Bingkai Lara

Bingkai Lara
Makna Jamur


__ADS_3

Bel istirahat terdengar nyaring. Waktu pelajaran Pak Beni habis dipakai


hanya untuk memeriksa tugas-tugas kelas IX-10.


"Cha, Bella kenapa engga pernah bareng kamu lagi? Kyaknya dia selalu


menghindar dari aku. Apa kamu tau sesuatu?" ujarku saat Pak Beni sudah


meninggalkan kelas kami dan diiringi dengan sebagian murid-murid yang ingin


keluar kelas.


Nacha menggeleng, "Engga tau, Kay. Aku juga bingung."


"Aku merasa dia menghindariku, Cha."


"Mungkin, itu perasaan kamu aja."


Baru dibicarakan, Bella sudah berdiri di ambang pintu kelasku. Sepertinya


dia sedang mencari seseorang.


Aku menghampiri Bella yang masih berdiri di depan kelasku. "Cari


siapa, Bel?"


Bella tak meresponku. Justru dia melongos pergi dari hadapanku. Bella


menghampiri Nacha yang masih duduk di bangkunya. Sepertinya mereka sedang membicarakan


sesuatu yang penting.


Tak lama kemudian, Bella pergi dari kelasku. Melewatiku yang masih berdiri


di depan kelas begitu saja. Aku merasa yakin, kalau Bella benar-benar


menghindariku. Aku juga penasaran dengan apa yang dibicarakan Bella pada Nacha


tadi.


"Cha, tadi Bella bilang apa?" tanyaku pada Nacha yang sedang


memasang headseat ke kupingnya.


Hening. Nacha tak merespon ucapanku. Mungkin Nacha berpura-pura tak


mendengarkan ucapanku atau memang lagu yang diputarnya sudah mencapai volume


maksimal.


"Nacha," panggilku sekali lagi, memastikan. Namun, Nacha belum


juga menjawabku.


Karena kesalnya, aku melepas headseat Nacha dari telinga kanannya. Otomatis, Nacha melihatku.


"Tadi bicarain apa aja sama Bella?" tanyaku dengan nada


menyelidik.


"Tadi Bella cuma bilang, dia ngga bisa bareng kitabeberapa hari ini. Katanya sih, dia


punya urusan lain. Tapi aku ngga tau apa itu,” jelas Nacha kemudian ia memasang


kembali headseat yang sempat aku


lepaskan dari telinga kanannya tadi.


---o0o---


Sudah sepuluh menit aku menunggu dijemput. Sekolah juga sudah lumayan sepi.


Paling yang masih berada di sekolah, anak-anak yang mengikuti ekstrakulikuler.


Tiba-tiba ponsel yang berada di saku rok sekolahku berdering. 'Ku raih ponsel


itu dan membaca nama pemanggil yang tertera di layar. Mama. Kuangkat panggilan


itu.


"Ya, halo, Ma."


"Sayang, kamu pulang naik taxi aja, ya. Mama ga bisa jemput. Mama


kejebak macet di Binjai. Parah banget macetnya." Mama langung menyambar


dari balik telepon.


"Papa juga ga bisa jemput Kayla, Ma?"


"Papa tadi pigi ke Jakarta lagi. Kamu naik taxi aja. Ongkosnya pake


dulu uang jajan kamu yang bersisa. Nanti mama ganti."

__ADS_1


"Iya, Ma," jawabku dengan nada bersedih.


"Uang jajan kamu masih bersisa kan, Sayang?"


"Masih, Ma."


"Ya sudah Mama tutup teleponnya, ya."


Tak lama, percakapan maya itu terputus secara sepihak.


Aku berjalan ke depan gerbang Sinar Bangsa dengan perasaan yang bercampur


aduk. Perasaan kesal karena sudah menunggu lama dan perasaan sedih karena tidak


jadi dijemput.


Setiba di depan gerbang Sinar Bangsa, aku menunggu taxi yang akan lewat.


Teet....


Mobil honda jess berwarna putih yang sudah tak asing lagi bagiku, berhenti


di depanku secara tiba-tiba. Seseorang membuka kaca pintu mobilnya. Ya, dia


Defadan.


"Ga pulang lo?" Defa menguarkan kepalanya sedikit dari pintu yang


kacanya sudah terbuka lebar.


"Lagi nunggu taxi, Def."


"Engga di jemput, Kay?"


"Engga. Mama kejebak macet di Binjai."


"Pulang bareng gue aja," tawar Defa.


Mataku melotot dan kedua alisku terangkat sehingga ada sedikit kerutan di


dahiku. "Kamu mau anter aku pulang?"


Defa mengangguk, kemudian dia keluar dari mobil dan membukakan pintu


belakang mobil untukku. "Masuk, Kay," ucapnya kemudian.


Aku mengambil langkah, memasuki mobil Defa disusul dengan Defa yang pindah


duduk. Ya, sebelumnya Defa duduk di samping kiri supir. Namun, saat ini dia sudah


Saat sudah duduk nyaman, mobil Defa pun melaju. Namun, suasana di dalam


mobil hening. Tak ada suara pembicaraan. Yang terdengar hanyalah suara mesin,


suara keributan di jalan serta suara musik yang sedari tadi dipasang Defa.


Tiba-tiba saja, cacing-cacing diperutku mengingatkanku untuk memberinya


makan. Perutku berbunyi dengan sangat kuat. Memang dari tadi, aku tidak makan,


karena tadi selera makanku menghilang.


Defa menahan gelak tawanya, "lo lapar?"


Aku mengangguk dan dalam hati mengumpat, "sialan ini perut. Lagi-lagi


buat malu dihadapan Defa."


"Kita makan dulu, ya," ajaknya. "Pak, kita ke restoran kecil


dekat sini dulu, ya," ucapnya pada supirnya.


Supir itu melirik ke spion depan, dan kemudian menjawab perintah Defa dengan


sekali anggukan.


---o0o---


Aku dan Defa mengambil tempat duduk paling pojok, dekat jendela serta piano


kecil di restoran yang bisa dikategorikan, restoran mewah. Pelayan datang


menyambut kami, dengan membawa kertas yang berisi menu makanan. Kami memilih-milih


makanan. Hingga waktu sudah berlalu lima menit, menu makanannya sudah kami


tentukan. Aku memesan nasi dengan tumis jamur kuping. Defa memesan menu yang


sama denganku, karena aku menyarankan menu yang menurutku sangatlah enak, walau


aku sedikit memaksanya.


Berselang sepuluh menit, menu-menu yang kami pesan sudah diantarkan dan

__ADS_1


diletakkan di atas meja kami. Setelah itu, pelayan itu meninggalkan kami dengan


membawa nampan.


"Kay, jamur emang bisa dimakan? Bukannya itu berbahaya, ya? Liat


warnanya saja kusam." Defa belum berani menyentuh makanan itu. Dia masih


ragu untuk memakannya, karena yang daritadi dia bilang; jamur kuping itu


berbahaya.


"Engga bahaya loh, Def." Aku mencoba meyakinkan Defa. "Jamur


kuping itu engga beracun, 'kok."


"Beneran ini?"


Lagi-lagi Defa merasa tak yakin dengan ucapanku. Apa boleh buat, hanya satu


caraku meyakinkannya; memakan tumis jamur itu. Aku langsung memakan makanan


yang tadi kupesan dengan lahap. Namun tetap saja caraku tak berhasil, karena


dari tadi Defa hanya menatapku sambil tertawa kecil, karena melihat aksi


makanku -maklum orang lapar.


Makananku sudah habis, dan piringnya bisa dikatakan bersih, tanpa bersisa


makanan sedikitpun.


"Mau sampai kapan kamu diami begitu makanannya?" Aku membersihkan


mulutku denga tissu yang dari tadi berada di meja.


"Liat lo makan, udah buat gue kenyang, Kay," rayunya.


Aku tahu, rayuan itu hanya untuk menghindari tumis jamur itu untuk


dimakannya.


"Yang bener udah kenyang?" Aku memainkan kedua alisku, naik dan


turun.


"Iya. Beneran."


"Def, ini jamur kuping, bukan jamur russula ematica. Jamur russula


ematica itu luarnya cantik dan warnanya benar-benar indah, tapi ga bisa dimakan


karena beracun," jelasku pada Defa.


"Cantik tapi beracun ya?"


"Iya. Dari jamur kita bisa belajar, untuk tidak menilai sesuatu dari


luarnya saja. Jamur yang kamu bilang warnanya kusam, ternyata bagus buat


kesehatan. Dan jamur yang warnanya cantik, bersifat racun," celetukku.


Lagi-lagi aku mengulang ucapanku yang tadi.


"Oooh...." Defa hanya berujar seperti itu, kemudian dia mulai


menyantap makanan itu, walau masih dengan perasaan yang agak dipaksakan.


"Kay... sumpah, ini enak banget," ujarnya saat sudah menelan


makanannya.


"Benerkan kata aku? Jamur kuping itu enak. Makanya, tumis jamur kuping


masuk sebagai salah satu makanan kesukaanku." Aku berujar seperti orang


yang baru saja menang mengalahkan sesuatu. Ya, memang aku menang, mengalahkan


ego Defa yang dari tadi tidak mau memakan makanan kesukaanku.


"Gila... enak banget." Defa berujar seraya memakan makanan itu


dengan lahap.


Aku berusaha menahan tawa geli karena ulah Defa yang seperti orang kampung.


"Makasih ya, Kay," ucap Defa saat dia sudah menyelesaikan


makanannya. Dia tersenyum menatap manik mataku.


Aku mengerutkan dahi, tanda tidak mengerti dengan Defa yang tiba-tiba


mengucapkan terima kasih. "Terima kasih untuk apa, Def?"

__ADS_1


Defa tersenyum tipis lalu berkata, "untuk perasaan yang


udah berhasil lo tabur di hati gue.”


__ADS_2