
Aku berusaha duduk di atas ranjang ini. Bosan rasanya, bila harus berbaring terus-menerus. Namun, tiba-tiba saja, pria dan wanita asing itu datang kembali ke ruangan tempatku di sini.
"Kamu udah mendingan, Sayang?" tanya wanita yang berparas cantik itu. Mungkin, usianya sudah tua. Namun, parasnya tidak ikut menua seperti usianya.
"Udah, Ma." aku memanggilnya dengan sebutan 'Mama'. Awalnya aku ragu, untuk memanggilnya seperti itu. Karena, kalau dilihat dari wajah mereka berdua, aku sama sekali tidak ada kemiripannya dengan mereka. Wajah mereka yang blasteran kebarat-baratan. Cantik dan ganteng. Sedangkan aku? Kalau diraba saja sudah tahu bahwa parasku tidaklah elok, melainkan jelek dan kusam.
"Tadi apa saja yang dibilang dokter sama kamu?"
"Dokter bilang, kondisi aku sudah mulai membaik, Ma," ucapku yang membuat raut wajahnya begitu kegirangan. Aku tak tahu, mengapa dia begitu senang, jika aku panggil 'Ma'? Apa mungkin benar, dia itu tidak mamaku? Kalau dilihat dari kasih sayangnya tadi itu, seperti kasih sayang seorang ibu yang sesungguhnya. "Omong-omong, kenapa aku tidak bisa mengingat apa pun?" Pertanyaan inilah yang dari tadi ingin kutanyakan. Dokter tidak mengatakan apa pun padaku selain kata yang tadi.
Tek... Tek...
Hanya suara jam dinding berdetak yang kedengaran di ruangan ini. Entah mengapa suasana menjadi sehening ini. Apa papa dan mama tidak ingin memberitahuku?
"Kamu mengalami amnesia, Sayang," ucap papa dengan nada yang begitu kecil. Mungkin papa takut, kalau aku bakalan tidak terima dengan penyakit hilang ingatanku ini. Ya ampun, Pa. Aku tidak begitu. Aku bakalan terima apa pun yang terjadi padaku. Karena mungkin, itu kesalahanku sendiri atau emang aku sudah ditakdirkan seperti ini.
"Ooo!" ucapku santai. Aku mau menunjukkan pada papa dan mama, bahwa aku mampu menerima semua ini. Tapi, ada satu pertanyaan yang ingin kutanyakan lagi sejak tadi. "Terus nama aku siapa, Pa?" Aku tanyakan itu pada papa, karena tadi papa lah yang menjawab pertanyaanku mengenai penyakit yang kuderita. Namun, seketika suasananya kembali lagi hening. Aku benci suasana ini. Suasana di mana kedua orangtuaku canggung untuk menjawab pertanyaan-pertanyaanku. "Kenapa diam, Pa, Ma?" tanyaku kembali, mencairkan suasana yang sedikit canggung ini.
"Oh. Nama kamu Kayla, Sayang." Akhirnya, mama menjawab pertanyaanku juga. "Kayla Amanda Ferrour."
Aku masih tak menyangka, namaku begitu bagus untuk wajah yang pas-pasan seperti ini. Mama benar-benar pandai dalam membuat nama.
__ADS_1
"Kayla? Bagus ya namanya." Aku menyunggikan senyum manis pada mama dan papa. Merasa berterima kasih telah memberikan nama yang sebagus itu, walaupun aku tak ingat bagaimana pendeta membaptis namaku. "Kalau nama papa dan mama?" Mungkin saja, nama papa dan mama juga cantik, makanya namaku bisa begitu cantik.
"Nama papa, Kevin Ferrour, kalau nama mama, Keysa Samitha Ferrour." Benarkan... nama mereka bagus. Aku sempat berpikir, mengapa setiap nama belakang kami Ferrour? Ah, mungkin saja itu nama keluarga.
Tapi, coba aku tanya. Mana tahu prediksiku salah. "Ma, Pa, Kenapa nama belakang kita Ferrour ya?"
"Karena Ferrour itu nama keluarga kita. Papa kamu asli dari Prancis yang pindah ke sini. Nah, nama Ferrour itu nama keluarga Papa. Mama tambahi nama Ferrour, karena itu sudah jadi kewajiban di keluarga papa kamu, Sayang," jelas mama yang sudah membuatku sedikit mengerti.
Ya Tuhan, aku bersyukur sekali, ketika aku bangun dari mimpi buruk, kedua orangtuaku sudah menyambutku dengan riang. Bahkan, aku bersyukur untuk nama yang Tuhan titipkan kepada kedua orangtuaku ini.
Tok.... Tok.... Tok....
"Kamu mau cepat keluar dari rumah sakit ini, 'kan?" tanya mama yang masih memaksaku untuk memakan makanan hina ini.
"Ga mau, Ma. Kayla ga suka. Geli tau," ucapku manja pada mama. Baru beberapa saja bubur itu kutelan, sudah berhasil membuatku bergidik. Bagaimana tidak? Bubur yang masuk itu selalu saja menggelitikkan tenggorokkanku.
"Ayolah, Sayang. Satu suap lagi," ucap mama memohon.
Ah, itu jurus jitu yang mama keluarkan dari tadi. 'satu suap saja'. Padahal, dari tadi aku sudah menelan itu. Namun, mama memintaku lagi untuk menyantapnya satu suap lagi. Begitu saja terus... sampai buburnya habis kumakan gara-gara kata 'satu suap lagi'.
"Dari tadi Mama bilang, satu suap lagi. Tapi ini udah suapan yang ke empat, Ma!" aku mencoba protes. Sedangkan mama hanya menggelak tawanya.
__ADS_1
"Ya, sudah. Kalau begitu... kali ini papa yang minta."
Ah papa, kumohon tolong anakmu yang cantik ini. Jangan ikut-ikutan mama.
"Tiga suap lagi, ya, Sayang," ucap papa memohon. Papa memasang wajah imut-imutnya. Kebayang 'kan gimana ekspresi pria yang kita lihat cool tiba-tiba memasang ekspresi imut-imut yang dibuat-buat. Rasanya itu.... Seperti ingin muntah melihatnya. Hahaha... Maaf papa, hanya becanda saja 'kok.
Okey, back to topic.
What?! Tiga suap lagi? Papa benar-benar tega. Tidak tahu apa? Tiga suap itu sama saja dengan aku menghabiskan semua bubur itu. Ah... papa kejam.
"Ga mau, ah." Aku menolak permintaan papa. Benar-benar tidak tahu perasaanku saja.
'Ah, papa dan mama jahat,' batinku mengumpat.
Namun, wajah papa dan mama langsung terlihat sedih. Aku merasa iba dan berdosa pada mereka.
"Ya sudah deh. Aku makan," ucapku yang langsung membuat mereka menyulam senyum. Hah! Benar-benar acting yang bagus ya Ma, Pa.
"Aaak...." Mama menyodorkan sendok itu padaku. Dengan terpaksa kubuka mulut yang seharusnya sudah ingin kukunci rapat-rapat dan kuncinya kubuang ke got, agar tidak bisa diambil lagi, karena tahu sendiri baunya got gimana 'kan?
"Cakep..., anak mama pintar sekali." Mama mengecup lembut keningku dan memelukku lembut saat bubur itu sudah habis kutelan karena jurus jitu mereka berdua. Papa juga memelukku dan mengacak-acak rambutku, membuat rambutku semakin berantakan.
__ADS_1