
Hari ini, pulang sekolah aku dan Nacha sudah janji akan pergi jalan-jalan. Aku ingin menghabiskan waktu agak lama dengan Nacha. Kalau bisa memohon, aku ingin waktu dihentikan agar aku bisa terus bersamanya.
"Kay, kita jalan-jalan ke mana?" tanya Nacha yang merasa bingung karena dari tadi mobilku keliling-keliling kota Medan tidak jelas. Bahkan, Pak Supri -supir pribadi mama- pun bingung dengan arah perjalanan yang tidak jelas ini.
"Nacha mau kemana?" Aku membalikkan pertanyaan Nacha. Jujur saja, aku juga tak tahu mau pergi jalan-jalan kemana. Yang penting sih, bersama Nacha. Sebenarnya, Defa tadi mau ikut, tapi karena tidak kuizini bergabung, ya sudah.
"Pak, kita ke kebun binatang saja." Nacha membuat keputusannya sendiri dan langsung memerintah pada Pak Supri.
Sepuluh menit berlalu dalam perjalanan, dan akhirnya kami sudah sampai di kebun binatang yang ada di daerah Medan. Sesampai di sana, aku dan Nacha langsung berfoto-foto dengan binatang-binatang. Banyak binatang yang unik-unik. Ada kadal yang begitu besar, buaya yang besar dan menyeramkan, monyet kembar, burung-burung yang cantik, dan banyak binatang lainnya.
Sudah dua jam aku dan Nacha berkeliling-keliling di kebun binatang yang cukup luas ini. Sudah banyak foto-foto juga yang kami ambil. Kalau dihitung-hitung, udah habis memori 1 gb berisi foto-foto kami.
"Kay, cape. Tapi aku senang," ujar Nacha saat kami sudah duduk di tepi taman kebun binatang, melepas penat sejenak.
Tiba-tiba aku teringat sesuatu, tentang hal yang ingin kuberitahu pada Nacha dari jauh-jauh hari. "Cha, ada yang ingin kuberitahu."
"Apa?" balasnya kemudian.
"Aku udah mendapat sekeping tentang masa laluku, Cha." Aku menatap Nacha dalam-dalam. "Dan aku menerima kenyataan pahit yang begitu menyakitkan." Mataku berbinar-binar.
"Kenyataan apa, Kay."
Kutarik napasku dalam-dalam sebelum membicarakan ini pada Nacha. Sebenarnya, ini termasuk rahasia pribadi. Namun, yang namanya sahabat tak boleh menyimpan rahasia sedikitpun. Barangkali juga, ketika aku menceritakan ini pada Nacha, mungkin dia bisa membantuku menyelesaikannya. "Ternyata, aku bukan anak kandung keluarga Ferrour."
Mata Nacha melotot dan mulutnya ternganga. "Are you sure?"
Aku mengangguk. "Dan nama asliku Samatha, Cha. Bukan Kayla."
"Gimana ceritanya?"
"Waktu itu, aku jalan-jalan sama Defa. Terus aku ketemu sama ibu-ibu yang mukanya hampir mirip denganku. Dia memanggilku dengan nama 'Samatha' dan mengaku sebagai ibuku. Terus waktu aku pulang, aku ceritakan kejadian itu sama mama. Dan mama memberitahuku tentang jati diriku sebenarnya. Saat itu juga, kepalaku benar-benar sakit. Kepalaku belum siap menerima semua ini dan telingaku belum siap mendengarkan semua kenyataan yang begitu pahit. Karena aku meraung-raung kesakitan, mama dan papa membawaku ke rumah sakit. Saat aku sadar, ternyata wanita yang mengaku sebagai ibuku sudah ada di sampingku lagi."
__ADS_1
"Oh...," ucap Nacha seraya sedikit mengayunkan nadanya. Nacha sudah paham dengan penjelasanku. "Dia ada cerita engga tentang kamu di masa lalu?" selidiknya.
Aku menggelengkan kepala dan mengangkat kedua bahuku. "Tidak ada."
"Oh iya, Kay. Kamu kenapa bisa amnesia?" tanyanya lagi.
Lagi-lagi aku menggeleng dan mengangkat kedua bahuku. Aku benar-benar tidak tahu mengapa aku bisa amnesia. Yang kuingat, aku sudah tergeletak di rumah sakit dan bertemu dengan dua orang yang kuanggap sebagai orang tua kandungku. "Aku ga ingat, Cha."
"Coba nanti kamu tanya sama Tante Kesya atau engga Om Kevin. Mungkin mereka tau," saran Nacha yang kemudian kubalas dengan sekali anggukan.
Percakapan kami terhenti saat mendengar suara musik yang berasal dari perutku. Ya, cacing-cacing di dalam perutku sudah memainkan gong dan berdemo meminta makan. Karena terlalu bersemangat pergi jalan-jalan bersama Nacha, aku sampai melupakan sarapanku. Nacha yang mendengar suara perutku tertawa menahan geli.
"Hehehe...." Aku ngengir menahan malu. "Maaf, aku lupa sarapan tadi."
"Hahaha... ya udah yuk makan," ajaknya seraya menarik lenganku. "Kita makan di rumah makan padang dekat sini aja, ya." Nacha menengok ke kiri. Matanya tertuju padaku. Aku hanya manyun setuju.
---o0o---
Aku dan Nacha sudah selesai menyantap makanan yang terhidang di rumah makan Padang ini dalam hitungan menit. Bagaimana tidak? Makanan di sini benar-benar lezat. Rasa pedas yang kental semakin membuat doyan makan. Makanan Indonesia jauh lebih enak dibanding makanan dari negara manapun. Cacing-cacing diperutku yang tadi meminta makan, sekarang sudah tentram. Mungkin sudah tertidur karena kekenyangan.
"Ga-pa-pa, Cha. Yang lalu biarlah berlalu."
"Aku nyesal, Kay." Nacha tertunduk. Wajahnya menandakan bahwa dia benar-benar menyesal. "Janji, kejadian itu ga bakal terjadi lagi."
Aku mengulas senyum bahagia. "Oh iya, Cha. Kabar orangtua kamu gimana?" Kemudian, aku teringat sesuatu tentang keluarga Nacha.
"Mama dan papa resmi bercerai, Kay. Dan sidangnya dimulai besok." Nacha mulai bercerita. "Mungkin itu yang terbaik." Kemudian dia mengulas senyum. Senyumnya benar-benar tulus, tanpa dipaksakan.
Aku kehabisan kata-kata. Tak tahu kata apa yang seharusnya kusampaikan pada Nacha. Jadi, aku hanya menjawab dengan senyuman saja.
"Omong-omong, waktu kamu masuk UKS karena dibully, Defa benaran nunggui kamu di situ?" tanya Nacha yang mengganti topik pembicaraan.
__ADS_1
"Waktu aku bangun, aku udah liat Defa duduk di samping ranjangku. Tapi, kamu tau dari mana?" tanyaku menyelidik.
"Dari anak-anak yang hobinya gosip. Katanya sih, Defa bolos belajar di kelas hanya demi nunggui kamu sadar," ucap Nacha yang membuat mataku membulat lebar-lebar. "Sok baik banget deh itu anak." Nacha berkata sengit. Seolah-olah benar-benar membenci Defa.
"Tapi kayaknya dia beneran baik deh, Cha," ucapku membela Defa.
"Kay, hitam dan putih itu perpaduan warna yang sempurna. Kamu tau engga kenapa?" Bukannya menjawab ucapanku, tapi Nacha memberikanku pertanyaan. Aku menjawab pertanyaannya dengan gelengan, karena aku tak tahu alasannya. "Karena disetiap kebaikan orang pasti terselip sedikit keburukannya. Ga ada orang yang benar-benar baik, Kay," lanjutnya memulai sabdanya.
Aku semakin tak paham, mengapa Nacha tak pernah menyukai orang yang berbuat baik padanya? Waktu itu Frans -teman sekelas kami- memberikan makanannya saat jam istirahat cepat berlangsung -karena guru saat itu memakai waktu istirahat untuk memberi penjelasan yang belum terselesaikan. Tapi, Nacha menolaknya. Padahal, jelas-jelas perut Nacha sudah berbunyi.
"Cha, kenapa kamu ga suka nengok orang baik?" kataku dengan nada yang menyelidik.
"Mereka semua munafik, Kay," jawabnya jengkel. "Baik di depan, ujung-ujungnya meminta imbalan." Nada suaranya mulai berkoar-koar.
Aku mengerlingkan mata, "Kamu punya masalah?"
"Boleh aku cerita?" ucapnya menenangkan dirinya dan kujawab dengan anggukan. "Dulu, aku pernah dikhianati orang. Dia berbuat baik padaku di awal-awal. Ujung-ujungnya, dia memanfaatkan kekayaanku. Dia berteman denganku hanya karena uang dan pekerjaan orangtuaku. Saat dia sudah puas, dia meninggalkanku begitu saja," ujarnya lembut tetapi terasa berat dan menyakitkan. "Ga hanya itu. Banyak orang baik, tapi di belakang dia menceritakan keburukanku. Dia juga sering mengkambinghitamkanku dengan orang-orang," lanjutnya seraya menutup kedua kelopak matanya dengan tujuan menahan air matanya supaya tidak terjatuh.
"Tapi semua orang ga kaya gi-"
Nacha langsung membuka matanya, "Semuanya sama aja, Kay," potongnya cekatan.
Aku mendengus kesal karena ucapanku terpotong. "Terus kenapa kamu mau temenan sama aku? Bukannya aku baik,ya?"
"Kamu beda, Kay." Nacha menatap mataku dalam-dalam. "Aku ga ada liat niat buruk apa pun pada dirimu."
"Kalau tiba-tiba aku seperti orang yang kamu ceritai tadi, gimana?"
Teeek...
Hening. Nacha tak langsung menjawab pertanyaanku. Dia menduduk. Tapi kemudian, dia berkata, "Berarti kamu jahat. Kamu semakin menambah luka pada diriku. Luka lama belum tertutup dan kamu sudah menambahnya." Kemudian, Nacha menatapku. "Tapi, aku harap kamu engga seperti itu, Kayla." Dia tersenyum manis dan menatap mataku kelam.
__ADS_1
Aku menatap mata Kayla juga. Ekor mata kami bertemu dan beradu. "Tidak, Kay. Aku janji akan jadi sahabat terbaik kamu. Aku janji, tak akan menyakiti hatimu atau menambah lukamu." Aku mengedipkan mata kiriku dan memberikan jari manisku di depan tubuhku dan tubuh Kayla. "Janji."
Kayla menyambut dengan menempelkan jari manisnya pada jari manisku. "Terima kasih, Kayla," ucapnya sembari tersenyum manis.