Bualan Semata

Bualan Semata
keputusan


__ADS_3

Suara kokokkan ayam jantan besahut sahutan setelah kumandang azan subuh usai .


Bukan merasa terganggu tapi seperti waktu kembali lagi untuk Nia jadi putri kecil sang ayah .


di luar pintu kamar sang ayah tengah mengetuk pintu membangunkan Nia untuk menjalankan sholat subuh .


Seperti dahulu saat Nia masih tinggal bersama kedua orang tuanya sebelum menikah .


Kini iya rasakan kembali perhatian sang ayah tidak berubah walaupun Nia sudah menikah.


saat ini Nia tidak lg bersama sang suami jd sang ayah tetap menjalankan peranya yg sudah lebih dari setahun ini ia serahkan pada Andika menantunya.


Nia terbangun dan segera mengambil wudhu di samping rumah.


pancuran di samping rumah yg di buat jerambahan di atas kolam ikan .


air pedesaan di pagi hari begitu terasa sejuk dan segar.


Tak lama setelah sholat nia kembali ke arah tempat tidur mungkin karena hari masih sangat pagi .


walaupun aktifitas di desa setelah subuhan sudah sibuk tapi bagi Nia ini masih terlalu dini untuk mengawali kegiatanya .


Nia mengambil ponsel yg ada di atas nakas lalu membuka pesan aplikasi hijaunya .


terlihat begitu banyak pesan masuk tp setelah di lihat tak satupun ada dari kontak sang suami.


Terlihat deretan terahir adalah kontak sang ibu mertua ,Nia penasaran akan pesan dari sang mertua .


sebelum Nia membuka pesan tiba - tiba ponsel Nia mati karena kehabisan battre.

__ADS_1


Nia kembali menaruh ponselnya di atas nakas karena matanya kembali mengantuk.


Di tungku belakang ibu nia tengah menggoreng pisang dan juga mendohan serta menyeduh teh tubruk seteko besar itu sudah biasa bagi sebagian warga desa .


Ibu nia selalu memasak di tungku belakang walaupun kompor gas beserta perlengkapan serba modrn telah di milikinya.


saat pagi hari ibu nia memasak di dapur alih - alih bilang katanya sambil karing .


Hidup ini sederhana gak usah di bikin repot sendiri ucapnya saat bapak menyuruhnya memasak di dapur dalam yg sudah bapak buatkan seperti dapurnya orang kota .


"Ibu lebih nyaman masak di belakang pak " angin semriwing silir silir tukas ibu.


"Lah itu bapak sudah belikan kipas angin tinggal di pencet aja!" bapak menimpali ibu .


" wes wes semua yg di dalam buat anak -anak agar nyaman ." ibu tak kalah mau kalah oleh sang suami .


" Bapak rasa ko lebih baik Nia tinggal di sini daripada di jakarta temapt sempit ." ucap bapak sembari meniup niup pisang goreng di tangan yg masih mengepul uap .


Mereka bersua tidak menyadari kalo Nia tengah berdiri di bang pintu antara dapur dalam dan dapur belakang .


Nia sengaja memperhatikan kedua orang tuanya saat pagi hari berdua saja bercerita.


mungkin kalau Nia tetap menetap di sini bapak sama ibu tidak kesepian pikirnya .


Nia kembali ke kamar membiarkan bapak dan ibu melanjutkan cerita paginya .


Nia mengambil ponsel di atas nakas karena sepertinya ada notif pesan .


Etelah dibukanya ia kembali menemukan pesan dari ibu mertuanya yg menyuruhnya segera kembali ke jakarta .

__ADS_1


Nia menjadi bingung di satu sisi ia punya kewajiban pada sang suami yg sama sekali tak pernah menanyakan kabaranya selama di kampung .


Di sisi lain Nia sangat nyaman dan merasa kasihan pada ibu dan bapak kesepian setiap hari.


Mondar mandir di kamar sambil memegangi ponselnya tidak tau apa yg harus di lakukan .


Sesaat ingin menelpon saja ke ibu mertua menanyakan maksud dari pesanya ada apa tapi kemudiian batre ponselnya sudah habis.


" Nia sudah siang nduk, bangun " suara ibu di luar pintu kamar menunggu jawaban .


" ia bu" nia segera keluar kamar dengan pelan menutup pintu kembali karena bayi Aqmar masih terlelap.


Nia berjalan mengikuti sang ibu menuju arah dapur belakang di sana masih duduk sang ayah yg sedang menikmati kopi pahit dan sesekali menggigit gula aren .


Goreng pisang yg masih hangat dan teh tubruk panas menemani sarapan pagi Nia bersama kedua orang tuanya di desa.


"Bagaimana kabar suamimu nduk?" tiba tiba bapak menanyakan sang menantunya,hingga membuat Nia terperanjat karena tidak memprediksi pertanyaan soal Andika.


" Ba- baik- baik aja pak " ucap Nia terbata .


Mendapati jawaban sang putri kesayanganya pak hartoyo merasa ada yg di sembunyikan sang putri.


Ia tak lagi melanjutkan pembicaraan baginya tidak perlu bertanya banyak tentang kondisi rumah tangga putrinya sebelum Nia sendiri yg akan bercerita.


Sambil manggut -manggut menyruput kopi pak hartoyo memberikan reaspon atas jawaban sang putrinya.


Nia menjadi canggung melihat suasana tak lagi seperti sebelumnya ibu Nia dengan cepat mencairkan suasana .


menanyakan sang cucu pada putrinya untuk mengalihkan rasa yg sempet tegang .

__ADS_1


__ADS_2