
~Efek samping dari lelah itu salah satunya halu. Iya, haluin kamu pas jadi milik aku. ^///^
FAREL
"Emmh... Huh... A-a--aa..."
Arasya mengerang tak nyaman. Pasalnya, obat itu sudah berekasi. Seperti kata dokter Felly, obat itu tidak akan terlalu berefek pada Arasya. Benar saja, setelah Farel di tarik dan di paksa oleh Arasya, akhirnya Farel mencium Arasya. Ternyata, Arasya sangat aktif. Ia tak diam dan menggerakkan bibirnya saja, namun tangannya juga meraba ke mana-mana. Ya, tangan Arasya. Namun, beberapa saat setelah itu, tubuhnya lemas dan akhirnya pingsan lagi.
Ciuman itu terlepas. Felly tak sengaja melihat adegan itu tersenyum sambil cengar-cengir. Bagaimana tidak? Wajah Farel saat ini sangatlah lucu. Jarang sekali melihat Presdir mereka yang dingin itu wajahnya memerah karena malu.
"A--aku.... Bibirku tak suci lagi!" gumam Farel dengan malu.
Farel telah selesai mengganti baju Arasya. Kini ia hendak keluar dari kamar itu. Namun, Arasya tiba-tiba menarik tangannya dengan kuat hingga dirinya terjatuh ke pelukan Arasya.
"A--arasya, Le--lepaskan aku!" ucap Farel dengan patah-patah karena dia hampir tak bisa bernafas.
Farel ditenggelamkan dalam dada Arasya. Ya, seperti tadi lagi. Arasya lemas dan pingsan lagi. Dan sekarang, Farel wajahnya benar-benar memerah. Namun, dirinya langsung berdiri dan berlari keluar kamar. Takutnya, kalo kelamaan di dalam kamar itu bisa-bisa dia akan dituduh memanfaatkan gadis lemah yang tengah tak sadarkan diri.
"Hahaha! Farel sangat lucu tadi!" ucap Felly tertawa geli.
"Arasya benar-benar hebat! Dia bisa membuat seorang Farel Liofard yang dingin menjadi sangat menggemaskan saat malu!" ucap Felly lagi.
"Eh... Aku lupa kalau tadi membawa suntikan untuk menghilangkan efeknya. Biarlah, ini juga sudah terjadi. Kalau ku suntikkan sekarang juga sudah tak berguna!" ucap Felly.
Felly merapihkan alat-alat medis yang dibawanya. Ia hanya memberikan Arasya sebuah suntikkan pereda nyeri dan penghenti pendarahan lalu pergi dari ruangan itu.
*****
"Apa yang sudah ku lakukan? Bagaimana jika dia salah sangka? Bagaimana kalau setelah ini dia sadar dan membenciku? bagaimana ini?!!" ucap Farel gelisah.
Farel kini berada di dalam mobil. Ia hanya duduk dan menghilangkan rasa malu di dalam mobil yang tak bergerak sama sekali. Lebih tepatnya di parkiran.
Dirinya tengah melamun memikirkan kejadian tadi. Ia heran, biasanya kalau ia dekat atau melakukan kontak fisik dengan lawan jenis, ia akan merasa mual, pusing, atupun jijik. Tapi, tidak saat dia bertemu Arasya sejak saat itu. Ia hanya merasa jantungnya berdegup kencang hampir mau copot! Itu hanya berlaku pada Arasya, pada ibunya saja dia merasa agak jijik. Entahlah, apa yang ada pada Arasya hingga membuatnya menjadi seperti ini.
"Tuan Farel!" panggil dokter Felly.
"Ada apa?" tanya Farel keluar dari mobil.
"Saya akan kembali k rumah sakit. Luka Nina Arasya sudah saya balut. Luka itu juga tidak dalam! jadi, saya hanya memberinya suntikan pereda nyeri dan penghenti pendarahan. Itu tidak akan sakit jika dirinya bangun nanti!" ucap dokter Felly.
"Kau tidak memberi dirinya suntikan bius agar dia bisa beristirahat?" tanya Farel heran.
__ADS_1
"Tidak, efek obat itu akan berbahaya bila bersinggungan dengan obat bius. Jadi, tolong rawat nona Arasya. Jika anda membutuhkan saya, saya akan datang!" jelas dokter Felly.
"Baiklah!"
"Em.. Tuan!"
"Ya?"
"Penyakit yang pernah saya katakan itu adalah kelainan darah!" ucap dokter Felly sedikit ragu.
"Kelainan darah?"
"Iya, kelainan itu akan menyebabkan lukanya sulit untuk sembuh dan darahnya akan mengalir. Itu disebabkan oleh kelainan gen yang menyebabkan kandungan trombosit dalam darah rendah yang memicu pendarahan hebat akibat darah yang sulit membeku. Itu akan sangat berbahaya, tuan!" ucap dokter Felly khawatir.
"Bagaimana cara untuk menyembuhkannya?"
"Tidak ada cara. Cara satu-satunya hanya menjaga agar dirinya tak terkena luka dalam maupun luar. Darah yang di miliki nona Arasya juga darah yang langka di dunia ini!" ucap dokter Felly menjelaskan.
"Golongan darahnya apa?"
"Golden blood atau darah emas! Terhitung jumlah pendonor aktif hanya ada 9 di dunia ini!" ucap dokter Felly serius.
"Dimana? Apakah ada di kota ini? kalau ada, lebih baik jadikan dia sebagai pendonor khusus untuk nona Arasya!" ucap dokter Felly.
"Aku akan mengatakan padamu nanti!" ucap Farel lalu pergi.
"Mulai lagi!" kesal Felly.
*****
"Tuan, apakah saya benar-benar harus menghubungi dia?" tanya Jhonson.
"Memangnya kenapa? kau sudah mulai meragukan keputusan dariku?" tanya Farel melirik tajam Jhonson. Jhonson yang dilirik malah gugup dan ketakutan.
"Bu--bukan seperti itu, tuan! Maksudku, dia orang yang berbahaya!" ucap Jhonson memberanikan diri.
"Hahaha... Wajahmu sangat lucu!" kekeh Farel.
"Hah?" bingung Jhonson.
"Iya, aku tahu dia orang yang berbahaya. Tapi, aku sudah memperkirakan segalanya dan sudah mempersiapkan rencana agar dia mau menuruti diriku!" ucap Farel tersentuh miring.
__ADS_1
"Kalau tuan sudah siap, saya tidak perlu khawatir lagi! Kalau begitu, saya izin pamit, tuan!" ucap Jhonson berpamitan.
"Tunggu!"
"Iya, tuan?"
"Kau tetap harus menjaga Arasya! Jangan sampai dia tahu sedang di awasi. Dan juga, kau harus lebih memperhatikan gerak-gerik orang itu. Karena kalah terjadi sesuatu pada Arasya, aku akan membuatmu menderita!" ucap Farel dengan tatapan dinginnya.
"Ba--baik, tuan!"
"Kau, boleh keluar!" ucap Farel.
Setelah Jhonson pergi dari ruangan itu, Farel masuk berniat untuk memeriksa keadaan Arasya. Namun, tiba-tiba ada suara dering ponsel.
"Suara ponsel siapa itu? ini jelas bukan milikku!" gumam Farel.
Ia mencari sumber suara itu dengan mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan kamar itu. Namun, tak kunjung ia temukan. Akhirnya ia keluar dari kamar itu dan mencarinya di ruang kerjanya. Dan benar saja, ia menemukan ponsel itu di tas pribadi milik Arasya. Lantas, dia mengambilnya. Namun, itu adalah nomor bertuliskan 'Pria baik'.
Melihat nama kontak itu, dada Farel jadi sesak. Ia merasakan gemuruh Guntur di dalam hatinya. Entahlah, siapa orang yang menelpon itu. Namun, yang jelas dia kesal melihat info nama di ponsel itu ia merasa kesal. Ya... walaupun tak tahu alasannya.
📞Call on
"Halo?" ucap Farel.
"Maaf, dimanakah pemilik ponsel ini?" tanya orang yang menelpon.
"Emm..." Farel berfikir.
'Buat apa, sih?.Kenapa cari-cari Arasya? Palingan juga temen satu kelas Arasya!' batin Farel.
"Halo? Tuan, anda masih ada disana, kan?" Ucapan pria itu yang membuyarkan lamunan Farel.
"Iya, saya ada di sini!"
"Pak, tolong berikan ponsel ini pada Arasya. Saya ada urusan dengannya "
"Urusan apa hingga membuatmu repot-repot menelpon kekasihku?"
" Kekasih?"bingung pria itu.
"Apakah Arasya tidak memberi tahumu kalau aku dan Arasya bertunangan dan sekarang sudah sampai hari ke 10 pertunangan kami!"
__ADS_1