Bingkai Lara

Bingkai Lara
Pulang ke Rumah Ibu


__ADS_3

Terkadang apa yang kita harapkan, tak selalu mudah untuk didapatkan dan


apa yang kita impikan tak selamanya menjadi kenyataan. Karena hidup tak sesuai


dengan keinginan.


 


 “Tapi, kenapa


mereka bisa curiga sama Bella, Ma?”


Lagi-lagi aku dibuat bingung dengan


pertanyaan-pertanyaan dari setiap masalah yang kuhadapi. Bukankah Bella dan


Defa berpacaran sekarang? Tapi kenapa Defa malah menjatuhkan Bella pacarnya?


“Lebih jelasnya, nanti kamu tanyakan sama Defa, ya,”


sambung ibu. Mama tak menjawab pertanyaanku. Mungkin, mama sendiri masih


bingung untuk menjawabnya, atau karena emang mama tak tahu alasannya.


“Baik.”


Setelah itu mereka izin permisi keluar, dan kemudian


Defa masuk keruanganku dengan mengenakan pakaian yang disediakan rumah sakit.


Sama seperti mama dan ibu tadi.


“Ai, gimana perasaannya sekarang?”


“Ai?” ulangku tak percaya. Bukankah secara sepihak aku


dan Defa telah berputus? Dia ‘kan sudah pacaran dengan Bella. “Kamu ‘kan pacar


Bella sekarang.”


“Hah?” Dia tampak terkejut, kemudia tertawa mendengar


ucapanku. “Kamu kok polos banget sih, Ai?”


“Polos gimana? Sudah jelas Bella tadi bilang, kalau


dia sudah pacaran sama kamu dan dia nunjuki foto-foto kemesraan kalian,” kataku


jutek.


“Itu jebakan,” jawabnya singkat, padat dan jelas. Tapi


tetap saja aku tak mengerti. “Aku sama Nacha udah curiga kalau Bella dalang


dari hilangnya kamu. Hari pertama setelah kamu ngilang, tiba-tiba Bella datang


lagi ke Nacha. Waktu itu, tanpa sengaja Nacha melihat tas Bella, dan dia


melihat ada handpone kamu di sana. Terus aku juga curiga, kenapa tiba-tiba


Bella berubah gitu ke aku. Dia manja banget, geli tau,” jelasnya diiringi


dengan tawa kecil yang ia ciptakan.


“Terus masalah kalian pacaran?”


Defa mengacak rambutnya, lalu menatap tepat di iris


mataku. “Ya engga lah, Ai. Hatiku itu hanya ada untuk kamu saja. Mungkin, dia


mau buat kamu memanas kali.” Dia mengangkat bahunya.


Aku merasa lega mendengar ucapan Defa. Sepertinya


cowok yang ada di hadapanku ini benar-benar mencintaiku.


“Lagian dia udah di penjara, Ai,” lanjutnya lagi.


“Hah? Seriusan?” Memang sudah sewajarnya manusia


seperti mereka mendapakan tempat yang layak. Tapi terkadang hati kecilku masih


punya perasaan yang tidak tega pada mereka.


“Iya benaran. Itu bayaran yang pas buat mereka.”


---o0o---


Transfusi darah saat ini telah selesai dilaksanakan.


Ya, aku harus mendapatkan transfusi darah lagi, karena aku benar-benar


kehilangan banyak darah. Untung saja aku masih bisa selamat. Kata dokter, aku


harus bersyukur karena masih ada darah yang cocok denganku. Golongan darahku


dan ayah sama, tapi ayah tak bisa mendonorkan darahnya. Tak tahu kenapa.


“Jadi saya kapan bisa pulang, Dok?” tanyaku

__ADS_1


memastikan.


“Hari ini juga sudah bisa pulang.” Dokter itu tersenyum


padaku.


Mendengar kabar gembira yang keluar dari mulut dokter,


membuatku berteriak kegirangan. Akhirnya maksa penyiksaanku di rumah sakit ini


sudah berakhir. Pasalnya, aku tak suka bila harus berbaring terus menerus dan


makanan rumah sakit yang begitu hambar, taka da rasa.


“Senang banget yang bisa pulang hari ini,” ucap ibu


yang baru saja tiba di kamarku beberapa menit yang lalu. “Samatha, kamu pulang


sama ibu, ya.”


Ucapan ibu membuat bahagia yang dari tadi terpancar


mendadak hilang berpencar.


“Kenapa, Bu?”


“Ibu mau jaga kamu. Kemarin ibu sudah bilang, kalau


kamu ada apa-apa lagi, kamu harus ikut ibu.”


Ya kuakui ibu sempat bilang seperti itu waktu melihat


tanganku yang penuh dengan balutan perban.


“Tapi, mama dan papa?” Aku memandang ke arah mereka


yang tampak sedih.


Mama dan papa yang tadinya duduk di kursi,


menghampiriku dan menatap manikku dalam. “Tak apa-apa, Sayang. Nanti mama dan


papa akan sering-sering mampir ke rumah kamu,” ucap mama mengelus-elus kepalaku


dengan rambut yang hanya sisa beberapa helai saja. “Maafin mama ya. Mama belum


bisa jaga kamu.” Mama mengecup keningku, tulus.


“Papa juga minta maaf ya, Sayang. Papa belum bisa jadi


sosok orangtua yang baik,” sambung papa yang juga mengecup keningku setelah


mama.


kalau kadang Kayla cuma bisa nambahi beban pikiran kalian. Makasih ya, Ma, Pa,


buat segalanya.“ Aku mencium pipi mereka .


---o0o---


Saat ini aku sudah berada di depan rumah minimalis


dengan cat dinding bewarna hijau muda.  Rumah


yang tampaknya tidak sebesar rumah keluarga Ferrour.


Hanya ibu yang mengantarku pulang, karena ayah tak


tahu entah di mana. Sedangkan papa dan mama izin tidak bisa mengantarku karena


ada meeting yang begitu penting.


“Ayo masuk, Nak.” Ibu menyuruhku masuk. “Maaf ya,


rumah kita tidak sebesar rumah keluarga Ferrour,” katanya lemas.


“Tidak masalah, Bu. Dulu Kayla tinggal di sini dan


asalnya juga dari sini.” Kusunggingkan senyum manis ke ibu. “Ayuk, Bu, kita


masuk.”


Ibu tersenyum lalu berjalan mendahuluiku. Aku hanya


mengikuti langkah kaki ibu, sampai akhirnya berada di ruang tamu.


“Kamar kamu di sana, Nak,” katanya menunjuk pintu yang


berada di sisi kiri ruang tamu. “Kamar ibu dan ayah di sebelahnya.”


“Oh iya, Bu,” jawabku yang sudah paham. “Kayla masuk


kamar dulu ya.”


Saat hendak kulangkahkan kakiku menuju kamar, ibu


menghentikannya. “Tunggu.”


Aku menyerngit heran, “Kenapa, Bu?” tanyaku kemudian.

__ADS_1


Ibu terdiam beberapa beberapa detik, sampai akhirnya


membuka suara, “I-itu….” Perkataan ibu menggantung.


“Kenapa, Bu?”


“Itu, masalah nama. Nama kamu Samatha, bukan Kayla,”


katanya pelan-pelan.


Aku tersenyum, “Iya, Bu. Sam ke kamar dulu, ya.”


Aku masih belum mengingat seluruh kehidupanku dulu,


bahkan namaku. Tapi aku percaya, suatu saat nanti pasti aku akan mengingat


semuanya.


Saat sudah di kamar, aku membuka tas, mengambil ponsel


yang tadi kuletakkan di dalamnya. Kemudian menempelkan jariku pada finger print untuk membuka layar yang


terkunci dengan kata sandi.


Setelah ponsel itu terbuka, aku mencari aplikasi


dengan ikon berwarna hijau dengan gambar telepon bewarna putih di tengahnya,


mencari kontak seseorang lalu mengetikkan pesan untuknya.


Def, nanti sore bisa temani aku ke lapas?


Hanya berjarak tiga detik, ceklis dua yang tadinya


bewarna hitam keabu-abuan berubah menjadi warna biru.


Bisa.


Jam berapa?


Jam 4 sore


Ok


Nanti ku jemput ai


Setelah pesan terakhir Defa terbaca, aku menekan


tombol yang akan mengelapkan layar. Setelah itu, kuletakkan ponselku di atas


meja. Baru terletak beberapa detik, benda itu berbunyi.


Aku mengambilnya dan melihat notifikasi yang ada di


layar depan, ada pesan masuk dari aplikasi whatsapp.


Kemudian kubuka kubaca.


Ai, sore ini?


Pesan


itu dari Defa.


Iya, sore ini.


Kenapa emang?


Emang kamu udah pulang


dari rumah sakit?


Astaga!


Aku lupa ngabari Defa kalau aku sudah pulang.


Astaga!


Maaf, aku lupa ngabari kamu


Iya aku udah pulang.


Sekarang udah di rumah


Tapi bukan rumah keluarga Ferrour


Ceklis


dua dan tak ada tulisan online di bawah kontak yang kuberi nama Beloved dengan emoticon love. Kenapa Defa tak langsung


menjawab pesanku? Apa dia sudah tidak memegang ponsel lagi?


Def.


P


P


Cukup lama ceklis dua sejak kukirim pesanku dari tadi,

__ADS_1


tapi mendapat balasan sedikitpun dari Defa. Apa dia marah karena aku tak


memeberitahunya kalau aku sudah pulang?


__ADS_2