Bingkai Lara

Bingkai Lara
Ada Apa dengan Bella?


__ADS_3

Mentari di pagi hari ini begitu berseri. Sama


seperti perasaanku yang sangat senang hati. Aku tidak sabar ingin menceritakan


kejadian kemarin pada sahabatku itu, Nacha.


*K*ira-kira


seperti apa respon Nacha nanti, ya? Apa dia bakal terkejut dengar kabar kalau


aku sama Defa udah pacaran? Apa Nacha setuju aku pacaran sama Defa? Beribu pertanyaan menyerang benakku, membuat perasaan yang tadinya yakin


menjadi keraguan.


Yang aku tahu, Nacha tidak begitu menyukai


Defa. Jadi, aku takut jika Nacha tidak akan menyetujui hubunganku dengan Defa.


Aku tidak mau kehilangan Nacha, tapi aku juga tidak bisa menolak Defa. Aku dirundung


dilema.


“Kay, kemarin kamu mau cerita apa?” Nacha


langsung menyembur dengan pertanyaan itu saat dia sudah melihatku yang berada


di ambang pintu kelas, padahal aku baru saja tiba.


Aku berjalan mendekati Nacha yang sedang duduk


di kursinya, kemudian meletakkan tas di atas meja dan duduk di kursi sebelah


kanan Nacha. “Cha, aku dan Defa sekarang udah pacaran,” ucapku lirih sembari menatap


manik mata indahnya.


Konjungtivanya melebar. Bibirnya terngangga,


sehingga mulut dan giginya kelihatan. Aku yakin respon Nacha saat ini seperti


orang yang sedang shock berat. “Kok


bisa kamu pacaran sama Defa?” tiba-tiba Nacha membuka suara yang lumayan besar.


Aku refleks menutup mulut Nacha. “Eemm muaaap,” ucapnya dengan nada yang


sedikit tidak jelas karena mulutnya masih aku tutup rapat. Lalu, aku menarik


tanganku yang berada di bibir Nacha agar dia bisa berbicara. “Kok bisa kamu


pacaran sama Defa, Kay?” Nacha mengulang lagi pertanyaannya, tapi kali ini


dengan suara yang benar-benar lirih, seperti tiupan angin.


“Kasih tau ngga yaaa…?” kataku memalingkan


wajah dari Nacha dan mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk.


Puuuk….


Suara tepukan tangan seseorang ke meja yang


berasal dari belakangku mengalihkan pembicaraan kami. Aku tak sadar kalau dari


tadi ada Reina di situ. Aku sedikit terkejut, takutnya Reina mendengar semua


omonganku dengan Nacha dari tadi. Reina bangkit berdiri dan berjalan keluar


ruang kelas.


“Chaa…, Reina dengar ngga ya omongan kita dari


tadi?” tanyaku pada Nacha sedikit panik.


“Dia tau juga ngga ada urusannya, hahaha,”


jawab Nacha santai kemudian diikuti gelak tawa khasnya.


“Seriusan ngga jadi masalah, ‘kan?”


“Ngga, Kayla.” Nacha menggelengkan kepala.


“Udah buruan kasih tau, kenapa kamu sama Defa bisa pacaran?” tanyanya lagi yang


masih begitu penasaran.


“Kenapa ya?” tanyaku balik yang membuat Nacha


sedikit kesal.

__ADS_1


“Iaah…, buruan kasih tau. Jangan suka buat


orang penasaran lah, Kay.”


“Iyaa, Cha ngga tau kenapa alasannya,” jawabku


serius yang membuat Nacha memasang raut bingung. “Karna cinta mungkin. Soalnya,


ngga ada alasan buat mencintai seseorang, karena cinta itu tanpa syarat. Kalau


ada syaratnya, berarti itu kontrak dong.”


Nacha tertawa tipis mendengar jawaban dariku,


kemudian dia berbicara, “Bisa ngelawak juga ya, Kay. Iya benar, cinta emang


tanpa syarat. Tapi banyak factor yang bisa membuat kamu jatuh cinta sama


seseorang. Mungkin aja karena dia baik sama kamu, atau karena dia selalu ada


untuk kamu.”


 “Defa


itu menarik, Cha.”


“Menarik gimana?”


“Setiap dia ada di dekatku, aku ngerasa


bahagia sama dia. Orangnya kadang suka usil, hehe.” Aku cengar-cengir


menceritakan tentang Defa.


“Terus gimana caranya dia nembak kamu?”


Emang seperti itulah Nacha. Di balik diamnya


selama ini ke orang-orang, tenyata Nacha adalah tipe orang yang sangat


penasaran.


“Mau dengeri ceritaku yang sepanjang rel


kereta api?” godaku


Nacha hanya mengangguk dan menatapku dengan


awal kedekatanku pada Defa yang tidak diketahui oleh Nacha. Tak ada sedikitpun


yang ketinggalan atau kututupi dari Nacha. Because,


I trust her.


---o0o---


"Cha, apa Bella


ngga bisa bareng kita lagi?" tanyaku saat lonceng baru saja berbunyi,


menandakan seluruh siswa-siswi dapat beristirahat.


Biasanya saat jam


istirahat seperti ini, Bella sudah langsung berada di depan kelasku. Sering


juga ia sudah menunggu di depan kelasku saat bel istirahat belum berbunyi.


Entah emang dia cabut mata pelajaran atau karena gurunya yang sudah keluar


terlebih dahulu. Entahlah..., yang pasti saat ini, aku benar-benar rindu Bella,


di mana dulu menghabiskan waktu bersama saat jam istirahat maupun saat pulang


sekolah. Entah kesibukan apa yang membuat Bella tidak bisa bersama lagi dengan


kami.


"Belum


waktunya, Kay. Nanti juga kita bisa bareng-bareng lagi. Sebenarnya aku juga


kangen bisa bareng-bareng sama Bella lagi." Raut wajah Nacha tampak sedih.


"Udah, Cha,


jangan sedih. Kita berdoa saja, semoga kita bisa seperti dulu lagi,"


kataku mengulas senyum tulus. Aku berusaha menghibur Nacha dengan senyuman ini

__ADS_1


agar dia tidak bersedih lagi. Kalau bisa dibilang sih ya, ini adalah senyum


palsu yang sebenarnya dibaluti banyak lara.


"Amin. Ya


sudah ayuk kita istirahat, Kay," ajak Nacha yang langsung menarik tanganku


secara paksa untuk mengikuti langkah kakinya yang akan menuju ke pintu keluar


kelas.


Setibanya di


depan kelas, aku dan Nacha dikejutkan dengan seseorang yang tak asing lagi, sudah


berdiri di koridor depan kelas. Ya, dia Bella.


Aku dan Nacha


sempat gembira, sebelum akhirnya tahu maksud dan tujuan Bella ke sini hanyalah


ingin bertemu dengan Reina. Bella sama sekali tak menyapa aku dan Nacha, padahal


kontak mata kami sudah bertemu.


"Hai, Na.


Yuk."


Hanya itu yang


kudengar dari mulut Bella, bermaksud mengajak Reina entah kemana. Apa Bella


melupakanku dan Nacha? Tapi kenapa? Apa Bella termaksud tipe orang yang


melupakan kawan lama hanya karena mendapatkan kawan baru? Atau... apakah aku


dan Nacha pernah berbuat salah padanya, sehingga ia tidak mau lagi bersama


dengan kami? Begitu banyak pertanyaan yang menyerang benakku. Aku tak paham


dengan semua ini.


"Bella


tunggu," kataku yang membuat langkah kaki Bella dan Reina terhenti..


"Apa?"


katanya datar.


Aku sama sekali


tidak tahu kenapa Bella bisa berubah 90 derajat seperti ini. Bella yang kukenal


dulu sangat ramah dengan ekspresinya yang ceria, namun sekarang sosok


dihadapanku ini benar-benar bukan seperti Bella yang ku kenal.


Aku terdiam,


masih berkutat dengan perubahan Bella.


"Kalau ngga


ada yang diomongi, aku pergi dulu. Bye," ucapnya yang membuatku semakin


membeku. Ralat, Bella bukan berubah 90 persen, tapi setelah dia berkata seperti


itu, seakan-akan membuat Bella berubah 180 derajat.


"Bella


tunggu," teriakan Nacha membuat langkah kaki mereka terhenti lagi. Emosi


Nacha benar-benar sudah membludak. Ibarat air yang sudah penuh dan akhirnya


tumpah, seperti itulah Nacha yang sudah menahan rasa sabarnya. "Kita ini


teman! Segitu mudahnya kamu perlakukan Kayla seperti tadi? Kenapa kamu berubah


seperti ini, Bella," ucap Nacha dengan penuh kemarahan namun juga diliputi


dengan perasaan sedih. Semua itu dapat kulihat dengan jelas.


Bella tak


mengacuhkan ucapan Nacha dan langsung pergi begitu saja. Aku semakin yakin

__ADS_1


kalau Bella sudah berubah 180 derajat. Entah apa yang membuatnya seperti ini,


aku tak tahu.


__ADS_2