
Di ujung senja yg indah sepasang wanita dan laki paruh baya berkharisma itu melambaikan tanganya sesaat bus yg di naiki Nia menuju jakarta mulai bergerak.
Sebisa mungkin Nia menahan air matanya saat perpisahan sore ini.
Nia sudah tak menatap ke belakang di mana sang ibu dan bapakny tak juga meninggalkan tempat di mana tadi mengantarnya .
Bus sudah berjalan jauh meninggalkan perbatasan kota satu dengan kota lainya .
bayi Aqmar kali ini lebih tenang di perjalanan dari menaiki bus tadi sampai beberapa jam belum juga bangun dari tidurnya.
Di atas bus Nia coba menghubungi sang suami berniat mengabari akan kepulanganya tapi posel sang suami tak dapat di hubungi .
Nia mengirimkan sebuah pesan berharap saat nanti ponsel Andika Aktif akan segera menghubungi balik.
Perjalanan ke jakarta kali ini lebih leluasa karena bus tidak penuh terisi penumpang.
bahkan Nia mendapatkan tempat duduk tiga bangku yg membuat bayi Aqmar bisa tiduran .
Tak terasa sudah sampai di RestArea pertama Nia turun sambil menggendong putranya menuju sebuah kedai .
memesan minuman hangat dan beberapa kue untuk mengisi perutnya yg mulai lapar maklum sejak siang tadi Nia belum sempat makan .
Sebenarnya sang ibu membekali nasi dan ayam goreng tapi untuk makan di perjalanan sangat merepotkan bagi Nia terlebih saat ini bayi Aqmar terbangun .
Nia memesan satu gelas coklat hangat dan satu pastel sayur, lemper serta satu pisang goreng .
Nia mengambil tempat duduk yg agak jauh dari hilir mudik orang Agar sang putra merasa nyaman.
Beberapa pasang mata memperhatikan tapi tak jadi masalah buat Nia sampai salah seorang ibu paruh baya mendekati Nia .
Wanita paruh baya yg Nia sama sekali tidak kenal menghapiri di mana Nia sedang menikmati kudapan yg baru saja di anter oleh witress .
Mungkin wanita paruh baya itu merasa kasihan atau penasaran karena Nia yg masih sangat muda dan cantik menggendong bayi seorang diri tanpa di dampingi sang suami .
Wanita itu duduk tepat di depan Nia sambil tersenyum .
" nak , mau kemana apa kalian hanya berdua?" tanya wanita paruh baya di depan Nia .
"kami akan ke kakarta bu" nia mrnjawab sambil mengeratkan pelukanya pada bayi Aqmar .
__ADS_1
"oh ya sudah sepertinya kita satu bus ,ibu duduk di bangku depan kalau butuh bantuan panggil saja ibu ." wanita paruh baya itu mengulurkan tanganya dan menyebutkan namanya .
"saya Winda ,panggil saja budhe winda!" wanita paruh baya itu kembali berdiri dan meninggalkan Nia menuju bus .
Nia kembali menikmati kudapanya dan menandaskan coklat hangatnya.
Setelah itu Nia kembali menaiki bus dan saat hendak menuju bangku duduknya .
benar saja Nia melewati wanita paruh baya yg bernama budhe Winda tadi tengah duduk bersama seorang anak laki -laki usia sekitar sepuluh tahun mungkin cucunya.
Setengah perjalannan lagi mungkin akan sampai ibu kota jakarta .
bus berjalan dengan kecepatan sedang suasana di dalam bus hening hampir seluruh penumpang beristirahat tak terkecuali bayi Aqmar dan juga Nia.
Beberapa jama kemudian bus kembali berhenti di Rest Area terahir kali ini Nia tidak turun dari bus karena Aqmar putrany tengah terlelap .
Nia memeriksa ponselnya untuk memastikan pesan yg di kirim ke suaminya sudah di baca.
namun hasilnya nihil pesan masih ceklist satu.
artinya ponselnya tidak aktif atau jangan jangan suaminya sudah ganti no hp pikir Nia melalang buana .
beberapa jam lagi sudah akan turun di terminal.
Bagi segelintir orang apalagi seorang Nia dengan seorang bayi sudah tentu akan menjadi pusat perhatian dan juga sasaran bagi sebagian penindak kejahatan dan penipuan .
Tak terasa bus berhenti tepat di sebelah loket di mana sepuluh hari yg lalu ia membeli tiket .
Tak ada orang yg menjemputnya untuk mencari keamanan Nia bergegas menuju bangku dekat sekurity menunggu taxi online yg di pesan lewat ponselnya.
Nia sedang sibuk dengan ponselnya mengecek apakah driver online yg di pesanya sudah bergerak menuju tempat atau belum ,ketika pundaknya di tepuk oleh seseorang ia tak lantas menoleh ia mencoba menguasai pikiranya terlebih dulu .
Nia bukan wanita bodoh dan ceroboh dan sudah bdnyak informasi yg di ketahui betbagai modus penipuan dan hipnotis sejenis ada di setiap terminal bus sudah bukan rahasia lagi .
Pelan Nia menoleh untuk memastikan siapa yg menepuk pundaknya.
Nia tersenyum ternyata yg menrpuk pundaknya adalah Zbudhe winda tapi tetap saja Nia merasa harus waspada dan tetap konsrntrasi .
Budhe Winda bukanlah otang yg sudah Nia kendl ia hanya wanita yg baru saja bertemu denganya dan berjenalan sekejap .
__ADS_1
Apapun yg Budhe Winda tawarkan sekeras mungkin nia berusaha menolaknya .
Nia juga merasa heran karena budhe winda setengah memaksa menawarkan pertolongan padanya.
melihat bocah lelaki di sampingnya yg seperti tidak punya keinginan tatapan matanya selalu lurus ke depan dan kosong seketika Nia punya isting untuk mengagetkan anak tersebut dengan mencubitnya tanpa di ketahui budhe winda.
Tiba tiba bocah lelaki itu menjerit dan seperti kebingungan bertanya dirinya sekarang ada di mana .
Ia menggoyang goyangkan tangan budhe winda terus menerus membuat budhe winda takut dan kudian lari entah kemana .
Nia yg berada di samping bocah lelaki itu kemudian memanggil skurity minta tolong untuk mengamankan bocah tersebut .
Sepertinya anak itu sudah terhipnotis oleh budhe Winda .
entah anak itu asalnya dari mana yg jelas sejak di Rest Area pertama pas naik bus anak itu sudah bersama budhe winda pikir Nia itu adalah anak atau keponakanya .
Nia hanya memberi keterangan singkat sebatas pengetahuannya saja .
di karenakan hari sudah mulai terang Nia memutuskan untuk segera meninggalkan pos skurity .
bersama driver online yg bersedia menunggu Nia saat sedang memberi keterangan tentang bocah lelaki yg belum sempet ia tanyakan namanya.
Nia memasuki taxi online
" duh kasihan banget tuh anak gimana orang tuanya swkarang paati sedang mencarinya atau khawatir." ucap nia bermonolog sambil mendekap erat sang biah hati dalam pelukanya.
"sudah biasa terjadi bu... Sekarang perdagangan anak di bawah umur lg maraknya." driver online menimpali ucapan Nia .
Sekilas info dari sang driver membuat Nyali Nia menciut ternyata di luar rumah lebih menakutkan.
Ia kembali berpikir apa jadinya kalo td ia tidak waspada dan meneroma batuan bidhe winda atau siapalah dia yg jelas bukan pertolongan yg di dapat melainkan musibah yg akan menimpanya.
"Alhamdulilah. "ucap syukur Nia terus di panjatkan dalam hati atas pertolonganya .
Tak butuh waktu lama untuk sampai rumah kontrakan mungilnya yg telah bebrapa hari ia tinggalkan.
tampak debu sudah menebal di teras depan pintu melihat kondisi rumahnya yg sangat berdebu Nia urungkan menurunkan koper dari bagasi taxi.
Nia kembali melanjutkan menuju rumah ibu mertuanya yg tak begitu jauh walau harus menambah ongkos taxi lagi bagi nia tak masalah .
__ADS_1
Setibanya di rumah ibu mas Andika menyambut dengan riang menyongsong cucuknya mengambilnya ke dalam pelukanya.
Rasa heran menyergap Nia tapi tak begitu ia pikirkan bagi Nia sudah tentu segala perlakuan ibu mertua pasti punya maksud .