
Hari pun sudah mulai ashar, pengantin masih menggunakan baju ketiga nya, duduk di tempat pelaminan berdua dengan Arga,saat sedang bercanda ria,datang seorang laki tampan membawa istri dan anak-anak nya untuk menyalami pengantin baru nya.
"hey apakah kami masih bisa di izinkan untuk menyalami pengantin sekaligus menyelamati nya.."ucap laki tersebut
mereka berdua pun terkejut dan melihat kearah suara tersebut dan ternyata...
"direktur Ryan .." ucap meli
"hey .Ryan Hartono.." ucap Arga
"hmm..selamat ya meli semoga bahagia selalu sama lelaki tua ini . hhaa" ucap Ryan
"hey kau, meski tua aku masih sangat tampan meli aja gak bisa ngelupakan aku.."ucap Arga dengan sombong
"terimakasih direktur Ryan ..dan terimakasih sudah jauh2 keacara kami.. dan maafkan suami saya pak direktur". ucap meli dengan rasa tak ada enak nya
"tidak apa-apa meli .dia memang seperti itu, jangan suka marah-marah .ingat udah tua jangan sampe struk, udah nikah juga, dengan cinta masa kecilnya pula seharus nya kamu bangga..." ucap Ryan
meli hanya senyum saja dengan tingkah suaminya, begitu pun istri Ryan hanya pusing karna kalau sudah mereka berjumpa ada saja bahan cerita nya,istri Ryan pun mengucapkan kan selamat.
"bagaimana mau bangga, kamu sebenarnya mau nyelamatin aku atau menyumpahi aku ."ucap Arga dengan kesalnya.
"haha,.. tidak aku hanya mendoakan yang terbaik, selamat ya pak direktur Arga yang terhormat , akhir nya usaha tidak menghianati hasil dan semoga SAMAWA ya .." ucap Ryan
seraya menyalami dan memeluk sama lain kemudian di lanjuti Arga dengan kata kata yang sama. ketika menyalami pengantin ada kembar laki dan perempuan yang menaiki atas panggung, yang laki menggunakan baju hitam berjas rompi dan sangat tampan sedang kan yang perempuan tak kalah cantik nya dengan gaun berwarna Merah Jambu dan rambut yang dicocang dengan indah menawan sekali.
"mama tunggu aku .." ucap dua anak berumur 2 tahun sedang menaiki panggung pelaminan karna tadi istri Ryan menyuruh mereka duduk di kursi tapi tetap di ikuti orang tuanya
"hey ... siapa namanya .dan mana mamanya" ucap meli yang memang menyayangi anak kecil dengan nuansa masih imut-imutnya
"Hay Tante cantik .. nama ku Raka dan aku Rika ..." ucap dua anak itu..
"itu mama dan papa ." ucap Raka dan Riki .menunjuk Ryan dan Risa istri Ryan. dan mereka pun hanya tersenyum dengan anak yang super besar sabarnya.
"Hay sayang.. kenapa naik keatas .ya dah Salim Tante dan oom nya.." ucap Risa
setelah menyalami raka dan Riki. Arga berinisiatif menggendong Raka dan Riki yang lagi imut nya serta menyuruh meli mendekat kepadanya dan tak lupa mengajak orang tua si kembar untuk berfoto untuk mengabadikan kebahagian mereka
"oke sudah ..makasih udah mau foto sama oom ganteng dan tante cantik". ucap Arga
"sama-sama pom ganteng dan tante cantik kami pulang dulu y.." ucap anak kembar itu
"yuk ma pa.." ucap kembar seraya tangan mengadah ke orang tua nya .dan mereka pun mengendongnya..
"oh ya.. Arga Aku tunggu versi kamu, apakah akan selucu anak ku atau sedingin kamu hahaha.." ucap Ryan
"oke..kita lihat nanti .haha.." ucap Arga
meli hanya menahan malu..dari tadi mereka hanya membahas tentang versi saja.
"sayang, mereka sudah membahas tentang versi kita,apakah kita akan memulai nya malam ini.." ucap Arga dengan seriusnya
meli tak kuasa mendengar nya itu membuat nya begitu malu, tapi harus bagaimana memang seperti itu, karna menikah selain tujuan ibadah juga untuk mencetak generasi yang terbaru.
"sudah lah, jangan berbicara itu mas, meli sangat malu, nikmati saja hari ini dulu" ucap meli dengan wajah sudah memerah layak nya buah tomat
"pufttt... haha iya sayang, kan sudah halal ya, tanpa meminta itu adalah hak mas"ucap nya lagi.
__ADS_1
meli pun pergi di karenakan sangat haus,dia tak memperdulikan suami nya sedang berbicara dan turun dari pelaminan dan mengambil dua gelas, dimana yang satu nya untuk Arga dan satu lagi untuk dirinya, namun ketika ingin mengambil air, ia melihat dokter Ali baru ingin pulang dan menyalami orang tua nya dan mertua nya.
"kenapa dokter Ali belum juga pulang bukan kah dia sudah menyalami saya pas baju adat Aceh, oh mungkin banyak teman-teman nya disini dan meluang kan waktu bersama teman nya." celetuk meli
saat meli ingin naik kepelaminan, dia mendengar dokter Ali sedang bercerita dengan papa dan papa Wijaya, dan merasa ingin tahu, meli sedikit mendekat agar dapat di dengar apa yang di bicarakan, berhubung waktu jam 16.00 baru selesai adzan dan musik sudah di matikan, meli lebih leluasa mendengar nya,namun tak disadari ada Arga yang mengitu nya tanpa sedikit pun suara, Arga juga ingin melihat tingkah istri nya yang sedang mengintai dokter Ali dan keluarga nya
"pak, saya Ali temen nya meli dan Arga..selamat ya pak sudah ada menantu dan besan semoga silahturahmi selalu terjaga" ucap Ali dengan senyum nya
"ehh.. dokter Ali ya, oh iya terimakasih dokter, saya juga senang dokter bisa ke acara ini.. dengan siapa anak Ali pergi kesini" ucap Teuku karna dilihat ali pergi bersama tiga wanita dan wanita salah satu nya ia sangat mengenali meski sudah paru baya namun tetap terlihat awet
"oh saya pergi dengan mama saya pak,, mama Winda dan dua lagi adalah pekerja saya, baik lah pak saya menyalami ibu meli" ucap Ali
"oh iya silahkan nak Ali" ucap Teuku
Ali pun menyalami mama meli, papa Wijaya dan mama Sarah, namun setelah menyalami semua dan di ikuti dua pekerja nya barulah mama nya Ali, alangkah terkejut nya bahwa yang disalami adalah temen sekolah nya dan ketika Winda melihat ke samping istri Teuku, dia melihat masalau nya dan kebetulan mereka duduk berderetan.
"Winda,, iya winda kan..." ucap Teuku
Dan membuat Wijaya terkejut, dan mengalih kan nya ke arah Teuku,dan bener saja Wijaya melihat masa lalu nya. dan ia berusaha tetap tenang bukan karna dasar masih mencintai hanya saja ia pernah memberi kesalahan, dia pernah memberikan janji palsu untuk Winda ketika Wijaya memutuskan kuliah di luar negeri dia menjanjikan pernikahan bersama Winda, namun pada dasarnya setelah ia menjalani S2 nya dia bertemu dengan Sarah, Dan melupakan Winda, yang pada dasar nya Winda sudah menunggu bertahun-tahun mengingat janji nya untuk sebuah pernikahan, namun ketika Wijaya kembali ia memutuskan untuk menikah dengan Sarah dan atas kesalahan nya dia membuat Winda sangat depresi berat namun baik nya tuhan, Winda di jumpakan lelaki yang terbaik seorang dokter pribadinya menangani masalah depresinya dan akhir nya Winda menikah dengan atas dasar baik nya lelaki itu dan perjodohan orang tuanya. Wijaya tahu semua masalah itu namun iya tak pernah menampakkan wajah nya atas kesalahan terbesar nya.
"iya..saya Winda pak Teuku..selamat atas pernikahan anak pak Teuku, meli dan Arga semoga allah memberkahi atas mereka dan atas pak teuku dan ibu Tri" ucap Winda dengan senyum nya
"terimakasih Winda,jangan panggil saya pak, panggil saya Teuku bukan kah kita teman" ucap Teuku dan merasakan kasihan atas Winda dengan masa lalu nya meski iya sudah bahagia
"baik lah Teuku" ucap Winda dan ingin melanjut kan ke tri untuk menyalami nya
para tamu undangan sudah hampir tak ada lagi,hanya mereka yang tersisa, Winda tidak melanjutkan pulang lebih dahulu di karenakan ia ingin masih melihat meli dan masih ingin berkomunikasi dengan teman-teman nya kebetulan di undang begitupun Ali,sehingga menghabis kan waktu di acara itu bersama teman-teman mereka, dan saat menyalami para besan Couple Winda memilih yang terakhir saja dengan niat ingin berbincang sedikit dengan keluarga meli namun ternyata keluarga meli adalah orang sangat di kenali, dan semua anak-anak dari mereka melihat adegan tersebut, baik Arga, meli,Ali, Andre, Aldo, dan Rio,bahkan Dila, serta bi Inah, namun tidak ada yang mendekat karna itu urusan orang tua mereka namun perasaan ingin mendengar lebih kuat untuk mendorong.
"sebentar Winda,bagaimana kabar mu saat ini, apakah sehat,, dan apakah dokter Ali adalah anak mu" ucap Teuku
"kabar saya sangat baik teuku, bahkan saya sangat sehat, dan dokter Ali adalah anak ku" ucap mama Winda masih dengan fokus nya melihat Teuku dan Tri dengan senyum nya karna yang iya tahu mereka adalah orang tua meli yang sangat ia sayangi pada saat pertemuan pertama kali.
"masyaallah, kamu ibu yang hebat Winda, ternyata dia mengikuti jejak papanya, dimana Suami mu Winda,aku ingin berkenalan karna dulu saya tidak sempat berkenalan sewaktu kamu pesta " ucap Teuku dengan melirik kekiri dan kekanan
"terimakasih Teuku,kamu juga orang tua yang hebat untuk anak-anak mu,menjadikan anak yang cantik, baik sampai aku ingin memiliki nya untuk anak Ku, sebelum melanjut kan Winda mengatur nafas dan suami saya sudah meninggalkan kami sebulan yang lalu di karenakan penyakit jantungnya" ucap Winda dengan nada sedih nya dan tanpa sadar iya mengeluarkan air matanya
"maafkan aku Winda, aku telah membuat mu menangis, semoga Allah beri ketabahan atas mu, dan semangat kamu masih ada Ali dan meli bisa kamu anggap sebagai anak mu meski kita tahu kita bisa berencana tapi Tuhan putuskan" ucap Teuku
"maaf kan suami tri, Winda,,suami tri tidak ada maksud membuat, Winda sedih" ucap mama tri
Sarah pun tak tega melihat Winda,begitu besar rasa cinta untuk suami nya, rasa yang tak bisa ia ungkapkan yang pasti suami banyak memberikan warna selama hidup nya.
"tidak apa-apa Teuku,, Tri.. aku sudah mengikhlaskan nya, hanya saja aku masih cengeng akan pengorbanan baik nya selama ini yang masih membekas di hatiku ku" ucap Winda dengan senyumnya bahwa iya tidak apa-apa
"baiklah Winda, hati-hati dijalan, semoga sehat selalu dan ini ada sedikit makanan di terima ya" ucap Teuku
"di terima ya Winda, kamu bisa kapan saja kesini Jika ingin melihat meli" ucap tri sambil memeluk winda
"Terimakasih, kalian baik sekali, baik lah aku ingi menyalami besan kamu" ucap Winda
Winda pun menyalami mama Sarah dan mengulangi kata-kata yang sama. Sarah pun memeluk winda untuk memberikan kata nasehat untuk menguat dirinya. Namun ketika ingin menyalami besan meli yang lelaki nya, alangkah terkejutnya ia melihat masa lalu nya dan melihat kearah Sarah, Sarah hanya membalas nya dengan senyum nya. Winda pun hanya diam tak ada sepatah kata, namun setelah menarik tangan nya yang sudah menyamai Wijaya dan memberi senyum kecut dan memilih pergi. ketika Winda pergi, Wijaya memanggil nya.
"Winda, sebentar..." ucap wijaya
mama Winda terus berjalan menarik erat tangan Ali dan membawa pergi Ali, Ali merasa ada yang aneh dari sikap mama nya, begitupun semua nya yang melihat juga merasa aneh terlebih lagi pada papa wijaya. Sampai mama Sarah terkejut dengan sikap Wijaya. Namun Teuku berusaha mencegat Sarah untuk tidak berurusan dan berusaha untuk membuat Sarah tidak marah berusaha membicarakan hal masa lalu dan Wijaya. Dan untung nya Sarah mendengar kan Teuku tentang permasalahan suaminya itu dengan Winda.
***
__ADS_1
"Winda, tunggu sebentar"..ucap wijaya sambil menarik tangan Winda.
Membuat Winda dan Ali berhenti, namun Winda tetap berusaha melepaskan tangan wijaya dari cengkraman nya. Winda menangis semakin menjadi, Ali sangat pusing, permasalahan apa yang di lakukan Wijaya ayah nya Arga sampai mamanya seperti ini, tapi iya tidak bisa berbuat apa-apa, karna dia tidak tahu apa dan dia juga seorang anak dan memilih melepas kan tangan mama Winda dan menyelesaikan permasalahan nya.
"ada apa,, tidak ada hal yang perlu di bahas lagi, jadi pergilah" ucap mama winda dengan lantang nya dengan suara yang serak karna menangis
"Winda, tenangkan dirimu,, jangan seperti ini, aku menghampirimu karna kamu tahu, aku ingin meminta maaf pada mu, maaf kan aku untuk 32 tahun yang lalu, aku tahu itu sudah lama, tapi masa itu kamu sangat mengingat nya dan tak pernah kamu lupakan, begitu pu. aku, aku tidak bisa melupakan nya,aku terus di hantui rasa bersalah ku sampai aku tidak bisa menghadap mu untuk meminta maaf. maaf kan atas segala janji yang ku ucap kan atas penderitaan yang aku lakukan padamu, maaf kan lah aku..!! " ucap wijaya dengan wajah sangat sedih nya
mama Winda tak kuasa menahan tangisnya membuat ali merasa iba, Ali pun memeluk ibu nya. begitu pun mama Sarah dan yang lain setelah mengetahui apa yang di alami Winda mereka juga sangat sedih dan mendorong Sarah untuk meminta maaf untuk suami nya agar suami nya juga bisa hidup bahagia. Sarah pun pergi ketika melihat tidak ada jawaban dari Winda. mama Sarah langsung bersujud di kaki Winda, dia juga menangis melihat adegan yang di lihat nya. bahkan Arga ,Andre ,Aldo dan Rio pun meneriaki mama nya Sarah, karna seumur hidupnya, dia tak melihat mama Sarah bersujud di kaki orang kecuali orang tuanya.
"Winda, maaf kan lah suami aku,dan maaf kan aku, aku lah yang menggoda mas Wijaya, aku juga yang menyuruh keluarga ku untuk menjodohkan aku dengan mas Wijaya, Winda suami tidak bersalah aku yang bersalah, aku yang tidak tahu bahwa mas Wijaya sudah memili kekasih dan maaf aku, aku lah yang selalu mengikuti nya kemana ia pergi dan membuat mas Wijaya menyerah dan menikahi ku, Winda maaf kan lah suami ku .maaf kan suami Winda... bagaimana lagi aku harus meminta maaf padamu,aku tahu kau lebih merasakan sakit dari pada aku, kau pernah depresi karna aku .huhuhhu..." ucap mama Sarah yang tak kuasa dengan perasaan yang tak pernah di bayang kan karna perbuatan nya ada yang harus menahan sakit bertahun-tahun
"sayang, kenapa kamu yang meminta maaf, aku lah yang salah, kenapa harus kamu sayang.. bangun lah sayang..Winda tak akan memaafku" ucap wijaya seraya membangun istri nya untuk berdiri
Arga, Andre,Aldo dan Rio, bahkan meli dan lainnya tak kuasa melihat Sarah bersujud atas ayah nya. Arga, Andre pun sangat sedih melihat miris mamanya, dia pun pergi menjemput mama nya, di ikuti oleh Aldo dan Rio, merupakan empat pemuda tampan yang sejati.
"mama, jangan menangis, mama tidak bersalah, kenapa mama yang harus meminta maaf " ucap Arga dan Andre seraya mengambil mama nya dari pelukan ayah nya dan memeluk mamanya dan di ikuti Rio dan Aldo.
"papa, Arga pikir, papa adalah lelaki yang terbaik yang kami punya tapi papa juga mempunyai hal yang buruk yang tidak pernah Arga dan kami duga. Papa. Arga tahu semua orang mempunyai kesalahan tersendiri tapi papa adalah benar laki yang sejati yang kami punya, kami bangga sama papa, karna papa sudah mengakui kesalahan papa, dan mama, seburuk apapun mama di masa lalu,, mama adalah yang terbaik untuk kami dan papa,, mama sudah memperlihat rasa cinta mama ke papa,mama sudah berusaha mama jangan menangis lagi. biar lah itu menjadi urusan Tante Winda" ucap Arga sambil menyuruh Andre dan dua adiknya membawa mama dan papa nya kerumah meli
Arga membalik kan badan nya kearah ali dan mama Winda, seraya mendekat ke mereka tau, Arga tahu mereka berdua orang baik hanya keadaan yang tidak baik.
"Tante Winda, Ali, saya anak dari sulung dari papa Wijaya dan mama Sarah, saya meminta maaf atas kesalahan orang tua saya, cuman Yang saya tahu kalian berdua orang baik" ucap Arga
"saya tidak tahu apa-apa Arga atas masalah ini, saya tidak pernah marah akan semua ini, aku juga ingin menyelesaikan masalah ini,..izinkan aku berbicara dengan mama saya sebentar." ucap ali
Arga pun mengizinkan dan ia kembali kerumah meli dan melihat kedua orang tuanya disana sudah ada meli dan orang tua meli serta bi Inah yang menenangkan mereka.
"Dan mama dengan kan Ali seraya melepaskan pelukan nya dan mengajak mama bicara berdua dengan menghadap apa yang mama tangisi!, mama semua sudah terjadi, bukan kah manusia hanya berencana Allah lah yang memutuskan. mama, permasalahan itu sudah lama, jadi sampai detik ini mama, dan pada detik ini Ali sudah dewasa mama masih memendam perasaan sakit hati itu. mama bagaimana mama bisa sehat kalau mama sendiri juga menyakiti mama sendiri. mama lihat Ali,,!! ma tidak bahagia ada Ali, mama tidak bahagia menikah dengan papa,,..mama masih mencintai papa Arga!" ucap Ali dari hati ke hati
"mama sayang sama papa Ali,. bahkan dengan Ali, Ali hidup mama sekarang, Ali sumber kebahagiaan mama, mama bangga punya Ali, mama bahagia ada papa Ali menemani hari-hari mama selama ini, papa baik, mama mencintai papa Ali,mama tidak ada perasaa. lagi terhadap Wijaya,, mama hanya melihat rasa di tinggal, rasa penungguan terlalu lama, cinta bertepuk sebelah tangan, dan rasa tidak ingin hidup lagi itu yang mama rasakan sakit saat ini jika melihat Wijaya" ucap Winda dengan rasa amat sakit dan tak habisnya mengeluarkan air mata.
"mama selama ini, hanya melihat penderitaan mama, tapi mama tidak melihat nikmat setelah penderitaan,, mama coba pahami disini menunjukkan hati mama winda mama berarti mama tidak berjodoh dengan om Wijaya, maa. om Wijaya hanya manusia yang jauh dari kata sempurna sama seperti Ali, mama dan yang lainnya, kita hanya mengikuti alurnya mama,, ya anggap saja om Wijaya sebagai perantara Allah yang menunjukkan mama dengan jodoh sebenarnya meski harus berupa drama yang dilakukan om Wijaya seperti ini, tapi mama tetap mendapat nikmat yang indah meski papa harus kembali pada NYA..ayuk ma, istigfar mama, mama tidak boleh seperti itu, allah marah, karna mama marah nya pasti sama Allah padahal pada dasar nya allah sudah memberikan yang terbaik untuk mama " ucap Ali
Winda pun tersadarkan oleh nasehat anaknya, sehingga membuatnya terus-terus beristigfar dan kemudian mengajak Ali ketempat Ali untuk bertemu dengan Sarah dan wijaya untuk memaafkan mereka dan meminta maaf kepada mereka atas sifat nya yang masih merasa kekanakan ini, setelah acara maaf nya sudah selesai mereka pun kembali ke rumah masing- masing dan mengawalinya dengan lembaran yang baru lagi.
***
Jangan menyimpan rasa sakit terlalu lama karna ia bisa membuat dirimu juga sakit dan bisa membuat mu lebih buruk akan itu.
Jadilah pemaaf meski rasa sakit nya tak bisa dihitung akan rasa sakitnya, namun itu lah obat yang terbaik dari segala sakit hati
Jadikan dirimu seorang yang bijaksana yang mampu berdamai dengan masa lalu dan berjalan seiring dengan masa yang akan datang, karna bahagia mu terletak pada dirimu maka jangan rusak kan rasa sakit hati pada dirimu
Dan percayakan pada hatimu, untuk terus menyakini bahwa rasa sakit yang Allah takdir kan atas kita, selama kita mengahapi nya dengan pikirang yang baik,hati yang baik maka Allah akan berikan nikmat yang double sesudah nya ..
By: Author Cantik mu
Nur Maulida Sani
***
Alhamdulillah, semoga makin semangat baca nya teman-teman..ini sudah bonus, yang biasa nya kata-kata nya hanya seribu lebih sekarang tiga ribu enam puluh satu.
Jangan lupa like dan komen nya teman-teman
semoga sehat selalu
__ADS_1
"