Bingkai Lara

Bingkai Lara
Rak Buku Cinta


__ADS_3

Nah ... itu buku yang aku cari. Tapi, bukunya berada di atas. Gimana caraku mengambilnya? Rak buku itu jauh lebih tinggi dibandingkan denganku. Kalau minta bantuan Pak Saleh, engga mungkin. Dia masih sibuk. Minta bantuan Defa? Karena cuma dia orang yang ada di sini selain aku dan Pak Saleh. Tapi, engga mungkin...! Nanti ujung-ujungnya dia ngatain aku 'modus' lagi.


Aku sibuk mencari-cari cara, agar mendapatkan buku Detik-detik Bahasa Inggris kelas IX itu. Mataku melirik ke penjuru arah, barangkali ada kursi yang cocok dipijak. Engga mungkin kursi yang di ruang baca, karena kalau kursi yang berada di situ tidak boleh digeser-geser apalagi dipijak. Bisa-bisa Pak Saleh marah sama aku, terus engga mau temanan lagi sama aku. Kurang deh satu temanku. Hahaha....


Mataku menangkap satu titik tujuan. Ya, kursi plastik yang lagi menganggur berada tak jauh dari tempatku. Aku mengambil kursi itu dan membawanya ke tempat tujuanku dan beranjak naik. Tiba-tiba saja, kursi itu terjatuh karena kaki kursi itu patah. Lagi-lagi bokongku mencium lantai perpustakaan.


"Haha .... Haha ...." Suara tertawa terbahak-bahak seperti itu, siapa lagi jika bukan Defa. "Lo kenapa? Dari tadi jatuh mulu," ledeknya yang membuat wajahku semakin menjadi-jadi. Warna merah sudah hampir menutupi warna kream kulit wajahku. "Grogi liat gue?" Nada humor kentaranya justru semakin membuat kupingku panas. Rasanya aku mau meledak aja di sini.


"Gak usah ge-er deh kamu." Seringai ku sungging apik.


"Mau ngambil buku itu?" Defa menunjuk ke arah buku yang ku tuju. "Kenapa ga minta tolong sama gue aja tadi?"


Dwaar!


Entah mengapa, ucapannya seperti peluru yang menembak hatiku. Ini bukan peluru biasa. Ini seperti peluru... peluru apa ya. Yah, intinya peluru. Peluru yang membuatku malu dan merasa bodoh.


Dengan mudahnya Defa mengambilkan buku tujuanku tanpa jinjit sedikitpun. Memang enak, ya, punya badan yang tinggi. Bisa menggapai apa pun yang ingin diambil.


"Ini." Defa menyodorkan buku yang kuinginkan itu. "Makasih, ya," ucapnya dengan nada humornya. Tapi itu membuatku bergidik ngeri.


"Kenapa kamu yang bilang makasih?" Aku masih merasa bingung dengan ucapan Defa. Apa ada maksud lain dibalik ucapannya?


"Makasih, karena lo udah buat gue ketawa dengan tingkah lo dari tadi." Defa masih sedikit tergelak. "Lo udah buat gue hampir lupa sama pr gue," lanjutnya setelah menghentikan tawanya.


Aku mengerutkan dahi, masih belum paham dengan ucapannya. "Maksud kamu, apa?"


"Pr gue buaaaaanyaaaak.... Buanyak banget." Defa membuat tangan kanannya mengelilingi wajahnya. "Dan lo udah kaga buat gue stres lagi." Dia pun menyulam senyum menawannya. Ah sungguh menawan.


"Pr apa emang? Dan kamu ngapai di sini?"


Kenapa aku jadi kepo gini, ya sama Dia? Ah, dasar mulut!


"Pr IPA, dari Pak Beni. Lo tau. 'kan, dia itu begimana?"

__ADS_1


Aku mengangguk mengerti. Aku tahu gimana killer-nya guru yang satu itu. Guru yang tidak pernah tersenyum, dan setiap memberi pekerjaan rumah ... pasti langsung menggunung. Lumayan jika kita mengerti dengan apa yang dijelaskannya, ini sama sekali tidak mengerti.


"Nah, gue kesini, mau cari-cari buku untuk pr yang sama sekali belum kami pelajari di kelas."


Memang seperti itulah Pak Beni. Beliau memberi pekerjaan rumah, tapi tak pernah tahu dari mana asal soal-soal itu. Terkadang, materi yang disampaikan juga berbeda dengan materi yang seharusnya.


Bagaimana muridnya bisa pintar?


"Oh!" Aku mengangguk lagi. "Terus kenapa kamu ke rak kelas XII?"


Astaga mulut, kenapa banyak banget tanyanya.


"Kepo. Haha...," ucapnya kemudian tertawa.


Aku mendengus kesal.


"Ga enak ... gue berantam sama Bella. Jadi, dia ga bisa ngerjai pr gue lagi," keluh Defa yang membuatku mendengus menahan tawa. "Lo mau engga ngerjai pr gue? Kalau ga mau ga pa-pa sih. Gue ga maksa."


Aku melongo, menatap tajam kearahnya. "Gak," jawabku ketus. "Kalau mau itu pr selesai, kita kerjai bareng-bareng saja." Aku memberi penawaran kepadanya.


"Belajar bareng," jawabku singkat, padat, dan jelas.


"Belajar bareng? Gue gitu sama lo?"


Aku mengangguk. "Kalau kamu engga mau, ya... engga pa-pa." Aku menggidikkan bahu tidak peduli.


"Eh, iya-iya... gue mau. Tapi, kapan?"


"Pulang sekolah, ya. Di rumahku," jawabku yang membuat Defa mengangguk paham. "Ya sudah, aku balik dulu ke kelas, ya. Entar lagi juga mau masuk."


---oOo---


Setiba di kelas, aku melihat pemandangan yang luar biasa aneh. Ya, teman-teman sekelas ku pada sudah heboh dengan buku dan pulpen.

__ADS_1


Ada yang berteriak-teriak tak jelas, "Woii... contekan."


Ada yang heboh narik-narik buku orang lain. "Gue pinjam dulu. Bentaran aja." Hingga buku yang diperebutkan robek.


Ada yang hampir frustrasi. "Gue belum belajar. Nilai gue anjrok dah ini."


Ada yang sibuk dengan hapalannya dan jika belum hapal, kepalanya dipukul-pukul seperti orang depresi. "Ini rumusnya apaan sih."


Mereka semua kenapa, ya? Kenapa kayak pasar aja?


"Pagi, Kayla," sapa Nacha saat aku sudah tiba di bangkuku.


"Pagi, Nacha." Aku membalas sapaan Nacha. "Mereka semua kenapa, ya?" tanyaku bingung melihat aksi konyol teman-temanku.


"Oooh... itu, hari ini ada pr yang menumpuk dari Pak Harianja, sekaligus ulangan mendadak."


What? Pekerjaan rumah? Ulangan mendadak? Astaga! Cobaan macam apa ini?


"Apa? Pr? Ulangan?" Mataku terbelak tak percaya. "Kenapa kamu engga bilang?" aku menyeringai ke arah Nacha yang sedang sibuk dengan hafalannya.


Nacha mengabaikan hafalannya dan menatap kearah ku dengan tatapan tajam khas miliknya. "Kamu anak baru, bapak itu pasti ngasih kesempatan." Nacha menatapku cengar-cengir lalu kembali lagi pada buku-bukunya.


"Masa iya sih?" tanyaku tak percaya. Namun, tak ada jawaban sama sekali dari Nacha. "Cha, hari ini kita belajar bareng, yok?"


Nacha hanya menjawab ajakan ku dengan gumaman yang sedikit kuat. Dia masih terlalu fokus menghafal rumus-rumus untuk ujian mendadak nanti. 


Tak lama kemudian, Pak Harianja datang membuat suasana kelas menjadi lebih tegang.


"Tutup bukunya kita ujian sekarang," titah Pak Harianja yang langsung dikerjakan murid-murid XI-1 "Buat kamu anak baru, kamu tidak usah ikut ujian dan diam di tempat tanpa membantu temanmu." Pak Harianja menunjuk ke arahku.


Huh.... Aku menarik napas lega. Akhirnya aku tidak diikutkan untuk ujian mendadak itu. Untung ucapan Nacha benar. Kalau tidak, bisa dipermalukan nilai aku nantinya.


---o0o---

__ADS_1


Gaaesss mohon dukungannya dengan vote, like dan komen kalian yaa. Mau tau apa aja yang terjadi saat belajar bareng nanti? Ikuti teruss yaa.


__ADS_2