
Kenapa kamu tidak
bilang ke aku kalau kamu mencintainya juga? Coba dari awal kamu bilang kalau
kamu mencintainya, mungkin aku tak akan
memendam rasa yang begitu mendalam.
Proses pelajaran di sekolah pada hari ini telah
selesai. Semuanya berjalan dengan lancar, walau ada beberapa hambatan tadinya.
Saat jam istirahat, aku tidak pergi ke kantin karena ingin menghindar dari
Defadan. Sewaktu Defa ke kelasku, aku langsung pergi, mencari alasan ingin ke
kamar mandi. Aku tak boleh bertemu
dengannya.
Sekarang sudah waktunya pulang. Aku tak ingin
berlama-lama keluar dari kelas, takutnya nanti akan ketemu dengan dia lagi.
Defa pasti bertanya-tanya kenapa aku seperti ini? Ah, sudah biarin lah, biar
dia peka dengan sendirinya nanti.
“Cha, aku pulang deluan, ya,” kataku dengan Nacha yang
masih sibuk merapikan buku-bukunya, ia menyusun rapi buku-buku itu di dalam
tasnya.
“Kamu pulang naik apa?” Sejenak Nacha menghentikan
aktivitasnya.
“Aku dijemput kayanya, Cha. Ya sudah aku deluan, ya.”
Aku bangkit beranjak dari kursi, kemudian melambaikan tangan padanya.
“Ya udah, hati-hati, Kay.” Nacha melambaikan tangannya
juga. Setelah itu aku langsung pergi meninggalkan kelas.
Aku akan segera pulang sekarang, dan harus menghindari
Defa. Sebenarnya, aku tak sanggup bila harus menghindari dia terus. Tapi, entah
kenapa aku harus melakukan ini. Sama artinya aku menyiksa diri sendiri.
Tarikan napas lega kuembuskan ketika melihat lorong
sepi. Artinya, tak ada Defa di sekitar sini. Biasanya ia selalu lewat lorong
ini ketika ingin ke kelasku. Mungkin saja, guru yang masuk di kelasnya belum
keluar, makanya batang hidungnya belum kelihatan.
Aku tersenyum terpaksa sambal mengeluarkan ponsel dari
dalam kantung seragam sekolah dan mengetik pesan yang akan kukirimkan ke mama.
Sudah beberapa menit lamanya, namun ponselku tak juga
bordering. Itu artinya, pesanku belum sama sekali dibalas mama. Jangankan
dibalas, dibaca juga belum.
Brug…
Seketika semua pandanganku gelap. Mata dan mulutku
ditutup dengan seseorang yang tak aku ketahui siapa. Aku kekurangan oksigen,
hingga membuatku tak sadarkan diri.
---o0o---
Mataku menyelusuri tiap sisi ruangan asing tempatku
sekarang. Ruangan kecil dengan banyak barang-barang tak terpakai di dalamnya,
serta ventilasi yang hanya ada di atas. Tak ada jendela di sini.
“Aku di mana?”
Tangisanku terpecah karena tak tahu di mana posisiku
sekarang. Aku sendiri, di dalam ruangan gelap yang senyap.
“Toloooog….” Aku berteriak sekeras mungkin diikuti
dengan tangis yang tak dapat kubendung lagi.
“Eh anak mami udah sadarkan diri.” Tidak, aku tidak
sendiri. Sekarang ada seseorang berada tepat di dalam ruangan ini, tapi di mana
__ADS_1
dia? “Percuma lo minta tolong, ngga ada yang nolongi lo juga.” Tiba-tiba
sosoknya muncul di depanku. Setahuku, dia orang yang bergabung dalam R Girl. Apa Sarah dan teman-temannya yang
mencuriku?
“Mau apa kalian?”
“Hahaha….” Seseorang lainnya tertawa. Namun, suara
tawanya itu tidak asing lagi di telingaku. Seperti suara tawa…. “Mau nyiksa lo
lah.” Sosok Bella muncul di hadapanku diikuti dengan Sarah dan anggota R Girl lainnya.
“Be-Bella,“ kataku terkejut setengah mati. Aku tak
percaya dengan apa yang ada di hadapanku saat ini.
“Iya gue Bella. Kenapa?” katanya menengadah.
“Ta-tapi kenapa, Be-Bel?” ucapanku jadi gugup karena
efek terkejut.
“Gue ngga suka sama lo, Kay. Gue benci lo. Lo bukan
teman gue, tapi lo saingan gue. Lo ngambil Nacha sahabat gue dari gue dan
sekarang lo ngambil Defa, sosok orang yang gue citai dari dulu. Begitu mudah lo
dapati semuanya. Sementara gue butuh banyak perjuangan.” Nada suara Bella
meninggi, sepertinya ia benar-benar emosi.
Perkataan Bella membuatku tertohok. Aku seperti baru
saja ke hantam beton, namun kehantam kenyataan lebih menyakitkan.
“Be-bella….” Aku bertekuk lutut di hadapannya. “Maafin
aku.” Kuraih kedua tangan Bella.
“Ngga usah pegang tangan gue.” Dia menghempaskan
tanganku dengan kasar. “Ngga ada gunanya lo minta maaf. Semuanya udah terjadi,
dan sekarang lo harus bayar perbuatan lo sendiri. Lo harus-“
“Tapi, Bel. Aku ngga tau kalau aku udah nyakiti kamu,”
ucapannya kupotong. Aku membela diriku sendiri, karena emang aku merasa aku
tidak salah, dan kenapa aku harus membayar perbuatanku sendiri?
daratkan tepat di pipi kiriku. Aku hanya meringis kesakitan. “Kalau gue lagi
ngomong jangan dipotong,” bentaknya kemudian.
“Mau kamu apa, Bel?” Aku tersungkur.
“Gue mau lo menderita, Kay.” Bella menarik lalu mengembuskan
napasnya. “Gue iri sama lo! Lo tau, sesulit apa gue berteman dengan Nacha? Lo
sendiri tau Nacha tipe orang yang sulit berteman. Banyak yang udah gue
korbanin. Dan lagi, lo tau gimana rasanya mencintai tapi tak dicintai? Gue udah
sering ngelakuin apapun biar Defa jadi milik gue, tapi itu semua gagal karena
dia cuma nganggap gue sahabatnya doang,” ucap Bella dalam sekali tarikan napas.
“Aku ngga ada niat sama sekali ngerebut Nacha dan juga
Defa dari kamu Bel. Coba dari awal kamu bilang kamu cinta sama Defa, pasti aku
ngga akan memendam rasa yang mendalam ke dia.”
Tak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Apa aku
harus mengikhlaskan Defa bersama dengan Bella, agar aku dan Bella bisa kembali
bersahabat seperti dulu lagi?
“Mending kalian ikat dia. Gue udah muak ngobrol
dengannya!” perintah Bella pada Sarah dan teman-temannya.
“Jangan, Bel. Lepasin aku,” tolakku.
“Lepas? Lo kira lo bisa dapati semuanya dengan mudah
hanya karena lo anak orang kaya. Ikat dia!” Perintah Bella membuat teman-teman
Sarah mendekatiku dan mengikatku di kursi dengan kasar. “Rah, sekarang lo bebas
mau ngelakuin apa ke dia. Lo juga bisa balaskan dendam lo ke dia,” ucapnya pada
Sarah.
Sarah punya dendam padaku? Kesalahan apa lagi yang
__ADS_1
sudah kuperbuat pada Sarah? Setahuku, aku tak pernah berurusan dengan dia
kecuali sewaktu kasus dia membully aku. Tapi, itu ‘kan kesalahan yang dia
perbuat sendiri sampai dia harus di skors.
“Makasih, Bella.”
“Gue pamit dulu.”
Aku hanya melihat punggung Bella yang semakin menjauh,
lalu perlahan-lahan menghilang ditelan jarak. Dan Bella berjalan mendekatiku
seperti ingin mengintimidasi diriku.
“Haloo, Kayla.” Sarah berjalan memutariku sambil
memukul-mukul penggaris besi di telapak tangannya. “Enaknya diapai ya?”
“Siksa aja, Rah,” jawab Reina yang masih berada di
dalam gudang kecil ini.
“Mau apa kalian?” tanyaku dengan suara tegas, namun
begitu banyak hal yang membuatku cemas.
“Lo ngga nanya kenapa Bella bisa berhubungan dengan
gue dan anggota genk gue? Boleh gue
cerita?” Sarah jongkok tepat di hadapanku. Kepalaku dan kepalanya sejajar.
Aku mengangguk, kemudian Sarah memulai ceritanya,
“Jadi waktu itu, gue ngeliat Bella lagi nangis di kamar mandi, terus gue
ngobrol sama dia. Gue tanya, kenapa dia bisa senangis ini? Terus dia jawab, dia
habis ditolak Defa. Dia baru berani ungkapi perasaannya pada Defa, tapi Defa
bilang kalau dia sayang sama lo. Terus dia juga ngerasa lo sama Nacha makin
akrab karna satu kelas itu. Dia ngerasa lo ngambil semuanya dari dia,” jelas
Sarah yang membuatku semakin mengerti. Aku yakin, kalau cerita Sarah tidak
dikarang-karang olehnya.
“Terus apa hubungan kamu dan teman-teman kamu sama
Bella?”
Sebenarnya poin utama pertanyaannya adalah hubungan
antara Bella dengan Sarah dan teman-temannya. Seantero sekolah juga tahu kalau
Bella tak pernah punya hubungan baik dengan Sarah.
“Ya gue mau bantuin Bella, lah. Sekalian itung-itung
balas dendam gue.”
“Kalau masalah di skors, itu kesalahan kamu sendiri,
Rah. Kenapa kamu sampai sedendam itu padaku? Aku aja tak pernah dendam ke kamu,
walau kamu udh bully aku waktu itu.”
“Hahaha….” Sarah tertawa terbahak-bahak, kemudian ia
berdiri dan kembali memutari sekelilingku. “Ya gue bully lo juga bukan karena
hubungan lo sama Defa.”
“Terus apa?” jawabku cepat.
Sarah menghentikan langkahnya, “Gue punya dendam sama
keluarga lo. Pas tau lo dari keluarga Ferrour, gue langsung pikirkan rencana
yang akan gue lakukan untuk balaskan semuanya ke lo. Akhirnya dapat, dengan
alasan lo pacaran sama Defa. Jadinya anak-anak yang lain ngga suka sama lo.
Pintar kan gue?”
Glek…
Aku meneguk ludahku, kasar. Jawaban dari Sarah
berhasil menamparku lagi. Kenapa aku selalu dihadapkan dengan masalah yang
rumit? Aku masih terlalu kecil, dan pikirianku masih sempit.
“Kenapa kamu bisa dendam sama keluargaku?”
“Hmm… Kenapa ya? Lo mau tau kenapa?” Dia mengulas
senyum seringai, bertanda akan mengintimidasi. Aku hanya mengangguk menjawab
__ADS_1
pertanyaannya. “Karena….”