Bualan Semata

Bualan Semata
Draft


__ADS_3

Nia kembali memasuki kamar nya untuk membangunkan suami nya ,rasa sesak sudah memenuhi rongga dadanya jagan sampai menjadi nqik niih tekanan darah nya pikir nia.



Belum sepet Nia masuk kamar di luar sudah terdengar ketukan pintu.



Nia lantas mengurungkan niatnya untuk masuk kamar kemudian menuju arah pintu untuk membukakan pitu sang tamu .


Gerutuan bu sri sudah terdengar meraja lela saat pintu rumah nia tak kunjung di bukanya.


Di tengah terik panas gini siapa yg tahan dengan berada di bawah matahari berlama -lama .


"Nia,lelet banget si kamu mama sampai kering niih!" ucap bu sri sang mama mertua mengawali suaranya begitu pintu rumah nia terbuka.


" maaf mah"kalimat singkat nia sembari menutup kembali pintu.


Bu sri baru saja ingin mendaratkan bokongnya di atas sofa,


ia di suguhi anak sulungnya yg baru keluar kamar dengan rambut acak -acak , mata sepet khas orang baru bangun tidur .



Nia yg menyadari raut murka sang mertua langsung menengahi agar tidak terjdi argument antra anak dan ibu.


"Nia katanya sakit ko sudah rapi mau pergi kemana?" ucap bu sri masih sesikit menahan kesalnya ."


"biasa juga rapi begitu mah " ucap andika tanpa di minta.


" Diam, aku tidak bertanya sama kamu !" suara bu nia tetdengar ketus kemudian memalingkan mukanya .


Nia kembali menenghi keduanya , membawa ibu mertuanya duduk di ruang tv menjauhkan dari Andika yg masih berdiri di depan kamarnya.


Sebentar nia meninggalkan ibu mertunya iya kembali dengan dua cangkir teh dan setoples rempeyek untuk di suguhkan kepada snag mertua.


"Nia,kandunganmu sudah berapa bulan ? Sang ibu mertua mengawali perbincanganya.


" baru mau dua bulan mah" jawab nia pelan .


" Apa tidak sebaikny kamu tinggal di rumah mamah, biar Dika tenang saat kerja , nggk kepikiran kamu terus ." ucap sang mertua kembali.

__ADS_1


Andika telah bergabung dengan kami setelah mandi terlebih dahulu.



Nia melihat ke arah adik seolah memberi kode agar sang suali dapat memberi jawaban pada ibunya.



Walau begitu di dala hati nia terus berdoa agar sag suami tidak lantas mengiyakan permintaan ibunya .


Tentunya sedikit banyak Andika memahami kecemasan sang istri ,tapi keinginan ibunya kali ini ada benarnya juga .


Mengingat Nia kini tengah hamil muda tentu kondisinya jauh berbeda dari saat iya belum hamil .


" mah kita pertimbangkan dulu ya" ucap Andika memberi pengertian ke mamahnya .


" kalo gitu jangan manja , jangan sedikit sedikit dirasa !" sembari menaruh cangkirnya ke atas meja.


teh yg masih tersisa setengahnya tidak jadi di habiskan mungkin merasa kesal ,


Andika menolak secara halus keinginanya .


Tak berapa lama kemudian mamah pamit untuk pulang .


Setelah kepulangan mamah karena hari sudah menjelang magrib ahirnya kita urungkan untuk jalan " sorenya.


Kami kembali ke ruang tv setelah mengantar mamah sampai depan pagar tapi tak lama kemudian suara pintu di ketuk lagi .


saat Nia membuka pintu ternyata sang mertua yg kembali merengsak masuk kedalam sambil mengobok -obok tas tentengnya .


Entah apa yg sedang di cari oleh sang ibu mertua sepertinya hal yg penting .


barang yg di carinya tak kunjung di temui dalam tas hingga iya mengeluarkan seluruh isi tasnya .


Nia merasa keharanna tapi untuk menyela bertanya rasanya tidak pas waktunya.


Bahkan Andika sang anak hanya melihat tingkah ibunya tanpa mengeluarkan suaranya sedikitpun.


Sepertinya merasa lelah dan putus asa iya kembali memasukan lagi perintilan yg tadi di keluarkannya kembali ke dalam tas .


Ibu sri kembali ke posisi duduk yg benar kemudian meraba raba kantong gamisnya.

__ADS_1


Raut sumringah tertera jelas sedikit senyum di sunggingkan .


sepertinya iya menemukan barang yg di carinya,


" terlihat seperti gantungan konci" pikiran nia mengira ngira .


"Nia sini"mamah memanggil untuk mendekat.


"iya mah ,,,"sambil kulangkahkan kakiku mendekat .


Ibu ari mengulurkan tanganya lalu meletakan sebuah benda di atas tangan nia .


"gunting liapat kecil , peniti , bawang putih dan juga jahe yg sudah di rangakai sedemikian rupa menyerupai sebuah bros" ucap Nia .


Bu sri melepaskan tangan nia lalu memberi pesan agar benda yg di berikanya itu untuk di kenakan saat bepergian .


Nia orang jawa tentu saja sedikit banyak tau soal klenik - klenik semacamanya , tapi Nia tak mempercayainya hal serupa baginya cukup dengan bismillah .


" Nia,ini kaitkanlah di bajumu biar tidak terlihat orang lain kaitkan saja di pakean dalamu !" perintah bu sri mengakhiri bocaranya sebelum iya kembali pamit untuk pulang .


tanpa menunggu jawaban Nia sang mertua kembali keluar untuk segera pulang .


agar tidak menyinggung perasaan sang ibu mertua Nia menerima benda roncean tersebut walaupun hati tidak sreg.


hal - hal kecil seperti inilah yg sering menjadi perbedaan antara Nia dan ibu mertuanya .


Ibu mertua yg masih terus hidup dalam tata cara daerahnya .


Walaupun sudah sangat lama tinggal di ibu kota tapi tetap saja iya tidak meninggalkan adat istiadat atau tata cara kedhidupan daerahnya.


Bukan hanya soal hal hal yg klenik atau sejwnisny bahkan kehidupan sehari harinya pun masih repot menurut nia .


Secara hidup di tengah kota metropolitan untuk makn masih menggunakn nasi kukus .minum air rebus .


Sementara nia sang mantu menginginkan hidup serba praktis dan tentu saja ekonomis di jaman modern seperti sekarang ini .


Untuk menghindari perbedaan semakin jelas nia terkadang lebih mengalah .


biarlah suatu hari nanti dengan sendirinya akan beralih ke peradaban modern mengikuti jaman dan meninggalkan peradaaban daerahnya .


"Itu harapan nia .....

__ADS_1


__ADS_2