Bukan Gadis Bisu Yang Lugu!

Bukan Gadis Bisu Yang Lugu!
TUJUH


__ADS_3

~Mungkin kebenaran dapat disembunyikan, tetapi akan terungkap diwaktu yang tepat~


_____ARASYA____


"Em.. saya rasa begitu!" jawab dokter Felly.


"Apa? pantas saja sejak pertama aku bertemu denganmu, kau tak berbicara!" ucap Farel menanggapi.


Sedangkan Arasya, gadis itu menyaksikan percakapan dokter Felly dengan Farel sedikit terkejut. Ia hanya berpikir setelah kecelakaan 12 tahun lalu adalah penyebab ia koma hingga kehilangan suaranya bahkan amnesia.


"Aku ada pasien yang harus diperiksa! kalian berbincang dulu saja, aku akan kembali mengecek keadaan anda nanti!" ucap dokter Felly melangkah keluar.


"Baiklah!" jawab farel.


"Eh.. sebentar! tuan? anda bisa ikut dengan saya sebentar? ada yang mau saya bicarakan dengan anda!" ucap dokter Felly berbalik menatap Farel.


"Mari tuan! kami pergi dulu nona!" lanjut dokter Felly. sedangkan Arasya dan Farel mengangguk.


Farel dan dokter Felly keluar ruangan. Didepan ruangan itu, dokter Felly membuka pembicaraan.


"Tuan Farel, pembicaraan ini menyangkut tentang nona itu!"


Mendengar Farel itu, Farel mengerutkan keningnya.


"Begini tuan Farel, kau harus memastikan bahwa nona itu dapat menceritakannya segalanya padamu! karena kemungkinan besar, nona itu diberi obat untuk merusak syaraf dalam pita suaranya! jadi, nona itu bisa menjalani operasi untuk mengembalikan suaranya!" jelas dokter Felly.


"Obat? baiklah saya akan tanyakan langsung padanya! kebetulan juga, aku tak tau namanya!" ucap Farel.


"Baiklah. saya tinggal dulu!" ucap dokter Felly beranjak pergi.


****


Cklak..


Knop pintu terbuka menampilkan Farel yang mesum dengan buku bersampul biru dengan pena ditangannya.


Farel lalu menghampiri Arasya dan duduk disampingnya tempat tidurnya. Lalu ia memberikan buku dan pena itu pada Arasya. Arasya menatapnya bingung, tetapi ia tetap menerimanya dengan ragu.


Setelah Arasya menerima buku itu, Farel langsung memberinya pertanyaan.


"Nona, siapa namamu? Dimana tempat tinggalmu? Kenapa kau tak bisa berbicara? berapa umurmu? dan dimana keluargamu? kau, tulis saja pada buku itu karena aku tak mengerti bahasa isyarat".


"Dan.. kau bisa menuliskan?" tanyanya lagi.


Arasya menjawabnya dengan anggukan. Saat Arasya menulis jawaban atas pertanyaan Farel, Farel terus berbicara tak terhenti. Ia juga mengatakan.


"Kata dokter Felly juga, Kau bisa saja meminum obat yang membuatmu tak dapat berbicara! tetapi itu hanya dugaan saja. Karena kemarin sebelum kau sadar, dokter Felly yang mengoperasi dirimu dan menemukan syaraf rusak dalam pita suaramu akibat obat keras yang kau konsumsi hingga berdampak panjang!".


Seketika, Arasya berhenti menulis.

__ADS_1


'Tetapi, kecelakaan yang diceritakan ibu bahkan menyebabkan benturan pada kepalaku hingga diriku amnesia. Dan, hanya ada wanita yang mengaku sebagai ibuku yang aku ingat. Tetapi, mengapa bisa aku jadi bisu? apakah benar ucapan dokter itu, kalau aku diberi obat-obatan hingga suaraku hilang? tetapi siapa yang memberikannya? atau mungkin aku juga terkena luka dalam? aaaaagggh.. aku bingung' batin Arasya bertanya-tanya.


"Nona? kau sudah selesai?" tanya Farel.


Seketika itu juga, lamunan Arasya buyar. Farel mengambil buku itu, ia langsung membacanya.


"Namaku Arasya. Usiaku 19 tahun. Aku tak tahu keluargaku dimana. Dulu, pada saat aku terbangun dari koma 12 tahun lalu, aku hanya menemukan seorang wanita yang mengaku sebagai ibuku. Tetapi aku tak mengingat siapa dirinya, karena aku juga amnesia. Aku tak bisa menceritakan lebih banyak lagi" begitulah isi tulisan Arasya.


"Oo.. jadi namamu Arasya?"


Arasya mengangguk. Farel lalu mengusap kepala Arasya dengan lembut sembari berkata.


"Saya faham maksudmu. Tapi, kalau saya tak tahu dimana rumahmu, saya tidak bisa mengantarmu!".


Arasya mengerti, jadi ia memutuskan untuk memberi tahu sekolahnya saja. Toh, kosannya tak jauh dari FARD UNIVERSITY.


Farel tersenyum mengetahui tempat sekolah Arasya. Yang ternyata, itu adalah universitas miliknya.


"Baiklah, aku akan mengantarmu kesana setelah satu Minggu karena dokter yang mengatakannya!" jelasnya.


Arasya mengangguk. Setelah percakapan itu, Arasya memutuskan untuk beristirahat.


****


"Nak, jangan kesana! Itu berbahaya!" ucap seorang wanita.


"Tidak! kamu jangan kesana! disana ada banyak orang yang ingin mencelakaimu, nak. Kalau kau kesana, kau akan terluka!" ucap wanita tadi yang merupakan ibu gadis itu.


"Tidak, Bun! aku akan tetap pergi! aku tetap akan menyelamatkannya!" setelah berkata demikian, gadis kecil itu berlari ke sebuah gudang tua yang yang sudah rusak termakan waktu.


"Jangan!!" wanita itu berteriak.


DOR...


DOR..


DOR...


"BUNDA!!!"


Tangis gadis itu pecah, kala ia membalikan tubuhnya saat mendengar suara 3 tembakan di belakangnya.


Wanita tadi terkapar dengan bersimbah darah di seluruh tubuhnya. 3 tembakan yang mengenai kaki, perut serta dada sebelah kiri membuatnya meregang nyawa ditempat.


"Bunda!! bangun!! hiks.. hiks.. bunda!!" tangis gadis itu sesenggukan.


Tak berselang lama, gadis itu dihampiri oleh pria dengan tubuh kekar, kumis hitam tebal yang melintang di bawah hidungnya.


"JANE, IKUTI AYAH, CEPAT!!! ATAU AKU JUGA AKAN BUNUH ANAK ITU DAN JUGA KAMU!!" ucap pria itu yang mengaku sebagai ayahnya dengan nada tinggi.

__ADS_1


"Ta--tapi, bunda hiks.. bunda bagaimana? hiks.." ucap gadis itu dengan nada bergetar.


"BUNDAMU ITU SUDAH M4T1!!! cepat berdiri!! ikuti aku!!" bentaknya lagi.


Gadis itu menggeleng dan tetapi apalah daya, tenaga pria itu jauh lebih kuat. Tak dihiraukannya lagi teriakan dan tangisan serta pemberontakan gadis itu. Pria itu terus menyeret dan membawanya masuk kedalam gudang tua itu. Di dalam gudang itu ada anak laki-laki yang tergeletak tak berdaya dengan luka ditubuhnya. Ya, sepertinya dia pingsan.


"Hiks... ayah!! Kenapa ayah melakukan semua ini? hiks.." ucap gadis itu pada pria yang mengaku sebagai ayahnya.


"kenapa? kau tahu? ibumu itu adalah orang merusak rencanaku! Ibumu itu wanita yang resek! dia hampir mengatakan pada polisi kalau aku akan menjual kalian!!" ucap pria itu menyeringai.


"ju--jual?"


"ya! untuk apa aku menghabiskan uang untuk hidup kalian? lebih baik kalian membantuku menghasilkan uang untukku!"


"ta--tapi aku bisa mencari pekerjaan untuk mendapat uang! tapi aku mohon jangan jual aku, ayah!" ucap gadis itu.


"kau lihat anak ini? dia juga sama sepertimu! akan ku dijual!!" ucapnya sambil menunjuk anak laki-laki itu.


"kau tahu? tak ada yang akan mau mempekerjakan gadis lemah sepertimu! kau juga masih bocah!" ucap pria itu membentak.


"ta--tapi dia.. dia kan, punya orang tua juga! nanti kalo orang tuanya nmelapirkan ayah ke polisi gimana?" sarkas gadis itu.


"Tak akan ada yang memperdulikannya!" ucap pria itu melenggang pergi.


Tubuh gadis itu masih terasa pegal dengan sedikit luka goresan karena diseret oleh pria tadi. Pergelangannya juga agak bengkak dan membiru, matanya bengkak, serta masih terdengar suara isakan kecil di ruangan yang sunyi itu.


"Siapa di--dia? apakah dia masih hidup?" ucap gadis itu mendekati anak laki-laki itu.


"uughh.." lenguh anak laki-laki itu terbangun.


"eh? kau bangun?"


"dimana ini?"


"aku juga tak tahu! ibu dan ayahku tahu kau ada disini?"


"Hah? kapan aku punya ayah dan ibu? aku juga tidur di panti!"


"panti? panti asuhan?''


"iya! ku, juga bagaimana bisa disini?"


"aku—"


"JANE!! APA YANG KAU LAKUKAN? KENAPA KAU MEMBANGUNKAN ANAK ITU, HAH? DASAR BOCAH B*E*G*EK!!" teriak pria tadi kembali masuk.


"A--aku tak memba—"


PLAK.....

__ADS_1


__ADS_2