
Terkadang apa yang kita harapkan, tak selalu mudah untuk didapatkan dan
apa yang kita impikan tak selamanya menjadi kenyataan. Karena hidup tak sesuai
dengan keinginan.
“Tapi, kenapa
mereka bisa curiga sama Bella, Ma?”
Lagi-lagi aku dibuat bingung dengan
pertanyaan-pertanyaan dari setiap masalah yang kuhadapi. Bukankah Bella dan
Defa berpacaran sekarang? Tapi kenapa Defa malah menjatuhkan Bella pacarnya?
“Lebih jelasnya, nanti kamu tanyakan sama Defa, ya,”
sambung ibu. Mama tak menjawab pertanyaanku. Mungkin, mama sendiri masih
bingung untuk menjawabnya, atau karena emang mama tak tahu alasannya.
“Baik.”
Setelah itu mereka izin permisi keluar, dan kemudian
Defa masuk keruanganku dengan mengenakan pakaian yang disediakan rumah sakit.
Sama seperti mama dan ibu tadi.
“Ai, gimana perasaannya sekarang?”
“Ai?” ulangku tak percaya. Bukankah secara sepihak aku
dan Defa telah berputus? Dia ‘kan sudah pacaran dengan Bella. “Kamu ‘kan pacar
Bella sekarang.”
“Hah?” Dia tampak terkejut, kemudia tertawa mendengar
ucapanku. “Kamu kok polos banget sih, Ai?”
“Polos gimana? Sudah jelas Bella tadi bilang, kalau
dia sudah pacaran sama kamu dan dia nunjuki foto-foto kemesraan kalian,” kataku
jutek.
“Itu jebakan,” jawabnya singkat, padat dan jelas. Tapi
tetap saja aku tak mengerti. “Aku sama Nacha udah curiga kalau Bella dalang
dari hilangnya kamu. Hari pertama setelah kamu ngilang, tiba-tiba Bella datang
lagi ke Nacha. Waktu itu, tanpa sengaja Nacha melihat tas Bella, dan dia
melihat ada handpone kamu di sana. Terus aku juga curiga, kenapa tiba-tiba
Bella berubah gitu ke aku. Dia manja banget, geli tau,” jelasnya diiringi
dengan tawa kecil yang ia ciptakan.
“Terus masalah kalian pacaran?”
Defa mengacak rambutnya, lalu menatap tepat di iris
mataku. “Ya engga lah, Ai. Hatiku itu hanya ada untuk kamu saja. Mungkin, dia
mau buat kamu memanas kali.” Dia mengangkat bahunya.
Aku merasa lega mendengar ucapan Defa. Sepertinya
cowok yang ada di hadapanku ini benar-benar mencintaiku.
“Lagian dia udah di penjara, Ai,” lanjutnya lagi.
“Hah? Seriusan?” Memang sudah sewajarnya manusia
seperti mereka mendapakan tempat yang layak. Tapi terkadang hati kecilku masih
punya perasaan yang tidak tega pada mereka.
“Iya benaran. Itu bayaran yang pas buat mereka.”
---o0o---
Transfusi darah saat ini telah selesai dilaksanakan.
Ya, aku harus mendapatkan transfusi darah lagi, karena aku benar-benar
kehilangan banyak darah. Untung saja aku masih bisa selamat. Kata dokter, aku
harus bersyukur karena masih ada darah yang cocok denganku. Golongan darahku
dan ayah sama, tapi ayah tak bisa mendonorkan darahnya. Tak tahu kenapa.
“Jadi saya kapan bisa pulang, Dok?” tanyaku
__ADS_1
memastikan.
“Hari ini juga sudah bisa pulang.” Dokter itu tersenyum
padaku.
Mendengar kabar gembira yang keluar dari mulut dokter,
membuatku berteriak kegirangan. Akhirnya maksa penyiksaanku di rumah sakit ini
sudah berakhir. Pasalnya, aku tak suka bila harus berbaring terus menerus dan
makanan rumah sakit yang begitu hambar, taka da rasa.
“Senang banget yang bisa pulang hari ini,” ucap ibu
yang baru saja tiba di kamarku beberapa menit yang lalu. “Samatha, kamu pulang
sama ibu, ya.”
Ucapan ibu membuat bahagia yang dari tadi terpancar
mendadak hilang berpencar.
“Kenapa, Bu?”
“Ibu mau jaga kamu. Kemarin ibu sudah bilang, kalau
kamu ada apa-apa lagi, kamu harus ikut ibu.”
Ya kuakui ibu sempat bilang seperti itu waktu melihat
tanganku yang penuh dengan balutan perban.
“Tapi, mama dan papa?” Aku memandang ke arah mereka
yang tampak sedih.
Mama dan papa yang tadinya duduk di kursi,
menghampiriku dan menatap manikku dalam. “Tak apa-apa, Sayang. Nanti mama dan
papa akan sering-sering mampir ke rumah kamu,” ucap mama mengelus-elus kepalaku
dengan rambut yang hanya sisa beberapa helai saja. “Maafin mama ya. Mama belum
bisa jaga kamu.” Mama mengecup keningku, tulus.
“Papa juga minta maaf ya, Sayang. Papa belum bisa jadi
sosok orangtua yang baik,” sambung papa yang juga mengecup keningku setelah
mama.
kalau kadang Kayla cuma bisa nambahi beban pikiran kalian. Makasih ya, Ma, Pa,
buat segalanya.“ Aku mencium pipi mereka .
---o0o---
Saat ini aku sudah berada di depan rumah minimalis
dengan cat dinding bewarna hijau muda. Rumah
yang tampaknya tidak sebesar rumah keluarga Ferrour.
Hanya ibu yang mengantarku pulang, karena ayah tak
tahu entah di mana. Sedangkan papa dan mama izin tidak bisa mengantarku karena
ada meeting yang begitu penting.
“Ayo masuk, Nak.” Ibu menyuruhku masuk. “Maaf ya,
rumah kita tidak sebesar rumah keluarga Ferrour,” katanya lemas.
“Tidak masalah, Bu. Dulu Kayla tinggal di sini dan
asalnya juga dari sini.” Kusunggingkan senyum manis ke ibu. “Ayuk, Bu, kita
masuk.”
Ibu tersenyum lalu berjalan mendahuluiku. Aku hanya
mengikuti langkah kaki ibu, sampai akhirnya berada di ruang tamu.
“Kamar kamu di sana, Nak,” katanya menunjuk pintu yang
berada di sisi kiri ruang tamu. “Kamar ibu dan ayah di sebelahnya.”
“Oh iya, Bu,” jawabku yang sudah paham. “Kayla masuk
kamar dulu ya.”
Saat hendak kulangkahkan kakiku menuju kamar, ibu
menghentikannya. “Tunggu.”
Aku menyerngit heran, “Kenapa, Bu?” tanyaku kemudian.
__ADS_1
Ibu terdiam beberapa beberapa detik, sampai akhirnya
membuka suara, “I-itu….” Perkataan ibu menggantung.
“Kenapa, Bu?”
“Itu, masalah nama. Nama kamu Samatha, bukan Kayla,”
katanya pelan-pelan.
Aku tersenyum, “Iya, Bu. Sam ke kamar dulu, ya.”
Aku masih belum mengingat seluruh kehidupanku dulu,
bahkan namaku. Tapi aku percaya, suatu saat nanti pasti aku akan mengingat
semuanya.
Saat sudah di kamar, aku membuka tas, mengambil ponsel
yang tadi kuletakkan di dalamnya. Kemudian menempelkan jariku pada finger print untuk membuka layar yang
terkunci dengan kata sandi.
Setelah ponsel itu terbuka, aku mencari aplikasi
dengan ikon berwarna hijau dengan gambar telepon bewarna putih di tengahnya,
mencari kontak seseorang lalu mengetikkan pesan untuknya.
Def, nanti sore bisa temani aku ke lapas?
Hanya berjarak tiga detik, ceklis dua yang tadinya
bewarna hitam keabu-abuan berubah menjadi warna biru.
Bisa.
Jam berapa?
Jam 4 sore
Ok
Nanti ku jemput ai
Setelah pesan terakhir Defa terbaca, aku menekan
tombol yang akan mengelapkan layar. Setelah itu, kuletakkan ponselku di atas
meja. Baru terletak beberapa detik, benda itu berbunyi.
Aku mengambilnya dan melihat notifikasi yang ada di
layar depan, ada pesan masuk dari aplikasi whatsapp.
Kemudian kubuka kubaca.
Ai, sore ini?
Pesan
itu dari Defa.
Iya, sore ini.
Kenapa emang?
Emang kamu udah pulang
dari rumah sakit?
Astaga!
Aku lupa ngabari Defa kalau aku sudah pulang.
Astaga!
Maaf, aku lupa ngabari kamu
Iya aku udah pulang.
Sekarang udah di rumah
Tapi bukan rumah keluarga Ferrour
Ceklis
dua dan tak ada tulisan online di bawah kontak yang kuberi nama Beloved dengan emoticon love. Kenapa Defa tak langsung
menjawab pesanku? Apa dia sudah tidak memegang ponsel lagi?
Def.
P
P
Cukup lama ceklis dua sejak kukirim pesanku dari tadi,
__ADS_1
tapi mendapat balasan sedikitpun dari Defa. Apa dia marah karena aku tak
memeberitahunya kalau aku sudah pulang?