
~Rahasia ada jika tak diketahui dan hilang jika terungkap.
Aljendro dan Farel bersama beberapa orang yang di bawa oleh Aljendro memasuki ruangan kedap suara. Di dalam sana, hanya percakapan dari Farel bersama Aljendro yang menyindir satu sama lain saja yang terdengar. Sedangkan yang lainnya, tak ada yang berani memotong ucapan mereka.
*****
Di sisi lain, Jhonson telah memberikan obat bius pada Arasya hingga Arasya pingsan. Coba saja ia tak memberikan obat bius pada Arasya, bisa di pastikan kalau dirinya akan terkena senjata rahasia mematikan yang di miliki Arasya.
Beberapa saat yang lalu...
"Nona, tolong jangan membuat kerusuhan di sini!" ucap Jhonson yang memohon karena Arasya yang mencari-cari sesuatu di seluruh ruangan Presdir.
"Nona!" panggil Jhonson yang merasa perkataannya tadi tak dihiraukan oleh Arasya.
"Nona, saya akan laporkan hal ini pada Presdir agar nona di keluarkan dari FARD GROUP dan kerjasama antara FARD GROUP dengan LEZO GROUP berakhir!" ucap Jhonson mengancam.
Mendengar ancaman dari Jhonson, Arasya berhenti mencari dan beralih menatap wajah Jhonson dengan tajam.
'Si*l, Jhonson ini berani mengancam rupanya!' umpat Arasya dalam hatinya.
"Nona, tolong—
Belum sempat Jhonson menyelesaikan ucapannya, Arasya membekap mulut Jhonson dan menatapnya tajam.
"Jangan macam-macam!" ucap Arasya dengan gerakan bibirnya.
Saat ia hendak mengeluarkan senjata rahasia mematikan miliknya, ia berucap lagi.
"Kau harus—
Ucapan Arasya terhenti setelah jarum suntik menancap di tengkuknya.
"Akh..." ringis Arasya kesakitan.
BRUK...
Arasya terjatuh setelah jarum suntik itu di cabut Jhonson.
"Maaf, nona. Ini harus ku lakukan agar anda tidak membuat kerusuhan di sini lagi!" ucap Jhonson dengan nada yang tegas.
Setelah itu, Jhonson membawa Arasya ke dalam kamar tempat Arasya berbaring tadi pagi.
"Nona, anda harus membuat Presdir bisa melupakan kejadian itu. Presdir bersikap berbeda hanya pada anda. Saya yakin, anda memiliki tempat spesial di hati Presdir. Maka dari itu, anda harus bisa menjadi gadis yang sempurna dan bersikap baik pada nyonya besar!" ucap Jhonson sembari menatap Arasya sendu.
Setelah itu, Jhonson berjalan pergi dari kamar itu. Ia juga memasang kunci dan kamera mini yang ia sembunyikan di vas bunga.
Jhonson menghela nafas, ia lalu melenggang pergi menuju ke ruangan di mana Presdirnya dan tuan Aljendro berada.
*****
Flashback on
"Leon, kau pikir ini akan berhasil? Ku rasa itu tak mungkin!" ucap Zeno.
__ADS_1
"Tenang saja. Ini akan menjadi urusanku. Kau pikirkan di mana tempat yang cocok untuk melakukannya. Setelah itu, kita akan membawanya ke sana dan melakukan rencana kita!" ucap Leon menenangkan Zeno.
"Kalau gagal?" tanya Zeno.
"Aku punya rencana cadangan untuk itu. Tapi, kita harus melibatkan yang lainnya!" ucap Leon.
"Ya, baiklah. Kalau kau bisa menjamin keamanan rencana ini, aku akan setuju!" ucap Zeno.
"Bisa. Aku juga udah panggil Tirta buat bantu rencana kita!" ucap Leon lalu memanggil Tirta.
"Tirta!"
"Kapten pertama, ketua, salam!" ucap Tirta memberi salam.
"Oke, kita dah punya persiapan. Kita bisa mulai rencananya nanti siang!" ucap Leon.
Flashback off
"Gitu ceritanya. Aku itu di suruh ketua dan kapten pertama sekitar 4 hari yang lalu. Jadi, aku nurut aja!" ucap Tirta.
Masih ingat Tirta? Tirta itu orang yang nggak sengaja membuat luka Arasya terbuka. (Lihat chapter EMPAT BELAS).
"Terus, kamu mau nyuruh aku bantuin kamu, gitu?" tanya seseorang.
"Itu, sih tergantung kamunya aja. Mau apa nggak?!"
"Boleh, sih. Lagian jarang banget bisa bantuin Queen. Yah, walaupun itu gak diketahui sama Queen, sih!"
"Oke, besok aku bilang sama ketua. Kalo misalkan kamu ikutan, boleh apa nggak!" ucap Tirta.
"Nggak tau, sih, Ren!" ucap Tirta.
Rendy Kylousky, teman akrab dari Tirtagio Gilian yang masuk Genk lebih lama dua bulan dari pada Tirta.
"Kirain tau!" ucap Rendy.
*****
Sore hari yang cerah dengan bunyi burung yang berkicau di tiang-tiang listrik sepanjang jalan membuat suasana menjadi lebih tenang. Suasana yang tenang membuat seseorang menjadi lebih nyenyak dalam tidurnya. Namun, berbeda dengan saudara kembarnya yang tak tenang karena bergulat dengan pikirannya.
"Kak, kamu kok, tidur, sih! Bantuin aku mikir, dong!" ucap Lucky.
"Ih, nanti mimpinya keburu bubar!" ucap Louise yang masih setengah sadar.
"Nggak, lanjutin nanti aja mimpinya. Kalo aku gak bisa cari jalan keluarnya, kakak gak bakalan bisa tidur!" ucap Lucky memaksa.
"Terserah!" ucap Louise kembali memejamkan matanya.
"Kakak, bangun! kebakaran!" teriak Lucky telat di telinga Louise.
"Kebakaran, palalu pe'ang! Jangan ganggu, ah!" kesal Louise memaki pada adiknya.
"Kakak!!" rengek Lucky mengguncangkan tubuh Louise.
__ADS_1
"Diem, monyet!"
"Kakak, Ara!"
"Ish... kau yang mau, aku yang ribet!" ucap Louise yang akhirnya menyerah dan bangun dari duduknya.
"Apa?" tanya Louise dengan malas.
"Kak, Ara itu kira-kira suka nggak sama aku?" tanya Lucky yang langsung to the point.
"Nggak tau!" jawab Louise sembari membuka ponselnya.
"Ih, yang bener!"
"Manalah aku tau. Aku itu bukan bapaknya Ara, tau!" ucap Louise kesal.
"Kan, aku tanya, doang!" ucap Lucky lalu melenggang pergi.
"Tuh, bocah nggak jelas banget! Ganggu tidur aku aja!" ucap Louise mengomel.
Setelah selesai mengomel, Louise melanjutkan aksinya bermain game seperti biasanya. Setelahnya, ia pun terhanyut dalam permainan gamenya itu.
*****
Percakapan antara Aljendro dan Farel berlangsung dengan penuh sindiran dan hinaan. Jhonson yang datang beberapa saat lalu juga merasakan adanya nafsu untuk saling membunuh di antara Aljendro dan Farel. Orang yang di bawa oleh Aljendro juga tak berani membuka suara di tengah-tengah percakapan maut itu.
"Tuan Aljendro, aku tak ingat kalau kau pernah memuji diriku sebelumnya?" ucap Farel.
"Farel, Farel. Kau ini sungguh aneh, ya? Mana ada musuh memuji musuh? Kalau majikan memuji monyet peliharaannya itu sudah umum. Tapi kalau monyet memuji monyet, apakah umum?" balas Aljendro dengan nada mengejek.
"Ya, tuan Aljendro memang pandai memilah kata-kata. Monyet memang tak pernah memuji monyet lainnya. Tapi, tanpa sadar tuan Aljendro mengungkapkan rahasia kalau kau sendiri adalah monyet!" ucap Farel dengan nada menghinanya.
"Monyet? Itu bisa jadi. Kami ini bayangan. Monyet bergerak bagai bayangan yang berpindah ke sana kemari dengan cepat di pohon. Bahkan saat mencuri makanan dari orang kaya saja tak dapat di tangkap. Sekuat apapun perlindungan dari si orang kaya, tetapi kalau lalai tetap akan di curi makanannya, kan?" sarkas Aljendro dengan seringainya.
"Ya, bisa jadi. Memasang perangkap tak ada salahnya. Monyet bisa mencuri, tapi otak mereka bahkan tak lebih dari memikirkan makanan. Bahkan burung saja lebih pintar dan gesit dari pada mereka. Untuk apa di banggakan?" Sindir Farel.
"Monyet bisa menangkap burung dengan mudah. Tak perlu otak yang terlalu besar untuk itu!" ucap Aljendro.
"Bagaimana jika otak yang kecil itu membuat si monyet menyesal karena menangkap bahkan menyingkirkan burung?"
"Maka itu akan jadi pelajaran bagi si monyet agar bisa lebih berhati-hati kedepannya!"
"Menyesal, frustasi, bunuh diri. Hal yang tak jarang terjadi. Bagaiman kalau si burung adalah benih dari si monyet?" ucap Farel berdiri menghadap jendela.
"Kalau begitu, maka kalimat pertamamu tak akan salah!" ucap Aljendro yakin.
"Benar, kali ku katakan kelemahan monyet dan burung sama, apa yang akan terjadi?" tanya Farel menatap Aljendro.
"Maka mereka akan bekerjasama untuk menjaga kelemahan mereka."
"Kalau ku katakan kau akan melukai gadisku dan kau menyesal, apa itu bisa kenyataan?" tanya Farel.
"Heh, aku tak tertarik bermain hal seperti ini. Aku bisa mengambilnya tanpa kau sadari!" ucap Aljendro dengan santainya.
__ADS_1
Jhonson mengetahui kemana arah pembicaraan mereka. Ia semakin tegang melihat wajah Presdirnya kian menjadi dingin.
"Gadisku, putrimu! apa kau percaya?"