Bingkai Lara

Bingkai Lara
Keluar Rumah Sakit


__ADS_3

Pagi-pagi seperti ini, aku telah mendengar kabar baik. Akhirnya setelah sebulan lamanya aku di sini, Dokter Fanny mengizinkanku keluar dari tempat yang penuh penyiksaan. Aku benci berada di rumah sakit. Aku benci sakit. Aku benci harus memakan bubur setiap harinya. Aku benci jarum suntik, itu sangat menyakitkan. Tapi, aku gak benci kamu kok pembaca ceritaku, hehe....


Okay cukup. Back to topic.


Seharusnya besok aku baru diizinkan pulang dari sini. Karena aku benar-benar tidak tahan, aku membujuk papa supaya papa bicara pada Dokter Fanny untuk membawaku pulang hari ini, karena kutahu dari obrolan papa dan mama yang mengatakan bahwa Dokter Fanny adalah teman dekat mereka.


"Tapi di rumah nanti, kamu harus jaga kondisi, ya, jangan sampai drop, jangan terlalu capek, jangan memikirkan apa pun tentang masa lalumu. Jangan sampai stress lah pokoknya," omel Dokter Fanny. Mungkin, dia kesal padaku karena aku bolak-balik merengek minta pulang. "Harus tetap makan bubur," lanjutnya tersenyum penuh dengan kemenangan.


Tidak adil! Mengapa dia masih saja menyuruhku makan-makanan yang hina itu, sih? Dia mau mengerjaiku, ya?!


Aku melemparkan tatapan yang begitu tajam pada Dokter Fanny, dan raut wajah yang begitu menandakan tidak suka. "Ga mau," ucapku dengan nada yang sedikit tertekan. Ketus.


Dokter Fanny yang melihatku langsung tergelak. Ia benar-benar tertawa terbahak-bahak. Apanya yang lucu coba? "Kamu mirip sama anak saya," ucapnya yang menyama-nyamakanku dengan anaknya. Apanya yang sama coba? "Dia juga tidak suka makan bubur. Saat dikerjai begini, tingkahnya sama seperti kamu," kata Dokter Fanny sambil menekan pada kata 'dikerjai'.


Jadi dari tadi dia mengerjaiku, ya?


"Jadi dari tadi, aku dikerjai?" tanyaku yang masih kesal namun menunjukkan ekspresi yang tidak percaya. "Jadi, aku ga harus makan bubur lagi, 'kan?" Aku menyakinkan opiniku.


Mama dan Papa yang melihat kami berdua hanya bisa ikut tergelak pelan saat mengetahui aku telah dikerjai oleh dokter sialan ini. Kalau saja dia bukan dokter yang telah menyembuhkanku, bisa saja kusikat dia pakai sikat gigi. Becanda. Ya kali, emang aku mau nyikat giginya apa? Lagian juga, mama dan papa pasti tahu bahwa aku dikerjai Dokter Fanny. Kenapa kalian tidak memberitahuku. Kalian tidak memihakku. Papa lagi, sudah dua kali tak berada dipihakku.


"Iya," ucap Dokter Fanny melemparkan senyum menawannya padaku. Dia merasa tak bersalah walau telah mengerjaiku. "Usia kamu sama dia juga sama loh."


"Sama?" ucapku mengulang perkataannya menjadi sebuah tanda tanya.


"Iya. Nanti kamu bakalan satu SMP sama dia," ucapnya terlihat begitu gembira. "Di SMP kamu yang baru."


Hah?

__ADS_1


Aku menyorong kepalaku sedikit maju, dan mulutku terbuka mengangga. "SMP baru?" tanyaku memastikan ucapannya.


"Hmm...." Terlihat papa yang sedang berdeham di atas sofa. Papa berdiri dan berjalan mendekatiku. "Sayang, mulai besok kamu udah ada di sekolah baru." Papa memperjelas ucapan Dokter Fanny.


"Kenapa, Pa?" tanyaku yang merasa heran.


Tek.... Tek....


Lagi-lagi suara dentingan jarum jam yang selalu kudengar, saat aku menanyakan hal-hal yang mungkin sulit mereka jawab. Mereka itu kenapa, sih? Takut aku tidak terima atau mencari alasan untuk berbohong?


"Itu ga usah kamu pikirkan. Yang penting 'kan, kamu besok udah mulai bersekolah," ujar Dokter Fanny yang meredam suasana hening tadi.


"Hm...." Aku hanya berdecak, menerima perkataan Dokter Fanny. Aku juga seharusnya bersyukur, masih diberi kesempatan untuk bersekolah, walaupun mengalami hilang ingatan seperti ini. "Kita beres-beres, yuk, Ma, Pa. Kayla udah benar-benar gerah di sini," lanjutku.


---oOo---


Aku masih belum percaya telah berada di sini. Rumah yang kupunya ternyata lebih besar dari yang kuperkirakan tadi di sepanjang jalan. Di rumah ini, apa pun yang kuingini tersedia. Bagaikan surga dunia. Kolam renang ada, taman ada, perpustakaan ada. Namun, yang paling membuatku takjub adalah, kamar tidurku yang begitu besar. Aku sering mengira, bahwa aku masih tertidur dan bermimpi menjadi putri di kerajaan-kerajaan dongeng.


"Pa, Ma, bangunkan aku," ucapku yang masih menerawang ke seluruh sisi yang ada di kamar tidurku. Kamar yang kira-kira berukuran 8 x 10 m. Benar-benar besar bukan? Aku mendelik ke sisi yang lainnya, terdapat ranjang tidurku yang di atasnya ada atap. Aku sempat berpikir, ini ranjang atau rumah?


Papa dan mama menyernyitkan alis dan dahinya saat mendengar ucapanku itu, lalu papa mencubitku. Aku mendesah kesakitan, tapi mereka malah tertawa terbahak-bahak. "Sudah bangun, Tuan Putri?" tanya papa meledekku.


Ternyata benar, ini bukan mimpi. Inilah kehidupan baru yang kulupakan.


"Kamu istirahat, ya. Mama mau ambil obat kamu," ucap mama yang ingin beranjak pergi, namun berhenti kembali karena aku menahannya.


"Obat apa lagi, Ma? Aku 'kan sudah sembuh." Aku menyernyit heran dan mama hanya menunjuk ke arah lenganku dengan mata serta dagunya, lalu pergi.

__ADS_1


Aku melihat ke arah lenganku, dan sedikit terkejut saat melihat banyak sekali bekas-bekas sayatan yang ada padaku. Bodohnya aku, kenapa aku baru menyadarinya sekarang?


Tiba-tiba air mataku menetes, aku tidak tahu mengapa. Papa yang menyadarinya segera menenangkanku dan memapahku menuju kasur kerajaan itu.


"Sudah..., jangan dipikirkan tentang luka yang ada pada lengan kamu, Sayang," ucap papa menenangkanku dan menghapus air mataku, saat aku dan papa sudah duduk di sisi ranjang.


"Baiklah, Pa." Kalau sudah papa yang meminta, aku tidak mau menolaknya. Aku menyunggingkan senyum, semakin menggembungkan pipiku yang tergolong cubby ini, dan papa mencubit lembut pipiku yang semakin menampakkan cubby-nya. "Sakit, Papa," ucapku yang berpura-pura kesakitan. Namun, papa memeluk tubuhku.


"Papa saja yang dipeluk? Mama tidak?" tanya mama yang entah dari mana tiba-tiba muncul begitu saja. Aku sama sekali tidak mendengar derap kakinya. Mama sudah seperti Kuroko, tokoh anime Kuroko No Basket yang kutonton untuk mengisi kekosongan saat di rumah sakit.


Aku melepaskan pelukan papa, dan berlari mendekati mama, ingin memeluknya. "Aduh, Ma. Kayla engga bisa bernapas ini. Mama kencang banget meluk Kayla. Serasa Kayla bakalan ninggalin Mama aja." Dengan badan yang secebol ini, mama memelukku dengan sangat erat. Namun, pelukan itu masih tetap lembut dan hangat untukku. Aku benar-benar merasakan kebahagiaan yang tak habis-habisnya.


Mama yang mendengar ucapanku itu langsung melepas pelukannya dan menatapku. Ia hanya tersenyum manis, memperlihatkan deretan giginya yang begitu tersusun apik. Sangat berbeda dengan gigiku, yang bertimpah-timpah. Namun, meski memiliki gigi yang seperti ini, jika aku tersenyum masih terlihat menawan. Lalu, mama kembali memelukku lagi, diikuti papa dari belakang.


Terima kasih, Tuhan. Aku memiliki keluarga yang sangat baik. Aku memejamkan mata, berdoa untuk berterima kasih pada keindahan yang masih Tuhan berikan padaku, dan kembali memeluk kedua orangtua yang begitu kucintai.


"Udah, ah acara peluk-pelukannya. Kita macam mau berpisah saja," ucapku melepas perlahan-lahan pelukan mama dan papa. Sebenarnya, aku tak ingin melakukannya, namun terlihat sangat aneh bila harus berpelukan selama ini.


"Ih, Sayang. Jangan dilepas," ucap Mama dan kembali menarikku ke dalam pelukannya lagi. "Sepuluh detik lagi, ya," pinta mama yang membuatku dan papa tersenyum kekeh.


Sepuluh menit telah berlalu, dan kami telah menghentikan aksi peluk-memeluk itu. Walaupun hal yang konyol, namun itu membuatku benar-benar bahagia. Serasa dunia ini milik keluarga kami, yang lain itu cuma menumpang. Maaf, aku sedikit merubah kata-katanya.


"Papa tinggal dulu, ya. papa mau kembali kerja," pamit papa padaku dan mama. Lalu pergi meninggalkan kami.


Aku masih belum tahu, pekerjaan papa apa. Tapi, jika dilihat dari rumah yang begitu besar, dan kesibukan papa yang bahkan jarang melihatku di rumah sakit, mungkin saja pekerjaan papa sangat hebat.


"Yuk, kita obati luka kamu," ucap mama yang langsung menarikku kembali ke sisi ranjang, lalu mengobati luka-lukaku dengan sangat pelan-pelan hingga membuatku tidak mendesah sakit sedikitpun. Lalu ia membalut bekas-bekas sayatan itu, hingga tidak terlihat lagi. Mama sudah seperti seorang suster profesional.

__ADS_1


"Makasih ya, Ma," ucapku saat mama sudah mengakhiri mengobati luka-lukaku.


"Sama-sama, Sayang." Seutas senyum manis disunggingkan di bibir tipis mama, memperlihatkan lengkungan bibir yang hampir selengkung bulan. "Mama tinggal dulu, ya. Kamu istirahat saja di sini. Besok kamu udah mulai sekolah, jadi kumpulkan seluruh kekuatan kamu untuk besok." Mama menggeser tubuhku untuk berbaring. Dan mengelus-elus lembut kepalaku seraya menyanyikan lagu 'nina bobok'. Aku diperlakukan mama seperti anak kecil berusia dua tahun yang ingin tidur.


__ADS_2