
Bel istirahat terdengar nyaring. Waktu pelajaran Pak Beni habis dipakai
hanya untuk memeriksa tugas-tugas kelas IX-10.
"Cha, Bella kenapa engga pernah bareng kamu lagi? Kyaknya dia selalu
menghindar dari aku. Apa kamu tau sesuatu?" ujarku saat Pak Beni sudah
meninggalkan kelas kami dan diiringi dengan sebagian murid-murid yang ingin
keluar kelas.
Nacha menggeleng, "Engga tau, Kay. Aku juga bingung."
"Aku merasa dia menghindariku, Cha."
"Mungkin, itu perasaan kamu aja."
Baru dibicarakan, Bella sudah berdiri di ambang pintu kelasku. Sepertinya
dia sedang mencari seseorang.
Aku menghampiri Bella yang masih berdiri di depan kelasku. "Cari
siapa, Bel?"
Bella tak meresponku. Justru dia melongos pergi dari hadapanku. Bella
menghampiri Nacha yang masih duduk di bangkunya. Sepertinya mereka sedang membicarakan
sesuatu yang penting.
Tak lama kemudian, Bella pergi dari kelasku. Melewatiku yang masih berdiri
di depan kelas begitu saja. Aku merasa yakin, kalau Bella benar-benar
menghindariku. Aku juga penasaran dengan apa yang dibicarakan Bella pada Nacha
tadi.
"Cha, tadi Bella bilang apa?" tanyaku pada Nacha yang sedang
memasang headseat ke kupingnya.
Hening. Nacha tak merespon ucapanku. Mungkin Nacha berpura-pura tak
mendengarkan ucapanku atau memang lagu yang diputarnya sudah mencapai volume
maksimal.
"Nacha," panggilku sekali lagi, memastikan. Namun, Nacha belum
juga menjawabku.
Karena kesalnya, aku melepas headseat Nacha dari telinga kanannya. Otomatis, Nacha melihatku.
"Tadi bicarain apa aja sama Bella?" tanyaku dengan nada
menyelidik.
"Tadi Bella cuma bilang, dia ngga bisa bareng kitabeberapa hari ini. Katanya sih, dia
punya urusan lain. Tapi aku ngga tau apa itu,” jelas Nacha kemudian ia memasang
kembali headseat yang sempat aku
lepaskan dari telinga kanannya tadi.
---o0o---
Sudah sepuluh menit aku menunggu dijemput. Sekolah juga sudah lumayan sepi.
Paling yang masih berada di sekolah, anak-anak yang mengikuti ekstrakulikuler.
Tiba-tiba ponsel yang berada di saku rok sekolahku berdering. 'Ku raih ponsel
itu dan membaca nama pemanggil yang tertera di layar. Mama. Kuangkat panggilan
itu.
"Ya, halo, Ma."
"Sayang, kamu pulang naik taxi aja, ya. Mama ga bisa jemput. Mama
kejebak macet di Binjai. Parah banget macetnya." Mama langung menyambar
dari balik telepon.
"Papa juga ga bisa jemput Kayla, Ma?"
"Papa tadi pigi ke Jakarta lagi. Kamu naik taxi aja. Ongkosnya pake
dulu uang jajan kamu yang bersisa. Nanti mama ganti."
__ADS_1
"Iya, Ma," jawabku dengan nada bersedih.
"Uang jajan kamu masih bersisa kan, Sayang?"
"Masih, Ma."
"Ya sudah Mama tutup teleponnya, ya."
Tak lama, percakapan maya itu terputus secara sepihak.
Aku berjalan ke depan gerbang Sinar Bangsa dengan perasaan yang bercampur
aduk. Perasaan kesal karena sudah menunggu lama dan perasaan sedih karena tidak
jadi dijemput.
Setiba di depan gerbang Sinar Bangsa, aku menunggu taxi yang akan lewat.
Teet....
Mobil honda jess berwarna putih yang sudah tak asing lagi bagiku, berhenti
di depanku secara tiba-tiba. Seseorang membuka kaca pintu mobilnya. Ya, dia
Defadan.
"Ga pulang lo?" Defa menguarkan kepalanya sedikit dari pintu yang
kacanya sudah terbuka lebar.
"Lagi nunggu taxi, Def."
"Engga di jemput, Kay?"
"Engga. Mama kejebak macet di Binjai."
"Pulang bareng gue aja," tawar Defa.
Mataku melotot dan kedua alisku terangkat sehingga ada sedikit kerutan di
dahiku. "Kamu mau anter aku pulang?"
Defa mengangguk, kemudian dia keluar dari mobil dan membukakan pintu
belakang mobil untukku. "Masuk, Kay," ucapnya kemudian.
Aku mengambil langkah, memasuki mobil Defa disusul dengan Defa yang pindah
duduk. Ya, sebelumnya Defa duduk di samping kiri supir. Namun, saat ini dia sudah
Saat sudah duduk nyaman, mobil Defa pun melaju. Namun, suasana di dalam
mobil hening. Tak ada suara pembicaraan. Yang terdengar hanyalah suara mesin,
suara keributan di jalan serta suara musik yang sedari tadi dipasang Defa.
Tiba-tiba saja, cacing-cacing diperutku mengingatkanku untuk memberinya
makan. Perutku berbunyi dengan sangat kuat. Memang dari tadi, aku tidak makan,
karena tadi selera makanku menghilang.
Defa menahan gelak tawanya, "lo lapar?"
Aku mengangguk dan dalam hati mengumpat, "sialan ini perut. Lagi-lagi
buat malu dihadapan Defa."
"Kita makan dulu, ya," ajaknya. "Pak, kita ke restoran kecil
dekat sini dulu, ya," ucapnya pada supirnya.
Supir itu melirik ke spion depan, dan kemudian menjawab perintah Defa dengan
sekali anggukan.
---o0o---
Aku dan Defa mengambil tempat duduk paling pojok, dekat jendela serta piano
kecil di restoran yang bisa dikategorikan, restoran mewah. Pelayan datang
menyambut kami, dengan membawa kertas yang berisi menu makanan. Kami memilih-milih
makanan. Hingga waktu sudah berlalu lima menit, menu makanannya sudah kami
tentukan. Aku memesan nasi dengan tumis jamur kuping. Defa memesan menu yang
sama denganku, karena aku menyarankan menu yang menurutku sangatlah enak, walau
aku sedikit memaksanya.
Berselang sepuluh menit, menu-menu yang kami pesan sudah diantarkan dan
__ADS_1
diletakkan di atas meja kami. Setelah itu, pelayan itu meninggalkan kami dengan
membawa nampan.
"Kay, jamur emang bisa dimakan? Bukannya itu berbahaya, ya? Liat
warnanya saja kusam." Defa belum berani menyentuh makanan itu. Dia masih
ragu untuk memakannya, karena yang daritadi dia bilang; jamur kuping itu
berbahaya.
"Engga bahaya loh, Def." Aku mencoba meyakinkan Defa. "Jamur
kuping itu engga beracun, 'kok."
"Beneran ini?"
Lagi-lagi Defa merasa tak yakin dengan ucapanku. Apa boleh buat, hanya satu
caraku meyakinkannya; memakan tumis jamur itu. Aku langsung memakan makanan
yang tadi kupesan dengan lahap. Namun tetap saja caraku tak berhasil, karena
dari tadi Defa hanya menatapku sambil tertawa kecil, karena melihat aksi
makanku -maklum orang lapar.
Makananku sudah habis, dan piringnya bisa dikatakan bersih, tanpa bersisa
makanan sedikitpun.
"Mau sampai kapan kamu diami begitu makanannya?" Aku membersihkan
mulutku denga tissu yang dari tadi berada di meja.
"Liat lo makan, udah buat gue kenyang, Kay," rayunya.
Aku tahu, rayuan itu hanya untuk menghindari tumis jamur itu untuk
dimakannya.
"Yang bener udah kenyang?" Aku memainkan kedua alisku, naik dan
turun.
"Iya. Beneran."
"Def, ini jamur kuping, bukan jamur russula ematica. Jamur russula
ematica itu luarnya cantik dan warnanya benar-benar indah, tapi ga bisa dimakan
karena beracun," jelasku pada Defa.
"Cantik tapi beracun ya?"
"Iya. Dari jamur kita bisa belajar, untuk tidak menilai sesuatu dari
luarnya saja. Jamur yang kamu bilang warnanya kusam, ternyata bagus buat
kesehatan. Dan jamur yang warnanya cantik, bersifat racun," celetukku.
Lagi-lagi aku mengulang ucapanku yang tadi.
"Oooh...." Defa hanya berujar seperti itu, kemudian dia mulai
menyantap makanan itu, walau masih dengan perasaan yang agak dipaksakan.
"Kay... sumpah, ini enak banget," ujarnya saat sudah menelan
makanannya.
"Benerkan kata aku? Jamur kuping itu enak. Makanya, tumis jamur kuping
masuk sebagai salah satu makanan kesukaanku." Aku berujar seperti orang
yang baru saja menang mengalahkan sesuatu. Ya, memang aku menang, mengalahkan
ego Defa yang dari tadi tidak mau memakan makanan kesukaanku.
"Gila... enak banget." Defa berujar seraya memakan makanan itu
dengan lahap.
Aku berusaha menahan tawa geli karena ulah Defa yang seperti orang kampung.
"Makasih ya, Kay," ucap Defa saat dia sudah menyelesaikan
makanannya. Dia tersenyum menatap manik mataku.
Aku mengerutkan dahi, tanda tidak mengerti dengan Defa yang tiba-tiba
mengucapkan terima kasih. "Terima kasih untuk apa, Def?"
__ADS_1
Defa tersenyum tipis lalu berkata, "untuk perasaan yang
udah berhasil lo tabur di hati gue.”