
~Gundah baru kurasa saat tak tahu kabarmu walau sesaat~
___FAREL___
Jam 08.00 Am.
Hotel Blue Star, Kota S.
Malam yang cerah membuat bintang dan bulan bersinar terang, layaknya lampu gemerlap di kota. Pesta perjamuan mewah yang diselenggarakan di Hotel Blue Star, kota S. Hotel termewah di kota, bahkan hotel tersebut juga telah mendapat penghargaan sebagai hotel dengan pelayanan terbaik dan desain yang mewah.
Hiruk-riuk pesta mulai terasa. Para tamu undangan sudah mulai berdatangan. Hingga para tamu kini telah memenuhi tempat-tempat yang dipersiapkan panitia penyelenggara.
Shiiiit....
Suara rem mobil membuat pesta menjadi hening. Sehingga, mobil mewah dengan merek Asto Martin Vanquish dengan warna biru Dongker dan hitam, disertai desain yang elegan dan mewah, membuat perhatian para tamu di pesta teralihkan.
Para tamu menatap mobil mewah itu dengan tatapan kagum, sekaligus penasaran.
"Siapa pemilik mobil itu?".
"Wah... mobil itu mewah sekali!!".
"Baru pertama aku melihat mobil mewah seperti itu!".
Berbagai pujian yang dilontarkan pada pemilik mobil itu. Pasalnya, mobil tersebut memang sangat mewah dan elegan.
Cklak...
Pintu mobil terbuka, menampilkan seorang pria bertubuh tegap dengan balutan jas berwarna merah maron dan pita berwarna hitam yang elegan, Farel.
mereka semua menatap kagum pada Farel. Pengusaha yang baru menginjak 20 tahun itu, kini sudah tampak sangat dewasa dengan wajah yang sangat tampan dengan rahang yang tegas.
Farel tidak langsung masuk ke pesta, namun dirinya langsung membuka pintu belakang mobil.
Cklak....
"Mari, nona!" Ucap Farel tersenyum sembari menyodorkan tangannya setelah pintu terbuka.
Seseorang dari dalam mobil keluar. Nampak seorang gadis cantik dengan balutan gaun yang senada dengan Farel yang menampakkan dada putihnya, leher yang berhias kalung perak dengan permata dan berlian yang mempercantik. Gaun panjang yang menutupi kakinya dengan belahan di samping kanan, tanpa lengan, serta sarung tangan hitam tanpa jari yang panjangnya hingga siku. Namun, gaun itu justru menampilkan keindahan tubuhnya. Surai panjang nan hitam yang indah terurai, dan rias wajah yang natural menambah kesan cantik dan elegan padanya, bagaikan nona muda dari keluarga kaya.
__ADS_1
Semua orang terpukau pada pasangan yang keluar dari mobil mewah itu. Hanya satu kata yang tepat, pasangan yang serasi.
Tubuh gadis itu nampak terbiasa menggunakan gaun mewah. Tak sedikit pun wajahnya menampakkan raut wajah yang gugup saat melewati kerumunan tamu yang melontarkan pujian dan pertanyaan. Arasya, gadis yangdengan anggunnya berjalan disamping Farel.
"Hello, Mr. Farel!" ucap seseorang yang diduga adalah penyelenggara pesta penjamuan itu, Mr. Anthony Cleora pria berkebangsaan Belgia yang usianya ditaksir sekitar 45 tahuna.
"Hello too, Mr. Thony!" jawab Farel ramah menghampiri Thony.
"How are you? long time no see! (Bagaimana kabarmu? lama tidak berjumpa!)" ucap Thony.
*****
Perbincangan mereka berdua berjalan lancar. Sudah lama Arasya menggu Farel berbincang. Hingga akhirnya, ia sudah tak dapat menahan ingin buang air kecil. Karena merasa tak enak hati mengganggu Farel, Arasya memutuskan untuk pergi ke toilet sendiri. Farel masih belum menyadari kepergian Arasya, karena terlalu asik mengobrol.
"Maaf, Mr. Farel Kalau saya lancang bertanya. Sebenarnya, siapa gadis cantik yang bersama anda tadi? apakah calon nyonya FARD?" tanya Mr Thony sopan.
Mendengar pertanyaan itu, seketika Farel mendapatkan ide brilian yang muncul di otaknya secara tiba-tiba. Ia tersenyum, lantas ia juga mengeluarkan beberapa kata dari mulutnya.
"Mungkin saja. Anda tunggu saja waktunya, saya pasti mengundang anda!".
"Benarkan, nona Ar—" Ucapan Farel terhenti saat menengok dan tak melihat Arasya disampingnya.
"Maaf, Tuan. Sebenarnya, saya tadi sempat lihat nona tadi pergi ke arah toilet!" ucap Mr. Thony mengagetkan Farel.
"Toilet?!" gumam Farel.
Farel lantas berpamitan pergi mencari Arasya di toilet wanita. Namun, ia tak melihat ada Arasya di sekitar sana. Ia hanya melihat pintu toilet wanita yang tengah terpasang papan bertuliskan "Sedang dalam perbaikan".
Ia dilanda kegundahan. Ia tak menemukan Arasya. Hatinya gusar, beribu pertanyaan tersirat dihatinya. Apakah dirinya bisa menemukan Arasya? bagaimana kalau Arasya tak baik-baik saja?.
Pada akhirnya, ia tak mengikuti acara penjamuan mewah itu, lantaran sibuk mencari Arasya di setiap sudut hotel.
*****
02.20 PM.
Di sudut toilet wanita dini hari. Gadis cantik dengan gaun indah membalut tubuhnya yang basah. Ya. Gadis itu adalah Arasya.
Gadis yang menggigil dengan nafas yang tak beraturan. Sesak nafas yang membuat pandangannya menjadi buram.
__ADS_1
Nafasnya yang sudah melemah. Kesadarannya yang perlahan menghilang. Sayup-sayup ia mendengar ada yang memanggil namanya. Ia masih berusaha mempertahankan kesadarannya. Air matanya mengalir, bibirnya bergetar. Terbayang mimpi yang kemarin malam ia impikan. Namun, tiba-tiba saja, ada yang berteriak dari balik pintu toilet dengan khawatir.
"Arasya! Arasya! kamu baik-baik saja? Apakah kamu masih didalam?".
'Farel, aku disini!' batinnya menjawab
Arasya perlahan mendekati pintu. Namun, belum sempat ia sampai ke pintu. Ia sudah terkapar lemas dan kehilangan kesadarannya yang membuatnya pingsan.
BRAK.....
Pintu didobrak paksa dari luar. Seorang pria masuk dengan dua orang pria berpakaian security. pria itu nampak khawatir lalu hendak menggendong Arasya. Namun, sebelum Farel berdiri, tiba-tiba salah satu dari security berkata.
"Maaf, tuan Farel kalau saya lancang. Saya hanya ingin memberi tahu kalau sepertinya nafas nona Arasya melemah!"
"Hah? benarkah? Lalu aku harus apa?" ucap Farel.
"Emm.. Saran saya, sebaiknya berikan na--nafas..." kata-kata security tergantung.
"Nafas apa?!" bentak Farel.
"Nafas buatan tuan!" ucap security spontan yang membuatnya hafalan dan langsung membekap mulutnya sendiri dan membatin.
'Matilah aku!!'.
Farel termenung memikirkan ucapan security-nya itu. Ia memperhatikan wajah Arasya yang sudah pucat. Jujur, ia sangat takut terjadi sesuatu dengan Arasya. Ia pikir mungkin ini akan membuat Arasya kembali sadar.
"Kalian semua keluar! Jangan biarkan ada orang yang masuk!" ucap Farel.
"dan... jangan mengintip!" lanjut Farel malu-malu.
"Baik, tuan."
Para security itu keluar dan berjaga di balik pintu. Pintunya tak tertutup rapat. Sedangkan Farel, ia sedang bersiap memberikan Arasya nafas buatan.
"Huh.. ini agar dia bangun!" ucapnya menghela nafas.
Ia menghirup udara lalu langsung menyalurkan nafasnya ke Arasya dengan b*birnya.
Satu kali, dua kali, bahkan yang ketiga Arasya belum bangun juga. Hal ini membuat Farel khawatir, dan akhirnya memutuskan memberikan Arasya nafas buatan yang keempat kalinya.
__ADS_1
Namun, di saat Farel memberi nafas buatan, Arasya terbangun lalu terkejut dan secara spontan mendorong farel.