Bingkai Lara

Bingkai Lara
Kalung Berliontin D


__ADS_3

Upacara senin saat ini membuat kebanyakan anak mengeluh, bahkan bersumpah


serapah. Bagaimana tidak? Pak Bolet selaku pembina upacara menyampaikan


sabdanya panjang kali lebar kali tinggi sama dengan rumus keliling persegi


panjang. Membuat anak-anak jenuh berdiri dan membuat kuping panas karena


kata-katanya yang sepanjang kereta api.


"Sekian yang saya sampaikan. Atas perhatiannya saya ucapkan terima


kasih."


Kalimat terakhir yang Pak Bolet katakan seperti pintu surga yang terbuka


lebar-lebar bagi anak-anak Sinar Bangsa. Akhirnya masa penyiksaan berakhir


juga.


Murid-murid berhamburan meninggalkan lapangan dan menuju kelas mereka


masing-masing atau ada juga yang langsung menuju kantin karena belum sarapan.


Ya, sehabis upacara langsung di jeda dengan istirahat terlebih dahulu sebelum


memulai KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) Aku dan Nacha memilih pergi ke kantin,


karena kebetulan aku dan Nacha belum sarapan.


Saat sudah berada di kantin, aku belum menemukan sosok orang yang selalu


menyamperiku terlebih dahulu.


Tumben... biasanya dia


selalu nongol di kantin,batinku bertanya-tanya.


Karena terlalu penasaran, kutanyakan keberadaannya pada Nacha. Barangkali


Nacha tahu, "Cha, ada liat Defa?" tanyaku pelan agar tak terdengar


murid-murid lainnya yang masih melontarkan pandangan tak suka padaku.


"Ciiie... nanyaai Defa." Nacha memang orang yang paling tidak


mengerti keadaan. Dia berbicara begitu keras hingga mungkin seisi kantin yang


begitu luas bisa mendengarnya. "Ups...." Nacha tersadar kalau


suaranya sangatlah besar. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.


Semua orang yang sedang menikmati makanannya menghentikannya sejenak.


Semuanya menatap ke arahku dengan tatapan yang mengajak permusuhan. Bahkan, ada


yang berbisik-bisik buruk tentangku tapi aku dapat mendengarnya.


"Kay, mereka semua kenapa?" tanya Nacha yang memang dia tak


mengerti apa pun dengan kelakuan anak-anak yang menatapku seperti ini. Mungkin


Nacha juga tidak tahu alasanan aku di-bully waktu itu.


Aku mengidikkan bahu, tidak peduli. "Mungkin mereka ga suka sama


aku."


"Sampai segitunya?" ucap Nacha datar tanpa ekspresi. "Oh


iya, Kay. Waktu kita jalan-jalan kemarin, kamu 'kan pakai kalung berliontin D.


Kamu beneran udah pacaran sama Defa?"


Pertanyaan Nacha membuatku tersedak. Ya, aku sedang meminum jus jeruk yang


kupesan. Dan karenanya, jus itu hampir masuk jalur paru-paru bukannya lambung.


Aku menenangkan diri dulu sebelum menjawab pertanyaan Nacha.


"Itu kalung dia yang ngasih. Aku pake aja karena aku suka. Tapi, aku


sama dia belum pacaran, Cha." Kotak yang beberapa hari lalu diberikan Defa


beberapa hari yang lalu ternyata berisi kalung dengan liontin berhuruf D.


Nacha tersenyum miris, "Jujur aja deh. Sesama sahabat ga boleh ada

__ADS_1


rahasia-rahasiaan."


"Beneran, deh. Aku engga bohong." Aku membentuk jari tangan


kananku seperti angka dua. Bermaksud bersumpah, mungkin.


Nacha nyenyir, "kamu suka sama Defa?" tanyanya yang membuat


mataku terbuka lebar-lebar.


Aku mengangguk. Ralat bukan aku. Tapi, entah kenapa ini kepala serasa


bergerak sendiri. Ralat, bukan bergerak sendiri. Melainkan digerakkan roh jahat


yang lewat, mungkin. Nacha tertawa lebar-lebar, membuat seisi kantin lagi-lagi


menatap tajam ke arah kami, terutama aku.


"Ssst...." aku berusaha menghentikan tawa Nacha. Agar anak-anak


yang lainnya tidak menatap kami seperti itu lagi. "Jangan bilang


siapa-siapa, Cha," pintaku kemudian dengan suara yang kecil, agar tidak terdengar


siapapun selain Nacha.


"Iya... engga, kok," balas Nacha yang mengecilkan suaranya.


Tiba-tiba seseorang muncul di antara aku dan Nacha. Orang itu langsung


mengambil jus jerukku dan menyeruputnya sampai habis. Ya, dia Defa.


"Gue cape, banget," keluhnya tiba-tiba. Memang sudah terlihat


keringat yang bercucuran di pelipis Defa. "Habis di hukum." Defa


mengambil posisi duduk, tepat di samping kananku, karena tadi Nacha duduk di


depanku.


Aku dan Nacha yang melihat Defa hanya bisa menatapnya kosong.


"Di hukum kenapa?" tanyaku kemudian.


"Gue tadi telat, Kay. Dan Pak Botak Lecet alias Bolet, ngehukum gue


bersihi sampah dihalaman belakang. Lo sendiri tau gimana halaman belakang


Memang halaman belakang Sinar Bangsa ini tidak pernah di urus. Mungkin saja


petugas kebersihan Sinar Bangsa malas membersihkannya karena tidak akan pernah


bersih. Terlalu banyak pohon di halaman belakang sekolah ini, sehingga


menimbulkan banyak daun yang berjatuhan. Tak hanya daun, kadangkala banyak juga


ditemukan puntung rokok di sana. Bisa dikatakan, halaman belakang menjadi


sarang para kakak kelas SMA merokok. Tidak! Tak hanya anak SMA yang merokok,


bahkan anak SMP juga sudah ada yang merokok.


Aku dan Nacha tergelak mendengar ucapan Defa yang terlihat kesal tapi


seperti lelucon bagi kami.


"Kamu 'kok bisa terlambat?" Saat sudah berhenti tertawa, aku


membuka pembicaraan dengan pertanyaan.


"Gini ceritanya." Defa membenarkan posisi duduknya. Mencari


posisi yang lebih nyaman lagi untuk bercerita. "Semalam, gue ga bisa


tidur, gara-gara mikiri lo, Kay. Setiap gue merem, bayangan lo kayak ada di


dalam bola mata gue gitu." Defa memulai alasan jenakanya, membuat aku dan


Nacha kembali tertawa. Anak-anak kembali menatap kami lagi. Tatapan yang makin


menunjukkan tidak suka padaku.


Mana mungkin dia tidak bisa tidur gara-gara mikiri aku. Sudah jelas-jelas


kemarin ada acara bola di jam dua pagi. Mungkin saja dia menonton bola sampai


telat bangun seperti ini.

__ADS_1


"Kamu ngarangnya bagus, ya. Bisa jadi novelis terkenal nanti,"


ujarku meledek alasan tak masuk akal Defa. Tapi, ucapannya tadi sukses membuatku baper alias bawa perasaan.


"Gue serius, Ay." Defa mengedipkan mata kirinya padaku.


"Ay apaan?"


"Ayang." Dikedipkannya lagi matanya.


"Isss, Def. Jijik gue liat lo gini," ucap Nacha dengan ekspresi


gelinya.


Aku juga ikut-ikutan geli namun tidak jijik mendengar ucapan Defa.


---o0o---


Bel pergantian pelajaran telah berdering. Membuat teman-teman sekelasku


berteriak kegirangan. Bagaimana tidak? Masa pelajaran Pak Harianja telah


berakhir, yang artinya masa penyiksaan telah berakhir. Pak Beni mengetuk pintu


dan masuk ke dalam kelasku, diikuti dengan seorang murid laki-laki dari


belakangnya yang membawa setumpuk buku tulis. Ya, Defa. Lagi-lagi aku bertemu


dengan dia.


"Defa, tolong kamu bagikan buku ini ke mereka," perintah Pak Beni


yang menunjuk ke arah kami.


"Mau di apai, Pak?" Bukannya langsung menjalankan perintak Pak Beni,


tapi Defa malah bertanya.


"Diperiksa sama mereka."


"Oh...." Defa berjalan di antara sela-sela bangku, dan membagikan


buku yang dibawanya satu per satu pada kami semua. Tiba-tiba langkahnya


terhenti di lorong samping kananku. "Lo yang ini aja." Dia


memberikanku buku tulis yang sampulnya depannya bercoret-coret. Terpampang nama


Defadan dengan tulisan ceker ayam di buku itu. "Di benari, ya


sayang." Dikedipkannya matanya. Membuatku jadi salah tingkah.


"Hm...." Suara deheman dari tetangga sebelah -temanku yang


lainnya- membuat Defa berjalan kembali. Kemudian, dia berpamit meninggalkan kelasku


pada Pak Beni.


Aku membuka-buka buku Defa. Catatannya tidak ada yang beres dan tulisan


ceker ayam khas miliknya membuat mata sakit membaca catatannya. Namun, setiap


latihan dia selalu mendapat nilai seratus. Tak ada nilai jelek apalagi telur


busuk. Tanganku berhenti di lembar kertas yang akan diperiksa. Tulisannya


begitu jelek.


Sesi pemeriksaan pun telah berlangsung, dan Defa mendapat nilai delapan


puluh. Ya, baru ini nilainya yang jelek. Itu karena Defa tidak mengerjakan


semua soal yang dipinta Pak Beni. Seratus soal. Defa hanya mengerjakan delapan


puluh soal dan itu benar semua. Sisanya, dia hanya membuat nomor


delapanpuluhsatu sampai seratus yang berisikan tulisan 'saya cape'. Aku tertawa


terus membaca tulisannya itu. Tidak hanya aku, Pak Beni ikut-ikut tertawa dan kemudian


geleng-geleng kepala.


Defa memang terkenal dengan kebandelannya. Tapi dia terlihat tidak seperti


anak laki-laki bandel biasanya. Bandel Defa berbeda dari mereka semua. Defa


belum merokok, dan masih mau mengerjakan tugas-tugasnya. Walau terkadang, dia

__ADS_1


sering buat guru-guru jengkel dengan lelucon-leluconnya yang terkadang


kelewatan batas.


__ADS_2