
~Hidup atau mati yang terpenting adalah Sahabatku~
_____ARASYA_____
Ruangan dengan warna putih yang mendominasi, serta bau obat-obatan yang sangat menyengat dengan segala peralatan yang berada diruangan itu, adalah pemandangan pertama yang dilihat oleh seorang gadis cantik yaitu Arasya.
Ya. Gadis berumur 19 tahun itu tengah berada dirumah sakit akibat kejadian yang ia alami beberapa hari yang lalu. Dimalam ini, Arasya tersadar dari komanya. Koma itu merupakan akibat dari luka yang ditimbulkan oleh peristiwa penculikan waktu itu.
Saat gadis itu sadar, pikirannya kosong. Sesaat, ia melamun dan tersadar karena mengingat sesuatu tentang penculikan itu yang membuatnya gelisah. Ia langsung bangun dari brankar dan mencabut seluruh alat medis yang melekat di tubuhnya.
Ia berlari keluar ruangan itu dengan terhuyung-huyung. Belum jauh ia melangkah pergi, ia mendapati pria tampan sedang tertidur di sofa dengan mengenakan jas dengan manik yang tertutup rapat dan nafas yang beraturan, pertanda pria itu sedang tertidur pulas.
Arasya dengan perlahan keluar dari ruangan itu agar pria itu tak terbangun. Tetapi, ia malah mendapati tempat yang sangat luas, indah nan megah bak hotel mewah bukan seperti rumah sakit.
Bahkan, ia sempat ternganga melihat itu semua.
'Eh? Apakah ini istana atau rumah? Atau ini adalah rumah sakit? Kenapa luas sekali? Bagaimana caranya aku bisa keluar dan pergi dari sini?' batin Arasya yang sedikit gelisah.
"Hei! Kau, mencari siapa? Kenapa kau, keluar dari ruangan itu! Kau belum sembuh total! Nanti kalau lukanya terbuka, aku jadi repot!" Ucap seseorang yang muncul dari ruangan tadi dengan suara beratnya.
'Pria itu!' batin Arasya.
Dengan gerakan yang cepat. Arasya mengambil sebuah guci yang berada di atas meja. Ia lalu menodongkan guci itu kearah pria tadi.
"Hei, Nona! Kau, akan melukaiku jika melemparkan guci itu padaku!" Ucap pria itu dengan wajah santainya.
__ADS_1
Arasya berpikir sejenak.
'Apakah dia yang membawaku kemari? Atau dia ada maksud lain selain menolongku?'
Arasya lalu menurunkan guci itu dan menaruhnya di tempat semula. Belum sempat ia menoleh, ia dikejutkan dengan tindakan yang dilakukan pria itu. Pria itu mencekal dan memutar tangan Arasya kebelakang, hingga pria itu tepat berada dibelakang Arasya.
"Nona, kau tahu kenapa aku membawamu kemari?" Ucap pria itu berbisik di telinga Arasya.
"Karena-"
Belum sempat pria itu melanjutkan kata-katanya, ia sudah di hajar oleh Arasya.
"Aau...au.. sakit!" Pria itu merintih karena Arasya memutar tangan pria itu dan membanting tubuh pria itu ke lantai dengan keadaan telungkup dan Arasya langsung duduk dipunggung pria itu.
Setelah mendengar apa yang diucapkan pria itu, Arasya pun melepaskan pria itu. Pria itu masih terbaring di lantai. Arasya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia merasa sangat bersalah dan Membungkukkan badannya pertanda ia mengucap terimakasih, lalu menyatukan tangannya didepan dada pertanda maaf.
"Kenapa kau, malah membungkuk?" Ucap pria itu berdiri dan menepuk pelan jas yang ia pakai.
Arasya menundukkan kepalanya sambil membatin. 'Apakah dia tak tau kalau aku tak bisa bicara? Atau dia sengaja?'.
"Hei! Kenapa kau menunduk?" tanya pria itu menaikan sebelah alisnya.
"Kenalakan, namaku Farel Liofard! Kau, siapa namamu?" Ucap pria itu mengulurkan tangan ke arah Arasya.
FAREL LIOFARD (FAREL) Seorang Presdir tampan bermata biru. Ia pemilik properti terbesar di kota S. Ia juga pengusaha termuda yang sukses di kota S karena umurnya yang baru menginjak 20 tahun.
__ADS_1
Arasya menerima uluran tangan Farel dan tersenyum manis. Farel yang melihat senyum Arasya malah jadi salah tingkah dan membatin. 'Cewek ini bisa senyum juga ternyata! Dari pertama ketemu aja, dia gak senyum sama sekali! Mana kalo senyum cantik banget lagi! Tapi sayang, dia agak galak!'
Arasya secara perlahan melepaskan jabatan tangan itu. Ia menatap aneh pria didepannya yang tersenyum sambil membatin gelisah. 'Dia pria waras, kan? kenapa dia senyum aneh gitu? Kalau dia gila, nanti gimana nasibku??'
"Tuan Farel? ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang wanita yang melangkah menuju mereka berdua dengan berpakaian jas khas dokter.
"Eh?" Farel terkejut.
"oh.. dokter Felly. Tidak ada apa-apa, kok. Tadi, dia hanya berjalan kebingungan. Jadi, saya mau menolongnya. Tapi, dia nggak bicara sama sekali!" jelas farel panjang lebar.
FELLY NEUROTRA (FELLY) gadis berusia 20 tahun yang menjabat menjadi dokter bedah profesional diusia muda.
"Emm... baiklah. Saya akan mengatakan ini kepada anda sekarang. Mari kita masuk keruangan dulu, Nona. Saya akan memeriksa kondisi anda setelah koma!" jelas dokter Felly ramah.
Arasya dan Farel mengangguk dan langsung masuk keruangan itu lagi.
*******
"Nona, apakah anda dulu pernah mengalami suatu kecelakaan atau musibah? atau anda pernah meminum obat tanpa resep dokter? ataukah anda pernah mengalami trauma?" tanya dokter Felly bertubi-tubi.
"Memangnya kenapa? apakah ada sangkut-pautnya dengan ia yang tak berbicara?" tanya Farel.
"Tuan Farel. Orang tidak akan berbicara dengan beberapa alasan. Pertama, karena trauma. Kedua, ketika ia bisu dari lahir ataupun akibat dari suatu kecelakaan. Dan ketiga, ketika pita suaranya rusak karena sesuatu ataupun obat yang menyebabkan beberapa syaraf dalam yang terhubung dengan pita suara rusak atau putus!" jelas Dokter Felly pajang lebar. (sebenernya sih, saya gak tau tentang dokter. jadi maklumi saja apabila ada kesalahan, ya.. para readers).
"Maksudmu... dia bisu?" tanya Farel sedikit ragu.
__ADS_1