Bukan Gadis Bisu Yang Lugu!

Bukan Gadis Bisu Yang Lugu!
EMPAT BELAS


__ADS_3

~Cari! bila kau temukan diriku yang lain, maka itu hanya dalam jiwaku.


ARASYA


Pagi hari yang cerah sudah tiba bersamaan dengan munculnya sang Surya pembawa kehangatan dan pembangkit kehidupan.


Raga bernyawa tanpa tenaga, terbaring lemas dengan balutan kain kasa dan tiap detiknya yang disertai tetesan infus. Tiap nafas yang tak pernah lepas dari selang oksigen. Gadis malang itu, kini tengah berada pada alam perjalanan menuju sebuah kesadaran yang penuh perjuangan.


Zeno, seseorang yang setia menanti sahabatnya untuk membuka mata yang masih setia terpejam dari kemarin. Air mata Zeno tak tertahankan, Tangannya bergetar memegang tangan sahabatnya yang tak kunjung sadar. Entahlah, ada rasa sakit tersendiri melihat sahabatnya yang paling ia sayangi terbaring dalam brankas rumah sakit. Namun, sebuah ketukan pintu membuatnya tersadar dan mengusap air matanya dengan segera.


"Nak, apakah dirimu sudah sarapan?" tanya seseorang yang baru masuk yang dirasa suaranya tak asing bagi telinga Zeno.


"Pa--papa?!" ucap Zeno lalu menghamburkan pelukan pada seseorang yang selalu mendukungnya, yaitu ayahnya Tn. ROBERTUS LARAZIA.


"Hei, apa ini? Kemana putriku yang sangat bar-bar?" ucap Tn. Robert disertai kekehan kala melihat putri bungsunya itu menangis hingga terisak dalam pelukannya.


"Pa--papa, Hiks.. Ara!! dia, pa!" ucap Zeno disertai isakan.


"Apa yang terjadi padanya, nak? kenapa ini terjadi? ceritakan pada papamu ini!"


"Entahlah, waktu itu tiba-tiba saja Ara pingsan!"


__________


Kemarin siang...


Acara mingguan yang diselenggarakan oleh TOUSEND LIGHT GENK hampir selesai. Kini acara yang tersisa tinggal pelatihan dan ujian komputer dan bela diri yang akan di laksanakan pukul 14.00 siang ini setelah beristirahat dan makan siang.


"MEMBER TOUSEND LIGHT GENK SEGERA MENUJU KE SUMBER SUARA!" ucap Zeno dengan lantang menggunakan megafon.


Suara tepak kaki para member TOUSEND LIGHT GENK yang terburu-buru berkumpul terdengar begitu jelas. Setelah berkumpulnya para member, para pemimpin Genk memulai acara dengan pemberitahuan tentang beberapa tata cara pelaksanaan ujian komputer dan bela diri.


Acara langsung dimulai. Satu persatu member diberikan alat komputer secara bergantian dan beberapa pemimpin Genk mengawasi serta mengoreksi hasil ujian para member. Diantaranya, Lucky dan Louise mengawasi serta mengoreksi hasil ujian walaupun mereka tak lebih pandai bermain komputer dari pada Arasya. Sedangkan Arasya, Zeno dan Leon terjun langsung melatih bela diri para member sebagai lawan duel.


Acara berlangsung dengan lancar hingga tiba pukul 16.50 yang menjadi duel terakhir, yaitu antara Arasya dengan salah satu member muda berusia 23 tahun, TIRTAGIO GILIAN.


Saat di tengah pertandingan duel, Arasya tiba-tiba merasa tubuhnya lemas seketika hingga hampir terjatuh. Zeno yang melihat itu spontan berdiri hendak menghampiri Arasya.


Buk..


Namun, tendangan dari Tirta yang mendarat di perut Arasya yang membuatnya langsung terjengkang ke belakang dan pingsan seketika setelah batuk darah. Semua para member melihat ketuanya yang terkenal sebagai Putri Beladiri itu dalam kondisi seperti ini langsung berbondong-bondong mendekatinya. Tirta juga langsung menghampiri Arasya, begitu juga sahabat Arasya yang lainnya. Zeno melihat perut Arasya berdarah sontak langsing membuka baju Arasya dan menyuruh para member lain untuk keluar dari arena duel.

__ADS_1


Alangkah terkejutnya ia mendapati luka tusukan pada perut Arasya yang pinggirnya telah mengering. Ia menduga beberapa hari Arasya tak pulang adalah cara agar dapat menyembunyikan luka itu. Zeno menangis histeris kala melihat wajah Arasya yang sudah pucat dan ia malah pingsan seketika. Leon dan Lucky serta Louise langsung masuk kembali setelah mendengar tangisan Zeno serta langsung menggendong Arasya dan Zeno untuk dibawa ke rumah sakit dengan panik.


__________


"Jadi, kamu juga pingsan?" tanya Tn. Robert memastikan.


"Benar, tubuhku lemas dan langsung pingsan." ucap Zeno yang tangisannya telah mereda.


"Em.. bagaimana kau tahu luka itu bekas tusukan?"


"Dulu aku juga pernah tertusuk pisau saat menangkap bandit. Tapi itu dibagikan tangan, dan itupun ada Arasya yang menghadang, jadi nggak terlalu dalam. Kalau luka Arasya ini dalam, jadi harus dioperasi biar bisa pastiin lukanya tertutup sempurna dan tidak akan terbuka lagi!" ucap Zeno.


Wajah Zeno kini nampak lebih baik daripada tadi malam yang pucat dan sembab akibat terlalu banyak menangis karena khawatir pada Arasya. Sebenarnya, Tn. Robert masih banyak pekerjaan yang menunggunya. Namun, mendengar kabar dari Leon, kekasih putrinya, ia jadi menyerahkan seluruh pekerjaan kantor pada putra sulungnya, yaitu ZEVANDRA LARAZIA yang merupakan kakak dari Zeno yang menginjak usia 25 tahun.


"Kau belum sarapan tadi, kan? papa sudah membawa makanan masakan mama. Kamu makan ini, makanan kesukaanmu!" ucap Tn. Robert memberikan makanan pada putri kesayangannya.


"Papa, Zeno akan tinggal bersama Arasya di vila untuk menjaganya hingga ia sembuh total! Zeno nggak mau hal yang kayak gini terjadi pagi!" ucap Zeno sembari mengunyah makanan.


"Iya, papah nanti minta izin ke mamamu dulu, ya?" ucap Tn. Robert dan ditanggapi dengan anggukan oleh Zeno.


"Oh ya, pah. Pagi ini papa liat Leon gak? soalnya dari tadi pagi Zeno belum lihat batang hidungnya. Kira-kira kemana pagi-pagi gini?" ucap Zeno setelah selesai mengunyah suapan terakhir.


"Mungkin.. Tapi, kan harusnya—


"Kayaknya ada yang nyari aku, nih." Ucap Leon yang tiba-tiba datang.


"Leon, kamu darimana?" tanya Zeno.


"Tadi ada klien yang telpon, jadi harus diangkat dulu!" ucap Leon.


"Klien yang mana?" tanya Zeno lagi.


"Tn. Farel Liofard, pengusaha muda yang terkenal itu. Proyek kita tentang pembangunan taman di pusat kota itukan ada hubungannya sama dia!" jawab Leon.


"Oh, itu. Terus gimana?"


"Ya, gitu lah. Tapi harus dihentikan. Soalnya, Farel itu masih ada urusan apa gitu. Gak ada alasan jelas juga, sih!" ucap Leon dan Zeno hanya manggut-manggut saja.


Tn. Robert melihat percakapan sepasang kekasih itu merasa diacuhkan. Ia akhirnya malah menerima telepon dari sang istri tercintanya, nyonya VITALITIS ELIONER, ibu dari Zeno dan Zevan.


📞Call on..

__ADS_1


"Halo, pah?" ucap Ny. Vitali.


"Iya, mah. Kenapa telpon pagi-pagi?"


"Gini lo, pah. Mama itu mau pergi ke resepsi pernikahan anak temen mama, tapi Pak Ruby sama Bi Seuri lagi pergi. Jadi, gak ada yang anterin. Apalagi Zevan lagi di kantor pagi ini. Makanya papa pulang sekarang, anterin mama, ya pah?" ucap Ny. Vitali panjang lebar.


"Oh, gitu. Ya udah ini papa pulang sekarang, ya. Mama sekarang dandan yang cantik, biar papa sampai kita langsung berangkat!" ucap Tn. Robert.


"Oke, lah. I love you, pah!"


"Love you to, mah!" ucap Tn. Robert sembari menggunakan nada manja.


Tut..


📞Call of..


'Sekarang aku mau pulang. Tunggu aku cintaku! Seperti yang aku duga, pasti anak-anak iri, kan?!' Batin Tn. Robert bangga.


Leon dan Zeno yang mendengar percakapan antara suami istri yang terpisah jarak itu bukannya iri malah terkekeh geli. Bagaimana tidak, dari wajah Tn. Robert saja sudah jelas bila ia ingin bucin guna membuat Leon dan Zeno iri, eh.. malah berujung ditertawakan.


Tn. Robert pulang, menjemput sang pujaan hati. Sedangkan Leon dan Zeno, mereka malah duduk saling berpandangan di sofa ruangan Arasya.


"Ekhem.. Tolong berikan toleransi kepada kami yang jomblo!" ucap Lucky yang sok dramatis tiba-tiba datang dan mengagetkan dua sejoli itu.


"Berisik, tau. Ara nanti keganggu!" ucap Louise memperingati adiknya itu.


"Salah mulu, deh!".


"Ya, emang salah, kok!" ucap Zeno nyerobot dan langsung keluar dari ruangan diikuti oleh Leon.


"Ya elah, gini amat jadi jomblo, selalu salah!" ucap Lucky pasrah.


"Lebih baik jomblo, lah!" ucap Louise mendaratkan bokongnya pada kursi sofa.


"Kalo kakak memang lebih suka jomblo. Gak ada pacar, tapi ada banyak yang antri buat liat muka kakak doang. Lah, kalo aku, jangankan antri buat liat mukaku, yang ada malah dilempar sendal jepit dikira narsis jadinya!" ucap Lucky ikut duduk.


"Kita itu kembar, baik muka maupun fisik! Jadi gak ada bedanya!" ucap Louise.


"Kembar muka doang. Kan, cewek-cewek pada suka yang cool, lah aku mana ada coolnya." ucap Lucky sok ngenes.


"Terserah!"

__ADS_1


__ADS_2