, Kay.”
Tak ada muka penyesalan sedikitpun pada Defa. Sepertinya perasaan Defa
benar dan tidak main-main.
“Kalau misalnya aku berasal dari keluarga yang hancur, apa kamu masih mau
sama aku, Def?”
Defa menarik kedua tanganku, dan membawanya dalam genggaman tangannya
kembali. “Kay, gue cinta sama lo. Lo mau ngga jadi pacar gue?”
Mataku membulat. Aku masih sedikit tak pecaya Defa berkata seperti itu.
“Iya, Def. Aku mau.” Tanpa ragu-ragu aku menerima cintanya. “Karna aku udah
__ADS_1
suka kamu dari pandangan pertama. Walau ada yang bilang, ‘pandangan pertama itu
bukan cinta, tapi ketertarikan’. Kalau menurut aku, dari rasa ketertarikan itu
makanya muncul rasa cinta,” ucapku yang tidak jelas.
“Apa sih, Kay?” Defa tergelak lalu ia memukul lembut ujung kepalaku. “pacar
gue oblo.”
“Ihh, Defa ngeselin,” rengekku karna telah di katakan ‘oblo’
“Biar ngeselin, yang penting sayang, ‘kan?” Seringai tipis tersungging di
bibirnya.
“Bodo.” Aku menjulurkan lidahku, bermaksud untuk mengejek dia. “Udah ayuk
pulang,” ajakku kemudian yang langsung disetujui oleh Defa.
---oOo---
Aku langsung membantingkan tubuh ke atas tempat tidur kerajaanku. Rasanya
lelah, namun begitu indah. Mengalami hari-hari yang penuh kegembiraan.
Kemudian, aku meraih ponselyang ku simpan di saku
rokku, lalu meletakkan jempolku untuk finger
print, membuka fitur yang ada pada handphone canggihku itu. Aku membuka aplikasi WhatsApp dan mencari kontak Nacha. Jariku mulai mengetikkan beberapa deret kata sambil
tersenyum sendiri.
Cha, hari ini aku senang banget.
Hanya sekitar 3 menit, pesanku sudah dibalas Nacha
Senang kenapa, Kay?
Besok di sekolah, aku ceritakan ya, Cha.
Kenapa engga sekarang
aja Kay?
penasaran lah :(
-_-
Besok aja ya Cha.
Panjang ceritanya.
Nanti yang ada kamu mengabaikan pesan yang
udah ku ketik panjang-panjang wkwk.
Iiih, engga ya Kay.
Aku pasti baca semuanya
Udah besok aja ya.
Aku lagi malas ngetik.
Belum mandi juga ini.
Udah simpan aja dulu rasa penasaranmu sampai
besok wkwk.
Aku mau mandi dulu ya Cha.
Bye Nacha…
Hmm yaudah deh.
Awas aja kalau besok ga jadi cerita, kuteror rumahmu wkwkwk
Ya udah mandi sana, pantes aja dari tadi aku nyium bau, rupanya ada yang belum mandi wkwk
Pesan Nacha tak kubalas lagi dan aku meletakkan ponselku di brankar dekat
tempat tidur, kemudian beranjak bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar
__ADS_1
mandi.
Tingtung …. Tingtung ….
Suara bel rumah menghentikan niatku yang akan mandi. Aku segera berlari
kecil dari kamar tidurku menuju ke sumber suara bel. Aku yakin, yang berada di
balik pintu tersebut pasti mama.
“Mama….” Aku langsung memeluk sosok mama dengan perasaan gembira, saat
pintu sudah kubuka.
Mama tampak terkejut, kemudian melepaskan pelukanku. “Anak mama kenapa? ‘Kok
kayanya senang banget?” Mama menatap aku yang masih senyum-senyum.
“Maa…,” panggilku dengan nada manja.
“Kenapa, Sayang?”
“Kayla….” Aku masih menggantungkan ucapanku. Ragu bila harus mengatakan pada mama.
Aku takut kalau mama akan marah nantinya.
“Iya, Kayla kenapa?”tanya mama menyelidik. Mama pasti penasaran
dengan tingkah yang kuperbuat.
“Tapi, mama jangan marah, ya,” ucapku dengan nada yang masih ragu.
“Iyaa, Sayang. Kenapa? Sini cerita sama mama.” Mama memegang kedua pundakku
dan menatap manik mataku dalam. “Kamu lagi ada masalah?”
“Bukan, Ma.” Ku sangkal ucapan mama. “Kayla lagi jatuh cinta sama seseorang,
Ma. Dan Kayla udah pacaran sama dia, Ma.” Aku menggigit jempolku sembari
melihat ke arah bawah, takut dengan respon dari mama yang akan kuterima nanti.
Mama tertawa kecil, kemudian berucap, “Kamu pacaran sama siapa, Sayang?”Kepalaku dielus mama,
membuat rambutku sedikit berantakan.
“Defa, Ma. Cowok kemarin yang datang ke sini untuk belajar bareng.”
“Pandai juga kamu cari cowok ya, Sayang.” Mama
tersenyum jenaka, bermaksud mengejekku, mungkin. “Ganteng loh dia,” lanjut
mama.
“Ma, mama setuju ngga kalau Kayla pacaran sama dia?”
tanyaku yang mengacuhkan ucapan mama.
“Selagi kamu melakukan hal yang positif, mama setuju
aja. Kalau kamu bahagia sama dia, mama ngga mau ngerusak kebahagian kamu. Jadi,
mama ngga ngelarang kamu, Sayang. Tapi ingat….” Mama menghentikan ucapannya
sejenak, membuatku bertanya-tanya. “tetap focus belajarnya. Jangan
mentang-mentang udah punya pacar, jadi pacar kamu yang kamu prioritasin. Tetap
prioritasin sekolah kamu dulu, Sayang.”
Bahagianya aku punya orang tua seperti ini.
“Siap, Ma,” ucapku sembari memeluk mama.
“Kamu belum mandi, ya?” tanya mama yang tampaknya
mengendus-endus tubuhku.
“Hehehe…, belum, Ma,” jawabku sambal menggaruk
tengkukku yang sebenarnya tidak gatal.
“Pantesan bau. Sana pergi mandi!” aku langsung menurut
dengan perintah mama.
__ADS_1
---o0o---
Selamat menikmati hidangannya, eh salah. Bacaannya maksudnya wkwkwk