
Upacara senin saat ini membuat kebanyakan anak mengeluh, bahkan bersumpah
serapah. Bagaimana tidak? Pak Bolet selaku pembina upacara menyampaikan
sabdanya panjang kali lebar kali tinggi sama dengan rumus keliling persegi
panjang. Membuat anak-anak jenuh berdiri dan membuat kuping panas karena
kata-katanya yang sepanjang kereta api.
"Sekian yang saya sampaikan. Atas perhatiannya saya ucapkan terima
kasih."
Kalimat terakhir yang Pak Bolet katakan seperti pintu surga yang terbuka
lebar-lebar bagi anak-anak Sinar Bangsa. Akhirnya masa penyiksaan berakhir
juga.
Murid-murid berhamburan meninggalkan lapangan dan menuju kelas mereka
masing-masing atau ada juga yang langsung menuju kantin karena belum sarapan.
Ya, sehabis upacara langsung di jeda dengan istirahat terlebih dahulu sebelum
memulai KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) Aku dan Nacha memilih pergi ke kantin,
karena kebetulan aku dan Nacha belum sarapan.
Saat sudah berada di kantin, aku belum menemukan sosok orang yang selalu
menyamperiku terlebih dahulu.
Tumben... biasanya dia
selalu nongol di kantin,batinku bertanya-tanya.
Karena terlalu penasaran, kutanyakan keberadaannya pada Nacha. Barangkali
Nacha tahu, "Cha, ada liat Defa?" tanyaku pelan agar tak terdengar
murid-murid lainnya yang masih melontarkan pandangan tak suka padaku.
"Ciiie... nanyaai Defa." Nacha memang orang yang paling tidak
mengerti keadaan. Dia berbicara begitu keras hingga mungkin seisi kantin yang
begitu luas bisa mendengarnya. "Ups...." Nacha tersadar kalau
suaranya sangatlah besar. Dia menutup mulutnya dengan telapak tangan kanannya.
Semua orang yang sedang menikmati makanannya menghentikannya sejenak.
Semuanya menatap ke arahku dengan tatapan yang mengajak permusuhan. Bahkan, ada
yang berbisik-bisik buruk tentangku tapi aku dapat mendengarnya.
"Kay, mereka semua kenapa?" tanya Nacha yang memang dia tak
mengerti apa pun dengan kelakuan anak-anak yang menatapku seperti ini. Mungkin
Nacha juga tidak tahu alasanan aku di-bully waktu itu.
Aku mengidikkan bahu, tidak peduli. "Mungkin mereka ga suka sama
aku."
"Sampai segitunya?" ucap Nacha datar tanpa ekspresi. "Oh
iya, Kay. Waktu kita jalan-jalan kemarin, kamu 'kan pakai kalung berliontin D.
Kamu beneran udah pacaran sama Defa?"
Pertanyaan Nacha membuatku tersedak. Ya, aku sedang meminum jus jeruk yang
kupesan. Dan karenanya, jus itu hampir masuk jalur paru-paru bukannya lambung.
Aku menenangkan diri dulu sebelum menjawab pertanyaan Nacha.
"Itu kalung dia yang ngasih. Aku pake aja karena aku suka. Tapi, aku
sama dia belum pacaran, Cha." Kotak yang beberapa hari lalu diberikan Defa
beberapa hari yang lalu ternyata berisi kalung dengan liontin berhuruf D.
Nacha tersenyum miris, "Jujur aja deh. Sesama sahabat ga boleh ada
__ADS_1
rahasia-rahasiaan."
"Beneran, deh. Aku engga bohong." Aku membentuk jari tangan
kananku seperti angka dua. Bermaksud bersumpah, mungkin.
Nacha nyenyir, "kamu suka sama Defa?" tanyanya yang membuat
mataku terbuka lebar-lebar.
Aku mengangguk. Ralat bukan aku. Tapi, entah kenapa ini kepala serasa
bergerak sendiri. Ralat, bukan bergerak sendiri. Melainkan digerakkan roh jahat
yang lewat, mungkin. Nacha tertawa lebar-lebar, membuat seisi kantin lagi-lagi
menatap tajam ke arah kami, terutama aku.
"Ssst...." aku berusaha menghentikan tawa Nacha. Agar anak-anak
yang lainnya tidak menatap kami seperti itu lagi. "Jangan bilang
siapa-siapa, Cha," pintaku kemudian dengan suara yang kecil, agar tidak terdengar
siapapun selain Nacha.
"Iya... engga, kok," balas Nacha yang mengecilkan suaranya.
Tiba-tiba seseorang muncul di antara aku dan Nacha. Orang itu langsung
mengambil jus jerukku dan menyeruputnya sampai habis. Ya, dia Defa.
"Gue cape, banget," keluhnya tiba-tiba. Memang sudah terlihat
keringat yang bercucuran di pelipis Defa. "Habis di hukum." Defa
mengambil posisi duduk, tepat di samping kananku, karena tadi Nacha duduk di
depanku.
Aku dan Nacha yang melihat Defa hanya bisa menatapnya kosong.
"Di hukum kenapa?" tanyaku kemudian.
"Gue tadi telat, Kay. Dan Pak Botak Lecet alias Bolet, ngehukum gue
bersihi sampah dihalaman belakang. Lo sendiri tau gimana halaman belakang
Memang halaman belakang Sinar Bangsa ini tidak pernah di urus. Mungkin saja
petugas kebersihan Sinar Bangsa malas membersihkannya karena tidak akan pernah
bersih. Terlalu banyak pohon di halaman belakang sekolah ini, sehingga
menimbulkan banyak daun yang berjatuhan. Tak hanya daun, kadangkala banyak juga
ditemukan puntung rokok di sana. Bisa dikatakan, halaman belakang menjadi
sarang para kakak kelas SMA merokok. Tidak! Tak hanya anak SMA yang merokok,
bahkan anak SMP juga sudah ada yang merokok.
Aku dan Nacha tergelak mendengar ucapan Defa yang terlihat kesal tapi
seperti lelucon bagi kami.
"Kamu 'kok bisa terlambat?" Saat sudah berhenti tertawa, aku
membuka pembicaraan dengan pertanyaan.
"Gini ceritanya." Defa membenarkan posisi duduknya. Mencari
posisi yang lebih nyaman lagi untuk bercerita. "Semalam, gue ga bisa
tidur, gara-gara mikiri lo, Kay. Setiap gue merem, bayangan lo kayak ada di
dalam bola mata gue gitu." Defa memulai alasan jenakanya, membuat aku dan
Nacha kembali tertawa. Anak-anak kembali menatap kami lagi. Tatapan yang makin
menunjukkan tidak suka padaku.
Mana mungkin dia tidak bisa tidur gara-gara mikiri aku. Sudah jelas-jelas
kemarin ada acara bola di jam dua pagi. Mungkin saja dia menonton bola sampai
telat bangun seperti ini.
__ADS_1
"Kamu ngarangnya bagus, ya. Bisa jadi novelis terkenal nanti,"
ujarku meledek alasan tak masuk akal Defa. Tapi, ucapannya tadi sukses membuatku baper alias bawa perasaan.
"Gue serius, Ay." Defa mengedipkan mata kirinya padaku.
"Ay apaan?"
"Ayang." Dikedipkannya lagi matanya.
"Isss, Def. Jijik gue liat lo gini," ucap Nacha dengan ekspresi
gelinya.
Aku juga ikut-ikutan geli namun tidak jijik mendengar ucapan Defa.
---o0o---
Bel pergantian pelajaran telah berdering. Membuat teman-teman sekelasku
berteriak kegirangan. Bagaimana tidak? Masa pelajaran Pak Harianja telah
berakhir, yang artinya masa penyiksaan telah berakhir. Pak Beni mengetuk pintu
dan masuk ke dalam kelasku, diikuti dengan seorang murid laki-laki dari
belakangnya yang membawa setumpuk buku tulis. Ya, Defa. Lagi-lagi aku bertemu
dengan dia.
"Defa, tolong kamu bagikan buku ini ke mereka," perintah Pak Beni
yang menunjuk ke arah kami.
"Mau di apai, Pak?" Bukannya langsung menjalankan perintak Pak Beni,
tapi Defa malah bertanya.
"Diperiksa sama mereka."
"Oh...." Defa berjalan di antara sela-sela bangku, dan membagikan
buku yang dibawanya satu per satu pada kami semua. Tiba-tiba langkahnya
terhenti di lorong samping kananku. "Lo yang ini aja." Dia
memberikanku buku tulis yang sampulnya depannya bercoret-coret. Terpampang nama
Defadan dengan tulisan ceker ayam di buku itu. "Di benari, ya
sayang." Dikedipkannya matanya. Membuatku jadi salah tingkah.
"Hm...." Suara deheman dari tetangga sebelah -temanku yang
lainnya- membuat Defa berjalan kembali. Kemudian, dia berpamit meninggalkan kelasku
pada Pak Beni.
Aku membuka-buka buku Defa. Catatannya tidak ada yang beres dan tulisan
ceker ayam khas miliknya membuat mata sakit membaca catatannya. Namun, setiap
latihan dia selalu mendapat nilai seratus. Tak ada nilai jelek apalagi telur
busuk. Tanganku berhenti di lembar kertas yang akan diperiksa. Tulisannya
begitu jelek.
Sesi pemeriksaan pun telah berlangsung, dan Defa mendapat nilai delapan
puluh. Ya, baru ini nilainya yang jelek. Itu karena Defa tidak mengerjakan
semua soal yang dipinta Pak Beni. Seratus soal. Defa hanya mengerjakan delapan
puluh soal dan itu benar semua. Sisanya, dia hanya membuat nomor
delapanpuluhsatu sampai seratus yang berisikan tulisan 'saya cape'. Aku tertawa
terus membaca tulisannya itu. Tidak hanya aku, Pak Beni ikut-ikut tertawa dan kemudian
geleng-geleng kepala.
Defa memang terkenal dengan kebandelannya. Tapi dia terlihat tidak seperti
anak laki-laki bandel biasanya. Bandel Defa berbeda dari mereka semua. Defa
belum merokok, dan masih mau mengerjakan tugas-tugasnya. Walau terkadang, dia
__ADS_1
sering buat guru-guru jengkel dengan lelucon-leluconnya yang terkadang
kelewatan batas.