
Mentari di pagi hari ini begitu berseri. Sama
seperti perasaanku yang sangat senang hati. Aku tidak sabar ingin menceritakan
kejadian kemarin pada sahabatku itu, Nacha.
*K*ira-kira
seperti apa respon Nacha nanti, ya? Apa dia bakal terkejut dengar kabar kalau
aku sama Defa udah pacaran? Apa Nacha setuju aku pacaran sama Defa? Beribu pertanyaan menyerang benakku, membuat perasaan yang tadinya yakin
menjadi keraguan.
Yang aku tahu, Nacha tidak begitu menyukai
Defa. Jadi, aku takut jika Nacha tidak akan menyetujui hubunganku dengan Defa.
Aku tidak mau kehilangan Nacha, tapi aku juga tidak bisa menolak Defa. Aku dirundung
dilema.
“Kay, kemarin kamu mau cerita apa?” Nacha
langsung menyembur dengan pertanyaan itu saat dia sudah melihatku yang berada
di ambang pintu kelas, padahal aku baru saja tiba.
Aku berjalan mendekati Nacha yang sedang duduk
di kursinya, kemudian meletakkan tas di atas meja dan duduk di kursi sebelah
kanan Nacha. “Cha, aku dan Defa sekarang udah pacaran,” ucapku lirih sembari menatap
manik mata indahnya.
Konjungtivanya melebar. Bibirnya terngangga,
sehingga mulut dan giginya kelihatan. Aku yakin respon Nacha saat ini seperti
orang yang sedang shock berat. “Kok
bisa kamu pacaran sama Defa?” tiba-tiba Nacha membuka suara yang lumayan besar.
Aku refleks menutup mulut Nacha. “Eemm muaaap,” ucapnya dengan nada yang
sedikit tidak jelas karena mulutnya masih aku tutup rapat. Lalu, aku menarik
tanganku yang berada di bibir Nacha agar dia bisa berbicara. “Kok bisa kamu
pacaran sama Defa, Kay?” Nacha mengulang lagi pertanyaannya, tapi kali ini
dengan suara yang benar-benar lirih, seperti tiupan angin.
“Kasih tau ngga yaaa…?” kataku memalingkan
wajah dari Nacha dan mengetuk-ngetuk dagu dengan jari telunjuk.
Puuuk….
Suara tepukan tangan seseorang ke meja yang
berasal dari belakangku mengalihkan pembicaraan kami. Aku tak sadar kalau dari
tadi ada Reina di situ. Aku sedikit terkejut, takutnya Reina mendengar semua
omonganku dengan Nacha dari tadi. Reina bangkit berdiri dan berjalan keluar
ruang kelas.
“Chaa…, Reina dengar ngga ya omongan kita dari
tadi?” tanyaku pada Nacha sedikit panik.
“Dia tau juga ngga ada urusannya, hahaha,”
jawab Nacha santai kemudian diikuti gelak tawa khasnya.
“Seriusan ngga jadi masalah, ‘kan?”
“Ngga, Kayla.” Nacha menggelengkan kepala.
“Udah buruan kasih tau, kenapa kamu sama Defa bisa pacaran?” tanyanya lagi yang
masih begitu penasaran.
“Kenapa ya?” tanyaku balik yang membuat Nacha
sedikit kesal.
__ADS_1
“Iaah…, buruan kasih tau. Jangan suka buat
orang penasaran lah, Kay.”
“Iyaa, Cha ngga tau kenapa alasannya,” jawabku
serius yang membuat Nacha memasang raut bingung. “Karna cinta mungkin. Soalnya,
ngga ada alasan buat mencintai seseorang, karena cinta itu tanpa syarat. Kalau
ada syaratnya, berarti itu kontrak dong.”
Nacha tertawa tipis mendengar jawaban dariku,
kemudian dia berbicara, “Bisa ngelawak juga ya, Kay. Iya benar, cinta emang
tanpa syarat. Tapi banyak factor yang bisa membuat kamu jatuh cinta sama
seseorang. Mungkin aja karena dia baik sama kamu, atau karena dia selalu ada
untuk kamu.”
“Defa
itu menarik, Cha.”
“Menarik gimana?”
“Setiap dia ada di dekatku, aku ngerasa
bahagia sama dia. Orangnya kadang suka usil, hehe.” Aku cengar-cengir
menceritakan tentang Defa.
“Terus gimana caranya dia nembak kamu?”
Emang seperti itulah Nacha. Di balik diamnya
selama ini ke orang-orang, tenyata Nacha adalah tipe orang yang sangat
penasaran.
“Mau dengeri ceritaku yang sepanjang rel
kereta api?” godaku
Nacha hanya mengangguk dan menatapku dengan
awal kedekatanku pada Defa yang tidak diketahui oleh Nacha. Tak ada sedikitpun
yang ketinggalan atau kututupi dari Nacha. Because,
I trust her.
---o0o---
"Cha, apa Bella
ngga bisa bareng kita lagi?" tanyaku saat lonceng baru saja berbunyi,
menandakan seluruh siswa-siswi dapat beristirahat.
Biasanya saat jam
istirahat seperti ini, Bella sudah langsung berada di depan kelasku. Sering
juga ia sudah menunggu di depan kelasku saat bel istirahat belum berbunyi.
Entah emang dia cabut mata pelajaran atau karena gurunya yang sudah keluar
terlebih dahulu. Entahlah..., yang pasti saat ini, aku benar-benar rindu Bella,
di mana dulu menghabiskan waktu bersama saat jam istirahat maupun saat pulang
sekolah. Entah kesibukan apa yang membuat Bella tidak bisa bersama lagi dengan
kami.
"Belum
waktunya, Kay. Nanti juga kita bisa bareng-bareng lagi. Sebenarnya aku juga
kangen bisa bareng-bareng sama Bella lagi." Raut wajah Nacha tampak sedih.
"Udah, Cha,
jangan sedih. Kita berdoa saja, semoga kita bisa seperti dulu lagi,"
kataku mengulas senyum tulus. Aku berusaha menghibur Nacha dengan senyuman ini
__ADS_1
agar dia tidak bersedih lagi. Kalau bisa dibilang sih ya, ini adalah senyum
palsu yang sebenarnya dibaluti banyak lara.
"Amin. Ya
sudah ayuk kita istirahat, Kay," ajak Nacha yang langsung menarik tanganku
secara paksa untuk mengikuti langkah kakinya yang akan menuju ke pintu keluar
kelas.
Setibanya di
depan kelas, aku dan Nacha dikejutkan dengan seseorang yang tak asing lagi, sudah
berdiri di koridor depan kelas. Ya, dia Bella.
Aku dan Nacha
sempat gembira, sebelum akhirnya tahu maksud dan tujuan Bella ke sini hanyalah
ingin bertemu dengan Reina. Bella sama sekali tak menyapa aku dan Nacha, padahal
kontak mata kami sudah bertemu.
"Hai, Na.
Yuk."
Hanya itu yang
kudengar dari mulut Bella, bermaksud mengajak Reina entah kemana. Apa Bella
melupakanku dan Nacha? Tapi kenapa? Apa Bella termaksud tipe orang yang
melupakan kawan lama hanya karena mendapatkan kawan baru? Atau... apakah aku
dan Nacha pernah berbuat salah padanya, sehingga ia tidak mau lagi bersama
dengan kami? Begitu banyak pertanyaan yang menyerang benakku. Aku tak paham
dengan semua ini.
"Bella
tunggu," kataku yang membuat langkah kaki Bella dan Reina terhenti..
"Apa?"
katanya datar.
Aku sama sekali
tidak tahu kenapa Bella bisa berubah 90 derajat seperti ini. Bella yang kukenal
dulu sangat ramah dengan ekspresinya yang ceria, namun sekarang sosok
dihadapanku ini benar-benar bukan seperti Bella yang ku kenal.
Aku terdiam,
masih berkutat dengan perubahan Bella.
"Kalau ngga
ada yang diomongi, aku pergi dulu. Bye," ucapnya yang membuatku semakin
membeku. Ralat, Bella bukan berubah 90 persen, tapi setelah dia berkata seperti
itu, seakan-akan membuat Bella berubah 180 derajat.
"Bella
tunggu," teriakan Nacha membuat langkah kaki mereka terhenti lagi. Emosi
Nacha benar-benar sudah membludak. Ibarat air yang sudah penuh dan akhirnya
tumpah, seperti itulah Nacha yang sudah menahan rasa sabarnya. "Kita ini
teman! Segitu mudahnya kamu perlakukan Kayla seperti tadi? Kenapa kamu berubah
seperti ini, Bella," ucap Nacha dengan penuh kemarahan namun juga diliputi
dengan perasaan sedih. Semua itu dapat kulihat dengan jelas.
Bella tak
mengacuhkan ucapan Nacha dan langsung pergi begitu saja. Aku semakin yakin
__ADS_1
kalau Bella sudah berubah 180 derajat. Entah apa yang membuatnya seperti ini,
aku tak tahu.