
~Tak ada yang tak mungkin bila dilakukan dengan usaha~
_ARASYA_
"Zeno? Arasya? Kalian kapan datang? Kenapa aku tak mendengar suara kendaraan kalian?" Ucap seorang wanita yang usianya sekitar 30 tahun.
"Oh... bu Nesy? kami datang tak menggunakan motorku, karna sedang diperbaiki dibengkel!" Ucap Zeno.
"Begitu rupanya! Kalian duduk dulu! Akan aku siapkan makanan! Kita sarapan bersama! Kalian pasti belum makan, kan?" Ucap wanita itu.
Sedangkan Arasya, Zeno, Chelsea, dan juga Levy mengiyakan permintaan wanita itu.
NESYLA (NESY) seorang wanita berusia 30 tahun ia adalah pemilik PANTI ASUHAN. Ia merawat lebih dari 10 anak jalanan dan yatim di sekitar panti. Termasuk Levy dan juga Chelsea.
Arasya dan Zeno berjalan menuju ke tempat makan tanpa kursi dengan alas tikar. Sedangkan Levy dan Chelsea, mereka memanggil teman-teman mereka yang lain.
Setelah semuanya berkumpul, nampak ruangan itu kini sudah ramai. Makanan telah tersedia, dan mereka pun memulai acara makan sarapan.
*******************
Acara sarapan kini telah usai. Arasya memutuskan untuk membantu mencuci piring dan juga membereskan ruangan itu yang nampak berantakan. Sedangkan Zeno, ia sedang bermain bersama anak panti lainnya termasuk Levy dan Chelsea.
Matahari kini berangsur-angsur tenggelam. Langit kini nampak berwarna jingga dengan sedikit cahaya pertanda Sang surya telah kembali ketempatnya untuk bergantian dengan rembulan dan bintang yang menyinari malam.
Arasya dan Zeno berpamitan. Namun, sebelum mereka pergi. Mereka memberikan uang sebesaf $11.000 atau setara dengan Rp.157.000.000.
Saat menerima uang itu, wajah Nesy sangat bahagia. Bahkan, ia sampai mengira kalau uang itu untuk dirinya. Tetapi, saat Zeno berkata kalau uang itu untuk anak-anak panti, wajah Nesy terlihat kesal.
Sesampainya Arasya di kosan. Ia langsung mandi dan berencana memasak mie untuk makan malam. Setelahnya, ia pun pergi tidur.
*****************
Pagi ini, Arasya bersiap untuk berangkat kerja. Ia mengambil kerja sampingan sebagai seorang pelayan di sebuah restoran dekat kosannya, tempat restoran itu juga dekat dengan FARD UNIVERSITY. Yah... hitung-hitung untuk tambah uang jajan. Toh, dia juga gak selalu bisa meretas perusahaan setiap hari. Itu juga nggak mengganggu kuliahnya.
__ADS_1
Setelah ia bersiap, ia berangkat dengan berjalan kaki seperti biasanya. Tetapi, saat ia dijalan. Ia dihadang dengan beberapa gadis yang mengendarai mobil berwarna merah muda. Ya, mereka adalah para anggota fife sparkling beautiful girl.
"Hei, hei, hei... teman-teman, lihat siapa yang kita temui dijalan!" ucap Shopia.
"Kau, benar, shopia. Gadis ini berpenampilan cantik. Eh tidak, ia malah mirip seperti tante-tante, kan?" ucap Sesy dengan nada yang menjijikan.
"Kau, sangat pandai menilai penampilan orang, Sesy!" ucap Yovie.
"Hmm.. terimakasih! Itu sudah bakat ku!" ucap Sesy menyombongkan diri.
Sedangkan Arasya, ia malah bersikap acuh tak acuh terhadap kehadiran mereka.
"Apakah menghina orang adalah bakat?" tanya seseorang yang tiba-tiba muncul.
"Hei, Zeno! kenapa kau, selalu mengganggu kami? ini urusan kami dengannya. Bukan denganmu!" ucap Shopia.
"Heh, mengganggu? bukankah kalian yang mengganggu Ara? kenapa aku yang disalahkan? dan juga, kalian bilang apa? urusan itu bukan dengenku? kalau menyangkut Ara, pasti itu juga urusanku! kalian pergi dari sini sekarang! atau aku panggil polisi atas kasus pembulian dan penganiayaan!" ucap Zeno dengan nada yang meninggi.
"Tanpa bukti, itu tak akan berguna!" ucap Shopia.
"Ketua! lebih baik sekarang kita pergi dahulu! atau masalahnya akan bertambah sulit nanti!" ucap lovely berbisik.
Shopia sedikit berpikir.
"Ingat, ya! aku tak akan melepaskan, kau!" ucap Shopia lalu mengemudikan mobilnya dan pergi dari tempat itu.
Setelah kepergian para anggota fife sparkling beautiful girl, Zeno menghampiri Arasya yang tengah berdiri di pinggir jalan. Sesaat setelah Zeno sampai, Arasya membungkukkan badannya sebagai ucapan terimakasih kepada Zeno.
"Kau, ini! aku sudah bilang kalau dirimu diganggu lagi, kau harus kabari aku! ya sudah, aku harus pergi hati-hati, ya! sampai jumpa!" ucap Zeno melenggang pergi.
Setelah kepergian Zeno, Arasya langsung melanjutkan perjalanannya ke tempat kerja.
******
__ADS_1
Sesampainya ia ditempat kerja, ia langsung disuguhi berbagai macam pekerjaan di dapur yang nenunggunya.
Setelah menyelesaikan pekerjaan di dapur, ia dipanggil oleh kepala pelayan untuk melayani orang penting di depan.
Saat ia sampai di tempat orang itu, ia langsung menyerahkan daftar menu sambil menunduk. Sekilas ia memperhatikan orang itu, 'Tampan' batin Arasya. Jelas sangat tampan, orang itu mengenakan tuksedo berwarna hitam, wajah yang tampan dengan bola mata biru.
Beberapa saat setelah memberikan daftar menu, orang itu memesan menu makanan dan juga minuman.
"Saya pesan Spageti dan juga kopi capuccino. Apakah bisa cepat?" tanya orang itu.
Arasya mengangguk dan langsung mencatat pesanan orang itu.
"Baiklah, langsung berikan bill nya saat kau menghantarkan makanan!" ucap orang itu.
Lagi-lagi Arasya mengangguk dan langsung pergi ke dapur.
Saat melihat Arasya pergi, orang itu menggerutu dalam hatinya 'Apakah dia tak bisa lebih ramah? ia bahkan tak mengucapkan sepatah katapun!'.
Beberapa menit kemudian, Arasya membawa pesanan orang itu dan langsung menyerahkan bill nya. Ia menulis dalam buku pesanan lalu menunjukannya kepada orang itu. Karena penasaran, orang itu langsung membacanya.
"Silakan dimakan tuan, semoga anda menyukainya!".
'Apakah gadis ini bisu?' batin orang itu bertanya-tanya.
"Terimakasih!" ucap orang itu datar sembari memberikan uang.
Arasya Membungkukkan badannya pertanda terimakasih dan langsung pergi.
************
Setelah pulang dari kuliah, Arasya memutuskan untuk mampir ke supermarket untuk membeli bahan makanan.
Belum sampai ia di supermarket, ia di hampiri beberapa pria bertubuh besar yang nampak seperti preman turun dari mobil dan membawa Arasya.
__ADS_1
Arsya memberontak. Tetapi, tenaganya tidaklah cukup untuk melawan mereka, dan akhirnya tetap saja. Karena Arasya yang terus memberontak, mereka membekap mulut Arasya dengan kain yang telah diberi bius dan perlahan Arasya tak sadarkan diri.