Bukan Gadis Bisu Yang Lugu!

Bukan Gadis Bisu Yang Lugu!
DUA BELAS


__ADS_3

~Jadikan sakitmu sebagai kekuatan untukmu, bukan beban bagi sekitarmu.


ARASYA


"Bagaimana keadaan Arasya?" Tanya Leon yang baru datang.


"Entahlah, aku tak tahu. Dokter belum keluar dari ruangan sejak tadi, dan Zeno malah pingsan saat melihat Arasya yang mengeluarkan darah!" ucap Louise dengan wajah dinginnya.


"Jujur saja, aku sangat ingin menangis melihat ini. Namun, aku ini laki-laki, malu, dong!!" ucap Lucky seraya bercanda mencairkan suasana.


"Hmm.. sebenarnya ini membuat kita kesulitannya. Tapi, berhubung kita bertiga, bagaimana kalau aku tunggu Zeno disini dan kalian yang tunggu Arasya! Bagaimana menurut kalian?" ucap Leon mengajukan ide.


"Oke!" serempak Doble L (Louise dan Lucky).


Doble L pergi ke ruangan Arasya. Sedangkan Leon, dia duduk seraya memegang tangan Zeno yang tengah pingsan.


"Kapan kau sadar? Kau selalu membuatku senang hanya dengan tingkahmu. Lantas sekarang, kenapa kau selemah ini sekarang?" ucap Leon sendu.


"Ayolah.. sadar!!" ucapnya lagi.


Beberapa menit kemudian..


"Ughh... kepalaku sakit!" ucap Zeno yang baru tersadar.


"Kau? mana Arasya? apakah dia baik-baik saja? Apakah dia sudah sadar?" pertanyaan demi pertanyaan bertubi-tubi di lontarkan Zeno dengan paniknya.


"Ar--arasya masih belum sadar. Dia masih di operasi!" ucap Leon sedikit khawatir.


"Tenanglah.. kita serahkan pada dokter saja, ya!" ucapnya lagi.


"Tapi aku mau melihatnya sekarang!"


"Tapi tubuhmu masih lemah! kau bisa jatuh sakit karena kondisi tubuhku belum stabil. Dokter juga bilang kau terlalu syok dan tidak boleh kecapean lagi!" Leon menasihati.


''Tapi Arasya—"


"Cukup! ada Louise dan Lucky yang menjaganya, kau tak perlu khawatir!" ucap Leon memotong.


"Baiklah, tapi setelah selesai operasi, aku mau keadaan keadaan Arasya!" ucap Zeno.


"Iya-iya, nanti setelah kau istirahat dan makan malam!" ucap Leon pasrah.


Sementara Louise dan Lucky kini tengah bosan menunggu di ruang tunggu. Tak berselang lama kemudian, pintu terbuka.


"Gimana keadaan Arasya, dok?" tanya lucky spontan.


"Iya, gimana?" tambah Louise.


"Sabar sebentar. Sementara ini kami belum bisa memastikannya. Tetapi, apa saya boleh tanya sedikit tentang pasien?" ucap dokter.

__ADS_1


"Mau tanya apa ya, dok?" tanya Louise lagi.


"Apakah.. pasien ini bisa bicara? eh.. maksud saya apa punya suatu masalah pada organ komunikasi pasien?"


"Em.. Sebenarnya teman kamu ini memang tidak bisa bicara, dok!" ucap Lucky sedikit sedih mengingat dahulu mereka kala menemukan Arasya yang terbaring lemah di bawah jembatan 12 tahun lalu.


"Begitu rupanya, ini kelainan atau kecelakaan?'' tanya dokter lagi.


"Kecelakaan, dua—"


"kecelakaan karena mobil!" ucap Louise memotong Lucky.


"Oo.. begitu.."


"iya, memangnya kenapa? kenapa bertanya banyak sekali?" ucap Lucky.


"Maaf, saya hanya ingin melakukan beberapa tindakan untuk mengembalikan kemampuan komunikasi pasien!" ucap dokter.


"Memangnya bisa?" tanya Louise.


"Bisa saja kalau tidak ada masalah lain pada tubuhnya. Namun, sepertinya ini akan mustahil!" ucap dokter lagi.


"Ken—"


"Ada apa ini? apakah operasinya sudah selesai?" Ucap Leon tiba-tiba datang bersama Zeno yang dipapahnya karena masih lemah memotong ucapan Louise.


"Sudah, saya pamit dulu. sementara ini tolong jangan biarkan pasien kelelahan ataupun tertekan, ini sangat berbahaya bagi tubuhnya!" ucap dokter lalu melenggang pergi.


"Kakak, apakah dokter itu akan memeriksa lagi ruangan Arasya?" tanya Lucky pada kakaknya, Louise.


"Entahlah, mungkin saja!" jawabnya.


"Sebenarnya, apa yang kalian bicarakan? Kenapa tak mengajakku bergabung!" ucap Zeno.


"Tidak ada!" ucap Louise lalu pergi.


"Hey, Louise. Mau kemana?" teriak Leon.


"Toilet!"


"Kakak, tunggu aku!" ucap Lucky menghampiri Louise.


"Mohon jangan berisik! banyak pasien yang sedang beristirahat. Bila tetap ingin berisik dan berteriak-teriak, saya sarankan untuk keluar atau saya panggil satpam!" ucap salah seorang suster.


"Maaf, kami tidak akan mengulanginya lagi!" ucap Zeno dan Leon serempak.


"Baiklah, saya pamit!" ucap suster lalu melenggang pergi. Namun, Zeno mencekal tangan suster itu hingga suster itu pun tak jadi pergi.


"Maaf, apakah pasien atas nama Arasya sudah selesai operasi?" tanya Zeno.

__ADS_1


"Sudah. Kami hendak memindahkannya. Namun, ruangan belum ada yang kosong. Jadi, untuk sementara waktu akan tetap berada di ruangan operasi" jelas suster sedikit kesal.


"Bagaimana bisa rumah sakit sebesar ini tidak ada kamar kosong?" ucap Zeno yang emosi hingga mencekal kerah baju suster itu.


"Maaf, akhir-akhir ini banyak orang yang datang ke rumah sakit dalam keadaan sakit berat. Jadi, kamar dalam rumah sakit ini sudah penuh!" jelas suster lagi dengan nada yang kesal.


"Zeno, jaga sikapmu!" ucap Leon menghentikan Zeno, menarik tangannya.


"Maaf, kan teman saya. Apakah kami bisa menjenguk teman kami sekarang?" ucap Leon sedikit malu atas tingkah Zeno.


"Tidak, pasien masih butuh istirahat. Pengaruh obat tidur dan tubuh pasien juga masih lemah. Jadi, kemungkinan besok pagi bisa di jenguk! Saya permisi!" ucap suster itu kesal dan langsung pergi.


"Baiklah!'' ucap Leon berusaha tersenyum menahan malu.


"Kau ini, tolong jangan ribut dulu! nanti kalau Arasya sadar, kita pindahkan dia!" ucap Leon menasihati Zeno.


"Hmm.." Zeno hanya berdehem.


*****


Di lorong rumah sakit dekat kantin, lucky dan Louise sedang berjalan mencari dokter itu.


"Kakak, kita cari dimana dokter itu?" tanya Lucky.


"Tanya resepsionis!" jawab Louise.


"Aku saja yang pergi!" ucap Lucky semangat.


"Ya, Biar aku saja yang membeli makanan untuk mereka dan kita nanti!"


"Cari makanan? dimana? Kantin aja udah tutup!" Tanya Lucky sembari mengedarkan pandangannya.


"Online!"


"Ya udah, nanti jangan lupa beli fried chicken saos tomat dan sandwich isi daging sapi!" ucap Lucky sembari berlari menuju meja resepsionis.


Lucky pergi menghampiri meja resepsionis. Namun, tak ada orang di sana. Lucky sejatinya adalah pria yang sangat penasaran akan suatu hal yang belum ia ketahui pasti. Atas dasar itu lah ia mengambil buku besar yang bertulisan DAFTAR PIKET DOKTER.


Namun, pada saat lucky hendak membuka bukunya. Tiba-tiba saja ada orang yang berteriak-teriak. Atas dasar penasaran juga, ia akhirnya menghampiri tempat keributan. Nampak seorang wanita cantik beserta seorang anak lelaki yang tengah duduk di kursi roda dimaki-maki oleh seorang pria.


"UNTUK APA KAMU PERGI KE RUMAH SAKIT INI? KALAU KAMU MEMBUANG UANG KE SINI, BAGAIMANA MAU MAKAN BESOK? MEMANGNYA KAMU PUNYA UANG? TIDAK, KAN?" makinya pada si wanita dan anaknya.


"Ta--tapi, Yoshua sakitnya sudah parah!" ucap wanita itu menunduk.


"HALAH, ALASAN! NGOMONG AJA KALAU MAU KABUR DAN GAK MAU KERJA!" Bentak pria itu.


"DASAR WANITA LEMAH!!" ucap pria itu membentak lagi.


Pria itu mengangkat tangan hendak memukul si wanita. Namun, tiba-tiba saja ada yang mencekal tangan pria itu.

__ADS_1


"Saya mohon selesaikan urusan pribadi anda di rumah anda. Jangan buat keributan disini!"


"Memukul wanita adalah tindak kejahatan dan akan mendapatkan tindakan hukum. Saya bisa saja melaporkan anda ke pihak berwajib!!" lanjutnya


__ADS_2