Bingkai Lara

Bingkai Lara
Kenyataan Pahit


__ADS_3

Aku berusaha mencoba berlari sejauh mungkin untuk menghindari kenyataan pahit ini. Namun, takdir menghentikan langkah kakiku. Takdir menyuruhku untuk tetap diam dan berusaha menghadapi dan menerima kenyataan pahit ini.


Hening!


Mama masih belum menjawab pertanyaanku. Mama tertunduk. Matanya berbinar-binar dan tak berani menatap manik mataku.


"Ma...," panggilku lirih.


Mama menengok ke arahku, "Maafin mama ya, Sayang." Air mata mama tertumpah melewati pipinya.


Loh? Kenapa mama minta maaf? Kenapa mama menangis?


"Ma... kenapa?" aku menatap lembut ke manik mata mama. Sepertinya dugaanku benar, ada sesuatu yang mama sembunyikan dariku selama ini.


Apa mungkin mama Kesya bukan ibu kandungku?


"Sebenarnya... kamu...." Mama menghentikan pembicaraannya, mengambil napas dalam-dalam. Aku dapat merasakan tarikan napas berat yang dilakukan mama. "Kamu bukan anak kandung mama dan papa."


Deg!


Kutelan kasar air ludahku. Pernyataan mama hampir membuatku tak sadarkan diri. Aku seperti baru saja di lempar ke gua singa, dan ditelan oleh singa-singa. Tanpa disadari, air mataku ikut mengalir begitu deras.


Mengapa bisa aku bukan anak kandung mama Kesya? Jadi selama ini, aku udah sayang pada orang yang bahkan bukan orangtua kandungku? Mengapa kenyataan ini bisa begitu pahit?


Aku benar-benar tak berdaya lagi. Rasanya ingin sekali pergi meninggalkan dunia ini. Tak ada gunanya bila aku hidup seperti ini.


Nyut...!


Kepalaku terasa berdenyut. Bahkan denyutan kali ini lebih sakit dari yang di rumah sakit waktu itu. Kepalaku seperti terhantam benda sebesar dua ton. Aku benar-benar tak kuat menghadapi denyutan kepalaku yang sakit sekali seperti ini.


Apa mungkin ini tanda-tanda aku akan meninggalkan dunia ini?


Aku mengerang kesakitan. Kupukul-pukul kepalaku. Mama berteriak histeris dan mengambil handphone untuk menghubungi papa dan memanggil Pak Supri untuk mengeluarkan mobil, membawaku ke rumah sakit.


---oOo---


Aku disorong menggunakan tempat tidur beroda, dibawa ke ruang ICU. Sepanjang koridor rumah sakit, mama dan papa saling menguatkan diri. Mereka berdoa dan mengucapkan, "Tuhan sembuhkan Kayla." Kata-kata itu yang sering kudengar dari mulut kedua orangtua tiriku.

__ADS_1


Tuhan, mengapa aku bisa mendapatkan orangtua tiri sebaik mereka? Ada kehidupan seperti apa sebenarnya dengan masa laluku?


Aku berharap dalam doa, semoga Tuhan menjawab semua pertanyaan-pertanyaan dalam hidupku.


"Pa, Bu, mohon tunggu di luar," ucap suster saat aku hendak di bawa masuk ke dalam ruang ICU.


"Hiks ... Sus, hiks ... mohon selamatkan, hiks .... putri saya," ucap mama di sertai dengan tanggisannya.


"Ma, Kayla engga pa-pa, 'kok." Aku berusaha mengibur mama. Air mata mama sudah banyak yang tertumpah. Bajunya basah dipenuhi dengan tetesan air matanya dan keringat dinginnya.


Ya Tuhan, walau bukan ibu kandungku, tapi dia begitu baik padaku. Apa mungkin, keluarga Ferrour adalah berkat yang telah kuterima? Mungkin di kehidupanku yang dulu, aku tak pernah bahagia? Aku percaya, Tuhan akan memberikan kita lebih dari apa yang kita ingini, asal kita tetap setia dan percaya padaNya.


"Kayla, jangan tinggalin papa dan mama. Kita sayang sama kamu, hiks ...." Papa juga menangis. Baru kali ini kulihat mereka berdua menangis di depanku.


Aku melemparkan senyuman kepada mama dan papa agar mereka tak perlu khawatir dengan keadaanku. Suster pun langsung membawaku masuk ke dalam ruang ICU. Tak lama, Dokter Fanny datang dan langsung memeriksaku. Masih dapat kulihat dari kaca, mama dan papa masih menangis histeris di luar.


Aku merasa bersalah untuk ucapanku tadi. Ucapan yang meminta Tuhan untuk memanggilku dan meninggalkan dunia ini. Aku berpikir, jika aku pergi dari sini, mungkin kebahagian tak dapat dirasakan papa dan mama lagi.


Tuhan, kumohon jangan panggil aku. Aku masih sayang sama kedua orangtuaku. Walau mereka bukan kedua orangtua kandungku.


---oOo---


Ya Tuhan, apakah aku selamat? Atau ini di surga?


Aku menengok sekelilingku, memastikan bahwa ini masih di rumah sakit. Puji Tuhan, aku masih berada di rumah sakit, bukan di surga. Mama, papa memasuki ruangan ICU. Tapi, ada dua orang asing yang mengikuti mereka dari belakang.


Siapa mereka?


Tunggu, bukan dua orang yang asing, namun seorang. Sepertinya, yang satu orang lagi tak asing denganku. Aku mencoba mengingat siapa wanita paruh baya itu.


"Tunggu, Sam. Ini ibu. Kenapa kamu begini?"


Terekam jelas dialog tadi siang dibenakku. Dia wanita yang mengaku sebagai ibu kandungku. Apa mungkin benar?


"Samatha...." Wanita paruh baya itu langsung memelukku yang masih tertidur di atas ranjang.


Dengan tenang, kucoba mengingat masa laluku. Sedikit demi sedikit memori sudah mulai terkumpul. Kepingan-kepingan itu akan kususun menjadi sebuah puzzle yang utuh.

__ADS_1


"Kenapa bisa ibu di sini?" aku memegang pundaknya, untuk menyuruhnya melepaskan pelukannya dariku.


"Aku mengikutimu dari restoran tadi."


"Samatha, ini ayah," ucap pria paruh baya yang berdiri di sebelah papa Kevin.


Ayah? Ibu? Kenyataan pahit apalagi yang harus kuterima?


"Ayok, pulang lah, Nak. Kembali lagi pada kami," lanjut pria yang mengaku sebagai ayahku.


Aku melihat ke arah papa Kevin dan mama Kesya yang raut mukanya bersedih, namun mereka mencoba menutupi kesedihan itu.


"Kalau kamu mau pulang, pulang lah, Sayang." Nada bicara mama berbeda. Mama terlihat begitu berat melepaskanku. Aku juga tidak ingin meninggalkan orang yang kusayangi dan telah menyayangiku.


"Tidak! Aku tidak akan meninggalkan mama dan papa," ucapku menolak ajakan atau perintah mereka semua.


"Kalau kamu memang belum sanggup, ibu dan ayah mengerti. Kita ga akan maksa kamu lagi kok," ucap si wanita sambil mengelus-elus kepalaku. "Kalau kamu udah mau tinggal lagi sama kita, beri tahu kami ya, Nak."


Aku mengangguk, "Oh iya, nama saya Kayla bukan Samatha," ucapku datar pada mereka. Aku masih belum menemukan nama 'Samatha' dalam memori kepalaku yang masih hilang beberapa keping.


Tak ada yang menjawab ucapanku dengan perkataan. Mereka semua menjawabnya dengan senyuman.


"Ma, Pa, Kayla mau pulang," ucapku menatap mama dan papa yang berdiri di belakang wanita yang mengaku ibu kandungku. "Bolehkan, Dokter Fanny?" manik mataku menatap ke arah Dokter Fanny yang masih berada di dalam ruangan ini.


"Boleh kok, Kayla," jawabnya seraya menyunggingkan senyumannya. Senyuman yang begitu mirip dengan Nacha. Aku jadi keingat sama Nacha soal tadi pulang sekolah.


"Tan, Nacha udah pulang sampe rumah?" tanyaku memastikan bahwa tadi memang Nacha sudah pulang.


"Tidak tahu, Kay. Dari tadi tante di sini. Loh? Biasanya kalian pulangnya sama, 'kan?" tanya Dokter Fanny.


Iya, memang biasanya aku dan Nacha selalu pulang bersama. Namun, sudah seminggu ini aku meninggalkan Nacha pulang sendiri, dan aku pulang bareng Defa.


"Tadi Nacha engga nampak, Tan."


"Mungkin saja, dia buru-buru, Kay."


Oh, iya. Mungkin saja Nacha sedang buru-buru tadi. Makanya dia tak sempat menghampiriku. Secara, Nacha itu adalah orang yang super peduli dengan pelajaran. Dia sering menghabiskan waktunya untuk les private

__ADS_1


__ADS_2