
Berulang kali kau
membuat kesalahan padaku, tetapi aku tetap memaafkanmu karena aku
menyanyangimu. Jika aku tak memaafkanmu, sama artinya aku tak memaafkan diriku
sendiri.
Iya ai?
Mbb, tadi lg main game
Tepatnya pukul 15.00 WIB pesanku mendapat balas dari Defa. Artinya, sudah dua jam ia tak menjawab pesanku.
Astaga!
Main game mulu
Terus aja kacangi aku
Padahal dari tadi aku nunggu balasan kamu
Defa jahat!
Kesal, itu yang kurasakan sekarang. Bagaimana tidak kesal? Pasalnya menunggu itu adalah hal yang paling membosankan. Aku benci menunggu.
Maaf, ai
Aku hanya membaca pesan dari Defa. Moodku mendadak hilang. Tak lama, aku mendengar telepon berdering. Kutoleh layar ponselku, Defa yang memanggilku.
Sebenarnya aku tak niat mengangkat panggilannya karena masih kesal. Tapi, entah setan mana yang menggerakkan jariku untuk menggeser ikon bewarna hijau itu dan kemudian muncul suara di balik layar ponselku.
“Apa?”
Kataku menyambar saat panggilan itu terangkatku.
“Ai maaf, jangan marah pelis.”
Nada manjanya muncul. Defa memang orang yang pandai merayu atau membujuk seseorang, entah karena bakat atau kebiasaannya.
__ADS_1
“Aku ngga marah, Def.”
Nah, benar, aku baru saja kerayu dengan perkataan Defa. Entah kenapa rasanya sulit sekali untuk marah dengannya. Memang aku lagi kesal dengannya, tapi tak pernah menimbulkan rasa marah sedikitpun.
“Terus kenapa wa ku hanya di read aja?”
“Ngga apa-apa,” jawabku lembut.
*“Heeem….”*Defa tampak mengembuskan napas\, dalam\, “Jadi ke lapasnya?”
“Jadi. Sejam lagi jemput aku ya. Nanti alamatnya aku kirim dari wa.”
“Emang kamu di mana?”
“Aku pulang ke rumah orangtua kandungku. Ya udah, aku siap-siap dulu, ya.”
Panggilan itu kuputus secara sepihak, kemudian aku membuka aplikasi whattsapp dan mengirimkan alamat rumahku yang sekarang.
---o0o---
Mobil yang kunaiki bersama dengan Defa saat ini sudah terparkir di halaman depan lapas. Saat aku hendak membuka pintu mobil, aku melihat Defa yang masih tak bergerak sedikit pun. Sepertinya ada sesuatu yang
dipikirkannya.
“Yakin,” kataku mantap. Aku mengancungkan kedua jempol tepat di depan wajah Defa.
“Tapi aku ragu, Ai.”
Aku menyerngit, “Ragu kenapa?”
“Takutnya mereka malah ngga nerima niat baik kamu. Mereka pasti akan menyalahkan kamu.”
“Tenang aja, Def. Hal tersebut pasti tak akan terjadi, ‘kok.” Aku berusaha meyakinkan Defa kalau yang aku lakukan saat ini tak akan menimbulkan masalah apapun. “Ya sudah ayuk turun.”
Defa masih juga belum bergerak untuk keluar dari mobil. Entah apa yang membuatnya seperti ini.
“Aku ragu, Ai. Kita pulang aja, ya. Perasaanku ngga enak.”
Aku tersenyum gemas melihat kelakuan Defa. Kubuka pintu mobil, lalu menarik Defa agar mau mengikutiku.“Kita udah sampai di sini, masa mau pulang?”
__ADS_1
Defa menarik napas lalu mengembuskannya hingga suara napasnya dapat terdengarku. “Ya sudah, Ai. Terserah kamu saja. Aku ngikut aja sekarang,” katanya begitu pasrah.
Aku tersenyum penuh kemenangan. Kemudian kami bergerak keluar dari mobil dan segera masuk ke dalam lapas.
Setelah izin kepada polisi yang berjaga, kami diantar untuk bertemu dengan mereka. Kebetulan ini adalah jam istirahat, jadi kami bisa bertemu dengan mereka lebih lama lagi.
“Mau apa lo di sini? Puas? Mau nertawain kita,” bentak Sarah saat polisi yang tadi mengantarku dan Defa sudah pergi meninggalkan kami.
“Bukan, Rah. Aku mau lihat keadaan kalian,” ucapku lembut. “Kalian apa kabar?”
“Ga usah sok nanya kabar. Bilang aja lo senang ngeliat kita kesiksa di sini.” Perkataan yang keluar dari mulut Bella benar-benar membuatku terkejut. Bella yang kukenal lembut, sekarang menjadi kasar. Sepertinya, Bella membenciku.
“Woi! Niat Kayla itu bagus mau ngelihat kalian. Tapi kenapa kalian kaya gini!” Defa angkat suara setelah dari tadi diam memperhatikan.
“Ngga apa-apa, Def.” Aku mencoba menenangkan suasana yang sedikit memanas. “Aku ke sini, mau cabut tuntutan agar kalian bisa keluar dari sini.”
Ya, sebenarnya niatku sebenarnya adalah mencabut tuntutan. Aku tidak bilang ke Defa, karena pastinya dia akan melarangku. Betapa terkejutnya mereka mendengar perkataanku.
“Seriusan? Lo mau cabut tuntutan kami,” kata Sarah masih tak percaya.
Aku hanya menggangguk dan tersenyum, tanpa mengeluarkan kata apapun.
“Tapi kenapa?” tanya Bella.
“Karena aku menyayangi kalian semua.”
“Ai, kamu seriusan? Kamu yakin?” tanya Defa tak percaya dengan tindakan yang akan kuambil.
“Yakin,” jawabku mantap.
“Kay, kami udah banyak berbuat jahat ke elo, tapi kenapa lo malah ngambil keputusan kaya begini? Lo yakin mau ngebebasi kami?” kata Sarah lirih. Aku dapat merasakan perasaan sedih dari setiap tutur katanya.
“Kayla, maafin gue,” ucap Reina memohon. Dia menempelkan kedua telapak tangannya dan di arahkan kepadaku.
“Kay, gue juga minta maaf.” Salah satu anggota R Girl yang kuketahui bernama Laura turut meminta maaf padaku, diikuti dengan anggota R Girl lainnya.
“Terutama gue, Kay.” Bella mendekatiku, lalu memelukku dengan begitu erat. Air matanya tumpah sampai mengenai pundakku, “Ma-maaf, gue terlalu egois.” Dia menatapku kembut.
“Bel, kamu sahabat aku. Mau sebesar apapun kesalahanmu, aku akan memaafkannya.”
__ADS_1
“Gue juga minta maaf, Kay. Gue bodoh. Kenapa gue dendamnya ke elo yang tak tahu apa-apa. Dan lagi, rasa dendam itu seharusnya tidak boleh ada, karena hanya membuat dosa.” Sarah juga memelekku sambil menangis. “Kita jadi teman ya sekarang.”
Aku menggeleng, “Tidak! Kita tak bisa jadi teman.”