Bos Mah, Bebaaaas...

Bos Mah, Bebaaaas...
Episode 24


__ADS_3

Memasuki area pantai, Ridho melajukan mobilnya menuju ke area hotel dan resort yang mengelola pantai dengan lebih bagus dan private.


Begitu sampai didepan loby hotel, mereka segera turun, waktu baru menunjukan pukul 10 pagi jadi ada waktu cukup banyak untuk mereka bermain.


Adam menggandeng Chaca menuju ke Resepsionis Hotel dan memesan satu Villa yang dekat dengan pantai. Jadi selagi yang lain bermain di pantai mereka punya tempat beristirahat dan makan dengan layak. Setelah mendapatkan Villa yang diinginkan, Adam menelpon Ridho memberi tahu posisi vilanya, Ridho melajukan mobil ke parkiran samping villa, untuk memudahkan mengeluarkan barang-barang yang tadi mereka bawa.


Sementara Adam dan lainnya berjalan kaki dari lobby hotel menuju Villa melewati taman dan pantai yang bersih dan indah.


Dewi berusaha mengejar langkah Adam yang sedang berlarian dengan Chaca didepan. Sementara Angela berjalan gontai dibelakang sambil melihat takjub pada pantai dan jejeran kursi santai yang disediakan untuk para tamu.


Nyampe di Villa, Chaca sudah tidak sabar untuk segera main ke pantai. Sementara Angela dengan telaten membalurkan Sunblock pada tangan dan bagian tubuh Chaca yang tidak tertutup pakaian.


"Permisi mba" sapa karyawan hotel yang datang mengantarkan minuman dan makanan ringan yang tadi dipesan oleh Adam saat check in di resepsionis.


"Tarok dimeja itu ya mas" jawab Angela ramah yang saat ini sedang mencoba menguncir kuda rambut Chaca agar tidak kepanasan saat berlarian di pantai.


"Permisi mba, kalo ada lagi yang mau dipesan, bisa hubungi langsung restaurant lewat telpon didalam" jelas karyawan hotel itu sambil melangkah pergi.


"Oke mas, makasih" Jawab Angela disertai senyum manis.


Tak lama Ridho masuk membawa beberapa tentengan bekal yang tadi disiapkan mbo yum dan bik Ina.


"Bang, aku tidur dulu bentar ya, kalo udah mau balik aja bangunin" kata Ridho sambil menuju salah satu kamar dalam vila tersebut.


Villa yang disewa Adam cukup besar dengan tiga kamar tidur dan ruang tamu serta balkon yang luas dan minimalis.


Adam mengalihkan pandangannya dari gadget dan mengangguk lalu kembali fokus pada gadgetnya.


Dewi yang duduk didepannya mulai jengah.


"Mas kita jauh-jauh ke pantai buat liburan tapi kok mas malah sibuk kerja?" protes Dewi.

__ADS_1


"Kan tadi kamu ajak Chaca main ke pantai, itu Chaca udah siap. Sana kamu temani main pasir dan mandi air laut" kata Adam lalu kembali melihat gadgetnya.


"Biar Chaca sama pengasuhnya aja, diluar panas, aku lupa bawa sunblock. aku ngak mau wajah dan kulitku terbakar" elak Dewi. itu alasannya supaya bisa dekat dengan Adam yang sepertinya juga malas keluar.


Paling tidak dia bisa berduaan dengan Adam dan melayani Adam kalo-kalo pujaan hatinya itu butuh sesuatu.


"Papaaaaa, ayuk kita bikin istana pasir dipantai" ajak Chaca semangat setelah Angela selesai menguncir rambutnya dan memasang sunblock dikulitnya.


"Yuuuk, coba kejar papa" ajak Adam sambil berdiri dan berlari menuju pantai. Saat melewati Angela yang juga sudah menguncir kuda rambutnya sehingga leher jenjangnya terlihat, Adam terpana sebentar lalu menarik tangan Angela berlari ke pantai.


Chaca tertawa riang mengejar Adam dan Angela yang masih berlari dengan berpegangan tangan didepan. Angela sudah dua kali mencoba melepaskan tangannya, tapi gagal. Adam mencengkramnya cukup kuat sampai pergelangan tangan Angela memerah. Akhirnya Angela pasrah dan memilih ikut permainan bosnya.


Dewi benar-benar dibuat kesal karena tadi Adam malas-malasan saat diajaknya, sekarang malah berlarian kearah pantai yang mulai panas. Dewi mencoba mengikuti mereka, tapi cahaya panas matahari yang membakar kulitnya membuat dia kembali mundur ke villa. Terpaksa dia mengambil sunblock yang ada dalam dompet kosmetiknya dan mulai mengoleskan pada tangan dan kakinya yang tidak tertutup.


Setelah itu dia mencoba membolak balik isi tas mencari kaca mata hitam dan topi lebar untuk menutupi wajahnya agar tak terbakar cahaya matahari.


Karena tidak menemukan, baru Dewi ingat kalo Kacamata hitam dan topinya tertinggal di mobilnya yang sekarang parkir di rumah Adam. Lama dia berpikir.


"Lebih baik kulit yang terbakar wi, daripada hati" bisik hati Dewi untuk semakin membulatkan tekadnya.


Setelah perjuangan panjang melewati pasir dan terik matahari, akhirnya Dewi sampai didekat mereka yang sedang membuat istana pasir.


"Tante Dewi bawa minuman? Chaca haus nih" tanya Chaca begitu Dewi ikutan jongkok disebelah Adam yang sedang finishing Istana Pasirnya.


" Enggak" jawab Dewi polos, kenapa dia sampai lupa ya, harusnya tadi dia bawa minuman buat Adam pikirnya lebih lanjut.


"Tante Angel coba lihat foto-fotonya" minta Chaca sambil berdiri meraih smartphone yang ada ditangan Angela.


"Bagus-bagus" kata Chaca bahagia, apalagi ada foto mereka bertiga yang diambil Adam tadi saat proses membangun istana pasir.


"Chaca haus ya, Tante Angel ambilkan minuman ya" tawar Angela, dia mulai melihat gaya Dewi yang sok kecakepan dari tadi.

__ADS_1


"Ayuk Chaca ikut, kan istana pasirnya udah jadi" jawab Chaca sambil berlari menggandeng Angela yang sudah melangkah duluan.


Dewi tersenyum senang, ngak sia-sia dia panas-panasan ke pantai, akhirnya dua gadis pengganggu itu pergi dan dia kembali bisa berduaan dengan Adam.


Setelah Angela dan Chaca pergi, Adam mengehentikan kegiatannya merapikan istana pasir itu. Lalu melihat kearah Dewi.


"Saya sudah berkali-kali mengatakan, bahwa saya ngak mungkin pilih anda sebagai pengganti mama Chaca, dari dulu saya ngak pernah lihat Chaca senang dan nyaman sama anda. Jadi daripada repot-repot dan nanti makim sakit hati, sebaiknya anda menyerah saja. Saya sudah menjatuhkan pilihan pada gadis itu untuk menjadi pengganti mama Chaca" kata Adam formal, jelas dan dingin.


Dewi benar-benar kehilangan kata kata untuk merespon pernyataan Adam yang jelas-jelas sudah menutup semua celah untuk dia mendekati Adam. Dia hanya memandang pilu saat Adam berlari mengejar Angela dan Chaca yang sudah hampir sampai di dekat Vila. Adam segera meraih tangan Chaca yang satunya lagi dan ikut mengandengnya memasuki vila.


Begitu sampai dalam vila, Adam menghubungi orang dirumah untuk mengantarkan mobil Dewi ke pantai tempat mereka berada.


Dewi masih terpuruk disamping Istana pasir dan dibawah terik matahari siang itu. Dia seperti kehilangan tenaga untuk kembali ke Villa.


Muncul ide licik dalam pikirannya, kalo dia pura-pura pingsan disini, pasti Adam panik dan mengangkatnya ke Villa, dia harus lakukan sesuatu untuk menarik Adam kembali. Menyerah hanya karena kata-kata Adam barusan itu terlalu lemah, apalagi saingan juga pengasuh Chaca. Keciiiiillll kata Dewi dalam hati untuk membangun optimismenya mengejar Adam yang tadi sempat luntur.


Ridho merasa haus, lalu bangun dan kedepan villa untuk mengambil minuman, saat sedang minum dia merasa heran melihat Dewi sendirian dipinggir pantai dibawah terik matahari.


"Bang, tuh Dewi ngapain disana? pingsan ngak tuh orang??" tanya Ridho yang melihat sepertinya Dewi bukan duduk tapi rebahan.


"Lu cek aja kesono" jawab Adam santai.


"Malas ach, ngantuk" jawab Ridho ikutan cuek.


Benar-benar dua pria ngak punya perikemanusiaan, untung ganteng.


"Permisi pak, ini saya antarkan makan siang pesanannya" sapa karyawan hotel sambil mendorong kereta makanan masuk ke dalam vila.


"Mas coba deh panggil teman-temannya yang lain, kayaknya ada yang pingsan tuh dipantai" kata Ridho yang urung melanjutkan tidur melihat makan siang datang.


________

__ADS_1


__ADS_2