Bingkai Lara

Bingkai Lara
Ungkapan Perasaan


__ADS_3

Cinta datang tanpa tau ke


mana hatinya berlabuh. Cinta tak pernah memandang tuan rumah yang telah


berhasil membuatnya luluh


-Defadan-


“Maksudnya?”


Defa menatapku dalam. Kemudian, ia menggenggam kedua telapak tanganku


dengan kedua telapak tangan dia. “Gue suka sama lo, Kay.”


Deg….Deg....


Jantungku berdetak lebih cepat dari sebelumnya.


Ucapan dari Defa membuatku meneguk ludah. Bagaimana bisa seorang Defadan,


primadona sekolah,menyukaiku?


“Gue harap perasaan gue ngga bertepuk sebelah tangan.” Dia menatapku


semakin dalam. Seorang Defadan yang biasanya sering bercanda, kali ini seperti


bukan dia. Ekspresi dan ucapannya menunjukkan keseriusan.


“Kamu bercanda, ‘kan?”


Defa menarik napas dalam sebelum berbicara, “kali ini gue ngga becanda,


Kay. Gue serius suka sama lu. Gue emang sering becanda dan ngga pernah serius,


tapi gue ngga pernah becanda kalau soal perasaan.” Tangannya yang masih


menggenggam tanganku semakin erat.


“Tapi Def, kenapa kamu bisa suka sama wanita yang ngga ada apa-apanya


sepertiku ini?” Aku berusaha melepas tanganku yang masih di genggam oleh tangan besarnya Defa.


Walau agak sulit, akhirnya aku berhasil menarik kembali tanganku.


“Karna cinta itu misterius, Kay. Cinta datang tanpa tau ke mana hatinya


berlabuh. Cinta tak pernah memandang tuan rumah yang telah berhasil membuatnya


luluh. Dan kini, kamu pemilik cintaku, Kay.” Defa menarik tangan kananku, lalu


ia mencium jari-jari tanganku. “Apa lo punya perasaan yang sama kaya gue?”


So sweet. Dia puitis banget, buat aku makin klepek-klepek


“Tapi, Def. Aku….” Aku menggantungkan ucapanku, ragu antara bicara atau


tidak. Setelah berpikir baik-baik, aku melanjutkan ucapanku, “aku bukan putri


kandung keluarga Ferrour. Asal usulku masih belum jelas, Def. Aku amnesia dan


keluarga Ferrour yang mengadopsiku dan mengangkatku menjadi putri mereka.”


Kuberitahu segala tentangku pada Defa. Mungkin ini yang terbaik. Karna


menurutku, kalau pun nanti aku dan Defa berpacaran, aku tidak memberitahukan


identitasku sebenarnya padanya, dia pasti akan kecewa nanti.


“Gue ngga peduli asal-usul lo dari mana, Kay.”


Tak ada muka penyesalan sedikitpun pada Defa. Sepertinya perasaan Defa


benar dan tidak main-main.


“Kalau misalnya aku berasal dari keluarga yang hancur, apa kamu masih mau


sama aku, Def?”


Defa menarik kedua tanganku, dan membawanya dalam genggaman tangannya


kembali. “Kay, gue cinta sama lo. Lo mau ngga jadi pacar gue?”


Mataku membulat. Aku masih sedikit tak pecaya Defa berkata seperti itu.


“Iya, Def. Aku mau.” Tanpa ragu-ragu aku menerima cintanya. “Karna aku udah

__ADS_1


suka kamu dari pandangan pertama. Walau ada yang bilang, ‘pandangan pertama itu


bukan cinta, tapi ketertarikan’. Kalau menurut aku, dari rasa ketertarikan itu


makanya muncul rasa cinta,” ucapku yang tidak jelas.


“Apa sih, Kay?” Defa tergelak lalu ia memukul lembut ujung kepalaku. “pacar


gue oblo.”


“Ihh, Defa ngeselin,” rengekku karna telah di katakan ‘oblo’


“Biar ngeselin, yang penting sayang, ‘kan?” Seringai tipis tersungging di


bibirnya.


“Bodo.” Aku menjulurkan lidahku, bermaksud untuk mengejek dia. “Udah ayuk


pulang,” ajakku kemudian yang langsung disetujui oleh Defa.


---oOo---


Aku langsung membantingkan tubuh ke atas tempat tidur kerajaanku. Rasanya


lelah, namun begitu indah. Mengalami hari-hari yang penuh kegembiraan.


Kemudian, aku meraih ponselyang ku simpan di saku


rokku, lalu meletakkan jempolku untuk finger


print, membuka fitur yang ada pada handphone canggihku itu. Aku membuka aplikasi WhatsApp dan mencari kontak Nacha. Jariku mulai mengetikkan beberapa deret kata sambil


tersenyum sendiri.


Cha, hari ini aku senang banget.


Hanya sekitar 3 menit, pesanku sudah dibalas Nacha


Senang kenapa, Kay?


Besok di sekolah, aku ceritakan ya, Cha.


Kenapa engga sekarang


aja Kay?


penasaran lah :(


-_-


Besok aja ya Cha.


Panjang ceritanya.


Nanti yang ada kamu mengabaikan pesan yang


udah ku ketik panjang-panjang wkwk.


Iiih, engga ya Kay.


Aku pasti baca semuanya


Udah besok aja ya.


Aku lagi malas ngetik.


Belum mandi juga ini.


Udah simpan aja dulu rasa penasaranmu sampai


besok wkwk.


Aku mau mandi dulu ya Cha.


Bye Nacha…


Hmm yaudah deh.


Awas aja kalau besok ga jadi cerita, kuteror rumahmu wkwkwk


Ya udah mandi sana, pantes aja dari tadi aku nyium bau, rupanya ada yang belum mandi wkwk


Pesan Nacha tak kubalas lagi dan aku meletakkan ponselku di brankar dekat


tempat tidur, kemudian beranjak bangkit dari tempat tidur menuju ke kamar

__ADS_1


mandi.


Tingtung …. Tingtung ….


Suara bel rumah menghentikan niatku yang akan mandi. Aku segera berlari


kecil dari kamar tidurku menuju ke sumber suara bel. Aku yakin, yang berada di


balik pintu tersebut pasti mama.


“Mama….” Aku langsung memeluk sosok mama dengan perasaan gembira, saat


pintu sudah kubuka.


Mama tampak terkejut, kemudian melepaskan pelukanku. “Anak mama kenapa? ‘Kok


kayanya senang banget?” Mama menatap aku yang masih senyum-senyum.


“Maa…,” panggilku dengan nada manja.


“Kenapa, Sayang?”


“Kayla….” Aku masih menggantungkan ucapanku. Ragu bila harus mengatakan pada mama.


Aku takut kalau mama akan marah nantinya.


“Iya, Kayla kenapa?”tanya mama menyelidik. Mama pasti penasaran


dengan tingkah yang kuperbuat.


“Tapi, mama jangan marah, ya,” ucapku dengan nada yang masih ragu.


“Iyaa, Sayang. Kenapa? Sini cerita sama mama.” Mama memegang kedua pundakku


dan menatap manik mataku dalam. “Kamu lagi ada masalah?”


“Bukan, Ma.” Ku sangkal ucapan mama. “Kayla lagi jatuh cinta sama seseorang,


Ma. Dan Kayla udah pacaran sama dia, Ma.” Aku menggigit jempolku sembari


melihat ke arah bawah, takut dengan respon dari mama yang akan kuterima nanti.


Mama tertawa kecil, kemudian berucap, “Kamu pacaran sama siapa, Sayang?”Kepalaku dielus mama,


membuat rambutku sedikit berantakan.


“Defa, Ma. Cowok kemarin yang datang ke sini untuk belajar bareng.”


“Pandai juga kamu cari cowok ya, Sayang.” Mama


tersenyum jenaka, bermaksud mengejekku, mungkin. “Ganteng loh dia,” lanjut


mama.


“Ma, mama setuju ngga kalau Kayla pacaran sama dia?”


tanyaku yang mengacuhkan ucapan mama.


“Selagi kamu melakukan hal yang positif, mama setuju


aja. Kalau kamu bahagia sama dia, mama ngga mau ngerusak kebahagian kamu. Jadi,


mama ngga ngelarang kamu, Sayang. Tapi ingat….” Mama menghentikan ucapannya


sejenak, membuatku bertanya-tanya. “tetap focus belajarnya. Jangan


mentang-mentang udah punya pacar, jadi pacar kamu yang kamu prioritasin. Tetap


prioritasin sekolah kamu dulu, Sayang.”


Bahagianya aku punya orang tua seperti ini.


“Siap, Ma,” ucapku sembari memeluk mama.


“Kamu belum mandi, ya?” tanya mama yang tampaknya


mengendus-endus tubuhku.


“Hehehe…, belum, Ma,” jawabku sambal menggaruk


tengkukku yang sebenarnya tidak gatal.


“Pantesan bau. Sana pergi mandi!” aku langsung menurut


dengan perintah mama.

__ADS_1


---o0o---


Selamat menikmati hidangannya, eh salah. Bacaannya maksudnya wkwkwk


__ADS_2