
Jangan Lupa vote nya yaa
Bel pertanda pulang sekolah telah berbunyi. Hari pertamaku sekolah, memberi kesan yang baik. Meski tadi ada sedikit kendala di kantin. Tapi itu masih masalah yang kecil dan mudah diatasi. Setidaknya tak ada yang mem-bully-ku seperti kebanyakan anak yang pindah sekolah.
Guru-guru pun sangat suka padaku. Mereka mengajariku dengan penuh kesabaran, agar aku bisa mengerti. Jika aku belum paham, mereka tak mau melanjutkan materinya. Bahkan ada guru yang rela mengajariku materi pelajaran kelas satu SMP. Ada juga guru yang mengulang materi awal kelas IX. Aku masuk sekolah saat sudah menginjak semester dua, yang sebentar lagi akan menghadapi UN.
Teman-teman pun sangat baik padaku. Mereka semua bisa diajak bercanda, tertawa, bermain dan lainnya. Kalau bisa dikatakan, kelas IX-1 termaksud kelas yang kompak dibandingkan kelas lainnya. Mereka juga ikut mengajariku. Terutama Nacha. Dia adalah murid yang pintar di kelas. Beruntung aku bisa duduk bareng dengan dia.
Tet... tet...
Sudah terlihat mobil Mercedes Benz berwarna hitam -milik mama- baru saja memasuki kawasan parkiran.
"Cha, Bel, kalian pulang naik apa?" tanyaku pada Nacha dan Bella yang masih menunggu di koridor sekolah.
"Ga tau, Kay. Papa gue tiba-tiba ga bisa jemput karena meeting mendadak," jawab Bella seraya menggangkat kedua bahunya tinggi-tinggi.
"Kay, aku bareng kamu, ya. Boleh?" timpal Nacha berharap. "Mama tadi nelpon, bilang kalau ada pasien yang baru kecelakaan. Trus mama nitip aku sama mama kamu, Kay," jelas Nacha.
"Ooh, ya sudah, Cha. Itu mamaku udah datang," ujarku seraya menunjuk ke arah parkiran. "Bella, bareng aku aja. Mau tidak?" tawarku.
Terlihat Bella yang masih berkutat dengan tawaranku itu. Mungkin dia masih takut jika supirnya tiba-tiba datang menjemputnya. "Okey," ucapnya.
Kami pun berjalan ke arah parkiran. Dan saat kami sudah mendekat ke arah parkiran, seorang wanita paruh baya keluar dari mobil. Ya, itu mamaku. Kupikir, mama tidak ikut menjemputku dan hanya menitipku pada supir. Namun, nyatanya tidak.
"Sayang...," ucap mama memelukku. Ulah mama membuatku malu dihadapan teman-temanku. "Kita hari ini jalan-jalan, ya." Mama melepaskan pelukanku, dan tanpa merasa bersalah telah membuat putrinya malu.
"Tapi, Ma-"
"Tadi mama udah izin sama Dokter Fanny. Katanya, kita boleh bawa Nacha," ucap mama yang memotong pembicaraanku.
"Oh gitu." aku melirik ke arah Bella. Tiba-tiba aku teringat dengan Bella yang kuajak menumpang tadi. Wajahnya sedikit bersedih. "Ma, Bella gimana?" tanyaku yang membuat mama tak mengerti sama sekali.
"Maksudnya, Sayang?"
"Tadi Kayla nawari Bella untuk pulang bareng kita. Tapi kita malah mau jalan-jalan," jelasku.
"Ya sudah, ajak saja." Mama menegok kearah Bella yang berada di samping kanan Nacha dan di belakangku. "Kamu Bella, ya?"
"Iya, Tante," jawab Bella seraya menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Kamu ikut kita aja, ya. Jalan-jalan," ajak mama.
Ternyata ajakan mama benar-benar. Aku pikir tadi itu hanya gurauan.
Mama membujuk Bella agar ikut jalan-jalan bersama kami. Karena awalnya, Bella menolak. Dia takut dengan kedua orangtuanya. Lalu mama meminta nomor telepon papa Bella, dan mama meneleponnya untuk meminta izin. Papa bella mengiyakan permintaan dari mama. Betapa senangnya kami saat ini.
---o0o---
Mobil mama sudah terparkir di salah satu bagunan megah yang merupakan mall terbesar di Medan, Mall Ferrour. Ternyata tempat ini yang dari tadi dirahasiakan mama. Ya, dari tadi kami bertanya, "kami mau dibawa kemana, Ma?" Tapi mama hanya menjawab, "ini rahasia. Nanti kalian bakalan tau," ucapnya seraya menoleh ke belakang dan mengedipkan mata kirinya kepada kami.
"Yuk, keluar," ajak mama seraya membukkan pintu depannya. Dan keluar dari mobil.
"Waaah... besar sekali." aku berdecak kagum, memutar kepalaku untuk melihat bangunan mall ini. Ini kali pertamanya -saat amnesia- aku kesini.
Benarkah ini mall kami yang dijelaskan Nacha saat di sekolah tadi?
Mereka semua mendengus menahan tawanya saat mendengarku berkata seperti orang kampungan.
"Ini masih belum seberapa, Kay. Ntar di dalam, lo kagum liatnya," bisik Bella lirih padaku. "Waaah..., Tante, ini pertama kalinya aku kesini bareng pemiliknya. Terima kasih ya, Tante, udah ngajak aku kesini." Bella begitu senang.
Mama hanya nyengir kuda lalu mengajak kami masuk ke dalam mall.
Setelah pulas berjalan-jalan keliling mall, kami mampir ke salah satu restoran milik papa yang masih berada di dalam Mall Ferrour.
Pelayan restoran sudah datang menyambut kami dengan membawa menu-menu yang ada di Restoran Ferrour. Restoran ini tempat biasa mama dan papa berkencan. "Selamat sore, Nona Ferrour. Ada yang bisa saya bantu?" Si pelayan memberi satu kertas menu kepada mama dan menu lainnya diletakkan di atas meja.
"Kalian mau pesan apa, Sayang?" Mama mengamati menu, barangkali ada menu baru yang mereka ciptakan. "Saya pesan yang seperti biasa saja deh, Mas." Menu yang dipegang mama sedari tadi, diberikan kembali pada si pelayan. Si pelayan langsung mengerti menu apa yang biasa dipesan mama.
"Ma, Kayla pesan makanan kayak mama aja."
"Loh kenapa, Sayang?" tanya mama seraya memegang dagunya dengan tangan kanan. "Kamu ga ngerti menunya?"
Ya, jujur, aku tak mengerti nama-nama menu di sini. Menu di sini asing semua. Namanya seperti nama-nama makanan Prancis, karena memang ini restoran Prancis. Waktu dulu, kami memakan makanan Prancis yang nama makanannya Foie Gras. Jujur, makanannya tak enak di mulutku. Bukan! Bukan tak enak. Tapi karena lidahku sepertinya masih belum terbiasa dengan makanan Prancis. Nah sejak saat itu, di rumah tak pernah lagi terhidang makanan-makanan Prancis
Aku sempat bingung kenapa lidaku merasa seperti tak biasa dengan makanan Prancis. Masa mama dan papa tidak tahu dengan selera lidahku? Aku kan sudah tinggal selama empat belas tahun lebih bareng mereka! Atau, apakah lidahku juga mengalami amnesia?
"Mungkin masakan yang mama pilih cocok dengan selera lidah Kayla."
Mama tersenyum tipis, "Maafin mama, ya. Mama hampir lupa kalau lidah kamu masih belum terbiasa dengan makanan Prancis."
__ADS_1
Bella menatap Nacha, seolah dia memikirkan hal yang membuatnya bingung -kenapa Kayla ga terbiasa dengan makanan Prancis?- lalu kembali menatap menu. Dia terlihat bingung dengan nama-nama menu di sini -ini pertama kalinya makan di restoran Prancis- sedangkan Nacha sudah terbiasa dengan menu Prancis.
"Tante, Nacha pesan beef bourguignon sama air mineral, boleh?"
"Boleh dong." Mama tersenyum tipis, dan Nacha langsung memesan menu pilihannya pada pelayan yang masih berdiri. "Bella makan apa?"
"Sama kayak Nacha aja, Tante." Bella nyengir lalu menyikut lengan Nacha, "Itu makanan apaan?" ucapnya sedikit berbisik.
Nacha tahu bahwa Bella tidak pernah berkunjung ke restoran Prancis pasti tidak mengerti dengan menu-menu yang masih asing baginya. Nacha pun langsung memberitahu makanan beef bourguignon seperti apa. "Itu daging, sama seperti rendang," jelas Nacha yang langsung bisa dipahami Bella.
"Okey, saya tinggal dulu, ya, Nona." Pelayan berpamitan -seperti mau pergi jauh saja- pada mama.
Suasana hening diantara kami. Yang terdengar hanyalah suara orang-orang yang berada di Restoran Ferrour. Tak ada yang membuka pembicaraan terlebih dahulu. Kami semua masih sibuk dengan aktivitas masing-masing. Nacha dan Bella yang sibuk dengan gadgetnya dan aku yang sibuk dengan lamunanku. Sedangkan mama, pergi saat menerima telepon dari papa.
"Waaa...." Suasana hening di antara kami mendadak pergi karena teriakan yang menggelegar dari Bella. Suaranya yang cempreng sempat membuat orang-orang menoleh kami dengan tatapan yang; ini-anak-kenapa-ribut-banget.
"Kenapa sih, Bel?" tanyaku dan Nacha yang tiba-tiba terasa kompak. Kami menatap Bella sinis, sebab dia telah berhasil membuat kami malu karena teriakannya tadi.
Bella nyengir lebar tanpa merasa berdosa, "Ga apa-apa."
Pelayan datang dengan mengantarkan makanan dan minuman yang kami pesan dan meletakkannya di atas meja. Kepergian pelayan pun sekaligus dengan kedatangan mama. Ya, mama telah selesai mengobrol dengan papa melalui telepon.
"Ma, papa belum pulang?"
"Papa masih di Bandara Sukarno-Hatta, Sayang. Nanti kita jemput papa di bandara, ya."
Aku menjawab ucapan mama dengan anggukan. "Kayla udah kangen berat sama papa."
"Om Kevin lagi di Jakarta, Tante?" Nacha yang mendengar pembicaraan kami pun bertanya pada mama.
"Iya, Sayang. Ada meeting tadi pagi," jawab mama dengan ramahnya. "Yuk, dimakan makanannya."
"Ini apa namanya, Ma?" aku menatap makanan yang tepat di depanku dengan tatapan; antara-dimakan-atau-tidak.
"Kay, masa lo ga tau nama-nama makanan Prancis, padahal orangtua lo yang punya restoran ini." Ucapan Bella langsung disambut dengan kakinya yang dipijak Nacha hingga bunyinya terdengarku. "Aaaw...." Bella meringis kesakitan.
Mama mendengus pelan lalu tergelak, "Kayla amnesia, Sayang."
"Whaat?!" Badan Bella yang sedari tadi sedikit bungkuk, kini kembali tegak karena mendengar ucapakan mama. Ya, dia masih belum tahu kalau aku menderita amnesia. "Maaf, Tante, Kayla, saya tidak tau." Badannya kembali seperti semula dan mimik wajahnya benar-benar menunjukkan penyesalan.
__ADS_1
"Berisik banget kamu, Belacan," bisik Nacha yang masih bisa didengar siapapun.