
suara di seberang telpon masih mengulang.
" mbak Kania larasati? suara nya terdengar lebih jelas .
"iya saya sendiri, ada yg bisa saya bantu ?"ucap Nia seperti bingung karena tidak mengenali suara di seberang telpon .
" mbak ini aku santi mbak , masih ingat saya?" ucapnya kembali.
Aku masih mengingat -ingat santi, Santi yg mana ini? soalny Nia punya temen ada tiga yg bernama Santi saat masih di kampung .
"Mbak Nia,saya santi anaknya pak carik ," suara disebrang telpon kembali menegaskan .
" oh iya An apa kabar?
" sekarang tinggal di mana ?
..."Tau dari mana nomorku? tanya Nia nyerocos bak petasan tqnpa jda saking antusiasnya ....
" wah Ternyata kamu masih sama yaa?" ucapnya lagi .
" mbak Nia , apa boleh saya main ke rumah kamu ? mumpung saya lg di jakarta sekalian kita bertemu.
sudah lama saya kangen sam ambak Nia ." pintanya seolah menahan rindu pada sahabat .
Nia mengirimkan alamat melalui whatsap .tak perlu waktu lama santi sudah membalas pesan Nia .
Santu berjanji dua hari lagi akan berkunjung.
Malam sudah mulai bernjak tapi Nia masih berkutat dengan gawainya.
Derrt .... Derrtt...
Kembali gawaiku berdering Nia melihat kontak mas Andika yg memangil . Segera ia usap layarnya membuka konci.
" Asalamualaikum Iya mas, ada apa ?" Suara Nia pelankan.
" Dee, Malam ini mas tidak pulang ya mas mau keluar kota , ke bandung" tukas Andika mengabari sang istri .
" iya mas...nggk apa" jawab nia singkat.
"bawakan oleh -oleh strobery ya mas sekalian alpukat boleh ? Pinta Nia .
" ok Dee Hati- hati di rumah kalo ada apa -apa hubungi mas ya? Andika mengakhiri percakapan .
Seperti biasa sebelum tidur Nia mengecek jendela pintu apakah sudah terkonci semua dengan baik atau belum .
setengah sadar karena memang aku sudah berbaring cukup lama terdengar sayup - sayup suara memnggil nama nya.
Perlahan Nia bangun dari temapt tidur menuju pintu, sebelumnya menelah dulu sumber suara .
Nia mengurungkan niatnya membukakan pintu untuk ibu meetuanya yg kini tengah berdiri di depan pintu.
Di lihatnya jam dinding tengah menunjuk di angka sebelas malam .
Nia hanya bersdri di belakang pintu tanpa suara.
__ADS_1
mendengar segala gerutu sang ibu mertua. Memutuskan untuk tidak mbuka pintu dan menunggu sampai sang ibu mertua balik kanan .
"Palingan mas andika yg minta mamahnya dateng kemari ." Nia bermonolog .
Thoorrr teganya dirimu.?
"maafkan menantumu ini mam"ups nia menutup mulutnya .
Setelah tak terdengar lagi suara dan bayanganya tak ada lagi Nia kembali ke kamar melanjutkan tidurnya.
Bukan tega tp demi menghidari pedasnya cabe rawit karena sudah malam .
Malam terasa berjalan begitu cepat .
Derrtt ...
Dertttt.
terrasa bunyinya nyaring sekali di pagi buta yg masih sunyi sepi, bahkan azan subuh juga baru saja selesai berkumandang .
Dengan malas Nia meraih gawai yg ada di atas nakas temapt tidur .
"Nia " men jauhkan posel dari kuping karena suara dari sebrang telepon terasa sangat keras .
"sudah bangun kamu? Belum juga Nia jawab sudah bertanya lagi cicit Nia.
Tapi baguslah berarti semalam mamah mertua balik kerumah lagi dengan selamat.
tadinya Nia juga berniat ingin melelponya sekadar basa basi untuk mengurangi rasa durhakanya semalam yg tidak membukakan pintu , takut terjadi sesuatu aja .
" kamu ya kalo tidur kaya kebo,gak denger apa semalam mamah ketuk -ketuk pintu?" suaranya masih menggelegar .
" maaf mah"Sepertinya Nia sudah tidur "jawabnya sepolos mungkin .
" tidur ngebo kalo ada maling bagaimana?" Tetep nyari selah mamah mertuaku.
" iya mah" lagian mau maling apa coba di rumah kontrakan yg cuma tiga petak ini sungut Nia.
" ya sudah , jangan ngayab mulu jaga kesehatan !" kemudian telepon sudah terputus sepihak.
Sabarrr.... Mungkin bentuk perhatian nya memang caranya seperti itu.
kulangkahkan kaki ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu ,hari masih sangat gelap seusai sholat subuh ku hanya membuka jendela dan korden saja sementara pintu masih ter tutup saja karena masih terlalu pagi.
karena tidak ada pekerjaan yg memburu Nia kembali rebahan di kasur.
hembusan semilir angin dari jendela kamar yg terbuka terasa sangat menyejukan, mengingatkan Nia pada saat di kampung dulu .
udara yg bersih dan sejuk.
tidak panas seperti di ibukota harus pake kipas atau pendingin ruangan kalo ingin sejuk .
Sekilas terlintas bayangan emak dan bapak saat pagi tiba mereka sibuk dengan kegiatan masing -masing .
emak memasak di dapur saat masih pagi buta selepas sholat subuh , bapak dengan ayam - ayam jagonya untuk di kurung depan rumah.
__ADS_1
aaah..... pagi buta dengan kokokan ayam jantan dan riuhny induk ayam beserta puluhan piyik piyik kecilny semakin meramaikan suasana pagi .
Ibu keluar dari pintu belakang dengan teh manis serta kopi hitam yg masih mengepulkan asap .
s ubi rebus sebagai sarapan pagi, kami duduk di teras sambil melihat ayam jago dan ayam " lainya berebut bekatul yg di sediakan bapak .
hal sederhana yg terasa sangat membahagiakan.
Tak terasa bulir bening menetes di antara kedua sisi manik coklat Nia.
rasanya ingin sekali Nia berjumpa dengan emak dan bapak .
Tok ...tok ...tok ...
"asalamualaikum ,Dee? Suaranya membuyarkan lamunanku.
Sepertinya mas Andika sudah datang .
"iya wa alaikum sallam mas" Nia memutar konci membuka pintu .
Andika sudah ada di depan pintu dengan dua buah kantong plastik putih lalu memberikanya pada Nia .
Dengan senang hti nia meraih oleh -oleh yg di sodorkan Andika.
" mas,Ini terlalu banyak siapa yg mau makan semua ini?" ucap Nia yg tak di hiraukan oleh Andika .
" simpan aja Dee di kulkas,sebagian lagi taruh aja di situ barang kali nanti mam datang".ucap andika sembari ngeloyir kedalam kamar .
"Mas mau kopi?"
"tidak Dee mas mau istirahat" andika menimpali .
"Mas sudah sarapan nasi uduk tadi di jalan ."
Andika berlalu meninggalkan Nia di ruang makan yg sedang sibuk memilah buah .
Gegas Nia melangkah ke arah dapur membuat sarapan untuk dirinya sendiri.
segelas susu hangat , nasi goreng dan sebutir telur rebus .
Ya Nia harus minum dan memakan-makanan yg banyak mengandung protein , sebenernya Nia tidak suka sama telur rebus.
tapi demi si jagoan yg masih unyu di dalam sini ucap sambil Nia sambil mengelus perutnya yg sudah mulai membuncit.
Di sudut ruang seorang ibu paruh baya , masih saja dengan gerutunya pada anak gadis satu - satunya di keluarga itu .
Rena hanya bisa terdiam mematung menerima segala ucapan yg di keluarkan mamahnya ,
Tak sepatah katapun pembelaan di ucapkan bagi Rena mebela diri di depan ibunya tidak akan ada gunanya .
* * *
__ADS_1