Bualan Semata

Bualan Semata
jengah


__ADS_3

Suatu kebiasa Andika yg di lakukan terus menerus selama bersama Berumah tangga dengan Nia .


Hal yg membuat seorang permpuan akan kehilangan sandaran, saat istri menanyakan sesuatu h bukan jawaban yg iya peroleh melainkan selalu mengalihkan topik.


Lelah dan kekesalan Nia seperti sudah mencapai puncaknya bagi Nia terlalu banyak teka teki di kehidupanya bersama sang suami .


Karena hari sudah mulai aore juga Nia tidak lagi memikirkan tentang suaminya ia kembali fokus pada sang buah hatinya .


Andika yg menyadari sikap Nia sedang tidak baik- baik saja ahirnya membantu Nia menyiapkan pakean anaknya selagi Nia memandikan bayi Aqmar.


Nia hanya melirik pakean anaknya yg telah di siapkan sang suami karena menurutnya tidak sesuai dengan waktunya .


Nia membuka laci pakean mengambil sepasang baju tidur anaknya dan sepasang kaos kaki bermotif moo ,sama dengan motif di baju tidurnya.


Nia orang yg sangat rapi dan juga detail.


Andika kembali di buat tak berguna oleh sang istri .


" benar benar tak berguna memilih baju anaknya saja tidak tau ".andika mengumpat diri sendiri sambil mengusap muka dengan gusar .


melihat kegusaran suaminya Nia hanya melirik sekilas kemudian tersenyum sambil bersorak girang dalam hati.


"mas apa kamu sudah punya jawaban untuk pertanyaan ku tadi ?" langkah Nia mendekat menuju di mana sang suami tengah duduk .


" pertanyaan yg mana Dee ?" andika coba mengeles agar lepas dari cecaran Nia .


" ya sudah kalau kamu tidak mau menjawab biar aku cari tau sendiri saja ." ucap nia menutup pembicaraan lalu masuk dalam kamar.


Andika merasa terpojok dengan sikap Nia kali ini, "tidak biasanya Nia setegas ini " pikir andika .


Menghindari pertengkaran atau alibi yg akan di muntahkan sang suami Nia pura- pura tidur saat sang suami masuk dalm kamar dan mendekatinya .


Andika pun mengurungkan niatnya mengajak bicara Nia , melihat sang istri sudah dalam selimut dengan mata terpejam .


malam memang belum tiba.


masih sangat sore bagi orang kota metro pilolitan jam delapan belumlah malam bahkan toko ,rumah makan dan segala tempat hiburan sepertinya baru memulai aktifitasnya .


Inilah kota jakarta malam nya hanya pas jam duabelas malam sekurang dan selebihnya adalah segala aktifitas tak berkesudahan .


Ramainya jakarta malam ini tidak membuat suasana hati seorang Nia turut ceria .


Terlalu banyak cerita dan pertanyaan dalam benaknya, terbaring sambil memandangi sang putra yg tengah terlelap dalam buaianya .


Tak terasa sebulir bening luluh membasahi bantal empuknya .


ahirnya Nia tertidur juga dengan segala kegundahan tentu saja bukan menjemput mimpi melainkan terlelap untuk melupakan sejenak kerisauan hatinya .


keesokan harinya Nia terbangun di pagi hari setelah mendengar sayup sayup suara azan berkumandang Nia segera bangun dari tidurnya.


Menyadari kini sudah di jakarta tinggal dengan suami yg overload malesnya tentu saja Nia harus bisa mengerjakan urusan rumah dan juga anak sendiri .


kalau kemaren di kampung ada ibu yg selalu membantu mengurus bayi Aqmar kalau sekarang harus bisa sendiri,ibu mertua tidak mungkin mau.

__ADS_1


Segera Nia mengambil air wudhu dan kemudian menunaikan sholat subuh .


setelah itu Nia keluar berniat akan membereskan koper pakean yg belum sempet ia keluarkan isinya .


Nia sedijit merasa ada yg aneh dengan kopernya saat ia menggesernya terasa sangat ringan.


dengan cepat ia membuka kopernya dan Nia sangat kaget melihat seluruh isi koper nya sudah tak ada di dalamnya .


Tiba tiba Andika dateng dari arah dapur dengan segelas teh manis yg sepertinya baru saja ia buat .


"mas?" ucap nia sambil mbuka kedua tanganya mengisyaratkan pertanyaan .


Andika paham apa yg di maksud sang istri lalu mengatakan kalu seluruh isi kopernya sudah ia masykan dalam mesin cuci .


Secepat Nia bangun dan berlari menuju mesin cuci untuk memeriksa karena ada sebuah amplop coklat yg ia taruh di antara lipatan bajunya .


Sebuah amplop coklat berisikan segepok berwarna merah dan biru yg ibunya selipkan saat Nia beberes akan pulang ke jakarta .


Nia sebenarnya sudah menolaknya tapi apa daya orang tuanya tidak begitu membutuhkan.


Bagi ibunya putri tercintanya harus hidup tidak kekurangan mau tidak mau Nia menerima pemberianya.


Melihat lari ketempat cuci Andika menyusul Nia.


Nia sedang mengeluarkan satu persatu pakean yg masih terlipat rapi sepertinya sang suqmi hanya memindahkan baju bajunya ke mesin cuci .


Perasaan lega mucul saat barang yg Nia cari ia temukan dalam keadaan selamat tanpa tersentuh siapapun.


Amplop coklat tebal sudah berada di tanganya kemudian Nia memasukan kembali beberapa pakean yg tadi sempat ia keluarkan .


tak menyadari kalau andika sang suami sudah berdiri tepat di belakangnya hingga saat Nia membalikan badanya ia menabrak dada bidang sang suami.


Sempat muncul desir kerinduan saat dirinya dan sang suami berbenturan tapi nia segera tepis sebisa mungkin .


" kenapa si mas ngintiil mulu?" ucap nia ketus membanting langkahnya menghidari perasaanya.


Tidak di pungkiri begitu juga Andika merasakan desir kerinduan yg sama,hanya saja suasananya sedang tidak memungkinkan .


Nia tak berniat memberitahukan apa yg ada dalam genggamanya begitupun dengan Andika tidak berkeinginan untuk bertanya pada Nia .


Dalam hal ini Andika sangat menghargai sang istri .


melihat sekilas yg di tangan Nia sudah tentu bisa di tebak pastilah segepok uang dan kalau Andika bertanya itu adalah hal konyol.


hal yg bisa jadi semakin membuat dirinya sendiri tak ada muka ,untuk itu Andika memilih untuk diam .


Hari sudah mulai terang saat keduanya menikmati sarapan pagi.


dua bungkus nasi uduk yg Andika beli dan juga tahu goreng serta teh yg sudah mulai dingin menjadi sarapan khas jakarta pagi hari .


Keduanya baik Nia dan Andika tak ada satupun yg berniat memulai untuk membuka pembicaraan .


keduanya sibuk mengunyah dan menelan sesekali saling melirik tapi hal itu tidak membuat suasana keduanya menghangat .

__ADS_1


"Nia ,apa kamu marah sama mas?"


" mas pikir aja sendiri !" ucap nia sambil berdiri lantas mengangkat piring makan membawanya ke dapur .


Nia baru saja selesai mencuci piringnya dan hendak menuju kamar untuk memeriksa sang putra , ketika suara ketukan pintu di depan terdengar sudah tiga kali di ketuknya.


Andika tidak ada niat untuk beranjak membuka pintu karena di piringnya masih tersisa sarapan yg belum di santapnya.


Nia membelokan langkahnya ke arah depan mengurungkan niatnya melihat keadaan putranya yg belum juga terdengar suaranya, menandakan bayi Aqmar masih terlelap tidur.


"siapa juga pagi pagi gini bertamu ?" gerutu Nia dengan mempercepat langkahnya .


Kali ini nia segera membuka pintu tanpa mengintip terlebih dahulu dari balik tirai seperti biasanya.


sesosok perempuan dengan rambut tergerai lurus dan baju agak kurang bahan di pagi hari membelakangi pintu dengan sebuah paperbag di jinjingnya .


" Anda mencari siapa ?" ucap nia karena Nia tak mengenali wanita yg kini masih membelakangi pintu rumah Nia .


Seketika sang perempuan memutar badan dan menjawab dengan sangat tenang setelah mengamati Nia dari atas ke bawah dan ke atas lagi.


" saya Dona apakah mas Rudi nya ada ?" tanya si wanita yg menyebutkan namanya adalah Dona .


" oh iya ,ada tunggu sebentar ya,saya panggilkan dulu!" ucap Nia sembari masuk dalam sekejap mengambil ponselnya lalu kembali lagi ke depan menemui sang tamu .


" maaf mbak apa yg mbak maksud mas Rudi ini ...?" ucap Nia sambil menunjukan foto suaminya yg ada di galerynya .


" iya mbak betul" jawab Dona .


" ok ,tunggu yaa saya panggilkan"!


Nia masuk kedalam menemui sang suami yg sepertinya sudah selesai sarapan dan hendak beranjak dari duduknya.


" kebetulan mas sudah selesai ada yg nyari tuh di depan ,cepetan temuin nanti di gigit nyamuk liar loo kelaman di luar." nia berusaha menyindir dengan sisa sisa perasaanya.


" siapa pagi- pagi gini bertamu?"andika tampak biasa saja melangkah ke depan.


Nia bukan perempuan arogan yg akan mengusir tamunya sekalipun ia adalah calon perusak rumah tangganya.


Nia menyusul sang suami dengan dua cangkir teh untuk di berikan pada sang tamu pagi harinya.


bagi nia siapapun yg dateng adalah tamu yg harus di hormati.


Andika merasa sangat keki saat Nia sudah berada di antara keduanya terlebih Nia tidak menunjukan rasa kesal ataupun marah pada Dona teman wanitnya.


Bahkan Nia mebuatkan teh untuk di suguhkan.


hal itu membuat Andika semakin tidak mengerti dengan sikap Nia yg semestinya.


harusnya marah kenapa Nia tidak melakukan hal seperti wanita pada umumnya .


Berbeda dengan wanita tak tahu malu yg bernama Dona .


semakin merasa percaya diri di depan Andika dengan bahasa dan gestur tubuh yg gemulai dan manja.

__ADS_1


Hal itu membuat Andika menjadi canggung dan risih Nia cukup menikmati kerisauan Andika .


Seulas senyum tersungging di bibir Nia yg terlihat menakutkan bagi Andika kemudian Nia bepamitan masuk dalam rumah kepada Dua orang pecundang di luar rumah .


__ADS_2