
~AWALNYA, AKU KIRA DIRIMU ADALAH PRIA BAIK. TERNYATA HANYA PRIA YANG TERLIHAT BAIK~
___ARASYA___
Hari yang cerah dimulai dengan munculnya mentari dari ufuk menampakkan sinar yang terang membuat dunia jadi berwarna.
Gadis dengan balutan selimut tebal serta infus ditangannya yang masih setia menutup mata menampakkan pemandangan yang menyedihkan. Pasalnya, selain selang infus di tangannya, ada juga selang oksigen di hidungnya. Namun, bukan rumah sakit tempatnya berbaring. Melainkan sebuah kamar yang luas dalam apartemen mewah milik Farel.
*****
Di gedung utama FARD GROUP
"Mohon maaf, Tuan. Pagi ini jam 9 ada rapat dengan klien dari negara M yang membahas tentang proyek pembangunan taman di pusat kota" ucap seorang pria berkacamata masuk dengan membawa sebuah map ditangannya.
"Tuan?" Panggilnya pada tuannya yang dirasa melamun itu.
Entah apa yang dipikirkan Farel hingga dirinya tak mendengar ucapan sekretarisnya itu. Tak biasanya Farel melamun saat sedang bekerja, apalagi saat sekretarisnya berbicara.
Merasa ada yang aneh dengan tuannya itu, sang sekertaris maju dan berusaha untuk menyadarkan tuannya yang tengah melamun. Sekertaris menepuk pelan pundak tuannya, alhasil tuannya pun tersadar dan gelagapan.
"A--ada apa Jhonson?"
"Maaf, tuan kalau saya lancang. Tuan sedang memikirkan apa? Dan.. kenapa melamun?" tanyanya berhati-hati.
"Tidak" Jawab Farel singkat.
"Emm.. begini, tuan. Hari ini ada rapat dengan klien dari negara M membahas proyek pembangunan taman di pusat kota."
"Jam?"
"9 Pagi ini! Di—"
"Disini saja! kalau tidak mau batalkan!" Ucap Farel memotong.
"Emm.. baik, tuan." Sang sekretaris hanya bisa menghela nafas.
"Tunggu! Bagaimana kabar Arasya di rumah? apakah sudah sadar?" tanya Farel.
__ADS_1
"Sementara ini, dokter mengatakan kalau Nona masih belum sadar. Tetapi kondisinya sudah mulai membaik! Dan juga dokter mengatakan ada beberapa penyakit terdapat pada tubuh nona!" ucap Jhonson.
"Penyakit apa?" ucap Farel dengan ekspresi terkejut.
"hasil pemeriksaan lab dari rumah sakit belum keluar tetapi ini hanya dugaan saja, tuan. Tuan tidak perlu terlalu khawatir!" ucap Jhonson.
"Hm... baiklah. Kau kirim orang untuk mengawasinya. Aku tak ingin terjadi sesuatu padanya!" titah Farel.
***
Cahaya terang menyilaukan mata seorang gadis cantik. Ia perlahan membuka mata dan mengerjapkannya beberapa kali untuk menetralkan cahaya yang masuk. Saat dirinya sudah sepenuhnya sadar, ia langsung terduduk dengan wajah memerah dan nafas yang tak beraturan. Rupanya ia sedang marah atas kejadian semalam. Didalam hatinya, ia terus memaki dan menyumpahi Farel.
'Tak ku sangka. Ternyata Farel adalah seorang pria brengsek! berani sekali dirinya mengambil kesempatan saat diriku tak sadar? aku akan menyiksamu hingga dirimu hidup segan mati pun tak mau! Tunggu saja Farel!'
Arasya merasa tak sudi lagi untuk tinggal di rumah Farel yang dianggapnya seorang pria brengsek. Kesalahpahaman tadi malam sepertinya akan berbuntut panjang. Entah darimana Arasya mendapat pemikiran itu.
Arasya segera bangkit dan mengunci pintu kamar agar tak ada orang yang masuk. Ia mengambil pisau buah dan juga mengambil beberapa benda tajam lainnya. Ia juga memakai 4 buah tusuk konde untuk menggulung rambutnya. Ia mengganti pakaian dan menyelipkan seluruh benda tajam ditubuhnya untuk menjaga dirinya, kalau-kalau ada sesuatu yang buruk akan terjadi. Ia juga menyiapkan beberapa alat lainnya.
Setelah itu, Arasya bergegas mengecek jendela kamar dan mencari tempat dengan penjagaan yang kendur. Lalu, dengan gesit ia melompat keluar jendela dan memanjat di dinding dengan seutas seprai yang ia tali dan satukan sebelumnya.
Ia melihat ada motor terparkir di dekat pos penjaga. Ia segera mengambil helm diatas motor dan menggunakannya lalu segera menaiki motor itu lalu menjalankannya di jalan raya yang ramai. Tujuannya saat ini adalah vila milik Zeno, sahabatnya. Vila milik Zeno berada di pinggir kota sebelah Utara, daerah yang tak terlalu ramai juga lumayan jauh dari apartemen Farel.
Sebelum sampai di vila Zeno, Arasya melewati jalan di pinggir hutan yang sepi dan gelap, karena minimnya cahaya yang masuk ke hutan yang terhalang oleh pepohonan yang rimbun. Belum sampai di ujung jalan hutan, ia malah di cegat oleh beberapa pria dewasa berkulit hitam dengan membawa senjata tajam. Mereka nampak seperti preman. Mungkin saja mereka adalah bandit.
"Hei! serahkan motor dan seluruh barang-barang yang kau kenakan!" ucap salah seorang dari mereka.
Arasya turun dari motor dan melepaskan helmnya. Ia menatap malas segerombolan pria didepannya itu.
"Apa maksud tatapanmu itu, hah?" bentak salah seorang dari mereka.
"Tck.." Arasya hanya berdecak.
"Kau belagu sekali! biar ku lihat wajahmu, wanita lemah!" hinanya pada Arasya.
Arasya tersenyum dibalik maskernya. Tiba-tiba saja, masker Arasya di tarik paksa hingga robek oleh bandit itu.
"Wah.. ternyata wanita cantik!" ucap salah seorang dari mereka kagum.
__ADS_1
"Benar, ayo mainkan dia saja! Setelah ia tak berdaya, kita buang mayatnya!" usul salah seorang dari mereka.
"Benar!!" ucap yang lainnya.
Mereka langsung mendekati Arasya. Namun, saat mereka hendak menyentuh wajah Arasya, Arasya mengeluarkan senyum menyeringai yang nampak sangat mengerikan. Arasya lalu mencekal tangan pria itu.
*****
Di gedung utama FARD GROUP
TOK... TOK... TOK...
Suara ketukan pintu membuat farel tersadar setelah melamun.
"Masuk!" ucapnya dingin.
Beberapa orang berpakaian rapi seperti bodyguard masuk bersama Jhonson yang memimpin jalan.
"Ada apa?" tanyanya.
"Ma--maaf, tuan. No--nona Arasya—" belum selesai Jhonson berbicara sudah di potong oleh Farel.
"Apa yang terjadi padanya?" ucap Farel terkejut. Saking terkejutnya, ia bahkan sampai berdiri dari duduknya hingga membuat tubuh Jhonson dan yang lainnya gemetar ketakutan.
"Nona Arasya kabur dari apartemen, tuan!" ucap Jhonson yang ketakutan.
"Bagaimana dia bisa kabur? Dia hanya seorang wanita! Sedangkan kalian? kalian adalah pengawal pilihanku! bagaimana cara kalian mengawasinya? kalian semua tidak berguna!" ucap Farel meluapkan amarahnya.
"No--nona pergi saat jam istirahat tuan!" ucap Jhonson yang masih ketakutan.
"Aku tak mau tahu! Pokoknya, cari dia sampai ketemu! Bawa dia secepatnya! Kalau tidak, kalian akan aku pecat dan aku akan pastikan kalian tidak akan mendapatkan pekerjaan seumur hidup! kalian mengerti?" ucap Farel dengan amarah yang meledak-ledak.
Para bawahan Farel itu hanya bisa mengangguk dan segera pergi dari sana. Sedangkan Farel, ia tengah berpikir bagaimana caranya untuk mencari Arasya. Dan ia juga memikirkan sesuatu apa yang membuat Arasya nekat pergi dari apartemennya.
*****
'Heh. Kalian sama sekali bukan lawan untukku!' batin Arasya dengan bangga sambil tersenyum menyeringai menatap mayat beberapa bandit yang ia bunuh beberapa waktu lalu.
__ADS_1